
Eve menggedor pintu yang di kunci oleh Nabastala ketika Eve melihat Tala sudah pergi dari depan kamar rawat itu. “Kak Tala tolong buka pintunya kak.” Pinta Eve.
Tala berusaha tidak mendengar dan tidak peduli apa yang Eve katakan kepadanya dan apa yang dilakukan Tala kepada Eve.
Eve mendudukkan dirinya di lantai sembari tangannya menggedor pintu dengan lemah dan menangis. “Kak Tala tolong buka pintunya kak.” Pinta Eve lagi dengan lemah.
Sementara Tala yang sudah masuk ke dalam ruang rawat Adya memandang Adya yang terbaring lemah dengan alat yang menempel di tubuh Adya dengan sendu.
Tala tidak berani berjalan mendekat sehingga Tala berada di depan pintu dengan menekuk lututnya sembari melipat tangan di atasnya.
Menyandarkan kepalanya ke belakang pintu dengan pandangannya kosong tapi menatap ke arah Adya.
Semua tidak bisa dipikirkan oleh Tala sekarang bagaimana dengan begitu cepatnya Adya yang kondisi fisiknya baik selama satu bulan ini namun tiba-tiba saja menjadi menurun sehingga membuat Adya tidak sadarkan diri dan dalam kondisi kritis.
“Semua akan baik-baik saja iya kan kak?” Tanya Tala dengan dirinya sendiri namun Tala seolah mengajak Adya berbicara.
Tapi, sayangnya yang diajak bicara itu sedang kritis. “Cepatlah bangun maka aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu dengan kakak.” Ucap Tala dengan lirih bahkan kini tangan Tala gemetar.
“Aku akan menyalahkannya atas apa yang telah terjadi lagi dan akan segera menceraikannya saat itu juga jika kakak tidak bangun atau meninggalkanku seperti kakek.” Ucap Tala lirih.
Setelah selama satu jam lamanya Tala duduk di atas lantai dengan berlutut Tala dengan memberanikan diri berjalan mendekat ke arah Adya.
Air mata Tala kembali luluh saat melihat kondisi Adya dari dekat. Melihat Adya seperti ini membuat Tala sangat sakit.
Apalagi Adya adalah orang yang sangat ceria dan ramah ke semua orang walaupun ada begitu banyak orang yang tidak menyukai dan salah mengartikan sifat dari Adya.
“Jangan tinggalkan aku.” Ucap Tala sambil menggenggam tangan Adya. Tala takut jika Adya akan sama seperti kakeknya yang akan meninggalkannya selamanya.
Apalagi kondisi Adya sedang tidak baik-baik saja dalam kondisi yang kritis dengan penyakit yang bisa merenggut nyawa Adya kapan saja yaitu kanker ovarium.
Bahkan karena penyakit kanker ovarium yang diderita oleh Adya membuat rambut Adya banyak sekali rontok karena kemoterapi yang dilakukannya.
Namun, hal itu tidak menyurutkan senyum Adya ketika dirinya merasa lelah dengan semua keadaan yang ada Adya tetap tersenyum karena tidak ingin membuat semua orang yang dikasihi dan mengasihinya sedih.
Tala Merasa takut jika Adya tidak mau membuka matanya lagi dan betah dengan keadaannya yang seperti ini.
Walaupun Tala tau bahwa penyakit yang diderita oleh Adya adalah penyakit yang bisa menewaskan Adya kapan saja.
Tapi, selagi menurut Tala dia masih bisa menjaga dan mengatur segalanya untuk kesembuhan Adya ada Tuhan yang bisa memutuskan dan melakukan segalanya yang manusia tidak bisa.
Kilasan kenangan terbersit di dalam benak Tala bagaimana dulunya dirinya yang berusaha berjuang untuk membantu Adya dalam keterpurukan karena depresi yang dialami Adya.
Bagaimana tidak orang-orang juga pasti tidak menyangka melihat Adya yang cantik dan anggun serta lembut hatinya itu melakukan aborsi sebanyak 7 kali karena permintaan dari kekasihnya itu ditambah didukung dengan keluarga kekasihnya yang tidak lain adalah keluarga Werawan sendiri.
Tala sebagai bagian dari keluarga itu malu mengaku mereka sebagai keluarga melihat betapa menjijikkannya mereka sebagai manusia yang mempunyai akal namun tidak menggunakan akal pikirannya itu.
Tala mengepalkan kedua tangannya dan ingin melampiaskan rasa yang ada di dalam dadanya itu kepada sepupunya itu.
Tala tidak peduli jika tangannya akan berdarah lagi seperti tadi dirinya yang meninju dinding karena merasa kesal akan penolakan dari Eve terhadapnya.
Beruntungnya Tala mengetahui itu dengan cepat namun sayang bayi terakhir yang berada di dalam kandungan Adya tidak bisa diselamatkan karena sudah digugurkan oleh keluarganya sendiri dan juga sepupunya yang tidak bertanggungjawab itu.
Adya yang baru sadar saat itu dan mengetahui bahwa bayinya yang tadinya dipikirkan Adya bisa diselamatkan dengan meminta tolong kepada keluarga dari kekasihnya malah berakhir ujung petaka.
Adya berteriak histeris dan menangis Tala yang melihatnya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Adya dengan segera memeluk Adya.
Tala tau bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang yang diharapkan namun itu malah pergi meninggalkannya.
Tala remaja dan dianggap anak kecil saat itu menunjukkan sikap dewasanya selama dirinya berada di sisi Adya. Bahkan perkembangan mental kedewasaannya berkembang pesat karena menjaga dan merawat Adya yang sudah Tala anggap sebagai kekasihnya.
Bahkan Tala yang masih umur dua puluhan saat itu mengambil tanggungjawab besar untuk menikahi Adya.
Walaupun kasih sayang Adya dan Tala tidak lebih layaknya sebagai kekasih. Sentuhan yang dilakukan oleh keduanya hanya sebatas memeluk dan mencium pipi satu sama lain.
“Semuanya tidak akan seperti ini jika bukan gara-gara dia.” Ucap Tala dengan bengis dan marah. Dia yang dimaksud oleh Tala adalah Eve.
__ADS_1
Menurut Tala Eve adalah orang yang sangat egois dan paling egois di dunia karena terlalu mementingkan perasaannya itu dan merasa bahwa dirinya sebagai orang yang harus diberi perhatian lebih dan dipuja-puja.
Keesokan harinya Eve mengerjapkan kedua matanya kepala Eve terasa sangat pusing.
Eve merasa bingung kenapa dirinya bisa berada di atas ranjang padahal semalam Eve ingat bahwa dirinya ketiduran di depan pintu.
Bahkan air mata masih melekat di pipi mulus Eve.
Mata Eve menatap ke sekitar ruangan di sana Eve bisa melihat ada satu kantong kresek yang berada di atas meja.
Eve segera berjalan untuk melihat apa isi di dalam kantong kresek itu.
Saat mata Eve melihat ada air mineral dengan segera Eve mengambilnya dan minum karena merasa haus.
Setelah dirasakan tenggorokannya segar Eve segera melihat ke arah pintu dan berjalan di sana.
Ternyata pintu yang semalam terkunci oleh Tala kini sudah terbuka.
Eve segera keluar dan melihat ke samping ruangnya.
Di sana Eve bisa melihat bahwa Tala sedang duduk di samping ranjang Eve.
Eve tidak tau apakah Tala tidur atau tidak karena posisi wajah Tala membelakangi pintu.
Eve memandang sedih dengan semua yang terjadi.
Menyalahkan dirinya adalah hal yang sering Eve lakukan padahal terkadang itu semua bukan salahnya.
Eve menyandarkan kepalanya helaan nafas Eve terasa berat memikirkan semua yang terjadi.
"Akankah semua baik-baik saja." Ujar Eve dengan dirinya sendiri.
Saking asyiknya Eve melamun Eve tidak menyadari bahwa pintu ruangan Adya terbuka menampilkan wajah Tala yang dingin.
Tala tidak menggubris Eve yang terkejut dengan kehadirannya.
Tala berjalan ke arah ruang sebelah di mana Eve tidur semalam.
Eve yang melihat Tala masuk mengikuti Tala dari belakang.
Eve melihat ke mana perginya Tala. Eve baru menyadari bahwa ada sebuah tas dan juga lemari yang ada di ruang itu.
Tala mengambil setelan kerja dan berjalan ke arah kamar mandi.
Semua yang dilakukan Tala mendapatkan perhatian Eve.
Eve menghela nafasnya lalu menunggu Tala yang masih membersihkan diri.
Eve bingung harus melakukan apa apalagi wajah tidak ramah Tala yang diberikan kepadanya.
Pintu terbuka membuat Eve menolehkan kepalanya dan menatap siapa yang masuk ternyata itu adalah ibu Dhara.
"Sayang bagaimana istirahat mu. Kamu berisitirahat dengan baikkan?" Tanya ibu Dhara.
Eve tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Di mana ayah ibu?" Tanya Eve.
"Ayah sedang berada di ruangan Adya. Tadi, ibu sudah ke sana." Jawab ibu Dhara.
"Apakah Tala sedang mandi?" Tanya ibu Dhara lagi dan Eve menganggukkan kepalanya.
Ibu Dhara memegang kepala Eve lalu menyandarkan kepala Eve di pundaknya.
"Jangan terlalu khawatir semua pasti akan baik-baik saja." Ucap ibu Dhara.
"Eve takut terjadi kenapa-kenapa dengan kak Adya." Ucap Eve mengungkapkan rasa khawatir yang dipendamnya.
__ADS_1
"Kak Adya tidak selemah itu dia sangat kuat percayalah dan berdoa kepada Tuhan."
Eve tiba-tiba batuk membuat ibu Dhara merasa khawatir dan memegang dahi Eve yang mulai panas.
Tadi ibu Dhara tidak menyadari karena Eve memakai lengan baju yang panjang dan leher ketutup sama rambut panjang Eve.
"Sayang sepertinya kamu kelelahan lebih baik kamu istirahat." Ujar ibu Dhara yang sangat khawatir.
"Eve baik-baik saja ibu." Ujar Eve.
Tala keluar dari dalam kamar mandi dan sudah menggunakan pakaian yang tadi sempat dirinya ambil.
"Tala tolong kamu gendong Eve ke atas tempat tidur badannya sangat panas." Pinta ibu Dhara.
Tala menatap ke arah Eve yang sedang memejamkan matanya itu.
Eve merasa badannya sangat lemah tenggorokannya sangat sakit.
Sepertinya ia radang tenggorokan karena terasa kering.
Tala berjalan mendekat ke arah ibu Dhara dan Eve lalu segera menggendong Eve.
Eve sempat tidak mau namun tenaga perempuan lebih kalah dari tenaga laki-laki apalagi saat ini kondisi tubuh Eve sedang tidak baik-baik saja.
Pintu ruangan kembali terbuka menampilkan ayah Davka yang baru saja masuk.
Ayah Davka yang melihat Eve di gendong oleh Tala pun bertanya. "Ada apa dengan Eve?"
Ibu Dhara yang menjawabnya. "Sepertinya Eve kelelahan badannya sangat panas ayah." Ujar ibu Dhara.
"Kalau begitu kita panggilkan dokter umum untuk segera memeriksa keadaan Eve." Ujar ayah Davka dengan sigap dan langsung menelpon salah satu dokter di rumah sakit ini.
"Apakah kamu akan bekerja hari ini sayang?" Tanya ayah Davka yang melihat anaknya kini sedang bersandar di bahu ibu Dhara.
Ibu Dhara mengelus kepala putra semata wayangnya.
Tala menjawab pertanyaan dari ayahnya itu dengan menganggukkan kepalanya.
"Kapan dia akan sadar ibu?" Tanya Tala kepada ibu Dhara.
Ibu Dhara merasa tidak tega dengan anaknya ini. Ibu Dhara tau betapa Tala sangat mencintai sosok Adya.
Namun rahasia antara Tala dengan Adya yang menganggap bahwa mereka hanyalah sepasang kakak beradik tidak lebih dari itu.
"Berdoa saja sayang kepada Tuhan semua akan baik-baik saja. Bukankah ini terjadi tidak hanya sekali." Ucap ibu Dhara menghibur.
"Bukankah dokter pernah mengatakan bahwa hidupnya Adya tidak akan bertahan lama dan hanya beberapa bulan saja buktinya sampai sekarang Adya masih hidup sampai sekarang."
Dokter umum yang dipanggil oleh ayah Davka tadi mengetuk pintu dan meminta izin kepada keluarga pemilik rumah sakit tersebut untuk memeriksa keadaan Eve.
Eve yang sedang tidak enak badan sudah tertidur ketika dirinya sudah berada di atas ranjang.
"Bagaimana keadaan putri saya dok?" Tanya ayah Davka.
"Nona muda sedang demam Tuan dan kelelahan juga. Ini resep untuk Nona muda segera tebus ke apotek agar bisa diminum oleh Nona muda." Ujar dokter umum tersebut.
"Nona muda memerlukan waktu istirahat cukup saya tadi sudah menyuntikkan antibiotik ke tubuh Nona muda." Ujar dokter umum tersebut.
*Bersambung*
Mohon maaf ya guys aku update kemarin cuman satu sebenarnya ini update kemarin tapi belum selesai.
Lunar lagi sakit dari sore kemarin cuman tidur aja kerjaannya badan Lunar panas banget.
Do'akan Lunar biar cepat sembuh dan update minimal dua kali sehari lagi ya guys.
__ADS_1