Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 22. Mendengarkan


__ADS_3

Flashback On Adya


Adya yang kini sudah berusia delapan belas tahun dengan semangatnya Adya bangun dari tempat tidurnya yang sederhana. Bagi Adya bertambahnya umur sangatlah menyenangkan walaupun sebenarnya usianya akan berkurang setiap hari bukan bahkan setiap detiknya.


Berjalan dengan langkah kaki yang penuh semangat bahkan senyuman di bibirnya tak pernah pudar. Apalagi saat dirinya membuka pintu kamarnya dan ada sebuah boneka besar serta bunga yang beserta dengan seorang laki-laki.


Senyum sumringah Adya berikan tatkala mendapat sambutan hangat dari sang kekasih. “Selamat ulang tahun.” Ucap suara bass itu membuat Adya sangat senang dan mempersilahkan kekasihnya untuk masuk.


Adya mengambil boneka dan juga bunga dari kekasihnya tersebut dan tidak lupa mengucapkan kata terimakasih ketika Adya menerimanya.


Lalu Adya meletakkan boneka dan bunga. Adya berjalan menghambur di pelukan sang kekasih dan disambut hangat oleh sang kekasih yang bernama Adhikari Ekata Werawan. “Aku kira kamu lupa.”


“Mana mungkin aku lupa ini adalah ulang tahun pertama kamu yang aku rayain semenjak kita jadian.” Ujar Adhikari sambil menatap Adya.


Adhikari memajukan wajahnya hendak mencium Adya namun Adya menahannya saat melihat bahwa pintu rumahnya masih terbuka.


Adhikari yang mendapatkan penolakan dari Adya cemberut dan mengernyitkan dahinya saat melihat bahwa sang kekasih menahan dirinya lalu berjalan ke arah depan. Oh, ternyata untuk menutup pintu dan menguncinya.


Adhikari sangat senang Adhikari kira Adya sudah tidak mau lagi dengannya. Adya kembali datang dan memeluk Adhikari lalu mereka berciuman.


Ciuman di antara keduanya semakin panas seperti biasanya lalu akan berakhir saat mereka tidak mengenakan pakaian apa pun yang melekat di tubuhnya. Untuk ke sekian kalinya mereka melakukannya.


Wajah penuh dengan keringat serta nafasnya yang cepat karena aktivitas yang dilakukan keduanya. Adya tersenyum lalu teringat akan sesuatu. Tangan kecil Adya mengambil sesuatu yang berada di dalam laci sebelah tempat tidurnya.


“Aku punya hadiah untukmu.” Ucap Adya sembari menggenggam sebuah kotak kecil yang berbungkus kado berwarna putih dengan corak gambar pink.


Adhikari yang semulanya menatap ke atas dinding langit dengan tangan di dahinya menoleh menatap ke arah Adya ketika dirinya mendengar bahwa dirinya mendapatkan hadiah.


Adya menyerahkan kotak kecil tersebut kepada Adhikari dengan senyumannya yang sumringah, “bukalah.” Ucap Adya.


Adhikari menerimanya tanpa banyak berkata ataupun berbicara tapi sebelum itu Adhikari membenarkan posisinya menjadi duduk Adya pun mengikutinya dan bersandar di dada Adhikari.


Membuka dengan perlahan dan melihat isi yang di dalamnya berupa sebuah benda kecil berbentuk segi panjang. Adhikari tau apa benda tersebut karena dirinya memang calon dokter.


Adya yang sedari tadi tersenyum menatap ekspresi Adhikari yang terdiam. Adhikari segera bangkit dari posisi tidurnya dan mengambil boxer yang terjatuh di lantai akibat aktivitas yang dilakukannya bersama Adya.


“Ini nggak boleh terjadi.” Ucap Adhikari lirih sambil menatap benda kecil yang menampilkan dua garis biru tersebut.


Adya yang terkejut melihat Adhikari langsung bangkit dari tempat tidur sambil tangannya memperbaiki selimut yang menutupi tubuh polosnya. “Add kamu kenapa?” Tanya Adya kebingungan. “Aku juga sama terkejutnya ketika tau hasilnya tapi aku tau bahwa kamu…” Nama panggilan Adhikari Ekata Werawan adalah Add atau Eddy.


“Gugurkan.” Ucap Adhikari memotong ucapan Adya.


Adya yang mendengarnya terkejut melihat reaksi dan perkataan Adhikari kekasihnya. Adhikari menatap ke arah Adya yang terdiam. “Dengarkan aku, kita belum siap untuk memiliki anak apalagi kita masih menjadi seorang mahasiswa. Mahasiswa baru Adya.” Ujar Adhikari.


“Tapi…”


“Tidak ada tapi-tapian Adya Parabawa ini adalah bencana buat kita berdua. Apakah kamu tidak mendengarkan ku ketika aku menyuruh mu untuk meminum pil kontrasepsi yang aku beli?” Ucap Adhikari membuat Adya sakit mendengarnya.


“Kita harus menggugurkannya, kamu bersiap-siaplah hari ini kamu tidak ada kuliah kan. Segeralah bersihkan dirimu.” Perintah Adhikari kepada Adya lalu Adhikari pergi keluar meninggalkan Adya yang terdiam.


Mata Adya mengeluarkan air matanya ketika mendengar perkataan kekasihnya yang meminta dirinya untuk menggugurkan kandungannya. Adya memeluk perutnya yang masih rata tersebut. “Maafkan aku.” Ucap Adya.


Adya segera bangkit dari tempat tidur setelah sebelumnya menghapus air matanya dan melilitkan selimut di tubuhnya untuk membersihkan diri di kamar mandi.

__ADS_1


Adya kini sudah siap semenjak tadi Adya hanya diam saja di dalam kamarnya tanpa banyak berbicara. Suasana di antara keduanya menjadi hening namun teralihkan ketika mendengar suara bel yang berbunyi.


Adhikari menoleh menatap ke arah Adya, “itu pasti Nabastala, kamu bersikaplah seperti biasa.” Ucap Adhikari.


Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Adhikari bahwa itu adalah Nabastala sepupu dari kekasihnya yang Adya kenal bernama Nabastala Affandra Werawan.


Adya berusaha memberikan senyumannya kepada Tala dan bersikap seperti biasa namun Tala yang melihatnya terasa janggal. “Ada apa dengan wajah kakak? Apakah kakak sedang sakit kenapa pucat sekali?” Tanya Tala dengan beruntun.


Adya menggelengkan kepalanya dan tersenyum mata Adya melirik ke arah Adhikari sedikit. “Katakan apa kak Add menyakiti kakak?” Tanya Tala sambil menatap tajam ke arah Adhikari.


“Wajahnya pucat karena aku mengagetkannya dengan sebuah cicak mainan.” Ujar Adhikari kepada Tala dan menatap dalam mata Adya.


Adya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. “Apa yang kamu bawa adik kecil.” Ujar Adya sambil mencubit hidung mancung Tala yang sangat disukai oleh Adya tersebut.


“Aku membawa hadiah buat kakak. Tala yakin bahwa kakak akan sangat menyukainya. Sebenarnya semalam aku mau memberikannya kepada kakak tapi kakak tau sendiri bahwa Tala punya jam malam yang telah diputuskan bersama dengan ibu dan ayah.”


“Tala ingin memberikan hadiah pertama kali sebelum kak Add untungnya hari ini Tala pulang sekolah dengan cepat karena guru ada rapat dadakan.” Adya menganggukkan kepalanya.


Suara dering ponsel terdengar membuat ketiganya menatap ke arah di mana ponsel itu berada. Adhikari yang mendengar nada dering tersebut yang sengaja dibuat olehnya segera mengangkatnya dan berjalan menjauh.


Lalu Adhikari segera kembali lagi dan pamit kepada Adya dan Tala bahwa dirinya ada sesuatu terdesak yang harus dilakukannya. “Minggu depan aku akan menemuimu lagi dan bersiap-siaplah.” Ucap Adhikari sebelum pergi dari rumah Adya.


Tala mengernyitkan dahinya mendengar perkataan dari sepupunya itu kepada orang yang di depannya apalagi ketika melihat tatapan mata Adya yang kosong. “Kak apa maksud dari kak Add?” Tanya Tala.


“Tidak apa-apa, anak kecil tidak boleh tau.” Ucap Adya lalu bangkit dan berjalan ke arah dapur. “Kamu mau minum apa, apakah seperti biasa?” Tanya Adya menawarkan dan Tala yang mengikuti Adya ke arah dapur menganggukkan kepalanya dengan semangat.


Adya tersenyum melihat Tala yang begitu menggemaskan. Lihat sekarang dirinya bagaikan seorang kakak yang sedang menuruti keinginan adiknya untuk membuat susu vanilla kesukaannya. “Apakah bibi Dhara dan paman Davka sehat Tala?” Tanya Adya membuat Tala tersenyum. Ini adalah salah satu yang membuat Tala merasa nyaman dan menganggap bahwa Adya adalah kakaknya karena perhatian yang diberikan Adya kepada ibu dan ayahnya.


Adya dan Tala bercerita satu sama lain lebih tepatnya Tala yang terus bercerita mengenai orang yang sangat disukainya dan bahkan membuat Tala jatuh cinta dan terpesona. Tapi, gadis yang membuatnya jatuh cinta tersebut adalah gadis populer di angkatannya banyak kakak kelas, teman seangkatan, dan adik kelas yang menyukainya bahkan Tala mendengar bahwa gadis itu juga punya digilai oleh mahasiswa.


“Apa kamu yakin bahwa gadis itu tidak menyesal menerima mu?” Goda Adya membuat Tala memajukan bibirnya.


Tala dari kecil memang sangatlah tampan apalagi dengan kulitnya yang seputih susu dan badannya yang menjulang tinggi walaupun lebih tinggi Adhikari tiga sentimeter dari Tala.


Adya dulu pernah bertanya kepada Tala apa rahasia Tala yang memiliki kulit seputih susu dan jawaban Tala adalah karena dirinya sering meminum susu vanilla. Mendengar jawaban Tala tak kuasa rasanya Adya menahan tawanya.


Apalagi saat Adya melihat bahwa di dalam tas Tala ada buku diari mengenai tentang segala susu entah itu khasiatnya, kandungan yang ada di dalamnya.


Belum lagi ketika Adya mendengar bahwa Tala menyimpan kaos kakinya di bawah bantal dengan alasan bahwa kaos kakinya juga lelah karena dipakainya seharian akibat aktivitas padat yang dilakukannya.


Sungguh konyol untuk dibaca dan sungguh menggemaskan untuk Adya melihat kepolosan dan keluguan tingkah laku Tala yang membuatnya tak kuasa setiap kali membaca buku diari Tala tentunya atas izin Tala.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan akhirnya tahun pun berganti dan kini usia Adya sudah menginjak dua puluh tiga tahun dan dirinya sudah lulus kuliah.


Banyak hal yang terjadi selama kehidupannya termasuk Tala yang dulunya sangat suka tersenyum menjadi irit tersenyum semenjak dirinya tau bahwa kekasih yang sangat dicintainya ternyata sangat dekat dengan kakak sepupunya Adhikari Ekata Werawan.


Dan Tala juga mengetahui rahasia yang disembunyikan Adya dan Adhikari bahwa Adhikari sudah berapa kali menyuruh Adya untuk aborsi. Tala tau bahwa alasan kenapa Adhikari melakukan itu karena Adhikari begitu sangat mencintai kekasihnya yang kini entah hilang ke mana semenjak dirinya lulus senior high school.


Tala tidak ingin mendengar gadis itu lagi karena gadis itu yang menghancurkan segalanya.


Kekasihnya memang tidak tau bahwa nama belakangnya adalah Werawan karena Tala hanya memberikan namanya dengan Nabastala Affandra W. Dan Tala juga sudah tau bahwa kekasihnya itu memang tidak mencintainya.


Adya yang kembali hamil untuk ketujuh kalinya tidak mau menggugurkan kandungannya dan tidak memberitahukan kehamilannya ini kepada Adhikari namun Adya langsung datang ke mansion Werawan.

__ADS_1


Adya meminta alamat mansion Werawan kepada Tala.


Adya memberanikan diri datang dan mengatakan bahwa dia adalah kekasih dari Adhikari dan sekarang dia sedang mengandung.


Namun, reaksi yang diberikan tidak sesuai dengan yang ada di benak Adya.


Adya berpikir bahwa keluarga Werawan akan menerimanya seperti Tala dan kedua orangtuanya.


Ekspektasi dan kenyataan memang menyakitkan.


Adya malah disuruh untuk melakukan aborsi dan bahkan dihina. Adhikari yang baru pulang dan melihat ada Adya terkejut.


Adhikari tidak membela Adya. Adya merasa sakit hati dan pingsan.


Saat terbangun dari pingsannya Adya sudah di rumah sakit dengan baju pasiennya. Adya meraba perutnya dan meneteskan air matanya bahwa bayi yang di kandungannya sudah tidak ada lagi di perutnya.


Aborsi kali ini tanpa seizinnya dan dalam keadaannya yang tidak sadar. Entah apa yang diberikan kepada dirinya sehingga dirinya baru terbangun di malam hari.


Karena ke tujuh kalinya Adya melakukan aborsi membuat perut Adya sangat sakit. Bahkan semenjak sadar Adya tidak melihat Adhikari.


Tala yang mendengar dari pengawalnya untuk mengawasi Adya segera datang dan merasa sangat marah kepada Adhikari.


Apalagi ketika dirinya mendengar dari ibunya bahwa paman dan bibinya juga ikut membantu dan menyuruh Adya untuk menggugurkan kandungan Adya lagi. Tala merasa sangat frustrasi melihat keadaan Adya.


Tala tau bagaimana paman dan bibinya tidak akan mau menerima seorang wanita biasa untuk menjadi bagian keluarga mereka. Semuanya menjadi kacau Adhikari pergi menghilang entah ke mana setelah menyuruh Adya melakukan aborsi yang ke tujuh kalinya.


Berjalan dengan tergesa ketika mendengar bahwa Adya berjalan ke arah jembatan di malam hari dengan menggunakan mobilnya akhirnya Tala sampai dan melihat bahwa Adya sudah berdiri di atas jembatan sambil merentangkan kedua tangannya.


Tala berlari sekencang-kencangnya dan menarik Adya sehingga keduanya terjatuh. “Kenapa kakak sangat bodoh.” Untuk pertama kalinya Tala mengatakan hal kasar dan kotor kepada Adya.


"Kenapa, kenapa dia melakukan ini kepadaku kenapa?" Isak tangis Adya.


"Aku, aku sudah memberikannya Tala aku sudah memberikan segalanya kepadanya."


"Dan aku mengikuti keinginannya untuk mengugurkan bayi yang ada di dalam kandunganku huhuhuhu."


"Sudah tujuh kali aku lakukan tujuh kali Tala aku lakukan aku sudah membunuh nyawa sebanyak tujuh kali. Aku pembunuh Tala, aku pembunuh."


"Lalu dia pergi meninggalkan aku. Aku dihina aku dihina dia hanya diam saja. Kamu tau bahwa kan awalnya aku tidak mau melakukannya tapi dia memaksa aku dan aku tidak punya pilihan."


"Aku pembunuh aku pembunuh." Sakit rasanya mendengar kesakitan yang dirasakan oleh Adya namun Tala tidak berbuat apa-apa selain berada di sisi Adya dan tidak meninggalkannya.


"Tala ada di sini kak. Tala tidak akan meninggalkan kakak. Tala akan menikahi kakak."


"Tala tidak akan membiarkan kakak sendiri Tala tidak akan segan-segan memberikan balasan kepada orang yang telah menyakiti kakak. Tapi, kakak harus sembuh jangan seperti ini ya."


Adya hanya menangis di dalam pelukan Tala. Semenjak itu Tala tidak ingin lagi meninggalkan Adya sendirian di dalam rumahnya dan membawa Adya masuk ke dalam mansion milik ayah dan ibunya.


Ayah Davka dan ibu Dhara menerima dengan tangan terbuka apalagi ketika mendengar bahwa Tala ingin menikah dengan Adya walaupun Tala masih kuliah saat ini.


Ayah Davka, ibu Dhara dan kakek Werawan menyetujui pernikahan dirinya dengan Adya hal itu membuat Tala merasa lega karena mendapatkan dukungan. Tala tidak peduli dengan keluarga besarnya yang tidak menerima dan tidak sudi menerima Adya sebagai bagian dari keluarganya.


Menurut keluarga besar Werawan Adya adalah wanita yang kotor dan licik serta murahan karena memberikan tubuhnya dengan begitu bodoh kepada seorang laki-laki. Mereka juga menuduh bahwa Adya telah menjebak dan menggida Adhikari untuk masuk ke dalam keluarga Werawan.

__ADS_1


Flashbackk Off Adya


__ADS_2