Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 189. Pertengkaran Orang tua dan Anak


__ADS_3

"Ada apa ibu dan ayah menyuruhku datang kemari tanpa Axel?" Tanya Geya yang sedang duduk di ruang keluarga mansion kakek Werawan.


"Gulzar dan Ayanna sudah mempunyai anak dan kamu masih belum juga. Sudah ibu bilang ceraikan saja Axel. Jika kamu bersama Axel terus kamu tidak akan pernah bisa hamil Geya."


"Ibu kita sudah bicarakan hal ini. Rumah tangga Geya dan Axel biarkan kami berdua saja tanpa ada campur tangan dari orang lain." Ujar Geya dengan lembut. Ia mengingat bahwa pesan dari suaminya untuk selalu berbicara lembut dengan kedua orangtuanya sekesal apa pun itu.


"Kamu masih ingin bertahan dengannya. Seharusnya dari dulu kamu tidak menikah dengannya. Kamu tau Nara bahkan dulu sulit untuk mendapatkan keturunan pasti Axel juga menurun dari mamanya itu. Jangan membuang-buang waktumu Geya." Sarkas ibu Geya.


"Jika ini yang ingin kalian bicarakan maka Geya pamit undur diri." Ucap Geya yang hendak bangkit.


"Ayah sudah mencarikan calonmu cepat ceraikan Axel segera." Bagaimana tersambar petir hati Geya mendengar ucapan dari ayahnya itu. Selama ini ayahnya hanya diam saja walaupun ibunya mendesak.


Geya menatap nanar ke arah kedua orangtuanya. "Ibu, ayah Geya mohon jangan membuat Geya dan Axel serta mama Nara tertekan karena kalian. Geya merasa malu rasanya untuk menghadap ke arah mereka setiap hari." Ucap Geya dengan sedih.


"Kamu jangan menjadi anak durhaka Geya. Kamu harus menuruti perintah kami. Dia adalah laki-laki dari keluarga kaya di negaranya dan sangat terpandang dia bisa membantu kita untuk berada di atas Davka dan Dhara. Kita tidak akan tertindas lagi dan kita akan dengan mudah menemukan kakak mu Adhikari yang disembunyikan oleh Tala."


"Kita?" Ulang Geya dengan nanar. "Ibu ayah berhentilah bersikap serakah dan tam---"


PLAK


Ayah Geya menampar pipi Geya hingga memerah mendengar perkataan putrinya itu apalagi nada Geya yang naik saat berbicara dengan mereka.


Wajah Geya berpaling ke samping dibuatnya. Geya tidak bisa lagi menahan air matanya yang jatuh.

__ADS_1


Tala yang baru sampai di mansion kakeknya itu setelah mendengar perkataan pengawalnya tersebut bahwa Geya datang seorang diri dengan cepat masuk.


"Jaga bicaramu Geya. Tala sudah menyembunyikan kakak mu apa kamu juga mengikuti mereka yang tidak punya hati hah." Bentak ayah Geya.


"Ayah aku kira ayah punya kasih sayang dan perhatian padaku yang lebih dari ibu. Kenapa kalian selalu hanya melihat kak Add bukan aku. Itu adalah kesalahan kak Add sendiri dan kalian bahkan...kalian bahkan tidak merasa bersalah atas apa yang dilakukan kak Add dulu pada almarhumah kak Adya bahkan sampai sekarang. Tidakkah kalian malu dengan itu. Geya saja malu. Dan kenapa kalian hanya memikirkan kak Add tidak Geya."


PLAK


Satu tamparan lagi di pipi Geya sehingga kedua pipinya memerah dan itu didengar oleh Tala dengan cepat Tala berjalan mendekat saat ia mendengar ada yang tidak beres.


Geya tidak menyerah untuk menyadarkan kedua orangtuanya dan ia semakin berani. "Jangan menjelekkan paman Davka bibi Dhara dan kak Tala meraka adalah orang yang baik dan mereka selalu ada untuk Geya dan memberikan kasih sayangnya mereka. Kalian masih tidak sadar hah betapa jahat dan kejam kalian aku malu aku ma---"


"Jangan pernah menampar wajah adikku lagi." Ucap Tala dengan marah tegas dan dingin menatap paman dan bibinya itu sembari memegang tangan pamannya yang hendak menampar Geya lagi anaknya.


"Ouw aku lupa yang kalian lihat hanya Adhikari anak laki-laki kesayangan kalian yang kalian jadikan boneka untuk dijadikan penerus dan ahli waris. Sayangnya pewaris tunggal harta kekayaan Werawan adalah milik Nabastala Affandra Werawan sedari awal tidak bisa diganggu gugat. Jangan sampai aku melakukan sesuatu yang lebih kepada kalian sehingga kalian tidak bisa lagi hidup dengan nyaman. Kalian tidak mau bukan."


Tala menarik tangan Geya meninggalkan paman dan bibinya itu yang merasa marah dan menahan kekesalan melihat Tala. Selalu saja ada Tala yang mengganggu mereka.


Tala memeluk adik sepupunya itu yang menangis dengan keras di dalam mobil.


"Tenanglah kakak akan selalu ada di sampingmu. Jangan dengarkan mereka cukup doakan saja supaya mereka dengan cepat sadar. Jangan pernah datang sendirian tanpa kakak ataupun tanpa Axel."


Geya hanya diam saja dan menangis dengan keras. "Jalan." Ujar Tala kepada sopirnya tersebut.

__ADS_1


Geya tidak peduli mau dibawa ke mana sekarang hatinya sangat hancur apalagi menerima tekanan yang berasal dari keluarganya sendiri. Ibu mertuanya tidak pernah mengungkit soal anak begitu juga dengan suaminya itu mereka dengan sabar dan tenang.


Geya yang berada di pelukan Tala sampai tertidur karena terlalu lelah menangis.


Tala bingung harus membawa Geya ke mana ke mansion ibu dan ayahnya atau ke rumah mama Axel.


Tapi, kalau dibawa ke rumahnya itu sangat tidak mungkin Geya perlu menenangkan diri. Sebaiknya dia membawa ke rumah mama Axel saja di sana lebih tenang.


Tala menggendong Geya hal itu membuat mama Axel merasa khawatir dengan menantunya itu namun ia urungkan bertanya dan membantu Tala untuk membukakan pintu kamar Axel dan Geya.


"Mama saat ini dia sedang sangat tertekan. Pipi adikku memerah dua-duanya ini karena ulah kedua orangtuanya sendiri."


Tala menatap ke arah mama Axel, "mama terimakasih karena sudah mengerti dan memahami Geya dan tidak menuntut apa-apa padanya. Terimakasih sudah memperlakukan Geya sebagai putri mama sendiri bukan sebagai menantu." Ucap Tala dengan tulus.


"Kamu ini mama sudah menganggap Geya sebanyak anak sendiri. Kamu tau kan mama hanya punya Axel dan adanya Geya sudah membuat mama senang apapun kekurangannya. Lagipula mama bisa mendapatkan cucu dari kalian cucu mama kan banyak mama tidak akan kesepian." Ujar mama Axel.


Tala dan mama Axel keluar dari kamar Geya dan Axel agar mereka tidak menganggu Geya yang tidur karena lelah menangis.


"Pasti sangat berat baginya melihat para ibu muda mempunyai anak lebih dari satu. Mama hanya bisa menemani dan memberikan dukungan kepada Geya mama tau bagaimana rasanya seperti Geya dulu sebelum.mendapatkan Axel walaupun mama dan papa Axel tetap saja bercerai namun semua itu sudah berlalu. Mama yakin Geya bisa hamil ini hanya ujian pernikahan bagi Geya dan Axel. Yang harus mereka lakukan hanyalah berusaha, berdoa dan bersabar saja."


"Terimakasih. Geya beruntung mendapatkan ibu mertua seperti mama dan suami seperti Axel. Kalau begitu Tala pamit undur diri tadi Tala sudah menelpon Axel dan dia sedang berjalan pulang sepertinya anak mama yang bucin dan tengil itu sangat khawatir." Keduanya tertawa bersama.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2