
Keesokan harinya Eve merasa sangat malas dan mumpung hari ini dirinya libur beserta besok jadi Eve sangat malas untuk turun dari tempat tidurnya. Kepala pelayan yang belum melihat Nona mudanya turun merasa khawatir.
Kepala pelayan mengetuk pintu dengan pelan Eve yang mendengarnya segera menyuruh kepala pelayan untuk masuk ke dalam kamar. “Ada apa bibi?” Tanya Eve yang memperbaiki posisi tidurnya menjadi duduk bersandar dengan kepala ranjang.
“Mohon maaf Nona, apakah Nona sedang sakit?” Tanya kepala pelayan kepada Eve. Sementara Eve yang mendengarnya melirik jam di atas pintu kamar dan jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
“Eve baik-baik saja bibi hanya saja Eve malas keluar dari kamar.” Jelas Eve membuat kepala pelayan menganggukkan kepalanya. “Apakah Eve bisa minta tolong?” Pinta Eve seperti biasa bertanya terlebih dahulu.
“Nona jangan begitu sungkan untuk meminta tolong kami. Pekerjaan kami adalah melayani majikannya Nona. Jadi, apa pun yang Nona perlu kami berusaha untuk melayani Nona.” Jelas kepala pelayan.
Eve tersenyum mendengarnya, “bibi benar bahwa kalian bekerja sebagai pelayan tapi kalian juga manusia. Jadi, ada baiknya kita sebagai manusia saling menghargai satu sama lain terlepas dari profesi seseorang maupun status seseorang tersebut. Karena kita adalah makhluk sosial.”
“Eve melakukan hal ini karena Eve juga ingin orang memperlakukan Eve seperti Eve melakukan orang lain namun walau tidak menutup kemungkinan itu tidak akan bisa.” Ucap Eve dengan miris. “Bukankah apa yang kita tanam akan kita tuai.” Ucap Eve dengan peribahasanya membuat kepala pelayan tersenyum dan mengerti.
“Bibi adalah orang tua jadi Eve harus menghormatinya karena pastinya pengalaman bibi sangat banyak dari pahit dan manisnya yang pernah dirasakan bibi. Bukan hanya yang lebih tua tapi yang lebih muda dan seumuran Eve akan menghormati dan menghargai mereka.”
“Jadi, bibi bisakah kita bersikap layaknya anak dan ibu atau tidak keponakan dan bibi.” Pinta Eve. Kepala pelayan yang mendengarnya merasa terharu melihat bagaimana beruntungnya Tuan mudanya mendapatkan istri yang sangat baik hati dan cantik seperti rupanya.
“Iya Nona, jadi apa yang bisa bibi bantu?” Tanya kepala pelayan tersebut menanyakan apa yang menjadi keinginan dari Eve.
Eve tersenyum senang mendengarnya. “Eve dan bayi Eve sangat lapar jadi Eve meminta tolong bisakah bibi untuk membawa sarapan buat Eve.” Pinta Eve dengan nada lembut dan sopannya.
Kepala pelayan mengangguk dan tersenyum. “Nona ingin sarapan apa?” Tanya kepala pelayan tersebut.
“Apa yang sudah dihidangkan saja bibi, pagi ini dia nggak rewel dan aku juga nggak mengalami muntah-muntah seperti setiap paginya. Hanya saja aku lagi malas, dia sepertinya ingin protes bahwa aku harus beristirahat.” Ucap Eve menunduk dan mengusap perutnya.
Kepala pelayan segera mengiyakan dan pamit mengundurkan diri untuk mengambil sarapan yang diminta oleh Nona mudanya. “Kita beruntung bahwa kita masih dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan perhatian. Kelak kamu tidak akan kekurangan perhatian jika ibu pergi.” Ucap Eve menangis.
Saat Eve mendengar suara ketukan pintu yang sudah bisa ditebakkan Eve bahwa itu adalah kepala pelayan dengan segera Eve mengusap air matanya dan menampilkan senyumannya.
“Terimakasih bibi.” Ucap Eve dan mendapat anggukan kepala dari kepala pelayan. “Apakah Eve bisa minta tolong lagi temani Eve sarapan. Eve juga ingin bibi sarapan bersama dengan Eve.” Pinta Eve, “kita sudah sepakat bahwa kita harus lebih dekat Eve ingin dekat dengan bibi. Jika Eve tidak bisa mendapatkan itu maka ini adalah perintah dari Eve untuk bibi.” Ucap Eve saat melihat bahwa kepala pelayan hendak menolak.
Kepala pelayan tersenyum senang dan hal itu membuat Eve senang. Mereka terlihat seperti bukan pelayan dan majikannya melainkan terlihat seperti seorang anak dan ibu yang saling bertukar cerita.
Kepala pelayan menjelaskan bagaimana dulunya dirinya mengandung anaknya yang kini menjadi pengawal Eve. Eve tentu saja senang mendengar ceritanya apalagi dirinya mendengar bagaimana aktifnya pengawalnya yang suka aktif itu.
“Dia sangat lucu bibi.” Ucap Eve dengan gemas saat mendengar cerita kepala pelayan mengenai pengawal yang selalu berada di sisinya itu.
Kepala pelayan sangat senang saat melihat bahwa Nona mudanya tertawa dengan begitu lepas. “Nona harus menjaga kandungan Nona, jangan terlalu stres dan jangan terlalu banyak pikiran. Nona cukup pikirkan kandungan Nona dan kesehatan Nona.” Nasihat kepala pelayan.
Eve tersenyum mendengarnya lalu deringan ponsel Eve membuat atensi keduanya teralihkan. Kepala pelayan segera mengambil ponsel Eve yang ada di atas nakas samping tempat tidur.
“Nona ini telepon dari Nyonya besar.” Ucap kepala pelayan sembari memberikan ponsel milik Eve kepada Eve.
Eve memamerkan senyuman cerahnya saat dirinya menerima telepon dari ibu Dhara. Ini adalah pertama kalinya menelpon dirinya setelah kepergian mereka satu bulan yang lalu ibu Dhara, ayah Davka dan Adya biasanya mengirimkan kabar dan menanyakan kabar melalui pesan teks.
“Halo ibu.” Ucap Eve dengan semangat ibu Dhara dan ayah Davka yang mendengar suara Eve begitu semangat merasa sangat senang itu artinya menantunya itu baik-baik saja dan paling mengerti.
__ADS_1
“Halo sayang bagaimana kabar mu. Maafkan ibu dan ayah ya karena baru menelpon mu sekarang.” Ucap ibu Dhara kepada Eve.
“Kabar Eve baik terutama hari ini. Tidak apa-apa ibu, Eve mengerti lagian Eve tidak sendiri ada bibi dan bapak sopir serta pengawal yang selalu menemani Eve. Bagaimana kabar kak Adya?” Tanya Eve penasaran, “Eve sangat merindukan kak Adya.”
Ibu Dhara dan ayah Davka tersenyum mendengarnya dan melihat ke arah Adya yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya mendengarkan. Sementara Tala duduk di sofa memainkan ponselnya.
“Adya baik-baik saja sayang jangan khawatir. Kami menelpon mu karena kami ingin memberitahukan bahwa kami akan pulang dan sampai ke mansion besok pagi.” Ucap ibu Dhara sementara Eve yang mendengarnya merasa sangat senang.
Pekikan kesenangan Eve membuat hati ibu Dhara dan ayah Davka merasa sangat senang. Mereka merasa seperti memiliki seorang putri kandung yang begitu menggemaskan. Sedangkan Adya tersenyum mendengar pekikan Eve yang begitu senang dan semangatnya.
Kepala pelayan yang melihat wajah bahagia Eve juga ikut bahagia saat mendengar bahwa majikan besarnya akan segera kembali besok pagi.
Percakapannya begitu lama sampai dua jam lamanya kepala pelayan sudah mengundurkan diri dan pamit dari kamar Eve sudah berapa kali. “Baik ibu, Eve juga mempunyai kabar yang gembira buat kalian. Eve nggak sabar bertemu dengan kalian terutama ibu dan ayah.” Ucap Eve membuat ibu Dhara dan ayah Davka sangat penasaran namun mereka mengiyakannya.
Sambungan telepon terputus Eve dengan gembiranya berjalan ke sana kemari dan seidkit menari. “Sayang besok nenek dan kakek akan menyapa mu. Ibu akan memberitahukan bahwa kamu ada di dalam perut ibu.” Ucap Eve dengan bahagia.
“Sayang apakah kamu senang, besok juga kamu akan bertemu dengan mama Adya dan ayah Tala. Ibu sungguh tidak sabar ingin memberitahukan mu kepada mereka. Seperti yang ibu bilang bahwa kamu akan merasa sangat bahagia nantinya mereka akan sangat perhatian kepada mu.” Ucap Eve lalu segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Eve berniat untuk pergi ke salon agar dirinya terlihat cantik nanti saat menyambut kedua mertuanya beserta istri pertama suami dan suaminya. “Mari kita perawatan. Entah kenapa ibu merasa bahwa ibu sangat centil sekali. Apakah kamu perempun.” Ucap Eve dengan senyumannya.
Eve berjalan keluar dari kamarnya dengan penuh semangat dan senyumnya yang sumringah. “Nona mau ke mana?” Tanya kepala pelayan yang melihat bahwa Eve sangat cantik dan memakai gaun bunganya.
“Eve pamit mau pergi ke salon dan tempat spa dulu bibi.” Ucap Eve dengan semangat lalu meninggalkan kepala pelayan yang menatap punggungnya sampai menghilang.
“Pasti Nona Eve sangat merindukan Tuan dan Nyonya besar, serta Tuan muda dan Nona muda Adya. Nona terlihat sangat bahagia. Bibi berharap dan berdoa kepada Tuhan agar Nona selalu tetap tersenyum.”
“Selamat siang bapak. Tolong anterin Eve ke salon ya Eve mau mewarnai rambut.” Ucap Eve dengan semangat. Sopir yang biasa mengantar jemput Eve menatap bingung ke arah pengawal yang juga selalu menemaninya mengantar dan menjemput Eve.
“Kamu benar aku tidak boleh mewarnai rambut aku. Tapi aku ingin mewarnai rambut bagaimana ya caranya. Aha bagaimana kalau kamu saja yang mewarnai rambutnya, tolong ya.” Ucap Eve dengan nada yang menggemaskan hingga pengawal tersebut agar tidak dapat menolak keinginannya.
“Nanti gimana kalau keinginan bayi di dalam kandungan ku tidak terkabul dia pasti akan sangat sedih. Kamu bilang bahwa kamu akan melakukan apa pun mumpung aku tidak bisa menurutinya karena menjaganya kamu mau ya bibi pengawal yang cantik.”
Pengawal hanya mengangguk pasrah dan mengerjapkan kedua matanya sedangkan Eve sudah bersorak senang bahkan di dalam perjalanan Eve bersenandung ceria entah berapa banyak genre lagu yang dia nyanyikan tapi yang pasti suasana hati ibu hamil itu sangat bagus hari ini.
Di tempat salon Eve masuk dengan cepat dan melakukan perawatan buat kulit kepala dan rambutnya. Tempat salon yang dipilih oleh Eve langsung ada spanya sehingga memudahkan Eve untuk melakukan perawatan.
Setelah selama empat jam lamanya akhirnya Eve selesai juga namun sayang saat Eve hendak keluar Eve bertemu dengan sepupu Tala yang Eve tau bernama Geya Werawan dan juga sepupunya Harsha Adwitya.
“Ouw ternyata kita bertemu dengan istri muda dari seorang Nabastala Werawan.” Ucap Harsha sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada. Eve merematkan baju di samping kiri dan kanannya.
Sementara Geya melihat Eve dari atas sampai bawah lalu matanya melihat ke arah perut Eve dengan sinis. “Apakah kamu berusaha untuk merebutkan perhatian dari suami mu itu dari istri pertamanya yang sakit-sakitan itu.” Ucapan pedas Geya lontarkan kepada Eve.
Entah kenapa walaupun Eve tidak melakukan apa-apa tetap saja ia selalu salah di mata orang yang memang skeptis padanya. “Menaikkan kasta dari keluarga Werawan setelah dari anak pungut masuk keluarga Adwitya sekarang masuk ke keluarga Werawan. Menjijikkan.” Eve hanya bisa diam dan menggigit bibir dalamnya mendengar kata anak pungut lagi.
“Maafkan saya Nona Geya dan Nona Harsha saya sudah lama pergi dari rumah jadi saya harus pulang. Maafkan saya jika saya mengganggu Anda.” Ucap Eve dengan sopan agar segera pergi karena Eve sudah tidak nyaman dengan tatapan orang di salon yang memandang ke arahnya.
“Tidak semudah itu Nona, emm sekarang aku harus memanggil mu apa. Nona Werawan, Nona Adwitya atau Nona Elakshi. Status mu sungguh tidak jelas jadi aku bingung sebagai ipar sepupu yang baik bagaimana harus memanggil mu.”
__ADS_1
Harsha tertawa dengan senang melihat Eve begitu dipermalukan. “Dia memang dari dulu sudah tidak jelas asal usulnya. Bisa jadikan ibunya dulu merangkak untuk menjadi golongan atas seperti kita dengan cara yang kotor namun sayang dia tidak diterima oleh siapa pun karena tidak berguna.”
Pengawal yang merasa khawatir saat dirinya baru pulang dari beli cemilan untuk Eve ketika di dalam mobil segera masuk saat matanya melihat mobil milik Geya Werawan sepupu dari Nabastala.
Dan benar saja Eve sedang dihadang oleh dua perempuan dengan penampilan modisnya yang satu tidak lain adalah sepupu dari Eve sendiri. “Nona ayo kita pulang Nona sudah lama pergi. Ingat Nona jangan sampai kelelahan.” Ucap pengawal tersebut.
Harsha dan Geya membalikkan badannya dan melihat pengawal tersebut yang awalnya dengan kesal dan kini menatap sinis. “Ouw sekarang dia menjadi seorang Tuan putri di keluarga Werawan mendapatkan pelayanan seorang pengawal.” Ucap Harsha.
“Nona ayo kita pulang jangan dengarkan nyamuk yang terus berdengung dengan rasa dengkinya.” Ucap pengawal tersebut tidak kalah sinisnya. Sedangkan Geya mengepalkan kedua tangannya merasa kesal.
Geya tidak bisa berkata apa-apa karena tidak mungkin dirinya mampu melawan pengawal itu karena pengawal tersebut adalah orang kepercayaan dari kakak sepupunya Nabastala. Sedangkan Harsha yang tidak tau sudah memaki dengan penuh kekesalan kepada pengawal tersebut.
“Berani sekali dia bilang bahwa kita adalah nyamuk. Huh, apa dia bilang rasa dengki pengawal rendahan seperti dirinya tidak bisa disandingkan dengan Nona muda seperti kita.”
Di dalam mobil Eve hanya diam membuat sopir dan pengawal menatap dan melirik satu sama lain. “Apakah Nona mau makan sesuatu. Dari tadi Nona sibuk melakukan perawatan untuk menyambut kepulangan Tuan dan Nyonya besar serta Nona muda dan Tuan muda Tala. Jangan sampai kejadian tadi memengaruhi kandungan Nona.”
Eve yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya, saat ini Eve dalam suasana hati yang kurang baik. Pengawal melihat hal itu hanya bisa menghela nafas saat melihat Eve menggelengkan suaranya.
“Apakah salah jika ada orang yang mau angkat anak di panti asuhan, apakah anak di panti asuhan adalah anak dari hubungan terlarang.” Ucap Eve di dalam hatinya. Air mata Eve menetes.
Di dalam perjalanan Eve tertidur di dalam mobil ada bekas air matanya yang membekas di pipi putih meronanya. Pengawal dan sopir merasa kebingungan bagaimana mereka harus membangunkan Eve.
“Nona, Nona kita sudah sampai.” Ucap pengawal tersebut kepada Eve dan sedikit memegang lengan Eve. Eve yang merasakan ada orang yang memanggilnya terbangun dan mengerjapkan matanya agar sesuai dengan pencahayaan yang masuk.
“Terimakasih.” Ucap Eve sambil berusaha mengembalikan kesadarannya, Eve berjalan ke arah dapur dan langsung meminta makanan karena dirinya merasa sangat lapar. Setelah mengisi perutnya di sore hari Eve langsung ke kamar dan tidak keluar lagi dari kamar sampai keesokan harinya karena merasa lelah ditambah perutnya yang kekenyangan.
Di pagi harinya Eve terlihat bangun pagi dan langsung mandi. Eve harus bersiap-siap menyambut kepualangan kedua mertuanya dan juga Adya serta Nabastala karena mereka hari ini akan pulang.
Keluar dari dalam kamar mandi Eve mengusap perutnya karena merasa sangat lapar. Dari hari kemarin Eve tidak merasakan muntah dan hal itu membuat suasana hati ibu hamil itu ceria. “Sayang kamu sudah lapar sebentar ya kita akan turun ke bawah untuk sarapan yang banyak.”
“Hari ini nenek dan kakek akan pulang bersama dengan mama Adya dan ayah Tala. Apakah kamu sangat senang akan bertemu dengan mereka sama ibu juga sangat senang.” Ucap Eve kepada bayinya sambil berjalan.
Eve yang kelaparan segera berjalan ke dapur namun Eve tidak menyadari ada genangan minyak yang berada di lantai dengan cukup banyak seperti disengajakan. Karena ketidakhatiannya membuat Eve terpeleset hingga jatuh terduduk dan membuat Eve meringis kesakitan dan berteriak meminta tolong saat melihat darah yang keluar di bawah kakinya.
“Ahkk sakit.” Ringis Eve, “bibi tolonggggggggggg.” Teriak Eve nyaring membuat kepala pelayan segera datang dan melihat Eve jatuh terduduk dengan terkejut.
“Nona.” Pekik kepala pelayan, “Tolong tolong tolong.” Teriak kepala pelayan dengan nyaring.
“Bibi sakit, sakit bibi. Bibi darah ada darah yang keluar. Sayang kamu harus kuat, kamu harus kuat.” Ucap Eve dengan lirih sebelum memejamkan kedua matanya.
Ketika Eve jatuh terpeleset dan berteriak hal itu bertepatan dengan ayah Davka, ibu Dhara masuk ke mansion sehingga ketika mendengar teriakan dari menantu mereka Eve mereka langsung berlari mendengar teriakan dari Eve sementara Tala yang mendorong kursi roda Adya segera mengarahkan ke sumber suara.
Eve dibawa ke rumah sakit dan Eve sudah tidak sadarkan diri, melihat hal itu Eve segera ditangani dan dokter mengatakan bahwa Eve telah keguguran.
“Maaf Tuan, Nyonya, Tuan muda dan Nona muda. Kami tidak bisa menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungan Nona muda Eve.”
Ayah Davka, ibu Dhara, Tala, dan Adya yang mendengarnya terkejut dan terdiam apalagi mengingat bahwa usia kandungan Eve sudah dua bulan dan itu memang sangat rentan. Adya pingsan sehingga menambah kegaduhan keluarga Werawan tersebut. Tala yang menemani Adya sedangkan ibu Dhara, ayah Davka yang akan menemani Eve.
__ADS_1
*Bersambung*