Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 93. Joha dan Airen Memulai Drama


__ADS_3

“Kak Airen sedang apa di sini dan sama siapa?” Tanya Eve melihat ke arah Airen, Eve bisa melihat wajah Airen terlihat berseri dan bahagia.


Bahagia


Rasanya senang melihatnya Eve tersenyum berusaha menyembunyikan hatinya yang mulai sedih.


Suasana hatinya sangat mudah sekali sensitif karena hormon kehamilannya, Tiba-tiba senang dan tiba-tiba sedih.


“Aku sedang berlibur dan sekalian bulan madu.” Ucap Airen dengan malu-malu mengatakan hal itu kepada Eve.


Eve terkejut dan sangat senang mendengarnya, sepertinya hanya dirinya yang masih perlu proses yang lama untuk berjuang dari masa lalunya.


“Aku menelpon mu namun tidak pernah kamu angkat, aku datang ke rumah sakit kamu tidak ada kata pihak rumah sakit kamu mengundurkan diri. Aku meminta alamat mu. Namun pihak rumah sakit tidak bisa memberikannya karena privasi. Padahal aku ingin mengundang mu di pesat pernikahan ku.” Ujar Airen dengan lembut dan sedih.


Cici yang melihat Nyonyanya berdiri segera mengambil kursi lipat yang sengaja dibeli dan dibawanya. “Ini Nyonya ekhm Nona silahkan duduk.” Ucap Cici kikuk Airen tersenyum begitu juga dengan Eve.


“Maafkan aku kak, ponsel aku retak dan udah pecah.” Jawab Eve seadanya dan melihat ke depan.


Airen yang melihat pandangan Eve kosong berpikir bagaimana caranya mencairkan suasana agar ibu hamil itu tidak sedih.


“Eve kamu mengandung?” Tanya Airen pura-pura tidak tau Eve mengelus perutnya dan tersenyum.


“Iya dan sudah enam bulan.” Jawab Eve dengan wajah berserinya, Airen merasa lega mendengarnya bahwa sepertinya suasana hati Eve mulai membaik.


“Jadi, suami kak Airen di mana aku tidak melihatnya.” Ujar Eve sembari melihat ke kanan dan ke samping.


Di situlah Johannes datang dengan berpura-pura membuat nafasnya terengah-engah, “sayang kamu di mana saja aku mencari mu ke mana-mana.” Ucap Joha sembari memeluk Airen dari belakang.


Airen bisa merasakan bajunya basah oleh air mata, “aku sangat khawatir kenapa kamu pergi meninggalkan tempat mu aku kan sudah menyuruh mu untuk duduk diam tadi.” Ujar Joha sembari mengelap air matanya.


“Maafkan aku telah membuat mu khawatir tadi aku melihat Eve dan mengejarnya.” Ujar Airen sembari mengelus wajah Joha.


Eve memandang keduanya yang bermesraan Eve berpikir bahwa Airen sungguh beruntung mendapatkan perhatian dari seorang pria yang dicintainya.


“Dokternya Ashi?” Tanya Joha pura-pura mengingat dan Airen menganggukkan kepalanya dapat Airen lihat ada wajah sedih di raut suaminya.


“Iya, ini dokternya Ashi namanya Eve kemarin kalian pernah bertemu beberapa kali.” Ujar Airen tersenyum.


“Halo saya Johannes Abraham suami dari Airen Larasati.” Ucap Joha memperkenalkan diri tangannya tampak bergetar.


Eve melihat tangan yang bergetar itu lalu menyambutnya, “saya Elakshi Feshika.” Balas Eve bisa Eve rasakan betapa gemetarnya tangan Joha.


“Maafkan saya, tangan saya gemetar karena merasa khawatir dan lega.” Ujar Joha dengan ambigu. Airen paham maksud dari perkataan Joha bukanlah untuknya melainkan untuk Eve.


“Tidak apa-apa Tuan senang berkenalan dengan Anda. Anda pasti sangat mencintai kak Airen.” Ujar Eve dengan tersenyum.

__ADS_1


Acara festival sudah selesai Eve mengajak Airen dan Joha untuk ke rumahnya, kini mereka sudah duduk di sofa ruang tamu. “Jadi, kapan acara pernikahannya kak?” Tanya Eve setelah memepersilahkan tamunya tersebut untuk duduk.


“Sekitar satu minggu yang lalu.” Jawab Airen sembari mengelus tangan Eve dengan lembut. “Aku senang bisa bertemu dengan mu lagi Eve.”


“Aku juga sangat senang kak apalagi sekarang kakak tidak sendiri ada kak Joha.” Ucap Eve, tadi Johannes dan Airen menyuruh Eve untuk memanggil Johannes dengan sebutan kakak.


“Sudah berapa lama kamu tinggal di sini?” Tanya Airen


“Emmm kurang lebih empat bulan. Di sini sangat nyaman dengan pemandangannya yang indah dan penduduknya ramah.” Ujar Eve.


Airen tidak memaksa untuk Eve bercerita atau bertanya kenapa bisa Eve sampai di sini karena nyatanya Airen sudah tau apa yang membuat Eve pergi jauh dari orang yang dikenalnya.


“Pasti sangat menyenangkan rasanya aku ingin tinggal dan menetap di sini juga.” Ujar Airen sembari melihat Joha.


“Apa pun yang kamu inginkan akan aku kabulkan.” Ujar Joha dengan tersenyum.


“Aku serius tidak main-main.” Ujar Airen dengan tegas, Airen merasa bahwa dirinya harus menemani Eve karena merasa tidak tega dengan Eve yang sedang hamil dan sendirian seperti ini.


Airen tau bagaimana rasanya sangatlah hampa apalagi harus berpura-pura kuat dan baik-baik saja serta tidak boleh stres karena ada nyawa yang harus diingat dan dijaga.


Selain itu Airen harus menjaga Eve karena dirinya adalah kakak ipar dari Eve walaupun saat ini Eve masih belum tau fakta itu.


“Kapan aku tidak serius aku bahkan sangat serius sayang.” Ucap Joha sembari mengelus rambut istrinya, “aku merasa sangat senang jika kamu merasa senang.” Ujar Joha.


Eve tentu saja tersenyum senang melihat keromantisan sepasang suami istri baru itu. “Tapi, bagaimana dengan pekerjaan mu?” Tanya Airen.


“Aku akan membeli rumah yang ada di depan apakah kamu tau Eve siapa pemilik rumah yang ada di depan?” Ujar Johannes, “atau aku akan merenovasi rumah mu dan untuk biayanya tidak perlu kamu khawatirkan aku akan menanggung semuanya bahkan untuk bayi mu agar kita bisa tinggal bersama.”


“Tidak kak Joha terimakasih aku sudah lebih dari cukup dengan rumah yang sederhana ini lagipula ini adalah salah satu keinginan aku dari dulu.” Tolak Eve dengan tegas. Bukannya apa Eve tidak mau membuat orang-orang berpikiran buruk mengenai dirinya apalagi Eve tidak mau nanti Airen cemburu atau salah paham dengannya.


Tatapan Joha menjadi sedih walaupun Joha tersenyum ke arah Eve, Airen yang memahami bagaimana perasaan suaminya itu mengelus kepalanya. “Aku akan mengirim nomor pemilik rumah yang dijual di depan.” Ucap Eve beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil ponselnya.


“Sabarlah.” Ujar Airen kepada suaminya itu Airen paham bahwa Joha ingin sekali memeluk Eve dan memberitahukan kebenarannya bahwa Joha adalah kakak kandung dari wanita hamil itu.


Namun, Joha dan Airen merasa khawatir dan takut terjadi hal yang tidak diinginkan dengan Eve dan bayi Eve. Jadi, mereka memutuskan untuk memberitahukannya nanti setelah Eve selesai melahirkan.


Johannes menganggukkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Airen yang menjadi penenang buat Johannes. “Kamu tidak perlu khawatir lagi dia sudah ada di depan mata.”


Joha dan Airen pamit mengundurkan diri dari rumah Eve karena tidak mau membuat istirahat ibu hamil itu terganggu.


Eve masuk ke dalam rumahnya, Eve juga berpesan kepada Airen dan Joha agar tidak memberitahukan keberadaannya di sini kepada siapa pun.


Eve percaya bahwa keduanya tidak akan memberitahu kepada orang lain entah kenapa Eve bisa seyakin itu biasanya Eve susah untuk percaya dengan orang. Apalagi ketika Eve melihat ke arah Joha. Melihat Joha Eve merasa aman dan terjaga hal itu membuat khawatir Eve berkurang.


Keesokan harinya Eve dikejutkan dengan Airen dan Joha yang sudah ada di dapur rumahnya. Keduanya sedang memasak, Eve hari ini bangun kesiangan karena tadi malam dirinya kesulitan untuk tidur.

__ADS_1


Merindukan Tala membuat Eve tidur dengan gelisah, sepertinya bayi di dalam kandungannya sangat merindukan sang ayah. Apalagi ponselnya baru tidak ada foto satu pun di ponselnya ada Tala atau pun barang yang dibawa Eve yang berkaitan dengan Tala.


“Maafkan aku Eve yang lancang masuk ke rumah mu, kami ingin memasak sarapan buat mu lebih tepatnya Joha.” Ujar Airen sembari menyuruh Eve untuk duduk di dapur.


“Ibu hamil tidak boleh lelah dan harus terlihat bugar. Halo sayang ini imo (tante) eh tidak nanti kamu harus memanggil aku dengan sebutan mami okay.” Ujar Airen sembari berbicara kepada perut Eve dan mengelusnya.


“Apa tidak apa-apa?” Tanya Airen menatap ke arah Eve untuk meminta izin agar dirinya nanti boleh dipanggil mami oleh anak yang dikandung Eve.


Eve tersenyum, “tentu saja mami.” Jawab Eve membuat Airen merasa sangat senang mendengarnya.


“Jadi, apa aku juga boleh dipanggil papi oleh bayinya?” Tanya Joha memberanikan diri dan harap-harap cemas.


Eve menatap ke arah Airen untuk menjaga perasaan Airen, Airen tersenyum ke arah Eve, “tentu saja kak jika itu membuat kalian merasa senang, terimakasih karena sudah menyayangi bayiku.” Ucap Eve dengan canggung.


Tidak pernah terpikirkan oleh Eve bahwa bayi yang masih di dalam kandungannya saja sudah banyak orang yang menyayanginya. “Ini berkah buat mu sayang karena banyak orang yang menyayangi mu nanti.’ Ucap Eve di dalam hatinya sembari mengelus perutnya.


“Apa ibu hamil sudah berjemur?” Tanya Airen kepada Eve.


Eve menggelengkan kepalanya, “kalau begitu ibu hamil harus berjemur sekarang Joha tadi sudah mempersiapkan tempat ibu hamil berjemur. Aku akan menemani mu nanti pelayan Joha akan mengantarnya kepada ratu Eve.” Canda Airen sembari merangkul Eve dengan bahagianya.


Sedangkan Johannes mendengar perkataan istrinya sama sekali tidak tersinggung dengan sebutan pelayan malah Joha merasa senang melihat adik kandungannya dan istrinya yang sangat akrab. “Mom, dad Joha sudah menemukan Lizzy. Joha akan berusaha untuk membuatnya terus bahagia dan kalian bisa tenang di sana.” Ujar Joha menatap kepergian wanita yang sangat disayanginya itu berjalan menjauh untuk pergi berjemur di depan rumah dengan mata berkaca-kaca.


Nama Eve sebenarnya adalah Elizabeth Abraham.


“Nona semuanya sudah siap.” Ucap Cici yang ternyata berada di depan rumah, “silahkan Nona berjemur.” Ujar Cici.


“Eve tidak apa-apa kan kalau kami setiap hari dan setiap waktu datang ke sini?” Tanya Airen kepada Eve.


Eve menggelengkan kepalanya, “tidak apa-apa kak malah dia sangat senang melihat kalian datang.” Dia yang dimaksud oleh Eve adalah bayi di dalam kandungannya.


Airen tersenyum lega mendengarnya, “syukurlah semoga aku cepat menyusul.” Ujar Airen dan Eve mengaminkan apa yang dikatakan oleh Airen.


“Kalau nanti aku cepat hamil anak kita akan seumuran. Rasanya akan sangat menyenangkan anak aku akan memanggil anak mu kakak, kakak.” Ujar Airen dengan semangat bahkan suaranya dibuat seperti anak kecil.


Eve tersenyum mendengarnya dan membayangkannya betapa menyenangkannya nanti anaknya punya teman apalagi memanggilnya bunda. “Apa kamu sudah tau jenis kelaminnya?” Tanya Airen.


Eve menggelengkan kepalanya, “nanti setelah usianya tujuh bulan aku ingin melihat jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan tidak masalah.” Ujar Eve sembari mengelus perutnya itu.


Airen duduk di depan Eve sembari tangannya memijat kaki Eve, hal itu membuat Eve terkejut. Gerakan Airen begitu cepat dari berpindah tempat duduk dan sekarang sudah memijatnya.


“Ibu hamil harus rileks oke santai saja dan jangan protes. Aku tau bagaimana rasanya hamil besar seperti ini terasa sangat pegal apalagi kaki. Jangan khawatir aku jago dalam memijat.” Ucap Airen.


“Aku akan memijat kaki mu setiap hari seperti ini atau setiap kali kamu merasa pegal jadi jangan merasa sendiri aku dan suamiku sudah menganggap mu sebagai adik kami. Jadi, kamu jangan sungkan sama aku terutama juga kepada suami ku.” Ucap Airen memandang ke arah Eve dengan penuh arti.


 

__ADS_1


*Bersambung*


 


__ADS_2