Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 177. Bertemu Kembali


__ADS_3

Ayanna datang ke mansion ayah Davka dan ibu Dhara dengan penampilannya yang sederhana namun karismanya seorang selebritis tidak luntur walaupun hanya menggunakan gaun bermotif bunga sederhana berwarna biru laut tidak lupa dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


Ayanna turun dari dalam mobil kali ini dia datang sendiri tidak bersama dengan adiknya Kevin karena Kevin pasti masih bekerja dan Ayanna tidak mau mengganggu pekerjaan Kevin. Manajer Ayanna tidak membutuhkannya jika sedang berlibur sejenak. Lagipula privasi sangat Ayanna jaga dengan baik mobil yang dikendarainya juga bukan mobil miliknya melainkan mobil milik adiknya. Bukan mobil mewah hanya mobil sederhana yang harganya tidak mencapai 1 miliar.


Itu levelnya Ayanna bukan level yang dompetnya meronta-ronta. Ayanna juga tidak berfoya-foya dengan kekayaaan yang dimilikinya sering kali ia mendonasikan pendapatannya itu selain itu Ayanna lakukan untuk investasi. Ayanna berencana setelah menikah nanti dia akan menjadi ibu rumah tangga untuk mengurus suami dan anaknya saja. Tidak bermain film atau pun drama hanya mengikuti acara-acara variety show atau sebagainya jika suaminya nanti mengizinkannya.


Rencana hidup Ayanna sudah dia susun dengan baik usianya saat ini sudah 29 tahun sebentar lagi sudah kepala tiga namun sepertinya jodohnya belum keliatan hilalnya.


Baru beberapa langkah dari mobil Ayanna berjalan ada mobil yang melintas di depannya membuat Ayanna kaget apalagi klakson mobilnya sangat menjengkelkan untuk didengar ditambah saat Ayanna tau siapa yang keluar dia adalah Gulzar Adwitya.


Ayanna memalingkan wajahnya dengan sombong lalu merapatkan kacamata hitamnya dan berjalan anggun layaknya model profesional.


Gulzar di belakangnya tidak menggubris sama sekali walaupun tadi dia sempat kaget karena ada Ayanna juga.


Pertemuan-pertemuan mereka selalu tidak baik. Pertemuan pertama Ayanna menabrak Gulzar di Mall, pertemuan kedua Gulzar yang dingin sembari memberikan KTP milik Ayanna yang hilang lalu dengan kata-kata yang sama persis waktu Ayanna ucapkan di Mall kepada Gulzar dan Gulzar membalasnya di pertemuan kedua mereka. Pertemuan ketiga mereka dan seterusnya selalu tidak baik sehingga meninggalkan kesan negatif yang mendalam bagi keduanya.


"Wajahnya sok ganteng sekali." Cibir Ayanna dengan pelan. Gulzar mendengarnya namun tidak jelas dipendengarannya karena terlalu lirih. Lagipula bagi Gulzar itu tidaklah penting.


"Ouw apa kalian datang bersama. Senangnya melihat kalian bersama-sama." Ucap Yasmin dengan senyuman yang menggoda ke arah Gulzar.


"Jangan berlebihan." Hanya dua kata dan satu kalimat yang singkat dan pedas Yasmin dapatkan dari Gulzar.


"Cih, dia pikir dia siapa saja." Cibir Ayanna dengan malas.


Tidak bisakah Ayanna tidak melihat wajah menyebalkan Gulzar yang minim ekspresi itu. Apa Gulzar terlalu banyak makan es batu atau makan salju saking dinginnya.


"Lama-lama akan mencair juga jika sudah ketemu dengan wanita yang tepat." Ujar Wendy sembari menatap ke arah Ayanna yang memandang malas ke arah Ayanna.


Gulzar memandang Ayanna adalah wanita yang ceroboh sedangkan Ayanna memandang Gulzar dingin seperti es batu atau seperti kanebo kering dataaaaarrrrer sekali.


Ayanna merasa kasihan nanti sama istrinya Gulzar karena menikahi Gulzar. Betapa malangnya nasib istri Gulzar nanti memiliki suami yang kaku, datar dan dingin itu.


"Aku tidak melihat Geya. Geya di mana?" Tanya Ayanna yang sudah sibuk membantu para ibu memasak. Kali ini mereka memilih untuk menghabiskan waktu dengan memasak saja.


"Ayanna bisakah tolong bantu kak Zee untuk memanggang daging di taman." Pinta Eve.


Ayanna mengangguk saja walaupun sangat malas jika harus berdekatan dengan Gulzar.


Yasmin, Daisy, Wendy dan Eve senyum penuh arti melihat Ayanna yang kini sudah berdiri di samping Gulzar. Sementara Tala menjaga anak-anak dibantu dengan pengawal Ai dan pengawal Bee.


Energi anak tidak ada habisnya selalu saja ada kelakukan yang bikin orang dewasa harus waspada dan tidak boleh lengah.


"Sebaiknya kita menyuruh seorang pengawal lagi untuk memotret momen mereka" Bisik Wendy kepada semuanya dan diangguki dengan semangat.

__ADS_1


Gulzar dan Ayanna sibuk dengan daging yang mereka panggang. Ayanna yang sibuk mengolesnya dengan bumbu serta menghiasinya sementara Gulzar yang sibuk membalikkan dan memotong dagingnya.


Tidak ada yang bersuara karena mereka tidak cukup dekat untuk sekedar mengobrol. Lagipula mereka terlalu malas.


Sebenarnya Ayanna malas sekali jika suasana hening seperti ini. Namun, melihat siapa lawan bicara yang akan ia ajak mengobrol membuat Ayanna tambah malas. Yang ada bukan jawaban atau obrolan yang terjadi tapi membuat Ayanna kesal karena jawabannya.


Ayanna menghela nafasnya kasar membuat Gulzar sedikit menatap ke arah Ayanna dan tentunya itu berhasil di potret oleh pengawal.


"Kalau tidak mau melakukannya bilang saja tidak mau daripada tidak ikhlas." Ucap Gulzar dengan datar tanpa menatap lawan bicaranya. Gulzar mengartikan bahwa helaan nafas kasar itu karena Ayanna tidak mau memanggang daging dan berdiri terlalu lama. Aktris kan memang sedikit manja itulah yang ada di benak Gulzar.


"Jangan berbicara dengan ku. Dan jangan mengajak aku berbicara. Melihat wajah datarnya saja sudah membuat aku malas."


Gulzar menghentikan membalikkan dagingnya entah kenapa dia selalu ingin membalas perkataan wanita yang sedang berdiri di sampingnya ini.


"Kenapa menatapku seperti itu? Tertarik? Baru tau bahwa aku sangat cantik?" Ejek Ayanna.


"Reputasimu yang seorang aktris baik sopan tidak sebanding dengan realita. Jangan terlalu fake." Pedas.


Ayanna meletakkan tangan kirinya ke atas pinggang sementara tangan kanannya bertumpu pada meja.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu Tuan dingin. Aku memang baik dan sopan pada semua orang kecuali orang yang mengusikku. Aku bersikap tergantung bagaimana orang bersikap kepadaku apalagi orangnya seperti kamu. Melihat kamu saja sudah membuatku merasa mual."


"Orang yang bersikap dingin dan bermuka datar bukankah sebenarnya dia sedang menutupi dirinya yang sebenarnya." Lanjut Ayanna dengan wajah mengejek dan meremehkan.


Gulzar diam saja dan menyesal kenapa tadi dia harus bersuara hanya karena merasa risih mendengar helaan nafas kasar Ayanna. Sekarang malah berbuntut panjang. Setiap kali bertemu dengan Ayanna, Gulzar selalu menjadi banyak berbicara.


"Jika aku memvideokan mu pasti fansmu akan kabur dan followers mu akan turun." Ingat Gulzar.


"Itu bukanlah masalah buatku. Aku tidak memerlukan orang yang fake sebagai fans ku." Balas Ayanna dengan santai. "Lagian tidak semudah itu untuk menjatuhkan ku, mereka pasti tau siapa kamu dan keluarga kamu. Mereka sangat menyeramkan." Ucap Ayanna dengan pandangan kosong namun tidak ada yang melihatnya karena Ayanna menunduk untuk memotong paprika.


Gulzar kembali diam tidak mau mengeluarkan suaranya lagi dan sibuk dengan pemikirannya dan fokus pada daging yang dipanggangnya.


Pengawal laki-laki yang memotret Gulzar dan Ayanna menggelengkan kepalanya karena sedikit heran. Heran karena Gulzar begitu mengabaikan seorang Ayanna Talia selebritis kelas A yang berada di sampingnya. Sedangkan banyak pria di luar sana yang ingin dekat dan lebih dekat dengannya termasuk dirinya.


Apalagi melihat raut wajah Ayanna yang sepertinya terlihat tidak suka juga dengan Gulzar. Pengawal itu berpikir bahwa tidak semua wanita menganggap laki-laki dingin dan cuek itu keren.


"Argh." Pekik Ayanna dengan suara yang lirih saat jari telunjuknya tergores pisau.


Gulzar menolehkan kepalanya cepat dan melihat tangan Ayanna yang terluka. Gulzar menatap ke sekeliling lalu katanya bertemu dengan seorang pengawal yang sedang memegang kamera dan Gulzar memanggilnya.


"Tolong carikan kotak P3K." Pengawal tersebut mengangguk dan sempat melihat ke arah Ayanna yang sedang meringis.


Gulzar mendekat ke arah Ayanna dengan membawa sepiring daging yang sudah selesai ia panggang untuk sisanya nanti saja setelah mengobati luka Ayanna.

__ADS_1


Kemudian Gulzar mengambil tissue yang berada di atas meja dan memegang tangan Ayanna sehingga membuat Ayanna terkejut. Gulzar mengelap darah yang keluar dari jari telunjuk Ayanna dan memencetnya agar tidak banyak lagi yang keluar.


Ayanna meringis, "aku bisa sendiri." Ucap Ayanna kesal karena Gulzar memencetnya terlalu kuat. Tidak taukah bahwa itu sangat sakit karena berdenyut.


"Diamlah. Jangan sampai karena kecerobohan mu bertambah parah lagi." Ayanna memasang wajah cemberutnya.


Pengawal datang membawa kotak P3K dan menyerahkannya kepada Gulzar. "Terimakasih." Ucap Ayanna kepada pengawal tersebut dengan senyuman.


Gulzar semakin datar melihat Ayanna seperti itu. Terlalu fake.


"Shhh, bisa tidak pelan-pelan." Ringis Ayanna, "kalau tidak berniat untuk membantu jangan memaksakan diri." Ucap Ayanna dengan kesal.


"Kenapa kamu cerewet sekali. Bisa tidak kamu diam saja. Suara cemprengmu membuat telingaku sakit."


Ayanna menarik tangannya yang digenggam oleh Gulzar kemudian Gulzar mengambil tangan kecil itu lagi lalu menggenggamnya dengan kuat sehingga Ayanna tidak akan bisa menariknya lagi.


"Diamlah atau aku akan menambah luka ini bertambah parah."


"Ini sangat sakit jika kamu tidak ikhlas. Aku bisa send---" Ucapan Ayanna terpotong karena Gulzar menatap dan mendekatnya wajahnya dengan Ayanna. Sesaat Ayanna lupa bernafas.


Gulzar memandang ke arah Ayanna yang berhenti mengomel dan menatap ke dalam mata jernih milik Ayanna. Saat ini Ayanna tidak memakai riasan tebal hanya menggunakan perawatan wajah saja seperti skincare.


"Bernafaslah. Bukankah sudah biasa seorang pria menatap kamu lebih dekat secara tiba-tiba seperti itu bahkan mencium bibirmu itu." Ucap Gulzar lebih mendekatkan diri lagi di depan wajah Ayanna. Jarak keduanya hanya beberapa senti lagi. Ayanna bahkan bisa merasakan hembusan nafas Gulzar yang menerpa wajahnya. Gulzar tersenyum miring ke arah Ayanna.


Ayanna mendorong Gulzar dengan keras beruntung Gulzar memiliki reflek yang bagus sehingga dia tidak jatuh terjerembab ke belakang. "Ternyata kamu mesum juga.", Cibir Ayanna dengan kesal. Jari telunjuk Ayanna sudah selesai diobati ternyata kenapa dia tidak tau.


Gulzar bangkit dari duduknya dan menatap ke arah Ayanna yang melihat jari telunjuknya yang sudah dikasih perban itu kecil itu. Ucapan Ayanna tentangnya yang mesum sama sekali tidak dihiraukannya.


"Seharusnya kamu mengucapkan terimakasih." Ujar Gulzar kembali memanggang daging yang sempat tertunda. Gulzar sedikit menarik kedua ujung bibirnya namun itu hanya kecil saja semacam berkedut. Entah maksudnya apa itu, meremehkan atau berhasil karena mampu membuat Ayanna yang mengomel terdiam. Sepertinya dia punya cara untuk membuat Ayanna yang mengomel bisa jadi diam.


Ayanna menatap nyalang ke arah Gulzar, "jadi, Tuan dingin ini juga suka menonton film dan dramaku. Kamu bersikap seperti ini karena kamu tidak mau ketahuan bahwa kamu adalah fansku kan sebenarnya."


Ayanna kembali mencibir Gulzar karena percakapan Gulzar yang membahas tentang bahwa dia sudah biasa diperlakukan seperti di drama dan film yang ia bintangi bahkan membahas tentang ciumannya di drama.


"Atau Anda cemburu." Lanjut Ayanna mencibir.


"Sepertinya kamu harus segera terbangun Nona supaya kalau tersandung tidak jatuh dan menangis."


Ayanna mengepalkan kedua tangannya. "Ternyata Anda perhatian sekali mengkhawatirkan aku. Terimakasih, nanti aku akan memberikan tanda tangan kepadamu."


Mereka salam sekali tidak akur bagaimana bisa Eve, ayah Davka, ibu Dhara, Tala, Yasmin, Wendy dan Daisy ingin mendekatkan mereka jika mereka seperti ini. Setiap kali bertemu selalu saja kata-kata pedas yang keluar dari mulut keduanya.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2