
Eve berjalan keluar dari kantor di dalam lobi Eve bertemu dengan Geya Werawan sepupu suaminya Nabastala yang tidak suka dengannya.
Geya yang melihat Eve berjalan menghampiri Eve dengan senyuman sinisnya. Eve hanya bisa menghela nafasnya dengan pelan sambil tangannya menggenggam erat kotak bekal makanan yang dibawanya tadi.
Pengawal Eve yang berada di lobi depan kantor dan melihat Geya yang menghampiri Eve segera menghampiri keduanya jika tidak itu akan sangat berbahaya buat keduanya.
Geya akan dengan senang hati mempermalukan Eve di depan umum dengan statusnya yang sebagai istri kedua dari kakak sepupunya. Sementara jika Geya membuat kekacauan maka dengan tidak segannya Tala akan mengusir dan memecat Geya bekerja di kantor yang diwariskan kepadanya.
Pengawal Eve sebenarnya tidak peduli dengan nasib Geya jika Geya membuat masalah atau kekacauan tapi target wanita itu adalah Nona muda yang harus dijaganya.
Geya tersenyum dengan penuh ejekan kepada Eve sambil melipatkan kedua tangannya saat Geya hendak berbicara pengawal Eve datang. “Maaf Nona, Tuan muda menyuruh saya untuk segera mengawali Nona muda pulang sekarang.”
Geya memejamkan matanya karena merasa kesal kesenangannya diganggu oleh pengawal Eve dan menatap pengawal Eve dengan tatapan tajamnya. “Huh, menyedihkan.” Ucap Geya lalu berjalan pergi meninggalkan Eve dan pengawal tersebut.
Eve terdiam mendengar perkataan pengawal tersebut yang menyebutkan bahwa Tuan muda. Pengawal melihat Eve yang sedikit melamun menyadarkan Eve sehingga membuat Eve sedikit gelagapan.
“Apa yang dipikirkan Nona. Nona jangan banyak melamun di sini banyak hantunya.” Canda pengawal tersebut kepada Eve. Eve tertawa mendengarnya sambil berjalan melangkah keluar untuk masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di depan lobi kantor.
Pengawal yang melihat Eve sudah berjalan di depan menghela nafasnya dan tersenyum. Sepertinya dirinya harus lebih waspada lagi untuk menjaga Eve agar Eve tidak merasa terganggu psikisnya oleh orang-orang yang tidak menyukai Eve dengan banyak alasan ataupun hanya sekedar alasan klise.
Beberapa hari kemudian Eve yang sedang duduk di dalam ruang keluarga bersama dengan Adya yang berada di sampingnya yang sedang memakan cemilan buahnya menonton sebuah drama di televisi kesukaannya.
“Bagaimana apakah selama tiga hari kamu sudah tidak malu lagi melakukannya?” Tanya Adya penasaran dengan mulutnya yang terus mengunyah buah di dalam mulutnya.
“Itu bukanlah hal yang mudah bagi Eve kak.” Ujar Eve membuat Adya tertawa mendengarnya. Eve baru saja pulang dari kantor Tala untuk membawa makan siang buat Tala dan menemaninya makan.
Tapi, Eve tidak menyuapi Tala lagi karena suaminya itu ketika melihatnya datang langsung duduk di sofa sambil menunggu makanannya dihidangkan di depannya dan memakan makanannya tanpa banyak suara.
Eve tentu saja merasa lega karena tidak menyuapi Tala dan ikut menemani Tala makan tapi tetap saja rasa mencekam dan bikin tegang membuat Eve terkadang sangat susah untuk mengatasinya karena Tala tidak berbicara sepatah kata pun walaupun dirinya sudah banyak bicara.
Seorang pengawal penjaga pintu gerbang masuk membawa sebuah kotak paket dan membawanya ke ruang keluarga di mana Eve dan Adya sedang duduk bersantai di sana setelah menanyakan kepada pelayan di mansion ini mengenai keberadaan Nona muda mereka.
“Selamat siang Nona muda maaf mengganggu waktunya ini ada paket atas nama Nona Elakshi Feshika.” Ujar pengawal tersebut sambil memberikan kotak tersebut kepada Eve.
Eve menatap bingung karena dirinya tidak memesankan apapun. “Terimakasih ya sekarang kamu boleh pergi.” Ujar Adya dengan tersenyum.
“Sebaiknya kita ke kamar aku untuk melihat isi paket dan mencobanya.” Ucap Adya kepada Eve yang mencerna perkataan Adya kepada dirinya. “Eiii apa kamu lupa malam pertama kita tidur bersama itu kita memesan baju dinas.”
Eve yang mendengar baju dinas di telinganya terasa mengerikan. “Sekarang ayo kita ke kamar.” Ajak Adya dengan mengambil paket tersebut untuk diletakkan di atas pahanya. Eve mendorong kursi roda Adya.
__ADS_1
Sesampai di kamar Adya, Eve disuruh Adya untuk mencoba pakaian yang telah mereka beli lebih tepatnya Adya setelah sebelumnya membuka bungkusan paket yang tersusun rapi tersebut. Eve hanya bisa pasrah.
Di dalam kamar mandi Eve melihat pantulan dirinya di cermin dengan baju tipis yang dikenakannya. “Sungguh memalukan. Bagaimana bisa orang membuat baju setipis begini.” Ungkap Eve.
“Eve apakah belum selesai. Aku juga harus melihatnya kalau sudah langsung keluar.” Teriak Adya di dalam kamarnya. “Hahaha pasti dia malu.” Ucap Adya cekikikan sendiri.
Eve segera membuka pintu kamar mandi dengan perlahan dan menyembulkan kepalanya untuk melihat Adya yang berada di atas ranjang tempat tidur. Wajah Eve memelas membuat Adya menggelengkan kepalanya.
Eve malu menunjukkannya pada Adya itu baru Adya bagaimana nanti jika di hadapan Tala. Eve merasa sangat frustrasi dan ingin menangis rasanya apalagi nanti dirinya harus menggoda Tala dengan pakaian tipis ini.
Eve berjalan keluar dari kamar dengan bibir yang di majukan ke depan. Sungguh lucu ucap benak Adya melihat Eve yang berjalan seperti itu dengan baju kurang bahan yang digunakannya. Rasanya Adya ingin memeluk Eve karena sangat gemas dengan Eve.
Lihat bahkan dirinya saja tidak tahan melihat Eve yang sangat lucu bagaimana dengan Tala yang bisa tahan melihat Eve apalagi dengan pakaian seperti ini.
“Wow itu sangat cocok buat mu ternyata warna merah maroon sangat bagus okey kita ganti yang lain coba pakai warna hitam.” Ucap Adya kepada Eve memberikan lingerie berwarna hitam kepada Eve setelah sebelumnya Adya menyempatkan untuk memfoto Eve dengan lingerie warna merah maroon itu.
Dengan penuh kelesuan Eve segera pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian yang kurang bahan itu. Hampir tiga puluh menit lamanya akhirnya mencoba pakaian tipis itu selesai juga.
Eve membaringkan tubuhnya yang terasa lelah dan terkuras habis Adya yang melihatnya terkekeh dan memotret Eve. “Okey bajunya sekarang tinggal dicuci.” Ujar Adya lalu segera memanggil pelayan untuk mengambil baju dinas tersebut untuk segera dibersihkan.
“Malam ini adalah malam terakhir kita tidur bersama besok malam kamu sudah tidur di kamar kamu dengan Tala.” Ucap Adya yang terus tersenyum menatap ke arah Eve.
“Sudah, sudah jangan malu ini itu demi kesejahteraan bersama.” Ucap Adya tertawa, Eve hanya bisa melepaskan kedua bahunya mendengar perkataan Adya.
“Besok siang habis makan siang bersama Tala kamu akan pergi ke spa untuk melakukan perawatan.” Ucap Adya. “Emmm, coba kita lihat dan kita booking.”
Eve tidak bisa berkata-kata mendengar perkataan Adya lagipula Eve tidak mungkin untuk menyerah begitu saja ketika dirinya sudah memutuskan sesuatu.
Banyak pikiran yang berkecamuk di dalam kepala Eve sampai akhirnya Eve tertidur karena memikirkannya. Adya yang melihat Eve tertidur menatap tersenyum. Pantas saja tidak ada suara rengekan lagi ternyata Eve sudah masuk ke alam mimpinya.
“Semangat adikku sayang kita sama-sama berjuang. Kalau Tala tidak menyentuh mu dia memang patut dipertanyakan.” Ucap Adya sambil menggelengkan kepalanya mengingat Tala yang begitu tahan dengan keberadaan Eve di dekatnya.
Menurut Adya Eve diam saja sudah sangat menggemaskan dan Adya sangat suka memeluk Eve dan tidak tahan jika tidak memeluk Eve atau menjahili Eve bagaimana dengan seorang Nabastala yang setiap malam tidur dengan Eve apalagi mereka pernah melakukannya apakah tidak sakit jika menahannya.
Keesokan harinya Eve langsung pergi ke spa yang sudah dipesan oleh Adya kepadanya setelah pulang dari kantor Tala untuk menemani suaminya makan dengan bekal makanan yang sudah disiapkan untuknya.
Tapi, sebelum itu Eve meminta izin kepada Tala bahwa dirinya setelah dari kantornya akan pergi ke spa dan seperti biasanya kata ampuh yang diberikan Tala yang seharusnya perempuan yang mengatakannya yaitu dengan kata terserah. Itu sudah menjadi andalan Tala ketika menjawab pertanyaan Eve.
Eve tidak mau memikirkan perkataan Tala yang hanya satu kata itu yang terpenting bagi Eve adalah bahwa dia harus fokus kepada usaha dan tujuannya yaitu membuat Tala jatuh cinta dengannya kembali seperti yang direncanakan dan diatur Adya.
__ADS_1
Di sinilah Eve berada sekarang memejamkan matanya menikmati fasilitas yang telah disiapkan untuknya. Memang benar-benar menyegarkan sudah lama rasanya Eve tidak pergi ke spa. Terakhir kali saat dirinya ikut menemani ibu angkatnya melakukan perawatan.
Setiap kali Eve mengingat kedua orang tua angkatnya Eve selalu menitihkan air matanya karena sangat merindukan ibu dan ayah Eve tersebut.
“Apakah saya melakukannya dengan sangat keras Nona?” Tanya pelayan spa tersebut kepada Eve ketika melihat Eve yang mengeluarkan air matanya.
“Tidak, ini sangat nyaman.” Jawab Eve lalu kembali memejamkan kedua matanya. Eve tidak tahan jika harus menunggu apalagi dirinya tidak melakukan apa pun seperti sekarang ini. Tubuhnyayang dipijat dan diluluri membuat Eve merasa sangat nyaman dan tak kuasa menahan kantuknya.
“Apakah saya boleh tidur?” Tanya Eve kepada pelayan spa yang memijatnya.
“Boleh Nona lebih rileks semakin bagus.” Jawab pelayan spa tersebut sambil tersenyum karena baru kali ini dirinya mendapatkan pelanggan yang menanyakan kepadanya ketika sedang melakukan spa apakah boleh tidur atau tidak.
Biasanya pelanggan yang datang ke sini adalah orang dari kalangan atas dan selalu bersikap angkuh dan tidak menghargai mereka dengan menyuruh hal lainnya. Bukan bermaksud membandingkan tapi begitulah kenyataannya.
Kedua pelayan spa yang memberikan pijatan dan lulur kepada Eve keluar dari kamar di mana Eve berada. Mereka membiarkan Eve tertidur terlebih dahulu sesuai yang dikatakan oleh pemilik spa ini yang tidak lain adalah ibu Dhara sendiri.
Eve tentu saja tidak tau bahwa spa ini adalah salah satu spa milik ibu Dhara mertuanya sendiri. “Aku dengar bahwa dia adalah istri muda Tuan muda Werawan.” Ujar salat satu pelayan tersebut sebutlah itu pelayan A.
“Jaga bicara mu jangan bergosip.” Ingat pelayan B
“Tapi, sepertinya istri muda itu tidak seperti yang dikatakan orang-orang sombong dan licik. Tadi, saat dia minta izin untuk tidur aku rasa dia bukan orang yang seperti itu.” Pelayan A masih berbicara tidak peduli dengan peringatan pelayan B.
“Jaga bicara mu jangan sampai orang lain mendengarnya.” Ingat pelayan B kembali.
“Kamu ini sungguh tidak seru sekali sangat kaku.” Ucap pelayan A.
Setelah melakukan banyak perawatan akhirnya Eve pulang ke mansion sungguh melelahkan memang tapi anehnya membuat badan Eve lebih rileks dan nyaman setelah melakukan perawatan.
Adya tersenyum melihat Eve yang sudah pulang jam sudah menunjukkan pukul empat sore itu artinya sebentar lagi Tala akan pulang.
Adya menyuruh Eve untuk segera membersihkan dirinya di kamar Tala dan Eve tentunya. Adya sudah menyuruh pelayan untuk mengisi bak mandi dengan air mawar yang banyak.
Eve yang melihatnya melongo menatap tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya. Lalu mata Eve melihat ke arah jam dinding yang sudah lewat lima menit dari jam empat sore itu artinya Tala sebentar lagi akan pulang.
Dengan segera Eve mandi dan membersihkan dirinya dengan bak mandi yang sudah terisi penuh oleh bunga mawar tersebut.
*Bersambung*
__ADS_1