
Hari pemakaman Adya dan kepergian Eve.
Semua orang sudah kembali dari pemakaman ibu Dhara dan ayah Davka duduk di ruang keluarga.
Sebentar lagi jam makan siang, "ayah ibu mau kembali ke kamar sebentar." Izin ibu Dhara dan ayah Davka menganggukkan kepalanya.
Geya hanya memperhatikan begitu juga dengan Harsha yang ikutan duduk di ruang keluarga itu.
"Geya bagaimana pertunangan mu dengan Gulzar?" Tanya ayah Davka kepada keponakannya itu.
Tidak ada paman dan bibi Tala di sana karena mereka kembali sudah pulang ke mansion kakek Werawan.
Geya mengangkat kepalanya dan tersenyum, "gimana apanya paman?" Tanya Geya sembari melirik ke arah Harsha yang sedang duduk di sampingnya.
Ayah Davka memang begitu perhatian kepada dirinya begitu juga dengan ibu Dhara dan Tala. Tapi, untuk Tala itu adalah dulu.
Kakak sepupunya itu sudah jarang memberikan perhatian dan kasih sayang kepadanya semenjak ada konflik antara kakak kandungnya Adhikari Ekata Werawan, Adya Parabawa, dan Nabastala Affandra Werawan.
Semuanya seolah lenyap tidak ada kasih sayang lagi untuk Geya begitu juga dengan ibunya yang sering menyalahkannya karena terlahir sebagai anak perempuan sehingga tidak bisa menjadi pewaris harta keluarga Werawan semenjak kakaknya Adhikari menghilang.
Geya tidak tau dan tidak mau ikut campur urusan kakak kandungnya dengan kakak sepupunya itu karena jika dirinya ikut campur semuanya akan menjadi rumit.
Geya mengetahui dengan jelas bahwa dirinya sangat salah dalam memperlakukan istri pertama kakak sepupunya itu dulu begitu juga dengan istri keduanya.
Hal itu Geya lakukan karena merasa marah dengan semua yang terjadi kepadanya.
Dulu keluarga besarnya sangat bahagia dengan kakak kandungnya yang selalu dibanggakan oleh kedua orang tuanya yang akan menjadi pewaris rumah sakit walaupun ada ketidakseimbangan kasih sayang yang diberikan ibunya kepada dirinya.
Itu semua tidak masalah bagi Geya karena ada ayahnya juga yang sangat menyayanginya namun ayahnya yang sekarang sangat berbeda semenjak kakak kandungnya itu pergi kepada dirinya. Terlihat kurang peduli.
Belum lagi kakaknya Adhikari yang juga menyayanginya namun itu semua berubah semenjak kakaknya Adhikari mempunyai pacar yaitu Adya Parabawa yang dulu dirahasiakan oleh kakaknya itu.
Geya yang mulai beranjak dari remaja seolah merasa kehilangan.
Perkembangan selama remaja itu membuat Geya menjadi sangat labil, pemarah, penuh kebencian, melampiaskan kekesalannya kepada orang lain apalagi kehidupannya yang berubah.
Emosional Geya terombang-ambing namun tidak ada yang bisa yang memahaminya saat itu. Geya juga tidak bisa memahami dirinya kenapa menjadi remaja itu sangat susah.
Orang yang diharapkannya selain kakaknya Adhikari yang hilang yaitu Tala sibuk dengan Adya Parabawa kala itu.
Geya cemburu dan iri perhatian dari Tala terbagi karena kehadiran Adya.
Geya menginginkan kasih sayang sayang kakak sepupunya yang seperti dulu.
Geya merasa semua orang tidak peduli kepadanya dan menganggapnya sangatlah jahat namun mereka tidak berani mengatakannya di depan Geya karena latar belakang dan nama belakang Geya.
Tidak ada yang tulus termasuk Harsha namun Harsha bertahan untuk berteman dengannya.
"Kapan akan diselenggarakan acara pertunangannya?" Tanya ayah Davka dengan lembut.
"Itu semua tergantung dengan jadwal kak Zee paman." Jawab Geya.
Ayah Davka menganggukkan kepalanya mengerti. Ayah Davka tau bagaimana sibuknya Gulzar yang sedang mengelola perusahaan keluarganya itu.
Tala, sekretaris Diego, dan asisten Kaivan kembali dari mansion hal itu membuat perhatian ayah Davka yang sedang berbincang dengan keluarganya, dan membuat perhatian Geya dan Harsha yang sedang sibuk dengan ponselnya mengalihkan pandangannya.
Geya langsung berdiri dan menatap kakak sepupunya yang terlihat sangat sedih.
"Nak, kamu sudah pulang." Ujar ayah Davka kepada Tala.
Tala menganggukkan kepalanya, "ayah dan semuanya aku izin ke kamar dulu untuk membersihkan diri." Ayah Davka menganggukkan kepalanya.
Walaupun Tala merasa tidak suka dengan keluarga besarnya namun Tala bersikap sopan hal itu dilakukannya karena Tala tidak mau membuat ibu dan ayahnya itu dihina karena tidak mendidik anak satu-satunya dengan benar.
Asisten Kaivan dan sekretaris Diego juga izin untuk pergi ke taman dan diangguki. Mereka tidak pulang karena mereka akan makan siang di mansion sahabatnya tersebut yang telah disiapkan.
__ADS_1
Mata Geya mengikuti ke mana Tala yang berjalan masuk ke dalam lift tersebut.
Lalu Geya meminta izin untuk pergi sebentar dan menyuruh Harsha untuk di sini.
Geya ingin menghibur kakak sepupunya itu untuk urusan ditolak atau tidak itu adalah urusan nanti.
Walaupun saat ini juga Geya sedang tidak baik-baik saja karena ini berhubungan dengan pertunangannya dengan Gulzar.
Geya ragu untuk melanjutkannya atau tidak sementara Gulzar semakin menjauhi dan selalu membuat alasan bahwa dirinya sibuk.
Geya berdiri di depan pintu kamar Tala dan Eve. Geya merasa ragu untuk mengetuk karena ada Eve di sana.
Memikirkan Eve, Geya juga merasa iri Eve dipenuhi kasih sayang terutama oleh laki-laki yang membuatnya jatuh cinta Gulzar Adwitya.
Geya akhirnya mengetuk pintu namun tidak ada suara di dalam kamar. "Apa aku masuk aja ya, lancang nggak ya. Sudahlah Geya kamu kan memang selalu lancang." Ucap Geya sembari mondar-mandir di depan pintu.
Pada akhirnya Geya memberanikan diri. "Kak Eve, kak Tala Geya masuk ya." Lalu membuka pintu itu.
Saat Geya masuk dan mengitari seluruh kamar Geya tidak melihat keberadaan orang satu pun bahkan kamar ini saat dirinya masuk sangat gelap.
Dan Geya tidak mendengar suara air dari dalam kamar mandi.
"Bukankah tadi kak Tala bilang bahwa dirinya pergi untuk membersihkan diri?" Ujar Geya bertanya-tanya.
"Di mana Eve bukankah seharusnya dia istirahat karena lagi sakit."
Geya berjalan mendekat ke arah tempat tidur walaupun saat ini dirinya merasa gugup takut dimarahin kakak sepupunya karena masuk ke dalam kamarnya.
Geya berjalan ke balkon kamar dan membukanya.
Geya merasa terpana melihat pemandangan di depannya di mana ada taman bunga mawar berbentuk labirin.
Sama seperti Eve, Geya juga baru ada taman bunga mawar berbentuk labirin itu.
Suara mereka tentunya tidak terdengar oleh Geya karena Geya berada di lantai 3 dan keduanya juga berbicara pelan.
"Ternyata asisten Kaivan dan sekretaris Diego ganteng juga namun sangat menyeramkan." Geya tidak sadar apa bahwa Gulzar sama seperti mereka asisten Kaivan, sekretaris Diego dan Tala.
Cinta membutakan segalanya.
Lalu Geya segera kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon tersebut.
Selama tiga puluh menit lamanya di sana baik Tala dan Eve, Geya sama sekali tidak menemukan pasangan suami istri itu.
Mata Geya menatap ke arah dokumen di atas laci dan pena di atas dokumen itu.
Geya penasaran dan berjalan mendekat untuk melihat dokumen apa itu kenapa diletakkan sembarangan.
Saat Geya sudah dekat dan melihat isi dokumen tersebut Geya sangat terkejut bahwa itu adalah surat perceraian yang sudah ditandatangani oleh Eve.
Geya mengingat kembali bahwa kemarin adalah hari pernikahan ke dua tahun Eve dan Tala itu artinya mereka benar-benar bercerai.
Geya menutup mulutnya tidak percaya lalu memeriksa laci di bawahnya yang ternyata terkunci.
Geya berlari ke ruang ganti dan melihat apakah pakaian Eve masih di sana atau tidak ternyata semua masih rapi dan hal itu membuat Geya bernafas dengan lega.
"Kenapa aku jadi sepanik ini bukankah seharusnya aku senang bahwa mereka akan bercerai." Ujar Geya dengan dirinya sendiri.
"Aku harus mencari kunci untuk laci itu agar surat itu tidak diketahui oleh sembarang orang." Ujar Geya yang merasa khawatir.
"Tapi, apakah paman dan bibi tau?" Tanya Geya lagi.
"Sudahlah Geya itu adalah urusan kak Tala sama Eve bukan urusan mu. Mereka yang akan memberitahunya nanti."
Geya terus mencari akhirnya dirinya mendapatkan kunci laci tersebut yang berada di tas kerja milik Eve.
__ADS_1
Geya pun membukanya dan melihat ada beberapa jurnal harian di sana. "Apakah ini milik Eve."
Geya pun merasa penasaran dan membuka halaman pertama Geya yang membacanya merasa tidak percaya. Geya segera mengembalikan jurnal harian itu.
"Kamu benar-benar lancang Geya itu sangat privasi nggak boleh." Ucap Geya kepada dirinya sendiri.
Geya memasukkan kunci tersebut ke dalam sakunya setelah mengunci laci tersebut.
Lalu Geya membawa dokumen perceraian itu dan memikirkannya untuk diletakkan di mana. "Bisa gawat jika bibi tau." Ucap Geya yang khawatir.
Lalu Geya melihat ada satu pintu lagi yang terhubung ke kamar dan Geya membukanya ternyata itu adalah ruang kerja Tala.
Tala tidak mengunci ruang kerjanya setelah mengambil surat perceraian yang diberikan oleh sekretaris Diego kepadanya untuk diberikan kepada Eve.
Geya meletakkan surat perceraian itu di atas meja Tala. "Setidaknya di sini aman." Ucap Geya.
"Apa mereka serius bercerai. Bagaimana nanti jika bibi dan paman sedih." Ucap Geya.
Geya berjalan keluar kamar dan Geya melihat ibu Dhara menatap ke arahnya dengan bingung.
"Geya apa yang kamu lakukan kenapa kamu keluar dari kamar kakak dan kakak ipar mu?" Tanya ibu Dhara dengan lembut.
Geya menjadi bingung harus menjelaskannya bagaimana sekaligus gugup. "Tadi, Geya sedang mencari kak Tala dan ingin menghiburnya bibi namun Geya tidak menemukan kak Tala." Jawab Geya.
Ibu Dhara tersenyum "terimakasih sayang karena kamu sangat perhatian dengan kakak mu. Kalau begitu bibi mau minta tolong untuk panggilkan kak Eve agar segera turun untuk makan siang atau dia mau dibawakan makanan ke kamar." Ujar ibu Dhara.
Geya merasa bingung harus mengatakannya. "Kenapa aku mendadak seperti orang linglung." Ucap Geya di dalam benaknya.
"Sebenarnya Geya tidak menemukan Eve ekhm maksudnya kak Eve di dalam juga bibi. Tidak ada siapa-siapa di dalam kamar." Ucap Geya berkata jujur.
Ibu Dhara mengernyitkan dahinya "mungkin Eve berada di kamar Adya." Ujar ibu Dhara sembari melihat kamar menantu pertamanya itu dengan sedih.
Geya yang melihat bibinya sedih terdiam. "Kalau begitu biarkan Geya saja yang memberitahunya kepada kak Eve bibi." Ucap Geya dan mendapat anggukan kepala serta senyuman di wajah wanita paruh baya yang kelihatan sangat cantik itu.
Geya pun mengetuk pintu kamar Adya sama seperti di kamar Eve dan Tala. "Eve bukan kak Eve bibi menanyakan apakah kak Eve mau makan di ruang makan atau mau diantar ke kamar?" Tanya Geya dengan gugup.
Pintu kamar terbuka menampilkan Tala yang keluar membuat Geya bingung. "Kak Tala waktunya makan siang. Bisa kakak panggilkan kak Eve." Ucap Geya dengan tegang sembari menatap ke arah Tala yang memasang wajah datar kepadanya.
"Dia tidak ada di sini." Ujar Tala datar lalu berjalan ke depan untuk masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan Geya terdiam kalau Eve tidak ada di sini di mana Eve itulah yang ada di benak Geya.
Geya membalikkan badannya dengan cepat. "Kak Eve juga tidak ada di kamar itu."
Membuat Tala terdiam dan menolehkan kepalanya ke belakang menatap sepupu perempuannya itu.
"Maaf tadi Geya juga mengetuk pintu dan masuk ke dalam namun Geya tidak menemukan siapa-siapa. Lalu Geya bertemu dengan bibi saat hendak memanggil kak Eve dan Geya mengatakan hal yang sama bahwa kak Eve tidak ada di sana jadinya Geya mengetuk pintu kak Adya karena bibi mengira bahwa kak Eve ada di dalam." Ucap Geya dengan gugup.
Tala yang mendengarnya segera membuka pintu kamarnya dengan Eve dan memeriksa dengan apakah Eve sudah benar-benar pergi.
Geya yang melihat Tala terdiam di depan pintu berjalan mendekat. "Apakah terjadi sesuatu kak?" Tanya Geya cemas. Geya takut bahwa Eve benar-benar pergi dari mansion.
"Apakah kamu masuk ke dalam tadi?" Tanya Tala yang berjalan mendekat ke arah di mana Eve berada sebelum dirinya keluar.
Geya menjadi gugup mendengar perkataan Tala. "Maafkan Geya yang sudah lancang." Ujar Geya menundukkan kepalanya sembari tangannya yang memilih ujung baju.
"Geya sudah mengetahui semuanya tanpa sengaja waktu dulu kak Tala dan kak Eve berdebat di atas rooftoft rumah sakit. Dan surat itu ada di ruang kerja kak Tala. Geya tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun." Ujar Geya dengan mata yang berlinang.
"Geya tidak percaya bahwa kalian akan benar-benar bercerai." Ucap Geya dengan lirih di ujung kalimatnya.
"Kalau kak Eve nggak ada di kamar kak Adya lalu ke mana. Geya tadi sudah memeriksa seluruh kamar apakah barang-barang kak Eve masih ada namun semuanya ada kak. Jadi, kak Tala jangan khawatir mungkin saat ini kak Tala sedang berada di ruang yang lain." Ujar Geya yang terus berbicara.
Sementara Tala terdiam dan duduk di atas ranjang dengan pemikirannya.
*Bersambung*
__ADS_1