Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 100. Elizabeth Abraham adalah Eve


__ADS_3

Jackson berpindah duduk di samping Tala sembari mengambil sebelah tangan Tala dan menggenggam-nya dengan kedua tangannya memasang wajah serius.


Tala, “…”


‘Aku masih normal, menjauh lah kau Ferguso’


Apalagi saat ini duduk Jackson menyamping ke kanan dengan kedua kaki yang dirapatkan seperti ala-ala perempuan anggun. Tangannya yang di genggam di letakkan dekat di dada Jackson.


“Menjauh lah.” Ujar Tala datar sembari tangannya meronta namun Jackson menggelengkan kepalanya dan semakin erat menggenggamnya.


Tala menggaruk jidat-nya yang tidak gatal melihat tingkah absurd Jackson menggunakan tangan sebelahnya.


“Aku mengerti bagaimana perasaan mu kawan tapi tolong jangan berbalik haluan dengan kamu menyukai anak kecil nanti kamu dikira pedofil apalagi itu adalah anak laki-laki. Percayakan ke aku, aku akan membantu mu menemukan wanita tetaplah bertahan menyukai wanita kawan.”


‘Ap-apa!?’


“Aku masih normal yang tidak normal adalah kau.” Ucap Tala dengan ngegas sungguh dirinya sangat kesal dengan sahabatnya ini ingin sekali Tala mencekik lehernya sampai mati atau meminjam tongkat ajaib Harry Potter untuk mengubah Jackson menjadi semut agar dirinya bisa menginjaknya.


Jackson melepaskan genggamannya, Tala mengelap tangannya yang di pegang oleh Jackson layaknya perempuan. Jika saja Jackson tidak menikah dan mempunyai anak, Tala akan meragukan kejantanan Jackson.


‘Seperti waria saja’


Jackson, “…” yang melihat Tala seperti itu mendengus kesal, percuma rasa khawatirnya ke arah pria yang sudah lama menduda dan sedang tidak waras ini tidak ada gunanya.


Tala tidak habis pikir dengan Jackson yang bisa memimpin perusahaan Harrison berkembang pesat melihat tingkah Jackson yang membuat kepala Tala pusing.


“Pergilah dari apartemen ku sekarang.” Usir Tala


Jackson, “…”


‘Dasar teman tidak ada akhlak aku baru saja datang lalu diusir mana tidak disuguhkan makanan jangankan makanan minuman air mineral aja tidak ada’


“Aku tidak mau aku masih ingin di sini daripada aku sendirian di hotel. Aku tidak bisa pulang ke negara S jika kamu tidak mengiyakan untuk pergi ke Lembah Hunza. Daisy melarang ku pulang sampai aku benar-benar membujuk mu mau ke sana.”


Tala, “…”


“Itu urusan mu bukan urusan ku.” Ketus Tala kesal percuma mengusir Jackson jika Jackson tidak mau pergi buang-buang air liurnya saja, buang-buang pikiran bagaimana cara mengusirnya, dan buang-buang tenaga.


“Aku akan membantu mu untuk mencari tau apa yang kamu katakan tadi ke aku. Aku mohon mohonnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn.”


Tala, “…”


Tiba-tiba dering ponsel Jackson berbunyi menghentikan aksi pria yang sudah punya istri dan satu anak itu merengek ke dirinya.


“Halo sayang.” Sapa Jackson dengan senyum sumringahnya, “di mana Tala?” Tanya Daisy membuat Jackson mengendurkan bahunya lemas.


Jackson memberikan ponselnya ke Tala yang sedang duduk di sampingnya dengan muka cemberut menatap ke arah Tala. “Lily ini ada ayah Tala sayang berhentilah merengek.” Ujar Daisy ke anaknya yang sedang merengek di bawah sofa.


Jackson sebagai ayah di sana sama sekali tidak dianggap oleh anaknya dan anaknya malah tidak menanyakan keberadaannya seperti Tala.


Jackson, “…”


‘Sungguh menyebalkan’

__ADS_1


‘Pokoknya aku harus segera menemukan perempuan untuknya di mana sih Eve kamu bersembunyi?’


...***...


Airen, Joha, Jean, dan Orion sudah sampai di mansion sedari tadi Airen memerhatikan suaminya itu yang banyak diam sembari memangku Orion di atas pangkuannya.


Joha mengantar Orion yang sedang tidur ke kamar Eve, tampak di sana Eve sedang terlelap dalam tidurnya. Dengan penuh hati-hati Joha meletakkan Joha di samping Eve.


‘Kakak tidak akan membuatmu sendiri kakak akan membuatmu bahagia selalu apa pun akan kakak lakukan untuk menjaga mu’


Airen memandang ke arah suaminya yang sedang menatap sedih ke arah Eve, Airen bertanya-tanya apakah hilangnya Orion sebentar membuat suaminya ketakutan apakah suaminya itu trauma sama halnya waktu Eve diculik.


Airen kembali ke dalam kamar menunggu suaminya masuk ke kamar setelah menidurkan Jean lama Airen menunggu Joha akhirnya kembali lalu berjalan dan memeluk istrinya yang sedang duduk di atas ranjang.


Airen mengelus kepala suaminya itu saat ini Airen bisa memahami bahwa Joha sedang sangat sedih. “Aku sangat takut.” Ujar Joha membuat Airen terdiam menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh suaminya itu.


“Aku tadi bertemu dengan Nabastala dan Nabastala yang menemukan Orion.” Usapan tangan Airen di rambut suaminya itu terhenti.


Joha melepaskan pelukannya dari istrinya dan menatap ke dalam bola mata istrinya itu. “Orion mengikuti Nabastala yang sedang berjalan di depannya sampai masuk lift. Orion terlihat sangat nyaman dan tidak mau lepas dari Nabastala hal itulah yang membuat Orion menangis.”


Airen menggenggam tangan suaminya dan mengelusnya untuk memberikan kekuatan, “aku tidak mau Eve terpuruk lagi aku sudah melihat Eve berjalan di atas bara api tanpa alas kaki lalu berjalan di atas dinginnya gunung Eve dan sekarang hidupnya sudah bahagia aku tidak ingin berpisah dengan Eve aku ingin Eve tetap bersama dengan kita begitu juga dengan Orion. Aku ingin tetap seperti ini bersama keluarga kecil kita.”


Airen sangat memahami kekhawatiran dan ketakutan suaminya dan Airen melihat sendiri bagaimana Eve berjuang selama ini.


Namun, Airen berpikir bagaimana jika Orion sudah pandai berbicara dan menanyakan ayahnya kenapa hanya Jean ada ayah sedangkan dirinya tidak.


Tala berhak tau mengenai keberadaan Orion walaupun suatu saat nanti mereka tidak lagi bersama namun demi Orion mereka harus bersama-sama untuk memberikan kasih sayang agar Orion merasa bahwa dirinya berbeda dengan temannya yang lain.


“Sejauh apa pun kita menutupinya suatu saat pasti akan terbuka dan terlihat.” Ujar Airen dengan lembut.


“Jika kamu seperti ini bagaimana nanti jika Eve berpikir bahwa dia telah membuat mu khawatir dan takut karena permasalahannya dengan Tala. Eve pasti tidak akan nyaman.”


“Biarkan mengalir seperti air kita hanya perlu mengawasi dan menjaga Eve dan Orion.” Joha memeluk Airen merasa tenang mendengar perkataan istrinya itu, tanpa mereka sadari bahwa Eve mendengar pembicaraan keduanya karena kamar Joha dan Airen tidak tertutup dengan rapat.


“Kakak jangan khawatir aku bukanlah Eve yang dulu nama aku kan Elizabeth Abraham aku adalah Lizzy.”


Jackson benar-benar serius dengan ucapannya bahwa dirinya akan membantu Tala untuk mencari tau apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Johannes Abraham


Setelah mendengar cerita Tala kemarin Jackson juga merasa ada sesuatu yang disembunyikan.


Kebetulan hari ini Jackson mengetahui dari sekretarisnya bahwa Johannes Abraham istri dan adiknya Elizabeth Abraham akan datang ke pemakaman kedua orang tua mereka.


Selain itu Jackson sangat penasaran dengan wajah adik kandung Johannes Abraham yang Jackson tau baru ketemu beberapa tahun yang lalu.


Dulu Jackson mengira bahwa Johannes Abraham adalah anak tunggal namun ternyata tidak Johannes Abraham mempunyai adik yang sudah sangat lama dicari oleh Johannes Abraham dan kedua orang tuanya.


Melihat wajah Johannes Abraham yang sangat tampan Jackson merasa sangat penasaran melihat wajah Elizabeth dari namanya saja sudah terlihat bahwa sangat cantik dan anggun Jackson tidak boleh kehilangan kesempatan untuk melihat wajah wanita cantik. Tenang Jackson sudah sangat setia dengan Daisy hanya saja Jackson sering jelalatan matanya.


Johannes, Eve dan Airen keluar dari dalam mobil Eve saat ini sedang menuntun Orion yang tidak mau di gendong sedangkan Johannes mengambil Jean untuk di gendong. Airen membawa dua keranjang bunga tabur.


Sebenarnya Airen ingin sekali mengatakan bahwa dirinya ingin ke negara K untuk berkunjung ke makam putrinya Ashi namun Airen tidak boleh egois saat ini Eve mungkin masih belum bisa ke negara K.


Sedangkan suaminya itu akan sangat mengkhawatirkan adik satu-satunya itu jika ditinggal hanya dengan Orion saja walaupun ada Cici dan pengawal yang akan menjaga mereka namun tetap saja Johannes tidak akan tenang.

__ADS_1


Airen berusaha untuk di tengah-tengah.


“Mom, dad, ini Lizzy.” Ujar Lizzy dengan kaca mata hitam menutup wajahnya. Eve tidak ingin dilihat menangis karena saat ini sedang ada anaknya Orion.


“Ini cucu kalian Orion yang sekarang sudah bisa jalan dan ini adalah cucu perempuan kalian Jean. Cucu kalian sekarang sepasang. Eve bukan Lizzy akan berdoa di sini kalian tenanglah di sana Lizzy sudah sangat bahagia kak Joha menjaga Lizzy dengan sangat baik. Jangan khawatir.” Joha tersenyum menatap ke arah adiknya itu sembari mengelus kepalanya.


Hampir tiga puluh menit lamanya keluarga Abraham itu di dalam pemakaman akhirnya Jackson bisa melihat juga. Tadi, ketika keluarga Abraham tersebut datang Eve tidak bisa melihatnya karena membelakanginya apalagi melihat adik perempuan dari Johannes itu sedang memakai selendang dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


“Eve.” Panggil seseorang ketika Eve keluar dari gerbang pemakaman, Eve mencari ke arah sumber suara.


Eve tertegun melihat pria tersebut, “ini benar kamu Eve!?” Tanya pria tersebut yang tidak lain adalah dokter Caraka. “Airen!?” Ujar dokter Raka tidak kalah terkejutnya.


Airen tersenyum ke arah dokter Raka untuk membalas sapaan dokter Raka, “i-ini?” Tanya dokter Raka dengan membulatkan matanya.


“Hai paman Raka nama ku Sky Orion umur ku 1 tahun 9 bulan sekarang aku sudah bisa jalan sudah tidak mau di gendong oleh bunda lagi dan aku sudah makan sendiri. Kebiasaan ku adalah menjahili Jean adik sepupu ku.” Ucap Eve dengan suara anak kecilnya hal itu semakin membuat dokter Raka takjub dengan Eve.


“Sky?” Tanya dokter Raka Eve menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


“Dia tetap ayahnya aku hanya menggantinya dengan bahasa yang lain.”


“Oh iya kenalkan ini kakak kandung ku Johannes Abraham dia adalah suami kak Airen kita pernah bertemu dengan kakak ku sebelumnya.” Ujar Eve memperkenalkan diri.


Johannes dan Airen terkejut dengan respon Eve tatkala melihat dokter Raka yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan mengenali mereka bisa Eve terima dengan baik.


Johannes merasa bangga bahwa berarti adiknya sudah benar-benar bahagia dan tidak masalah jika bertemu dengan orang di masa lalunya tapi walaupun Johannes sedikit ragu apakah Eve akan bersikap seperti ini jika bertemu dengan Tala.


“Sekarang kak Raka jangan panggil aku Eve lagi nama asli ku adalah Elizabeth Abraham dan kak Raka boleh manggil aku Lizzy.”


Dokter Raka memberikan tangannya sebagai ucapan salam kenal ke mereka. “Kali ini Nona Lizzy tidak akan menolak uluran tangan pertemanan saya lagi kan!” Canda dokter Raka hal itu membuat Eve terkekeh mendengarnya.


“Kak Raka ada keperluan apa di sini?” Tanya Eve.


“Aku sedang mengunjungi makam kekasih ku.” Ujar dokter Raka tersenyum, Eve menatap ke arah dokter Raka, “jangan menatap ku seperti itu nanti aku jatuh cinta lagi bagaimana!?” Canda dokter Raka.


“Jika jatuh cinta lagi juga tidak apa-apa.” Bukan Eve yang menjawab melainkan Johannes Abraham. “Benar kan Eve?”


Eve menganggukkan kepalanya, “aku tidak bisa mencegah karena itu hak manusia.” Jawab Eve santai.


Tiba-tiba Orion menangis sepertinya putranya itu mulai mengantuk hal itu membuat dokter Raka dengan sigap menggendong Orion setelah meminta izin ke Eve untuk menenangkan Orion.


Orion pun tidak protes hal ini kedua kalinya membuat Johannes menatap Orion tidak percaya. Apa Orion merasa nyaman dengan dokter Raka sepertinya iya.


Johannes menatap ke arah Airen dan Airen membalasnya tersenyum, “sebaiknya kita harus segera pulang kasihan Orion dan Jean. Dokter Raka silahkan datang ke mansion Abraham.” Ujar Joha sembari menyerah kartu akses masuk tadi mereka sudah bertukar nomor. “Alamatnya sudah aku kirimkan.”


Dokter Raka menerima dengan senang hati dan merasa sangat senang bertemu dengan Eve apalagi Eve sekarang terlihat baik-baik saja dan sangat bahagia.


“Jadi, Elizabeth Abraham adalah Elakshi Feshika Adwitya alias Eve.” Ucap Jackson yang melihat dari dalam mobilnya.


“Pantas saja Tuan Johannes terlihat gelisah ketika bertemu dengan Tala.” Ingat Jackson akan ucapan sahabatnya tersebut.


“Kali ini kamu tidak akan menolak untuk datang ke Lembah Hunza Tala, ahhh akhirnya aku bisa merasa lega apalagi Daisy tidak memikirkan apakah Tala bahagia atau tidak.” Jackson sama sekali tidak merasa tersaingi dengan perhatian Daisy ke Tala karena Jackson tau bahwa Tala tidak akan tertarik dengan istrinya itu dan Daisy hanya ingin membalas budi tentunya Jackson sangat berterimakasih ke Tala jika tidak maka dirinya tidak akan bisa menikahi Daisy dan tidak akan mempunyai anak secantik Lily.


 

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2