Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 40. Darimana Eve


__ADS_3

Eve masih menangis sesenggukan di atas rooftoft sedangkan Tala sudah lama pergi.


Kini mata Eve tampak sembab karena menangis dan Eve beruntung bahwa saat ini tidak ada yang pergi ke rooftoft dan melihatnya dengan mata sembab.


Namun, semua yang dipikirkan oleh Eve semuanya salah nyatanya ada seseorang yang sejak tadi selalu berada dan memandang Eve dalam diamnya.


Dari dimulai Eve yang dibawa oleh Tala menuju rooftoft sampai pertengkaran suami istri yang terjadi di antara oleh Eve dan Tala orang itu dengarkan.


Siapa lagi kalau bukan dokter Raka namun di sini tidak hanya ada dokter Raka saja melainkan ada seorang perempuan yang juga mengawasi tapi perempuan itu tidak mengawasi sampai akhir dan menunggu sedikit lebih lama setelah Tala pergi.


Memandang hamparan langit yang luas disertai angin sore yang sepoi-sepoi mengibas rambut Eve yang tidak dikuncir.


Mungkin Eve tidak menyadari bahwa penampilannya saat ini sangatlah berantakan dan Eve tidak mempedulikannya.


Tidak ada teman untuk Eve berbagi cerita dan keluh kesahnya.


Eve menjadi orang dengan kepribadiannya yang semakin tertutup.


Tembok besar Eve selalu pasangkan ketika bertemu dengan orang walaupun sudah lama


Hal itulah yang dirasakan oleh dokter Raka. Dokter Raka sedikit tau dan memahami apa yang membuat Eve seperti ini. Yang jelas pernikahan yang dijalani Eve tidak membuat Eve bahagia.


Memiliki sahabat pun Eve tidak mau untuk menelpon dan menumpahkan keluh kesahnya karena merasa sudah banyak menjadi beban bagi sang sahabat.


Eve semenjak menikah sudah memutuskan semua koneksi yang melibatkan dirinya dengan sang sahabat agar sang sahabat tidak merasa khawatir dengannya.


Pemikiran Eve yang terkadang buruk adalah bahwa dia akan selalu menjadi beban seseorang dan Eve tidak mau sahabat satu-satunya pergi meninggalkannya atau kecewa dengannya karena selalu mendengar ceritanya yang tidak ada habisnya dan betapa bodoh dirinya.


Hubungan akrab dengan orang lain Eve tidak memiliki kepercayaan diri.


Kadang kala Eve berusaha untuk bangkit namun seringkali terhenti terkadang pula Eve ingin menyerah dan memilih untuk hidup sendiri.


Padahal kenyataannya Eve sangatlah kesepian dan kekurangan kasih sayang.


Dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya dan tidak dihargai membuat kepercayaan diri Eve rendah untuk bersosialisasi sehingga membuat Eve menjadi pribadi yang tertutup.


Pukulan telak dari masa lalu yang berimbas di masa sekarang membuat kepercayaan dalam diri Eve semakin jauh terperosok ke dalam.


Tidak ada binar cahaya yang terpancar di mata Eve jika orang-orang benar jeli melihatnya walaupun Eve tersenyum dengan ramahnya.


Hal itu mampu membuat dokter Raka yang melihat tatapan kesepian dan kelam itu bagaikan magnet yang menariknya untuk mengetahui dan lebih memahami serta menjadi topang sandaran buat Elakshi Feshika Adwitiya.


Kesabaran dan keteguhan hati Eve membuat dokter Raka semakin tertarik terutama untuk melindungi dan memberikan kebahagiaan mata layaknya mutiara hitam itu.


Dokter Raka bertanya-tanya apa yang membuat seorang Nabastala Affandra Werawan begitu tidak menyukai atau lebih tepatnya membenci Elakshi Feshika Adwitiya.


Tapi, hari ini yang jelas mereka terlihat mempunyai masa lalu yang belum tuntas.


Di dalam pikiran Eve dengan tatapan matanya yang kosong Eve masih menyalahkan dirinya kenapa semua hal ini terjadi.


Eve tau bahwa apa yang dilakukannya kepada Tala dulu adalah sangat salah.


Mengkhianati hati seorang laki-laki yang begitu tulus mencintainya dan selalu menemaninya hanya karena dirinya dulu yang begitu haus untuk mencari perhatian lebih banyak lagi.


Sehingga membuat dirinya lupa bahwa ada hati seorang yang tersakiti karenanya.


Padahal yang dilakukan Eve saat itu adalah kecerobohannya akan sebuah kasih sayang yang ingin digapai ditambah ia dibuat kecewa oleh namanya sebuah persahabatan.


Ketidakterbukaannya tentang masalah yang dialami dan dipendam oleh Eve seorang diri membuat hubungan dirinya dengan Tala semakin menjauh dan berjarak.


Menyia-nyiakan dan menganggap remeh bahwa Tala pasti akan kembali kepadanya dan tidak akan pernah meninggalkannya.

__ADS_1


Nyatanya semua tidak kembali seperti dulu lagi saat kesempatan di mana dirinya ingin menjelaskan segalanya semua hak yang buruk terjadi begitu saja dalam sekejap mata.


Masa kelam di mana kedua orang tua angkatnya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Membuat Eve remaja kala itu semakin terpuruk dan memikirkan nasibnya yang selalu tidak dianggap oleh keluarga Adwitya.


Memikirkan lagi di masa-masa itu di mana Tala yang selalu menemaninya kemana pun dirinya pergi.


Menuruti apa pun kemauan dirinya dan menggenggam tangannya Sungguh Eve merindukan perhatian dan kasih sayang yang Tala berikan padanya.


Dirinya yang tidak ingin terbuka namun Tala berusaha memahaminya dengan selalu berkata. "Tidak apa-apa jika tidak mau bercerita aku tidak akan memaksa. Tapi, biarkan aku selalu berada di sisi mu dan menemani mu. Aku akan selalu menunggu mu untuk bercerita."


Mengingat kata-kata yang dikeluarkan Tala ketika Eve masih remaja kala itu Eve hanya mengucapkan terimakasih dan tersenyum.


Dejavu


Namun, setiap kali Eve ingin bercerita akan selalu saja ada yang membuat Eve ragu.


Kasih sayang Tala yang tulus membuat Eve takut kehilangan Tala dan tidak ingin Tala menjauhinya hanya karena dirinya terlahir sebagai anak pungut.


Sehingga membuat Eve melampiaskannya dengan berteman banyak. Lingkup pertemanan Eve tidak hanya kalangan siswa sekolahnya saja melainkan mahasiswa.


Eve memanglah gadis populer dan alasan Eve pertama kali menerima Tala adalah karena dirinya sudah merasa jengah dengan semua orang yang ingin mengajak berkencan dengannya.


Dan Tala yang juga sangat suka dengan dirinya membuat Eve memanfaatkannya.


Menjadi gadis populer, berasal dari keluarga kaya raya apalagi menyandang marga Adwitya keluarga terkaya nomor 2 di negara I ini membuat Eve terbuai dan merasa senang.


Rasa haus akan perhatian dari orang-orang yang ingin dekat dengannya yang tidak didapatkan Eve ketika berada di keluarga Adwitiya yang telah memungutnya membuat Eve lupa diri.


Dan membuat luka hati seseorang yang tulus mencintainya Nabastala Affandra itulah nama yang Eve kenal kala itu.


Eve sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan orang yang tulus kepadanya demi mendapatkan kepuasan kasih sayang yang selama ini tidak pernah didapatkannya.


"Angin bukankah aku pantas mendapatkannya. Jika aku menjadi dirinya aku pun pasti bakalan kecewa dan tidak ingin bertemu dengan orang yang telah memberikan rasa sakit." Ucap Eve dengan tersenyum miris.


"Sungguh takdir begitu apik."


Eve segera bangkit dan ingin melakukan sesuatu untuk meluapkan rasa sedihnya yaitu dengan menulis.


Dokter Raka yang melihat Eve berdiri dan berjalan tergesa-gesa segera mengikuti Eve.


Eve yang tidak menyadari hanya fokus dengan keinginannya yang ingin dilakukan.


Mengunci pintu ruang kerjanya dan duduk di meja kerjanya setelah sebelumnya mencari kunci laci meja dan mengambil buku miliknya.


POV ON EVE


Sudah lama sekali rasanya aku tidak menulis wajar saja akhir-akhir ini aku selalu berpikir negatif terlalu banyak.


Aku selalu menulis buku dengan judul yang sama bahwa aku adalah pemeran utama dalam hidupku.


Pemeran utama yang begitu menyedihkan dan menyayat hati.


Di banding kisah bahagia yang aku tulis banyak ungkapan kata menyedihkan dan menyayat hati yang aku tuang di dalamnya.


Hal ini karena banyak pikiran negatif yang masuk ke dalam pikiran.


Sehingga terkadang aku tidak bisa memilih mana kenyataan dan mana mimpi.


Berusaha untuk kuat agar orang-orang di sekitar tidak merasa terbebani hanya karena ada diriku.


Namun, adakalanya aku menyerah untuk kuat yaitu dikala aku sendiri dan merasa sepi menjadi hidup sehari-hari.

__ADS_1


Hanya berteman dengan buku dan benda-benda mati seperti diary yang aku tulis ini.


Banyak kata seandainya, banyak kata jika yang ingin aku mulai untuk mengawali imajinasi yang bisa membuatku bahagia.


Terpuruk dalam masa lalu, memendam banyak hal, termasuk merasa menjadi benalu.


Aku tau pasti bahwa kata seandainya itu tidaklah baik, aku juga memahami bahwa kata jika itu sangat buruk.


Karena jika aku mengatakannya maka aku adalah orang yang tidak pernah bersyukur.


Sejauh ini hanya diriku yang bisa aku percayai. Mempercayai orang-orang yang tulus pun rasanya aku ragu. Banyak pertanyaan yang melintas.


Apakah mereka benar-benar tulus karena aku memiliki paras yang cantik?


Apakah mereka tulus karena aku begitu dengan mudah dimanfaatkan?


Apakah mereka tulus karena aku berasal dari keluarga terpandang.


Aku ingin orang-orang melihatku apa adanya bukan karena aku ada apanya.


Tapi, nyatanya sangat susah jika aku masih belum bisa bangkit dari masa lalu.


Karena mata pikiran dan hati ini masih tertutup dan membuat aku memasang tembok yang besar.


Dulu dia pernah berkata bahwa tidak akan memaksa aku untuk bercerita dan akan selalu menemaniku namun kenyataannya dia pun pergi meninggalkan ku walaupun aku tau bahwa aku yang paling salah di sini.


Aku memang selalu salah apa pun yang aku lakukan selalu salah lagipula aku adalah tempat pelampiasan dan hasrat orang-orang di sekitarku.


Aku pun tersenyum mengingat betapa mirisnya dan merasa sedikit senang bahwa setidaknya aku bisa berguna sebagai seorang manusia karena menjadi tempat pelampiasan.


Huh, memikirkan pemikiran yang semakin sering kali datang aku rasa tidak lama lagi akan membludak dengan sendirinya.


Aku takut bahwa aku akan menjadi orang yang sakit jiwanya jika terus seperti ini. Namun, jika aku mengatakannya maka orang-orang yang saat ini akan menjauhi aku.


Biarkan diriku bertahan sedikit lebih lama untuk melawannya. Melawan rasa sesak di dada dan melawan rasa negatif di jiwa.


Aku hanya berharap kepada Tuhan bahwa aku ingin selalu bahagia dan menemukan kebahagiaan yang bisa membuatku lebih bersyukur lagi.


Kuatlah, yakinlah bahwa kamu bisa Eve tinggal sedikit lagi bahwa kamu akan keluar dan pergi jauh dari orang-orang di sekitar mu yang mengenalimu.


Meninggalkan segala yang telah kamu raih dan menjadi serta mencari kehidupan yang sederhana yang selalu kamu impikan.


Di dalam ruang rawat kakek Werawan sebuah perbincangan mengenai Eve kembali lagi terjadi di mana kakek Werawan ingin sekali bertemu dengan Eve.


"Apakah Eve masih lama aku ingin berbicara dengan cucu menantu." Ucap ayah Werawan membuat bibi dan paman Tala terdiam beserta dengan Geya yang ada di ruangannya.


Tala yang mendengarnya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya ini sudah dua jam lebih semenjak dirinya pergi meninggalkan Eve di rooftoft.


"Tenanglah kek, Eve akan datang ke sini. Biarkan dia untuk beristirahat." Ujar Tala.


"Kamu selalu bilang tenang dari tadi. Apa kamu tidak tau bahwa betapa kakek mu ini sangat ingin bertemu dan berbicara dengan cucu menantu." Ujar kakek Werawan yang merasa kesal.


Suara pintu terdengar sehingga membuat perhatian semua orang di dalam ruangan kakek Werawan merasa terkejut masih ada banyak orang yang masuk ke ruangan


"Kakek." Panggil suara lembut itu membuat kakek Werawan sangat senang.


Senyum sumringah kakek Werawan tampilkan dan Eve segera datang memeluk Eve dengan erat.


"Kamu dari mana saja. Apa kamu tau betapa kami sangat khawatir denganmu." Ujar kakek Werawan


"Maafkan aku kakek tadi ada pasien yang datang." Ucap Eve dengan senyumannya.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu."


Bersambung*


__ADS_2