
Setelah ayah Davka menyuruh Adya untuk tenang tidak lama kemudian Adya kembali pingsan hal itu membuat ibu Dhara sangat terkejut.
Ayah Davka yang melihat menantunya pingsan segera memencet tombol di samping ranjang pasien menantunya.
Tidak lama kemudian dokter dan dua perawat masuk dengan tergesa-gesa dan segera memeriksa kondisi Adya.
Dokter tersebut menghela nafasnya saat merasakan bahwa kondisi Adya sekarang saat ini cukup lemah.
Dokter itu mengerti apa yang menyebabkan. Adya pingsan.
"Kondisinya saat ini cukup lemah Tuan, Nyonya. Peristiwa ini akan membuat kondisi Nona Adya cukup terpengaruh. Saya harap Tuan dan Nyonya menjaga dan selalu berada di sisi Nona Adya." Ucap dokter tersebut menjelaskan dan menatap prihatin atas kondisi Adya.
Dokter tersebut tau bahwa Adya sudah tidak mempunyai semangat untuk hidup lagi dan sudah hilang harapan lebih tepatnya bahwa Adya sudah pasrah namun bukan berarti Adya akan menyerah.
Pasien yang sering mengikuti terapi dan pengobatan untuk kesembuhannya ini terus menampilkan senyumnya di hadapan semua orang namun di dalam lubuk hatinya terdapat kegelisahan dan ada beban yang mendalam.
Alasan pasien ini tidak menyerah untuk menjalani terapi dan pengobatannya semata-mata karena keluarganya ini keluarga yang sudah menganggapnya sebagai seorang istri, menantu, dan cucu.
Tala yang pergi dari ruang tunggu operasi berjalan ke atas rooftoft dengan tangan yang memegang dinding pembatas rooftoft tersebut.
Air mata Tala keluar mengingat bahwa kakek yang selama ini Tala hormati dan sayangi kini telah pergi dari kehidupannya dan juga keluarganya.
Tala memukul dinding pembatas dengan sangat kuat untuk meluapkan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.
Mata Tala sudah sangat merah angin yang berhembus dan menerpa wajah Tala saja bahkan tidak membuat Tala merasa nyaman dan tenang seperti biasanya.
Tala masih tidak menyangka atau semua orang yang mendengarnya masih tidak akan menyangka mendengar kabar bahwa kakek Werawan sudah tiada.
Tala terus memukul dinding pembatas kembali dengan kuat sampai tangan Tala berdarah.
Darah yang mengalir di kepalan tangannya yang memukul dinding tidak membuat Tala merasakan kesakitan karena rasa sakit, sedih, dan kecewa menyelimuti hati dan pikirannya lebih kuat dari luka yang ada di pelupuk tangannya.
"Kenapa kakek harus pergi secepat itu." Ucap Tala dalam pikirannya. Semakin Tala memikirkan bahwa kakeknya telah meninggal rasa sesak di dadanya semakin membuncah.
Sedangkan di ruang tunggu tepatnya di depan ruang operasi Geya dan Eve menangis dalam kesendirian mereka. Apalagi ketika melihat bahwa kakek Werawan dikeluarkan dari ruang operasi membuat tangis Geya semakin pecah.
Eve yang melihat Geya menangis seperti itu segera berjalan mendekat untuk menghibur Geya.
Walaupun Geya selalu bersikap tidak baik kepadanya namun Geya ternyata tetaplah seorang penyayang yang menyayangi kakek Werawan.
Siapa yang tidak bisa menyayangi kakek Werawan jika kakek Werawan begitu sangat baik kepada siapa saja dan tidak pernah membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya.
Eve memeluk Geya yang menangis sambil menunduk dan ikut menangis.
Sedangkan Geya yang merasakan ada orang yang memeluknya sambil menangis sangat terkejut apalagi ornag itu adalah orang yang sangat tidak disukainya.
Geya mendorong tubuh Eve yang sedang memeluknya dengan kasar sehingga membuat Eve jatuh terduduk dan menatap Geya dengan wajah terkejutnya.
Geya menatap Eve dengan penuh rasa tidak suka dan kebencian kepada Eve. "Kamu pembunuh." Ucap Geya.
Eve yang mendengarnya sangat merasakan hatinya sakit begitu dalam. Namun Eve tidak bisa memberikan kata-katanya untuk mengklarifikasi apa yang Geya tuduhkan kepadanya.
Dokter Raka yang baru kembali sehabis mengantar jenazah kakek Werawan di ruang jenazah melihat Eve dan Geya dengan jarak yang cukup dekat dan saling bertatapan satu sama lainnya.
"Aku akan membalas mu. Jika bukan karena mu maka kakek tidak akan seperti ini." Ucap Geya dengan menangis pilu mengingat bahwa kakek Werawan sudah meninggal dunia.
Eve hanya diam dan menunduk. Eve akui bahwa dirinya telah gagal menyelamatkan pasiennya dan pasien itu sendiri adalah orang yang sangat disayanginya dan selalu berapa di sampingnya untuk mendukung dirinya.
Namun, untuk penyebab yang terjadi yang membuat kakek Werawan harus dilakukan tindak operasi bukanlah kesalahan dirinya walaupun disitu dirinya ada masuk.
__ADS_1
Kata-kata Geya yang begitu keras di mansion lantai dua tentang pernikahannya dengan Tala yang akan berakhir dalam beberapa bulan genap dua tahun membuat kakek Werawan sangat terkejut.
Eve merasa bersalah dan ceroboh dengan itu karena dirinya lah yang membuat kakek Werawan mengalami serangan jantung sehingga membuat kakek Werawan seperti ini.
Namun itu semua bukan salahnya tapi Eve tidak ingin memberikan pembelaan apa pun karena Eve merasa bahwa dirinya ikut andil atas serangan jantung yang dialami oleh kakek Werawan.
Geya langsung beranjak pergi dari sana tapi sebelum itu Geya tanpa membalikkan badannya menghadap Eve yang masih terduduk di lantai berkata. "Jangan pernah katakan mengenai kejadian hari ini kepada siapa pun maka aku tidak akan memberimu hidup tenang selamanya." Ancam Geya.
Dokter Raka yang mendengarnya tertegun dan menatap ke arah Geya yang sedang berjalan meninggalkan ruang tunggu operasi.
Geya sempat melirik ke arah dokter Raka dengan ujung ekor dan matanya yang tajam.
Setelah Geya pergi dokter Raka berjalan mendekat ke arah Eve yang masih menangis dan menatap lantai di depannya.
"Eve ayo bersihkan dirimu dan ganti bajumu. Kamu harus istirahat." Ucap dokter Raka dengan lembut sambil berjongkok.
Dokter Raka memanggil nama panggilan tanpa embelan yang biasa mereka panggilkan jika sedang tidak ada orang lain di sekitar mereka atau tidak sedang bekerja.
Melihat Eve yang tidak bergerak dan menghiraukan perkataannya membuat dokter Raka menghela nafasnya.
"Jika kamu seperti ini maka kakek akan merasa sangat sedih di sana." Ujar dokter Raka.
Eve yang mendengarnya segera berdiri, hampir saja Eve terjatuh karena badannya terhuyung dan dokter Raka segera memegang kedua bahu Eve.
"Berhati-hatilah." Ujar dokter Raka.
Eve segera melepaskan kedua lengannya yang di pegang oleh dokter Raka.
Dokter Raka menatap sedih melihat Eve yang sangat sedih dan murung seperti itu.
Pasti saat ini pikiran dan hati Eve campur aduk dan dokter Raka yakin bahwa Eve saat ini sedang menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
"Jangan lama-lama seperti ini Eve kamu semakin membuatku tidak berdaya dan ingin melindungi mu." Ujar dokter Raka dengan lirih.
Esok harinya adalah hari pemakaman kakek Werawan. Di halaman mansion Arjuna Laksana Werawan begitu banyak ucapan belasungkawa yang berjajar rapi.
Eve selalu berada di samping Adya yang sedang duduk di kursi roda sedangkan ibu Dhara dan ayah Davka sibuk mengurus dan mengatur segalanya.
Tala sibuk menyalami para tamu yang hadir memberikan penghormatan kepada kakek Werawan.
Tidak ada yang bicara di antara Eve dan Adya bukan karena mereka sedang tidak akur hanya saja di antara keduanya memang memilih untuk diam menghemat tenaga karena menangis.
Mata sembab kedua menantu ibu Dhara dan ayah Davka sangat jelas terlihat.
Terkadang tak jarang air mata keduanya menetes tanpa bisa dihentikan tapi keduanya memilih diam untuk saling menguatkan satu sama lain.
Tiba-tiba bibi Tala datang menghampiri Eve dan Adya dengan wajah penuh amarahnya.
Plak
Bibi Tala menampar wajah putih Eve sehingga membuat kulit wajah Eve memerah karenanya.
Rasa sakit tamparan itu dirasakan Eve namun dirinya hanya bisa diam. "Apa yang sedang bibi lakukan. Ingatlah kita sedang berduka jangan membuat keributan." Ucap Adya.
"Diam kamu wanita perusak." Ucap bibi Tala sarkas dan menunjuk wajah Adya.
Eve menenangkan Adya dengan mengusap bahu Adya. "Tenanglah kak Eve tidak apa-apa." Ujar Eve.
Semua para tamu yang berada di sekitar Eve dan Adya menatap ke arah mereka hal itu membuat Eve sangat tidak nyaman dan mengingatkan Eve akan beberapa kenangan yang sama yaitu dipermalukan.
__ADS_1
Pengawal yang menjaga Eve dan Adya segera bertindak ketika melihat bibi Tala yang datang menghampiri Eve dan Adya yang duduk tenang.
Tala yang sedang sibuk mengobrol sedikit dengan para tamu sekedar basa basi didatangi pengawal Eve.
"Tuan muda bibi Anda datang menghampiri Nona Eve dan Nona Adya dengan wajah yang tidak bersahabat." Info pengawal Eve tersebut kepada Tala.
Tala yang mendengarnya mengeraskan rahangnya lalu menatap rekan bisnis itu untuk pamit sebentar.
Di tempat Adya dan Eve pengawal Adya merasa sangat cemas karena situasi semakin panas.
Apalagi bibi Tala ini menampar Eve dan mengatai Adya dengan kata yang tidak pantas.
Pengawal Adya ingat pesan dari pengawal Eve bahwa jangan sampai bibi Tala mempermalukan Eve di depan umum termasuk juga Adya.
"Nyonya tolong jangan membuat keributan." Ucap pengawal Adya tersebut kepada bibi Tala
Bibi Tala menatap nyalang ke arah pengawal Adya itu. "Siapa kamu berani-berani menginterupsi aku. Cih, kamu itu hanyalah sekedar pengawal jangan melewati batas mu." Ucap bibi Tala sarkas.
"Memang benar saya adalah pengawal dan sudah tugas saya untuk menjaga dan melindungi Nona saya. Ingatlah Nyonya Tuan muda tidak akan tinggal diam jika Nyonya mempermalukan dan melakukan hal yang buruk kepada istrinya."
"Kamu mengancam saya ya." Ucap bibi Tala yang sudah berjalan mendekat dan hendak menampar wajah pengawal Adya tersebut.
Tala yang melihat dari jauh dengan cepat mempercepat langkah kakinya dan menginterupsi dengan suaranya ketika tangan bibi Tala sudah melayang ke udara untuk menampar pengawal Adya.
"Hentikan." Ucap Tala dengan keras dan tegas sehingga membuat para tamu yang datang menjadi semakin penasaran dan tertarik untuk melihat.
Bibi Tala mengepalkan kedua tangannya dan menggigit bibir dalamnya menahan kekesalan.
Mata bibi Tala menatap nyalang ke arah pengawal Adya.
"Jika bibi membuat keributan maka aku akan mengusir bibi dari sini." Ujar Tala dengan dingin.
Bibi Tala menatap penuh kesal dan marah. "Setelah kamu membuatku jauh dari anakku dan aku memohon kepadamu untuk membuat Adhikari kembali ke sini dan kamu menolaknya dan sekarang kamu mengusir bibi mu yang sudah paruh baya ini." Ujar bibi Tala tidak percaya.
"Bukankah aku sudah berbicara dan memohon baik-baik kepada kamu untuk memperbolehkan Adhikari datang melihat kakeknya untuk terakhir kali namun kamu beserta kedua orang tua mu menentang keras." Ucap bibi Tala yang merasa tidak adil dan tidak menerima.
Adhikari anaknya yang sudah dilindungi dirinya dan juga suaminya kini berada di tangan Tala sehingga membuat bibi dan paman Tala tidak bisa berkutik dengan itu.
Mereka sungguh kesal dan tidak habis pikir bagaimana Tala bisa menemukan Adhikari yang telah mereka sembunyikan dengan baik.
Tapi, kemarin dengan meninggalnya kakek Werawan bibi dan paman Tala meminta agar Adhikari kembali ke mansion untuk melihat kakek Werawan terakhir kali dan kembali tinggal di mansion namun dengan tegas tanpa berpikir ulang kembali Tala, ayah Davka dan ibu Dhara menolak.
"Kalian memperlakukan keluarga kalian sendiri seperti orang asing sedangkan kalian memperlakukan mereka berdua seperti ratu." Ujar bibi Tala menunjuk ke arah Eve dan Adya sambil menatap bengis ke arah Eve dan Adya.
"Hentikan." Ujar Tala sekali lagi kepada bibinya itu.
"Gara-gara mereka berdua kan kamu dan ibu serta ayahmu menentang keponakannya untuk pulang ke mansion."
Adya menundukkan kepalanya sedangkan Eve tidak mengerti kenapa dalam hal ini dirinya disangkutpautkan.
Eve mengira bahwa bibi Tala memang sangat kesal dengannya karena dirinya gagal menyelamatkan nyawa kakek Werawan tapi ternyata hak itu bukan.
"Pengawal bawa istriku ke dalam satu kamar dan jangan pernah meninggalkan mereka hanya berdua." Perintah Tala dengan tegas dan segera dituruti oleh pengawal Adya dan Eve.
Bibi Tala yang melihat dan mendengarnya semakin tidak menerima. "Tunggu, apakah kamu tidak mau mendengarkan ceritaku wanita licik." Ucap bibi Tala melihat ke arah Eve.
Tala yang melihatnya semakin mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya. "Pengawal segera bawa Nona muda ke kamarnya." Ucap Tala dan menatap tajam ke arah Eve yang sedang menatap dirinya penuh tanda tanya.
"Turuti perintah suamimu Elakshi Feshika Werawan." Ucap Tala dengan tegas memanggil nama Eve dengan nama aslinya dan memakai marga dari nama keluarganya itu.
__ADS_1
*Bersambung*