Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 84. Hilang Jejak


__ADS_3

Perawat yang melihat Eve dan dokter Raka yang sedang memapah Eve merasa bingung untuk menjelaskan yang terjadi. “Suster kenapa diam saja?” Tuntut Eve dengan wajah yang semakin khawatir bahkan air matanya sudah merembes ke kedua pipinya.


Tidak bisa bayangkan rasanya apa yang dipikirkan benar-benar terjadi. “Dokter Elakshi Nona muda Adya Parabawa sudah dibawa ke ruang jenazah oleh Tuan Davka Werawan.


Lutut Eve terasa lemas mendengarnya beruntungnya dokter Raka memegang Eve. Eve melepaskan pegangan dokter Raka kepadanya. “Mak-maksud suster apa?” Tanya Eve yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Perawat tersebut merasa bingung harus menjelaskannya bagaimana apalagi melihat Eve yang seperti ini. Dokter Raka mengerti arti tatapan perawat tersebut. “Eve jangan begini ayo bangkit tidak baik jika kamu duduk di lantai terlalu lama.” Ingat dokter Raka dengan lembut.


“Nona muda.” Panggil pengawal Ai yang melihat Eve sedang duduk di lantai dan menangis meraung-raung sekarang.


Pengawal Ai menghela nafasnya panjang saat pengawal Ai ingin menyentuh Eve tiba-tiba saja Eve pingsan membuat pengawal Ai menjadi panik.


Dokter Raka segera menggendong Eve dan membawa Eve ke ruang kerjanya untuk ditidurkan di sana.


“Dokter Caraka Anda sudah lancang untuk kedua kalinya, saya sudah berusaha untuk melarang Nona muda untuk sementara dan Anda malah membantunya.” Ujar pengawal Ai dengan dingin.


“Apa menurut mu dengan menyembunyikannya akan membuat keadaan menjadi baik-baik saja. Kamu sudah bekerja untuk menjaga dan selalu berada di sisinya seharusnya kamu paham bagaimana karakter Nona muda mu ini jika sudah berkemauan. Lagipula tidak ada baiknya untuk menyembunyikannya pada akhirnya akan tau.” Ujar dokter Raka datar kepada pengawal Ai.


“Sekarang dokter Caraka tolong silahkan keluar dari ruang kerja Nona muda. Dan satu lagi jika tidak tau apa-apa tolong diam daripada Anda mengacaukan segalanya.” Ucap pengawal Ai dengan tegas lalu membuka pintu ruang kerja Eve dengan lebar mempersilahkan dokter Raka untuk segera keluar.


“Dia perlu diperiksa.” Ujar dokter Raka kepada pengawal Ai lalu segera memeriksa keadaan Eve dan setelah memeriksa beberapa saat dokter Raka bernafas dengan lega.


Sepertinya Eve kelelahan karena saat ini sedang mengandung dan banyak masalah yang membuatnya tertekan. “Dokter Caraka Arkatama jika sudah selesai tolong segera keluar dari sini.” Ujar pengawal Ai sekali lagi.


Dokter Raka akhirnya mengiyakan apa yang dikatakan oleh pengawal Ai tersebut dengan memandang pengawal Ai melalui tatapannya yang tajam. “Tolong jaga dia baik-baik saat ini dia sedang tidak baik-baik saja. Jangan tinggalkan dia sendiri.” Ujar dokter Raka dengan datar dan memandang ke arah Eve yang masih menutup matanya karena pingsan dengan sendu.


“Itu memang tugas saya.” Ujar pengawal Ai namun dokter Raka langsung berjalan pergi ke dalam ruangannya.


Pengawal Ai menghela nafasnya dengan lelah dan panjang lalu menatap ke arah Eve yang masih memejamkan matanya. “Siapkan mobil di depan kita akan membawa Nona muda langsung ke mansion situasi sekarang sangat tidak kondusif dan tambahkan pengawalan.” Ujar pengawal Ai kepada seseorang di seberang telepon.


Sementara Tala yang berlalu pergi dari Eve pergi ke markas untuk melihat seorang perawat yang telah membuat Adya mengalami kejang-kejang sehingga berujung merenggang nyawa.


Sementara jenazahnya Adya sudah dibawakan oleh ayah Davka dan ibu Dhara ke mansion.


Saat sampai di markas Tala yang melihat perawat tersebut yang sudah meninggal mengepalkan kedua tangannya.


Asisten Kaivan yang sudah berada di markas dan menangani kasusnya maju. “Dia bukan perawat di rumah sakit dia hanyalah orang asing. Sepertinya selama ini mereka sudah memantau semua pergerakan kita.”


“Tujuan utamanya adalah membuat kamu dan Eve berpisah. Dia sepertinya sangat membenci Eve. Waktu datang dan menangkap perawat palsu ini yang sedang berlari ada seseorang menembaknya tepat mengenai jantungnya. Jadi sekali lagi kita kehilangan jejak siapa dalang dibalik semua ini.”


Wajah Tala mengeras dan tangannya mengepal sembari memandang tajam ke arah perawat palsu tersebut. “Sekretaris Diego urus surat perceraian antara aku dengan Eve segera dan bawa ke mansion.” Ujar Tala lalu segera pergi dari markas tersebut menuju ke mansion.


Asisten Kaivan tentu saja terkejut mendengarnya begitu juga dengan sekretaris Diego. Keduanya memandang satu sama lain lalu menghela nafas panjang.


Tala mengemudikan mobil yang dikendarainya dengan kecepatan penuh bahkan Tala tidak peduli dengan sumpah serapah orang yang dilewatinya karena menggunakan kendaraan dengan kecepatan penuh dan sangat berbahaya tersebut.


Eve membuka kedua matanya dan melihat ke sekeliling dapat Eve lihat di sana sudah ada pengawal Ai dan juga pengawal Bee yang melihat ke arahnya dengan bernafas lega.

__ADS_1


“Nona sudah bangun apakah ada yang ingin Nona butuhkan?” Tanya pengawal Ai dengan sigap sementara pengawal Bee sudah memberikan segelas air mineral buat Eve.


Eve memegang kepalanya dan menerima segelas air mineral tersebut lalu meneguknya. “Aku harus pulang.” Ujar Eve setelah mengingat kejadian yang menimpa dirinya sebelum dirinya pingsan.


“Iya Nona muda kita akan pulang, mari mobil sudah menunggu di depan.” Ujar pengawal Ai kepada Eve.


Eve segera berjalan dengan tergesa-gesa sementara di belakangnya pengawal Bee menatap khawatir melihat Eve yang baru bangun dari pingsannya dan berjalan begitu cepat tersebut.


Sementara pengawal Ai membereskan peralatan Eve yang ada di meja lalu mata pengawal Ai menatap ke arah dokumen berupa surat pengunduran diri Eve.


Pengawal Ai ingin mengambilnya namun melihat situasi yang sedang tidak kondusif membuat tangan pengawal Ai terhenti lalu segera keluar dan mengunci ruang kerja Eve.


“Di mana pengawal Ai kenapa lama sekali?” Tanya Eve yang sudah tidak sabar.


“Itu pengawal Ai Nona muda.” Jawab pengawal Bee membuat Eve hanya diam saja dan memandang ke depan.


Setelah itu mobil yang ditumpangi oleh Eve membawa Eve ke mansion dan tidak ada yang mulai berbicara Eve memandang ke arah luar jendela dan sesekali menghapus air matanya.


Eve menangis tanpa bersuara dengan melipatkan kedua tangannya di depan perutnya. Sesampainya di mansion mobil Eve berpas-pasan dengan mobil yang dikendarai Tala.


Tala yang melihatnya hanya berjalan melewati Eve sementara Eve hanya diam dan mengikuti Tala dari belakang.


Eve memperhatikan sisi kiri dan kanan yang dipenuhi ucapan bela sungkawa yang besar-besar sampai ke pintu teras mansion.


Eve berjalan dengan pelan entah kenapa semakin mendekati pintu masuk mansion kaki Eve terasa lemah sehingga membuat Eve terjatuh di atas lantai halaman mansion tersebut. “Nona muda.” Panggil pengawal Ai dan pengawal Bee bersamaan dan langsung berlari ke arah Eve untuk membuat Eve segera bangkit dan dipapah agar masuk ke dalam mansion.


Fokus Tala sekarang adalah kepada Adya yang sudah terbujur kaku di ruang keluarga sana bahkan Tala juga tidak mendengar teriakan dari pengawal Ai dengan pengawal Bee yang meneriaki Eve waktu terjatuh tadi.


Semua keluar besar yang melihatnya berpikir bahwa rasa cinta Tala kepada Adya jauh lebih besar daripada rasa cinta Tala kepada Eve. Melihat Tala yang tidak berjalan bersama dengan Eve dan hubungan keduanya sepertinya tidak baik-baik saja sekarang.


Isak tangis ibu Dhara dan Tala di depan jenazah Adya membuat Eve tak kuasa apalagi kini dirinya sudah tidak bisa lagi melihat senyum manis dan ceria dari Adya.


Eve merasakan pandangannya kabur dan kepalanya terasa berputar-putar sehingga membuat Eve kembali pingsan.


Beruntungnya asisten Kaivan yang melihatnya segera menangkap tubuh lemah Eve tepat di depannya. “Nona muda.” Ucap asisten Kaivan merasa panik melihat kondisi Eve.


Wajah Eve memang terlihat pecah sementara Tala masih sibuk memeluk Adya dan menangis. Fokus Tala hanyalah Adya, ayah Davka yang melihat hal itu segera menyuruh asisten Kaivan untuk membawa Eve ke lantai 3 kamar di mana Eve dan Tala berada.


“Kaivan tolong kamu gendong Eve ke lantai 3, pengawal segera temani Eve cepat dan jangan tinggalkan seorang diri.” Perintah ayah Davka dengan sigap.


Pengawal yang menjaga Eve segera mengikuti langkah kaki asisten Kaivan untuk membawa Eve ke dalam kamar.


“Kasihan Nona muda sudah tiga kali dirinya pingsan hari ini.” Ujar pengawal Ai sangat khawatir asisten Kaivan yang mendengarnya menatap ke arah pengawal Ai lalu memandang wajah pucat Eve.


“Sepertinya keadaannya sedang tidak baik-baik saja apalagi kondisi saat ini. Tala seperti kembali menjadi orang bodoh beberapa tahun yang lalu.” Ujar asisten Kaivan sembari menyugarkan rambutnya dan memandang pemandangan dari balkon kamar sedangkan tangannya menelpon seseorang yang tidak lain adalah sekretaris Diego.


Asisten Kaivan melihat labirin bunga mawar tersebut yang memang sengaja dibuat dua tahun yang lalu dan dirinya yang menerima perintah Tala yang tidak masuk akal harus menyelesaikan membuat labirin bunga mawar dalam waktu dua minggu dengan panjang 200 X 200 m tersebut.

__ADS_1


“Buat apa labirin bunga mawar itu dibuat jika ada hanyalah kehampaan dan kosong. Labirin bunga mawar itu rumit seperti pemikiran Tala dan kisah cintanya. Cantik, berlika-liku dan berduri.”


Ayah Davka harus mengurus segalanya dibantu oleh sekretaris pribadinya dan juga kakek Werawan mengenai pemakaman Adya besok. Melihat anaknya Tala yang sangat sedih bahkan sekarang Tala tidur di samping jenazah Adya dengan memeluknya karena lelah menangis.


Ibu Dhara hanya diam memandang kosong ke arah Tala dan juga Adya apalagi tadi melihat menantu keduanya yang pingsan dan dirinya dengar sudah tiga kali menantu keduanya itu pingsan.


“Bagaimana keadaannya?” Tanya ayah Davka yang datang menghampiri kamar Eve dan Tala di lantai 3 bersama dengan ibu Dhara.


“Tuan besar, Nyonya besar. Nona muda tadi sudah tersadar namun karena lelah menangis membuat Nona muda kembali tertidur.” Jawab pengawal Ai.


Ibu Dhara berjalan mendekati, kini putrinya hanya satu hanya tinggal Eve. Ibu Dhara juga tidak tau apakah setelah ini Eve akan bertahan atau tidak bersama dengan Tala melihat selama ini ibu Dhara merasakan bahwa Eve bertahan demi Adya namun sekarang Adya sudah tiada.


Ayah Davka mengusap bahu istrinya yang kembali menangis ketika istrinya itu mengelus tangan Eve dan melihat wajah pucat Eve yang sedang tertidur.


Bahkan sisa air mata di wajah putih Eve membekas di sana membuat ibu Dhara merasa tidak tega. Ibu Dhara tau kedekatan kedua menantunya yang sangat saling menyayangi satu sama lain tersebut. Bahkan tidak pernah ibu Dhara melihat keduanya bertengkar walaupun hubungan keduanya adalah istri pertama dan istri kedua.


“Ayah, ibu tidak sanggup jika Eve juga pergi jauh meninggalkan kita jika Eve sudah meminta bercerai dengan Tala nanti.” Ucap ibu Dhara menunjukkan rasa khawatirnya.


“Ibu jangan berpikir begitu Eve tidak akan pergi jauh dari kita dia akan tetap di sini dan akan tetap menjadi putri kita walaupun nanti dia sudah tidak tahan hidup bersama dengan Tala. Ingat Eve adalah putri kita bukan menantu kita.” Ucap ayah Davka.


Bukan bermaksud ayah Davka dan ibu Dhara mendoakan Eve dan Tala bercerai tidak hanya saja mereka melihat kenyataan yang ada. Sikap Tala yang dingin kepada Eve.


Asisten Kaivan yang memang sejak tadi tidak pergi bersama dengan pengawal Ai hanya diam mendengar curhatan sepasang suami istri paruh baya tersebut yang takut kehilangan Eve.


Mereka tidak tau saja bahwa sekarang sekretaris Diego sudah membawa surat cerai yang dimintai oleh putra mereka untuk ditandatangani oleh Eve.


Keesokan harinya Eve sudah tampak lebih segar sedang menatap dirinya di pantulan cermin. Kini Eve memakai pakaian serba hitam karena hari ini adalah hari di mana Adya akan dimakamkan.


Tala keluar dari dalam kamar mandi lalu mengambil pakaian yang sudah disiapkan oleh Eve dan dengan segera memakainya.


Susana di antara keduanya sangatlah dingin tidak ada yang berbicara, Tala berjalan ke ruang kerjanya setelah memakai pakaiannya lalu mengambil sebuah dokumen yang diberikan sekretaris Diego kemarin kepadanya.


Tala tanpa banyak suara menyerahkan dokumen tersebut kepada Eve yang sedang duduk di meja rias.


Eve memandang ke arah Tala yang kini mengalihkan pandangannya seolah Tala sudah tidak mau lagi melihat wajah Eve. Lalu dengan segera Eve mengambil dokumen tersebut.


Eve membuka dokumen tersebut dan tau apa isi dari dokumen di dalamnya yaitu surat perceraian.


Eve berjalan menjauh dari Tala lalu mengambil pulpen di samping laci tempat di mana dirinya tidur. Lalu tanpa banyak kata dan suara Eve segera menandatangani surat perceraian tersebut.


“Mulai hari ini jangan pernah menginjakkan kaki mu di mansion ini lagi, pergilah jauh-jauh jika melihat diriku maka kamu harus sembunyi aku sudah muak melihat wajah mu ini juga berlaku jika kamu bertemu dengan kedua orang tuaku.”


“Satu lagi jangan datang ke pemakaman istriku.”


 


*Bersambung*

__ADS_1


 


__ADS_2