
Lalu mata Eve menatap ke arah dokumen satunya lagi yang berada di bawah dokumen surat perceraian yang sudah ditanda tanganinya.
“Aku tidak memerlukan ini terimakasih karena sudah memberi ku tempat dan membuat aku merasakan kasih sayang di dalam keluarga ini.” Tolak Eve dengan lirih sembari menunduk.
“Aku akan datang ke pemakaman kak Adya tolong izinkan aku untuk terakhir kalinya. Aku akan pergi ke sana setelah kalian semua tidak ada di sana. Aku ingin pamit kepada kak Adya.”
Eve berjalan mendekat ke arah Tala yang sedang berdiri membelakanginya lalu Eve memberanikan diri memeluk tubuh kekar Tala.
Tala tampak menegang dengan apa yang dilakukan Eve mungkin karena Tala tidak percaya bahwa Eve mempunyai keberanian untuk memeluknya.
“Tolong jangan bergerak biarkan sebentar saja.” Ujar Eve kepada Tala ketika Tala ingin melepaskan pelukan Eve dari tubuhnya itu.
“Anakku ini terakhir kalinya hari ini kita akan bertemu dengan ayah dan terakhir kalinya kamu akan merasakan pelukan dari ayahmu setelah ini kita akan pergi jauh dan hanya hidup berdua.” Ucap Eve di dalam hatinya kepada bayi yang sedang berada di dalam kandungannya itu.
“Tolong hiduplah lebih bahagia aku akan selalu berdoa kepada Tuhan untuk kebahagiaan mu dan juga ibu ayah. Terimakasih atas segalanya terutama pelukan ini.” Ucap Eve dengan lirih lalu membalikkan badannya.
Tala segera pergi dari kamarnya untuk turun ke bawah, “Tala di mana Eve sayang?” Tanya ibu Dhara kepada Tala yang hanya turun sendiri.
“Aku di sini ibu.” Ucap Eve dengan penampilannya yang kelihatan lebih segar dari kemarin kini sudah Eve buat sepucat mungkin agar ibu Dhara dan ayah Davka tidak merasa curiga.
“Sayang wajah mu pucat sekali, sebaiknya kamu jangan pergi.” Ujar ibu Dhara khawatir, lalu Eve berpura-pura akting dengan kakinya yang terasa lemah.
“Tapi, ibu…” ujar Eve agar aktingnya meyakinkan.
“Tidak kamu tidak boleh pergi lihat wajah mu sangat pucat.” Ujar ibu Dhara.
“Ibu mu benar sayang sebaiknya kamu jangan pergi terlebih dahulu kondisi mu sekarang sedang tidak baik-baik saja. Kapan-kapan kamu bisa datang ke pemakaman Adya, Adya di atas sana akan mengerti sebaiknya dengarkan ibu mu hmmm.” Ucap ayah Davka dengan lembut sembari mengusap kepala Eve.
Eve menganggukkan kepalanya, sementara sekretaris Diego menatap ke arah Tala yang hanya diam dan bertanya-tanya apakah Tala sudah memberikannya apa belum mengenai surat perceraian itu jika Tala memberikannya sekarang itu sungguh keterlaluan.
Asisten Kaivan menatap ke arah Tala dan juga Eve sekali-kali apakah ini hanya drama atau tidak tapi melihat kondisi Eve kemarin dan wajah pucat Eve membuat asisten Kaivan membuang kecurigaannya kepada sang sahabat tersebut.
“Saya akan menemani Nona muda di sini.” Sahut pengawal Ai namun ditolak mentah oleh Eve karena dirinya meyakinkan bahwa tidak akan pergi ke mana-mana dan meminta untuk tidak khawatir.
Geya yang menatap ke arah Eve hanya diam saja karena tidak ingin banyak berbicara, sekarang Geya lebih banyak diam dari biasanya bahkan Geya sering menolak ajakan dari Harsha untuk pergi keluar.
Sementara Harsha menatap sinis ke arah Eve dan mengatakan Eve sedang mencari perhatian semua orang. “Menyedihkan.” Ucap Harsha dengan sinis.
Semua orang sudah pergi ke pemakaman Adya untuk mengantar Adya di peristirahatan terakhirnya.
Sementara Eve kini menyiapkan pakaiannya di koper beserta uang yang ditabungnya selama ini tanpa menggunakan akun bank dari hasil kerja kerasnya sebagai dokter.
__ADS_1
Eve menatap berkas-berkas yang disimpan rapi tersebut, “mulai sekarang aku bukanlah bagian dari Adwitya dan bukanlah seorang dokter. Aku hanyalah anak yatim piatu kembali ke hidup seperti di masa lalu.”
“Selamat tinggal ibu ayah, kak Tala. Terimakasih.” Ucap Eve dengan lirih lalu menyeret kopernya setelah memberikan pesan surat kepada ibu dan ayah Davka.
Eve memang sengaja memilih sekarang untuk pergi dari mansion selain karena Tala yang menyuruhnya hari ini penjagaan di mansion juga tidak ketat.
Entah karena keberuntungan atau apa ketika Eve turun tidak ada pelayan yang berlalu lalang seperti biasanya begitu juga dengan pengawal yang menjaga di depan bahkan Eve.
“Setidaknya untuk saat ini lancar semoga ke depannya lancar semangat Eve.” Ucap Eve menyemangati dirinya.
Eve berjalan di sekitar kompleks lalu menghentikan taksi yang lewat untuk membawa Eve segera pergi.
Kemudian Eve meminta kepada sopir taksi untuk berhenti di sebuah penjualan ponsel karena ponselnya tertinggal di rumah sakit waktu ketika kemarin dirinya menerima pesan dan Eve melemparkan ponsel tersebut.
Eve juga pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli peralatan penyamarannya agar dirinya tidak mudah ditemukan dengan membeli sebuah wigs berambut pendek dengan warna pink serta kacamata hitam dan mengganti bajunya.
Eve juga tidak lupa mengambil tas ransel yang berisi uang serta paspor palsu dan identitas palsu yang dibelinya tentunya dengan uang yang dikasih Tala lima hari yang lalu. Sedangkan kopernya Eve tinggalkan di dalam toilet.
Eve bermain dengan bersih Eve tidak mentransferkan uang untuk identitas palsu tersebut melainkan membayarkan dengan uang cash.
Eve harus bergerak dengan cepat untuk datang ke pemakaman Adya dan kakek Werawan untuk pamit. Sudah dua jam lamanya Eve menunggu sembari mempersiapkan kepergiannya agar tidak disadari dengan cepat oleh semua orang terutama ayah Davka dan ibu Dhara serta orang yang berada di mansion.
Sesampainya di pemakaman Eve masih melihat ada mobil Tala yang tersisa di sana dan juga mobil asisten Kaivan.
“Kamu bodoh Tala apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan ibu Dhara dan ayah Davka bagaimana jika mereka tau bahwa kamu akan menceraikan Eve.” Pekik asisten Kaivan.
Sekretaris Diego menatap asisten Kaivan dan mengernyitkan dahinya melihat reaksi asisten Kaivan. “Dia bahkan tanpa ragu menandatanganinya itu artinya kami sepakat.” Ujar Tala dengan dingin.
Asisten Kaivan ingin sekali menghajar Tala namun dicegah oleh sekretaris Diego, “sudahlah percuma kita lihat nanti penyesalannya.” Ujar sekretaris Diego dengan lelah.
Menurut Diego akan sangat percuma menasehati atau memarahi sahabatnya Tala saat ini karena saat ini Tala tidak akan mendengar siapa pun lagipula di pikirannya hanyalah bagaimana caranya dirinya mendapatkan pelaku yang telah membuat Adya meninggal.
Menasehati Tala dalam kondisi seperti biasa aja susah apalagi dalam kondisi seperti ini yang ada akan membuat lelah sendiri.
“Kedua kalinya ini kedua kalinya jangan menyusahkan ku dengan penyesalan mu itu. Jika aku menemui Eve lebih dulu maka aku akan menikahinya. Kamu terlalu bodoh untuk menyiakan perempuan sebaik Eve.” Geram asisten Kaivan lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya dengan kesal dan marah kepada sahabatnya itu.
Sekretaris Diego hanya menghela nafasnya dan menatap ke arah Tala yang sedang mengepalkan kedua tangannya itu.
Sekretaris Diego masuk ke mobil Tala dan akan menyetir karena dirinya saat ini ditinggal oleh asisten Kaivan. “Jika Gulzar pulang dan tau bahwa kamu sudah menyakiti adik angkat yang sangat disayanginya itu maka aku tidak akan membantu mu dari amukannya.” Ujar sekretaris Diego sedangkan Tala hanya diam saja.
Memikirkan kisah cinta Tala yang tidak ada habisnya membuat sekretaris Diego merasa pusing. “Aku berharap Eve bisa bahagia dengan menemukan cinta sejatinya dan mempunyai anak dengan keluarga barunya nanti.” Ucap sekretaris Diego memanasi Tala namun Tala seolah tidak peduli dengan memasukkan headset ke telinganya mendengarkan musik.
__ADS_1
Sementara Eve yang mendengar perdebatan di antara ketiga pria tadi di dalam mobil taksi sudah tidak peduli lalu segera berjalan masuk ke area pemakaman karena waktunya sudah tidak banyak lagi mengingat ketiga orang tersebut sudah pergi dari pemakaman.
“Kakak, kakek.” Ujar Eve dengan lemah berdiri di antara pemakaman kakek Werawan dan Adya di sana.
“Maafkan Eve datang terlambat kak dan maafkan Eve karena ini terakhir kalinya Eve akan melihat kakak dan kakek. Eve akan pergi jauh dari sini dan maafkan Eve karena terburu-buru. Tempat Eve bukan di sini lagi, Eve sudah menandatangani surat perceraian dengan kak Tala. Sekarang Eve bukanlah menantu dari keluarga Werawan bukan juga seorang dokter bedah.”
“Eve juga mau memberitahu bahwa Eve saat ini sedang hamil dan usia kandungan Eve dua bulan. Maafkan Eve baru memberitahukan sekarang karena Eve juga baru tau kemarin. Maafkan Eve yang tidak memberikan bayi lucu ketika kalian masih hidup, Eve akan menjaga bayi ini sebaik-baiknya. Eve akan memulai kehidupan Eve yang baru.”
“Eve pergi maafkan Eve karena terburu-buru.” Ujar Eve sembari mengusap kedua air matanya lalu berjalan keluar dari pemakaman.
Eve memesan taksi online kembali dengan ponselnya yang baru untuk pergi ke bandara karena Eve untuk saat ini akan pergi ke mana pun jadwal penerbangan paling cepat baru sampai ke tempat tujuannya hal ini dilakukan Eve agar orang-orang tidak mudah menemukannya termasuk anonim yang mengirim pesan tersebut kepadanya.
Sesampainya di bandara Eve segera datang ke tempat penjualan tiket dan mengambil kelas ekonomi walaupun itu tidak membuat Eve nyaman dengan kehamilannya ini namun tidak masalah karena perjalanan pertamanya hanya memerlukan waktu kurang lebih dua jam.
Nanti setelahnya Eve baru pergi ke negara di mana tempat dirinya kuliah dulu untuk menjual apartemen miliknya kepada pemilik gedung.
Perjalanan selama dua jam akhirnya tiba juga Eve mencari tempat kosan untuk menginap semalam mengistirahatkan tubuhnya karena sekarang tubuhnya sangat lelah dan Eve tidak mau membuatnya lelah karena saat ini sedang mengandung.
Eve tidak ingin karena kecerobohannya membuat bayi di dalam kandungan dalam bahaya. “Kita harus kuat dan saling menguatkan ya sayang tolong jangan rewel.” Ucap Eve mengelus perutnya masih rata tersebut ketika dirinya sudah sampai di kosan yang dirinya pesan.
Eve bergerak dengan cepat bahkan walaupun air matanya terkadang keluar karena merasa sedih harus meninggalkan ibu Dhara dan ayah Davka yang telah memberikan kasih sayang yang tulus kepadanya sedangkan dirinya pergi tanpa pamit. Eve tau itu sungguh tidaklah sopan tapi mau bagaimana lagi tidak ada pilihan bagi Eve.
Jika dirinya menetap lebih lama maka orang-orang akan berada dalam bahaya hanya karena dirinya.
“Maafkan ibu karena tidak memberitahu keberadaan mu kepada ayah, kakek, dan nenek. Maafkan ibu hanya memberitahu keberadaan mu kepada mama Adya dan kakek buyut.” Ujar Eve mengusap perutnya tersebut.
Karena merasa lelah dan kekenyangan Eve akhirnya jatuh tertidur keesokan harinya setelah Eve selesai membersihkan diri Eve segera pergi ke bandara.
Namun, tujuan Eve kali ini bukanlah negara tempatnya kuliah dulu setelah memikirkan tadi pagi Eve berubah pikiran Eve harus bisa mengelabui semua orang walaupun dirinya tidak tau apakah orang-orang ayah Davka akan mencarinya atau tidak namun untuk jaga-jaga Eve menunda kepergiannya ke negara L tempat di mana dirinya menyandang gelar dokter.
Bisa jadi kemungkinan sepupu angkatnya Gulzar Adwitya akan mencari keberadaannya juga, Eve harus menjauhi semua orang yang dia sayangi demi keselamatan mereka.
Selama hampir menempuh perjalanan dua hari lamanya dengan menggunakan pesawat yang berbeda-beda dan berhenti di beberapa negara akhirnya Eve tiba juga di negara yang rawan konflik dengan benua Asia Selatan. Namun tempat yang dituju Eve adalah tempat sangat jarang disentuh dan berada di lembah-lembah yaitu lembah Hunza Pakistan.
“Akhirnya kita sampai juga sayang, terimakasih sudah tidak rewel dan kuat tentunya menemani ibu selama perjalanan.” Ujar Eve mengusap perutnya sembari menikmati suasana rumah yang baru ditempatinya.
Dengan kecerdasan yang dimilikinya serta kemandiriannya membuat Eve begitu penuh tekat untuk menemukan tempat tinggalnya dengan sang buah hati. Kini di dalam rumah yang sederhana Eve bisa bernafas dengan lega.
“Tidak ada hiruk pikuk mobil berlalu lalang, tidak ada polusi, tidak ada orang-orang yang berniat jahat dan tidak ada orang yang disayang mendampingi. Kini hanya kita berdua, kita akan memulainya dari awal kamu dan ibu.” Ucap Eve dengan tersenyum.
Semua yang bersangkutan dengan Eve terkait dengan identitasnya sekarang juga sudah Eve tinggalkan di negara K yang Eve bawa hanyalah dirinya, uang tabungannya dan juga bayi di dalam kandungannya. Eve berusaha tidak meninggalkan jejaknya di negara K sebutir pasir pun. Bahkan kartu yang digunakannya di ponsel baru miliknya kemarin Eve patahkan.
__ADS_1
*Bersambung*