
Sudah satu minggu Eve berada di apartemen Nabastala namun laki-laki yang menjadi suaminya itu tidak pernah sekalipun menunjukkan batang hidungnya.
Berat badan Eve turun tiga kilo walaupun Eve tetap memakan makanannya walaupun sebenarnya Eve tidak ada keinginan untuk makan.
Pikiran Eve selalu saja ke mana-mana. Merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan nyawa kakek Werawan.
Eve bagaikan mayat hidup itulah yang pengawal Bee lihat tidak ada semangat untuk menjalani hidup.
Di mansion ayah Davka Arjuna Werawan kondisi badan Adya juga semakin melemah hal itu membuat ibu Dhara semakin sedih.
Tidak hanya Eve saja yang bagaikan mayat hidup tetapi hal itu terjadi juga dengan Adya.
Adya tidak mau berbicara dengan Nabastala semenjak mereka bertengkar hari itu. Adya hanya berbicara seperlunya saja.
Adya mengetahui bahwa dirinya sebenarnya salah mendiamkan Nabastala yang merupakan suaminya. Namun, mau bagaimana lagi Tala tetap saja keras kepala dan tidak ingin memberitahukan di mana keberadaan Eve.
Ayah Davka yang melihat kondisi rumah tangga anak semata wayangnya itu segera memanggil putranya itu.
Tala masuk ke dalam ruang kerja ayah Davka lalu menatap pria paruh baya tersebut. Tala bisa melihat bahwa ayahnya itu sangat lelah dan juga masih dalam keadaan berduka atas meninggalnya kakek Werawan.
“Ada apa ayah memanggil Tala?” Tanya Tala walaupun sebenarnya di dalam benak Tala, Tala bisa menebak apa yang hendak dikatakan oleh ayahnya.
“Duduklah dulu nak.” Ujar ayah Davka yang tidak menjawab pertanyaan anaknya itu.
Tala menuruti perintah ayahnya untuk duduk di depan meja kerja ayahnya itu. “Ayah tau sebagai orang tua tidak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga mu namun ayah tidak bisa melihat kamu terus tersesat seperti ini.”
Tala hanya mendengar saja apa yang hendak di katakan ayahnya itu tebakan Tala benar bahwa ayahnya pasti akan meminta Eve untuk segera dibawa pulang ke dalam mansion.
“Tapi sebagai orang tua ayah harus mengembalikan anaknya untuk kembali ke jalan yang seharusnya.”
Ayah Davka menghela nafas beratnya, Tala yang melihatnya merasa tidak tega melihat ayahnya yang seperti memiliki beban yang sangat berat di pundaknya itu.
“Semua sudah menjadi takdir Tuhan atas apa yang terjadi termasuk pertemuan mu dengan Adya, musibah yang menimpa Adya, pernikahan mu dengan Adya dan juga pernikahan mu dengan Eve serta meninggalnya kakek.” Ujar ayah Davka yang merasa berat mengatakan kalimat terakhirnya.
“Ayah tidak tau apa tujuan mu membawa Eve tidak berada di mansion ini tapi ayah tau bagaimana anak ayah. Anak ayah tidak akan berpikiran sempit dan pikirannya sangat terbuka dan ayah memahami bahwa maksud dari tindakan mu sangat baik dan hanya kamu sendiri yang tau.”
“Ayah percaya bahwa kamu melakukan ini pasti ada alasan yang menurut ini adalah yang terbaik walaupun ayah tidak tau apa alasan mu sebenarnya. Tapi, nak tolong bawa Eve kembali ke sini sudah cukup kamu memberikan waktu satu minggu itu.”
Inilah yang Tala sangat nyaman dan terbuka dengan kedua orang tuanya ketika orang tuanya memberikan nasihat. Ayahnya tidak pernah menyudutkan atas apa yang dilakukannya menurut Tala ayahnya sangat bijaksana.
Jika ayahnya sebagai raja maka rakyatnya akan hidup damai di kerajaannya berlebihan memang tapi Tala sangat mengagumi ayahnya itu.
Tala berpikir lama dan ayah Davka menatap anaknya itu menunggu jawaban dari anaknya. Ayah Davka percaya kepada anaknya bahwa anaknya akan mendengar apa yang dikatakan olehnya.
“Baiklah ayah, Tala akan membawa dia kembali ke mansion.” Ucap Tala tanpa menyebut nama Eve. Mendengar jawaban dari anaknya itu ayah Davka tersenyum bangga kepada anaknya.
Tala yang melihat senyum di wajah ayahnya yang semenjak kakek Werawan meninggal juga memberikan senyumnya. “Sebegitu berarti kah Eve di mata kalian.” Benak Tala berujar.
__ADS_1
Sementara di rumah sakit dokter Raka juga tidak mempunyai semangat dalam menjalani hari-harinya karena tidak bisa melihat Eve.
Selain tidak bisa melihat Eve nomor ponsel Eve pun tidak aktif dan seminggu ini juga dokter Raka tidak bertemu dengan Eve.
Dokter Raka berpikir positif mungkin Eve masih dalam suasana duka atas meninggal pendiri rumah sakit ini yang tidak lain adalah kakek mertuanya itu.
Dokter Raka datang ke klinik poli anak yang menderita kanker di sana dokter Raka melihat anak perempuan yang sangat disukai Eve itu dan dokter Raka juga menyukainya.
Anak perempuan itu tidak lain adalah Elakshi atau nama panggilannya Ashi. Ashi menatap ke arah luar jendela.
“Hai Ashi.” Sapa dokter Raka dengan senyumannya membuat gadis perempuan itu menoleh ke arah samping di mana dokter Raka berada.
“Dokter Raka.” Ucap Ashi dengan suara kecil.
Dokter Raka tersenyum, “kenapa Ashi duduk di sini?” Tanya dokter Raka.
Ashi menatap ke sekitar untuk mencari sosok yang sangat dirindukannya itu yang tidak lain adalah Eve. “Apakah kak Eve kembali tidak datang?” Tanya Ashi dengan mata polosnya.
Kurang lebih tiga minggu Ashi tidak bertemu dengan Eve semenjak dirinya melakukan pemeriksaan mendadak karena kondisinya sangat tidak stabil saat itu.
Dokter Raka mengelus rambut Ashi dengan sayang. “Kak Eve sedang berduka karena kakeknya meninggal. Jadi, kak Eve tidak datang untuk bekerja.” Ujar Raka.
Ashi mendengarkan dengan bulu matanya yang lentik mengedip-ngedip hal itu membuat dokter Raka merasa sangat gemas dan membangkitkan semangatnya.
Melihat anak kecil mempunyai kesenangan tersendiri dan membuat kita tanpa sadar tersenyum atas apa yang dilakukannya walaupun hanya diam seperti yang Ashi lakukan.
Dokter Raka sudah sejatuh-jatuhnya dengan pesona yang ada di dalam diri Eve. Jika wajahnya pertama kali dilihatnya itu sangat cantik dan matanya juga sangat memikat membuat dokter Raka yang dulunya suka bergonta-ganti pasangan untuk dikecaninya tidak percaya bahwa dirinya jatuh cinta pandangan pertama pada Eve.
Lalu mereka dipertemukan kembali seolah-olah mereka ditakdirkan untuk bertemu namun semua hal yang menyenangkan dan ingin diwujudkan dokter Raka menjadi hangus ketika mengingat bahwa Eve sudah menikah.
Besar harapan dokter Raka ingin menikahi Eve namun dokter Raka sangat memahami bagaimana karakter Eve yang menurut dokter Raka sangat cantik baik dari luar maupun dalam itu.
Walaupun mereka sudah berteman namun Eve selalu tetap memberinya batasan tanpa Eve mengatakannya. Eve sangat menjaga dirinya dan juga kehormatan suaminya walaupun sering disakiti oleh suaminya itu.
Ketegaran dan kelembutan Eve dalam menghadapi badai yang terjadi dalam hidupnya membuat dokter Raka tidak bisa melepaskan bayangan Eve yang berada di pikirannya ketika dirinya sedang tidak atau kurang sibuk.
“Dokter Raka juga merindukan kak Eve.” Ujar dokter Raka membuat Ashi yang tadinya menatap ke depan ketika ditanya oleh dokter Raka kini kembali melihat dokter Raka.
“Tapi, Ashi tidak boleh kasih tau ke siapa pun termasuk kak Eve.” Ucap Raka kepada Ashi.
Dokter Raka tersenyum melihat Ashi yang menatap ke arahnya gadis kecil ini memang tidak banyak bicara. Yang dokter Raka pahami bahwa gadis kecil ini akan banyak bicara jika bersama dengan Eve.
“Apa Ashi ingin jalan-jalan jika Ashi ingin jalan-jalan dokter akan membawa Ashi keliling di sekitar rumah sakit.” Ajak dokter Raka dengan semangat.
“Tidak, terimakasih dokter Ashi ingin di sini.” Ucap Ashi sopan. Dokter Raka yang mendengarnya tersenyum walaupun Ashi masih gadis kecil namun Ashi terlihat dewasa dibandingkan dengan anak seumurannya dan Ashi sangat sopan hal itu membuat dokter Raka sangat senang dan merasa bangga dengan Ashi.
Di dalam apartemen Eve duduk termenung di dalam kamar yang ditempatinya selama satu minggu ini.
__ADS_1
Setelah selesai memakan sarapannya Eve langsung pamit kepada pengawal Bee untuk ke kamar.
Pengawal Bee hanya mengiyakan saja dan memantau sekaligus menemani Eve di dalam apartemen ini. Semenjak pembicaraan mereka yang panjang malam itu Eve tidak lagi banyak berbicara Eve hanya berbicara seperlunya saja.
Eve merasakan bahwa energinya dikuras habis jika berbicara dan merasa lelah mungkin itu karena perasaan dan pikirannya saja.
Padahal di dalam apartemen ini hanya dirinya dengan pengawal Bee tidak banyak orang dan tidak ada orang yang berkumpul.
Pengawal Bee membersihkan peralatan memasak yang digunakannya tadi untuk membuat sarapan setelah menemani Eve sarapan.
Selama ada pengawal Bee di sini Eve selalu menyuruh pengawal Bee untuk menemani dirinya makan bukan dalam artian hanya melihat saja seperti sebelumnya waktu pertama kali dirinya datang bersama dengan Tala di apartemen ini.
Eve tidak nyaman jika hanya ada dirinya yang makan sedangkan ada orang yang berada di dekatnya melihatnya makan. Jadi, setiap kali waktu sarapan, makan siang, makan malam atau pun sekedar cemilan sehat sebelum makan siang dan makan malam Eve pasti akan meminta pengawal Bee ikutan makan bersama dengannya.
Suara bunyi apartemen yang ditekan kata sandi terdengar membuat pengawal Bee yang baru saja selesai membersihkan peralatan segera mengelap tangannya dan memposisikan dirinya dalam keadaan siap.
Karena pengawal Bee sudah menebak siapa yang datang yang tidak lain adalah orang yang selalu dipanggilnya sebagai Tuan muda.
Tala yang datang ke apartemen setelah satu minggu tidak datang segera melepaskan pantofel yang melekat di kakinya dengan menggantikan sandal rumah.
“Selamat datang Tuan muda.” Sapa pengawal Bee. Tala hanya menganggukkan kepalanya dan menatap ke sekeliling ruangan sejauh matanya memandang.
Pengawal Bee yang melihatnya segera memahami apa yang dicari oleh Tuan mudanya yang tidak lain adalah Eve. “Nona muda Eve sedang berada di dalam kamar Tuan muda.” Ujar pengawal Bee.
Tala hanya diam dan menganggukkan kepalanya lalu mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan tangan yang menutupi matanya yang terpejam.
“Bereskan barang-barangnya kami akan pulang ke mansion hari ini.” Perintah Tala membuat pengawal Bee segera melakukan apa yang dikatakan oleh Tuan mudanya itu.
Namun baru beberapa langkah pengawal Bee memutarkan badannya kembali, Tala yang mendengar langkah berbalik dan dekat dengannya mengangkat tangannya tanpa melepaskan sandaran kepalanya di sofa.
Pengawal Bee menelan salivanya melihat tatapan tajam dari Tuan muda itu. “Maaf Tuan muda saya ingin bertanya. Apakah Tuan dan Nona muda kembali ke mansion selesai makan siang atau sebelum makan siang. Jika selesai makan siang maka saya akan menyiapkan makan siang buat Tuan dan Nona muda.” Ujar pengawal Bee.
Tala menatap pengawal Bee sepanjang pengawal Bee berbicara hal itu menambah kegugupan yang ada di dalam diri pengawal Bee. “Kamu sekarang terlalu banyak bicara.” Celetuk Tala membuat pengawal Bee menundukkan kepalanya.
“Maafkan saya Tuan muda.” Ujar pengawal Bee.
Tala hanya diam dan banyak pertanyaan di dalam benaknya namun tidak Tala utarakan. “Siapkan saja makan siangnya aku akan ke kamar.” Ujar Tala yang langsung berjalan ke arah kamar yang sama yang ditempati oleh Eve.
Saat Tala membukakan pintu kamar Tala melihat Eve sedang berbaring di atas tempat tidur memunggungi pintu kamar.
Tala berjalan mendekat dan menatap punggung kecil yang sedang tertidur itu lalu Tala merebahkan badannya di samping sisi Eve yang kosong dan ikut bersama Eve untuk memasuki alam mimpi.
Entah kenapa Tala yang biasanya tidak biasa tidur di jam segini merasa sangat lelah dan mengantuk.
*Bersambung*
__ADS_1