
Geya yang baru sampai di kantor melihat kakak ipar sepupunya itu dengan segera menghampiri.
"Kak Eve." Panggil Geya dan memeluk Eve dengan erat saking senangnya bertemu dengan Eve walaupun Eve tidak membalasnya.
"Jangan panggil aku Eve." Seru Eve kepada Geya bukan karena dia tidak menyukainya hanya saja menurutnya dirinya harus menggunakan nama pemberian dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
"Maafkan saya Nyonya muda Werawan." Ujar Geya saat melihat tatapan karyawan mengarah kepadanya dan lupa bahwa dia sedang berada di kantor.
"Jangan terlalu formal." Ujar Eve dengan risih.
"Nyonya muda mau kemana tunggulah sebentar saya akan mencari Tuan Nabastala dan selagi saya mencari Nyonya muda jangan pergi ke mana-mana tunggulah di ruangan Tuan."
Mendengar tata bicara Geya membuat Eve semakin pusing, "aku mau pergi ke rumah asisten Kaivan." Jawab Eve dengan lugas.
"Ouw baiklah Nyonya muda silahkan menikmati waktu Anda." Ujar Geya sembari membungkuk di belakangnya sekretaris Wendy memberitahukan bahwa Tala lah yang menyuruh Eve ke sana.
Selama bekerja bersama dengan asisten Kaivan Geya belajar banyak hal tentang bahasa isyarat dan lebih peka.
"Kamu ikutlah denganku." Ajak Eve kepada Geya.
"Tidak terimakasih Nyonya muda nanti saya khawatir Tuan Nabastala akan memerlukan saya apalagi asisten Kaivan masih cuti." Tolak Geya dengan halus.
Eve memberengut kesal suatu hal yang tidak pernah Geya lihat dulunya ternyata kakak iparnya yang lembut dan baik hati ini bisa juga bersikap seperti manusia. Dulu saja selalu menampilkan senyumannya seolah tidak terjadi apa-apa atau tidak wajah datarnya jika tidak dilihat oleh orang lain. Melihat kakak iparnya seperti manusia membuat Geya merasa lega.
Geya tau bagaimana sulitnya saat sedang tidak baik-baik saja namun harus bersikap bahwa ia harus baik-baik saja sangat melelahkan karena dia pernah melakukan. Menjadi diri sendiri itu lebih baik daripada harus menjadi orang lain demi agar terlihat oleh orang lain.
Orang yang benar-benar menyukai dan mencintai kita tidak memerlukan kita harus menjadi apa karena mereka tidak membutuhkannya.
Pelajaran dari kisah cintanya yang waktu itu mengejar dan tergila-gila dengan Gulzar membuat Geya pada akhirnya sadar bahwa tidak perlu harus menjadi apa, tidak perlu menyembunyikan keburukan agar terlihat sempurna di mata orang yang kita cintai namun tidak pernah melihat kita sama sekali karena mereka tidak akan pernah peduli apalagi ada orang lain yang telah memenuhi isi hati.
"Kamu sedang melamun apa?" Tanya Tala melihat sepupunya itu sedang menyesap minuman susu kedelai yang tadi dia beli.
"Mohon maaf Tuan." Ucap Geya membuat Tala memutar bola matanya malas dan sekretaris Diego hanya diam saja.
"Sudahlah." Tala tidak mau membahas mengapa Geya melamun yang ada di pikirannya apakah dia sedang ada masalah sama Axel dan mereka berdebat terus menjaga jarak.
Tapi, kenapa Tala selalu mengharapkan bahwa Geya dan Axel akan berantem?
Geya mengikuti sepupu sekaligus bos nya itu di belakang ternyata sepupunya itu sedang pergi ke ruang rapat dia melupakannya.
Di dalam ruang rapat itu semua orang sudah ada dan hanya menunggu sang pemeran utama datang.
Geya juga melihat di sana ada Gulzar yang sedang duduk dengan nyaman di kursinya setelah memperhatikan orang-orang di dalam ruang rapat itu.
Pandangan Geya dan Gulzar bertemu sesaat namun segera mungkin Geya kembali mengalihkannya dan berpikir ini bukan rapat anggota perusahaan melainkan rapat dengan rekan bisnis kenapa dia sampai melupakannya lagi.
"Nona Geya di mana Tuan Axel Barata apakah Anda tidak menghubunginya?" Tanya sekretaris Diego dengan berbisik.
__ADS_1
Geya menghela nafasnya kenapa sekretaris Diego menanyakan di mana keberadaan Axel kepadanya sekretaris Diego dan sepupunya itu sama keponya dengan urusannya.
"Saya tidak tau sekretaris Diego." Jawab Geya karena yang Geya lihat bahwa yang menghadiri rapat hari ini adalah sekretaris dan salah satu asisten Axel.
"Apa ada masalah kenapa Tuan Axel tidak datang?" Tanya sekretaris Diego sembari memainkan alisnya sebelah.
Geya tidak menjawabnya dan mengabaikan sekretaris Diego yang sedang duduk di sampingnya itu.
Tak terasa rapat yang diselenggarakan tersebut selesai juga. Geya sedang menunggu Tala dan sekretaris Diego yang masih bersalaman dengan para rekan bisnisnya.
Setelah selesai Geya mengikuti ke mana sekretaris Diego dan Tala di belakang.
"Nona Geya." Panggil seseorang yang Geya kenal sebagai sekretaris dari tunangannya itu.
Tidak hanya Geya yang menoleh melainkan sekretaris Diego dan juga Tala tapi ada satu orang lagi yaitu Gulzar yang masih berada di dalam ruangan dan sedang berdiri di balik dinding untuk mendengarkan.
"Tuan Axel memberikan ini kepada saya untuk diberikan kepada Nona Geya. Tuan Nabastala mohon maaf atas ketidakhadiran Tuan Axel karena Tuan Axel ada urusan yang mendesak."
Axel belum memberikan kabar apa pun kepadanya tentang urusan mendesak tersebut tadi pagi Geya datang memang diantar oleh Axel namun Axel tidak berbicara apa pun lagipula Geya tidak menanyakan perihal rapat rekan bisnis ini karena lupa.
Geya memikirkan kenapa Axel tidak memberitahunya dan mengingat-ngingat apakah dia telah menyinggung tunangannya itu atau ada keanehan dalam diri tunangannya itu.
"Nona Geya." Panggil sekretaris Axel membuyarkan lamunan Geya.
"Oh iya maaf." Ucap Geya sembari mengambil bingkisan yang diberikan kepadanya.
"Kalau begitu saya pamit undur diri Tuan Nabastala, Tuan Diego dan Nona Geya."
Geya hanya diam saja karena tidak tau. "Asisten Geya datang ke ruangan saya." Titah Tala yang sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya.
Ia tau seharusnya ia tidak boleh ikut campur dalam urusan asmara sepupunya itu tapi Tala hanya ingin tau dan waspada untuk menjaga-jaga bahwa Geya tidak tersakiti akibat karma yang telah diperbuat oleh kakak kandungnya Adhikari.
Tala masih tetap tidak membiarkan Adhikari keluar dari markas yang menjadi tempat di mana ia menyembunyikan sepupunya itu dan ia tidak mau mengeluarkan Adhikari dari dalam sana walaupun paman dan bibinya mengemis kepadanya.
Gulzar yang mendengar perkataan singkat itu juga merasa penasaran dan bertanya-tanya apakah hubungan mereka sedang dalam fase renggang atau bagaimana jika ia maka dia harus mengambil kesempatan untuk masuk ke dalam hati Geya lagi.
Geya saat ini sedang berada di dalam ruangan Tala. Di dalam sana tidak hanya ada sepupunya saja melainkan sekretaris Diego dan asisten Kaivan yang sepertinya sudah datang cukup lama.
Ingin sekali tadinya asisten Kaivan mengeluarkan keluh kesah dan rasa kesalnya akibat dia diusir oleh istrinya Yasmin dari dalam mansion karena Yasmin ingin mengobrol dan bercerita banyak hal kepada teman-temannya yang tidak lain adalah istri sang bos, istri dari tuan Johannes yang ia kenal, Daisy dan istri dari sekretaris Diego yang tak kalah menyebalkan.
Asisten Kaivan kesal kenapa dia harus diusir padahal dia tidak akan menguping lagipula asisten Kaivan akan lebih memilih tidur di kasur mumpung putranya sedang direbuti dan Yasmin sedang sibuk dengan para wanita yang datang ke rumahnya itu.
Namun semuanya urung saat melihat Geya yang berjalan menunduk di belakang Tala dan sekretaris Diego memberikan isyarat di depan jari agar dia tidak berbicara terlebih dahulu.
Pasti tidak jauh dari hubungan Geya dan Axel. Asisten Kaivan heran kenapa Tala selalu ikut campur jika mereka ada dalam masalah padahal mereka sudah sama-sama dewasa.
"Jadi, apa yang ingin kamu jelaskan." Ujar Tala sembari duduk di kursi kebesarannya dan Geya yang sedang duduk di kursi depan meja Tala.
__ADS_1
Sementara sekretaris Diego duduk di dekat asisten Kaivan yang sedang duduk di sofa sembari memperhatikan kedua sepupu itu.
"Tidak ada Tuan." Jawab Geya karena memang dia merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa dan sepupunya malah memintanya untuk menjelaskan sesuatu padahal yang memanggilnya adalah dirnya sendiri.
Tala memandang tajam ke arah Geya sementara Geya dengan tatapannya yang bingung.
"Geya." Panggil Tala dengan suara tertahan untuk memberikan peringatan kepada sepupunya itu.
"Iya." Jawab Geya dengan lembut.
Tala merasa frustrasi dibuat oleh sepupunya itu. "Apa kamu sedang bertengkar dengan Axel?"
Geya menggelengkan kepalanya, "apa kalian berdua sedang ada masalah?" Lagi-lagi Geya hanya menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa?" Tanya Tala frustrasi dibuatnya membuat sekretaris Diego dan asisten Kaivan memutar bola matanya malas melihat sikap posesifnya Tala terhadap Geya.
"Apa Axel menyakiti mu atau Axel selingkuh atau Axel tidur bersama perempuan lain."
"Kakak." Pekik Geya untuk menghentikan pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari mulut Tala.
"Kamu berdua tidak sedang bertengkar dan tidak ada masalah." Ujar Geya dengan wajah kesalnya hilang sudah kesabarannya menghadapi sikap sepupunya yang posesif itu.
"Lalu apa?"
"Nggak tau." Jawab Geya dengan ketus sembari tangan yang dilipat kan di depan dada.
"Kamu pagi tadi melamun dan Axel tidak datang ketika rapat lalu Axel menyuruh sekretarisnya untuk memberikan mu bingkisan apabitu bukan masalah?"
"Iya itu bukan masalah. Lagipula kenapa kakak selalu ikut campur terhadap masalah antara aku dan Axel." Seru Geya kesal.
"Apa Axel mengatakan bahwa dia ingin menikah dengan mu secepatnya dan kamu menghindarinya dengan berbagai macam alasan?" Tanya Tala namun Geya hanya diam.
Sudah lama Axel tidak mengajaknya untuk menikah kembali mungkin Axel ingin memberikan waktu untuknya siap.
"Apakah kamu masih mencintai Gulzar Adwitya jika kamu masih ada rasa sama dia putuskan hubungan mu dengan Axel jangan membuat Axel sebagai pelarian mu."
"Kakak tidak punya hak untuk mengatur aku apalagi hubungan ku dengan Axel. Kakak ini kenapa sih selalu suka ikut campur. Aku kan sudah bilang tidak ada masalah aku harus mengatakan apa lagi."
"Geya tidakkah kamu berpikir bahwa suatu saat nanti jika hubungan kalian terus seperti ini Axel akan merasa lelah. Dia sudah lama menunggu mu untukmu membuka hatinya. Segigih apa pun dia jika kamu terus seperti ini maka dia akan menyerah Geya."
"Tidak akan." Pekik Geya kesal karena ia yakin Axel akan selalu mencintainya dan akan tetap mencintainya selamanya.
"Suatu saat kamu akan menyesal dengan sendirinya jika kamu tetap keras kepala seperti ini terkait apa pun masalahnya kamu dengannya. Bagaimana jika Axel berpikir dan menyadari bahwa dia lebih baik merelakan orang yang dicintainya bahagia dengan pilihannya walaupun tidak bersama dengannya."
"Atau bagaimana jika dia tidak mengajak mu menikah lagi dan berpikir mungkin hubungan ini tidak bisa diteruskan bukan karena dia tidak mencintaimu tapi karena tidak ingin menjadi hambatan buat mu untuk mengejar cinta mu yang ada di hati dan pikiran mu itu. Bagaimana Geya jika Axel berpikir seperti itu?"
Geya langsung keluar dari ruang kerja sepupunya itu dengan membanting pintu dengan sangat keras membuat sekretaris Diego yang mudah kaget mengelus dadanya.
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan Geya bahwa kamu terlalu banyak ikut campur." Ujar asisten Kaivan setelah Geya pergi dengan membantin pintu.
*Bersambung*