Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 155. Permintaan Bumil


__ADS_3

Kevin hanya menurut dan diam saja sembari mengikuti pasangan suami istri yang berjalan di depannya.


Asisten Kaivan yang berada di samping Kevin menepuk bahu pria lajang tersebut yang tampak sekali tertekannya.


"Bunda duduk di sini aja ayah sama Kevin akan mencari pohon kelapa dan memanjatnya." Ujar Tala


"Tidak. Emang kalian berdua tau di mana ada pohon kelapa?" Tanya Eve membuat Tala dan Kevin menggelengkan kepalanya bersamaan.


"Makanya itu kita harus pergi bersama sekalian liburan aku juga akan mengajak kak Airen dan Yasmin. Sayangnya Wendy belum bisa ikut karena habis melahirkan. Kita akan pergi ke pantai karena di pantai banyak sekali pohon kelapa."


"Jangan khawatir aku tadi sudah menelpon mereka dan mereka sudah bersiap-siap para pengawal juga sudah menyiapkan apa yang aku mau sebelum masuk ke ruang kerja tadi."


"Bagaimana? Bukankah akan seru. Kevin aku akan memanggilmu seperti itu. Ini sebagai bentuk penyambutan kamu karena akan bekerja sebagai sekretaris suamiku. Kalau kalian sudah setuju pada siapa tadi...?"


"Juan Manuel." Ucap asisten Kaivan dengan cepat.


"Iya Juan Manuel ajaklah dia ikut bersama kita pergi berlibur di pantai. Tidak perlu jauh-jauh cukup pantai yang paling terdekat."


"Sayang bagaimana? Ayah mau kan, tadi aku sudah meminta bantuan kak Joha buat menyewa satu hari pantai itu." Rayu Eve sembari menyandarkan kepalanya di lengan Tala dan mengelus-elusnya.


"Tapi, ayah tidak mau bunda kelelahan nanti bagaimana kalau bunda..."


Eve menutup mulut Tala dengan menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Tala.


"Bunda tidak akan kelelahan. Bunda bosan ayah kurung turus di mansion ini. Bunda tidak boleh ke mana-mana sama ayah. Lagipula semenjak kita menikah dan kembali kita tidak pernah pergi berlibur."


Tala yang mendengarnya merasa tertekan dan merasa bersalah. Memang benar apa yang dikatakan oleh Eve bahwa dia belum pernah mengajak istrinya itu berlibur bersama keluarga.


"Aku juga sudah menelpon dokter keluarga beserta perawat. Mereka akan ikut."


"Tapi...!"


Raut wajah Eve menjadi berubah ketika mendengar banyak kata tapi dari suaminya. Eve merasa seolah bahwa Tala tidak mau menuruti keinginannya.


"Tapi apa?" Tanya Eve yang mulai mode galak. Asisten Kaivan merasa buruk melihat suasana hati ibu hamil itu. Akankah terjadi perang dunia di antara mereka.


Sedangkan Kevin hanya diam saja karena dia sudah syok berat dengan permintaan dari Eve dan juga persiapan yang dilakukan oleh Eve.


"Bilang saja bahwa ayah tidak mau menuruti keinginan bunda dan adik bayi kan?" Tuding Eve membuat Tala gelagapan. "Ya sudah kalau ayah merasa keberatan dan tidak mau ayah jangan dekat-dekat dengan bunda dan ayah tidur di luar."


Tala merasa frustrasi dibuatnya bagaimana bisa ia tidak boleh dekat dengan Eve dan harus tidur di luar.


Tala menatap asisten Kaivan yang sedang memandang dengan wajahnya prihatin.


"Apa kamu keberatan juga Kevin? Kenapa kamu diam saja?"


Kevin rasanya ingin tenggelam saja belum lama dia bekerja sudah penuh banyak tekanan bukan pekerjaan di kantor tapi pekerjaan rumah tangga dari pasangan suami istri ini.


"Bunda tentu saja ayah mau. Ayah hanya khawatir dengan kesehatan bunda dan adik bayi. Bagaimana nanti jika bunda kelelahan ayah akan merasa sangat sedih dan bersalah. Ayah ingin menjaga bunda agar selalu merasa nyaman. Mana mungkin ayah tidak menuruti keinginan bunda." Bujuk Tala.


Eve melipatkan kedua tangannya lalu duduk di sofa karena merasa kakinya pegal kemudian menyilangkan kakinya.

__ADS_1


Eve saat ini sedang menunjukkan mode angkuh dan galaknya.


Asisten Kaivan yang melihatnya baru kali ini Eve bersikap seperti Nona muda pada umumnya biasanya Eve adalah wanita yang lembut dan anggun. Apa karena kehamilannya ini. Sepertinya anak yang akan lahir di dalam kandungan Eve setelah lahir akan lebih merepotkan. Asisten Kaivan harap bahwa Kevin dan Juan nanti akan bersabar dan tahan.


Tala berlutut di hadapan Eve membuat Kevin menganga tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Tala.


"Jika kamu sudah punya istri atau pacar nanti kamu akan tau bagaimana rasanya." Bisik asisten Kaivan di telinga Kevin.


Sementara Kevin berpikir apakah istri dari asisten Kaivan dan istri dari sekretaris Diego juga sama dengan istri dari sang direktur.


Tala yang berwibawa dan berkarisma serta dingin bertekuk lutut di hadapan istrinya. Pemegang kekuasaan tertinggi bukan lah sang Nabastala yang Kevin dengar dari orang-orang melainkan Eve.


Jika mereka tau bahwa Nabastala Affandra Werawan seperti apa yang dilihat Kevin maka mereka juga sama akan menatap tidak percaya.


Berarti rumor yang mengatakan bahwa Tala sudah bucin sama istri keduanya adalah benar.


"Bunda ayah serius ayo sekarang kita pergi ke pantai. Jangan seperti ini ya, ayok." Bujuk Tala kembali.


"Ayah tidak merasa terpaksa bukan?" Ujar Eve dengan cepat Tala menggelengkan kepalanya lalu menatap ke arah Kevin sembari memberikan tatapan tajamnya.


"Kamu juga tidak keberatan kan Kevin?" Tanya Tala dengan menampilkan wajah tersenyum namun matanya memberikan ancaman.


"Iya saya tidak terpaksa." Jawab Kevin dengan senyum penuh tekanan.


......***......


"Lizzy. Bagaimana kamu membujuk si anak ayam agar dia mau terlebih kamu juga meminta kepada Kevin dan juga Juan?" Tanya Yasmin yang sedang duduk di samping Eve dengan kursi pantainya.


Juan yang awalnya sudah merasa senang dan lega karena diajak libur sebelum bekerja ketika dihubungi asisten Kaivan mengalami syok mental. Apalagi mendengar permintaan dari Eve kepadanya yang juga ingin melihat dirinya memanjat pohon kelapa dan memetik buah kelapa muda.


"Tentu saja dia harus mau karena dia sudah membuatku hamil untuk ketiga kalinya. Hamil pertama dan hamil kedua dia tidak ada perannya. Beruntungnya aku hamil yang ini punya banyak keinginan dan ada yang akan menurutinya. Jika dia tidak menurutinya maka aku punya cara jitu agar dia mau." Terang Eve tanpa beban.


Yasmin yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak ternyata jika Eve sudah berkemauan maka Eve akan lebih gila darinya. Eve bahkan merepotkan dua orang ditambah dengan Tala.


Sementara Airen hanya diam saja sembari mengelus perutnya yang sudah berusia 3 bulan.


Anak-anak mereka sedang bermain pasir bersama dengan nenek dan kakek mereka yaitu ibu Dhara dan ayah Davka.


Joha tidak datang karena saat ini Joha sedang berada di luar negeri besok baru dia akan pulang.


"Kalau kak Airen bagaimana dengan hamilnya apa kak Airen juga sama seperti Lizzy?" Tanya Yasmin.


"Emm tidak kali ini aku hamil biasa-biasa saja tidak ada permintaan aneh yang diinginkan sepertinya bayi ini laki-laki karena waktu aku hamil Jean papinya Jean kesusahan dengan morning sickness sekaligus permintaan aku yang aneh-aneh." Terang Airen.


"Itu tidak menjamin lho kak mengenai banyaknya permintaan itu. Aku waktu hamil Kafin membuat ayah Kafin kelimpungan dengan permintaan ku. Banyak yang aneh juga dan membuatnya tertekan." Ujar Yasmin dengan tertawa terbahak-bahak.


Jika para ibu sedang bercakap dan duduk-duduk santai maka berbeda dengan para pria yang sedang sibuk memanjat pohon.


Asisten Kaivan sibuk memvideokan Tala, Kevin dan Juan yang sedang memanjat sesuai amanat dari sang bumil.


Keringat Tala sudah bercucuran tidak menyangka bahwa memanjat pohon kelapa sesulit ini. Padahal mereka sudah diajari tadi sebelum memanjat.

__ADS_1


"Malang sekali nasib kalian." Ujar asisten Kaivan di dalam hatinya.


Juan sudah memetik dua buah kelapa muda dan hendak ingin turun namun saat melihat direktur dan partner kerjanya nanti yang kesusahan Juan berinisiatif memetik banyak kelapa muda yang ia panjat pohonnya.


Tala baru saja sampai di atas dengan nafasnya yang ngos-ngosan sementara Kevin sudah mulai memetik di atas sana.


"Kamu memetik banyak sekali." Ujar asisten Kaivan ketika Juan baru saja selesai turun dan sedang duduk di pasir pantai.


Pengawal yang ada di sekitar segera memberikan minuman kepada Juan atas lirikan mata dari asisten Kaivan.


"Iya, Tuan Kaivan karena saya harus melakukannya melihat Tuan Nabastala dan rekan saya Kevin yang terlihat kesusahan memetiknya sekaligus nanti bisa buat makan bersama."


Asisten Kaivan akui Juan sangat berempati dan mempunyai inisiatif yang kuat di dalam dirinya sehingga tanpa diminta dan dikatakan pria muda ini akan bergerak dengan cepat karena kepekaannya.


"Apa kamu punya pengalaman dalam memanjat pohon?" Tanya asisten Kaivan.


"Saya ini orang desa Tuan jadi saya tau bagaimana caranya memanjat pohon apalagi hanya ada saya dan ibu saya siapa lagi yang bisa ibu harapkan selain kepada saya sebagai anaknya."


"Saya dulu waktu kecil suka memanjat pohon termasuk pohon kelapa. Setiap kali tetangga saya atau orang yang ingin buah kelapa maka saya akan memanjatnya untuk mereka. Depan rumah saya di desa banyak sekali pohon kelapa. Kan lumayan buat menambah uang untuk kebutuhan sehari-hari."


"Semua kerjaan saya ambil jika saya merasa bisa. Eh ternyata sekarang kemampuan saya memanjat pohon itu dibutuhkan untuk memenuhi keinginan ibu hamil walaupun saya syok berat karena permintaannya itu. Namun, saya senang melakukannya."


"Maafkan saya Tuan saya terlalu banyak berbicara."


"Tidak apa-apa saya suka mendengarnya dan tidak menyangka bahwa kamu memiliki banyak pengalaman yang luar biasa."


"Jadi, kamu awalnya bercita-cita menjadi dokter namun kenapa bisa berpindah haluan?"


"Saya orang desa Tuan dan tidak mempunyai banyak biaya untuk kuliah di kedokteran saya juga tidak terlalu pintar untuk masuk kedokteran dengan beasiswa."


"Jadi, untuk menutupi keinginan saya itu saya masuk dalam PMI dan belajar banyak hal tentang penanganan pertama, mengobati luka dan lainnya selagi saya punya kesibukan di kuliah dan kerja part time saya."


Kevin baru saja turun lalu langsung berbaring di atas pasir dengan nafas yang terengah-engah. Kevin memetik dua buah kelapa muda.


"Huh huh rasanya mau mati." Ujar Kevin membuat asisten Kaivan menggelengkan kepalanya dan Juan tersenyum saja.


"Kuatkanlah hati dan mental kalian berdua jika sudah bekerja dengan dia." Nasihat asisten Kaivan sembari menatap Tala yang baru turun dari setengah pohon kelapa.


Tala hanya memetik satu buah kelapa muda saja. Melihat Juan dan Tala serta dirinya dan Kevin asisten Kaivan mengerti dan memahami perbedaan anak kota dan anak desa serta anak yang berkecukupan dan bergelimang harta dengan anak yang hidupnya pas-pasan dengan segala keterbatasan sangat berbeda jauh.


Tapi, walau begitu dengan wajah yang dimiliki oleh Juan dia bisa saja menjadi model asisten Kaivan mengakui bahwa Juan sangat tampan. Asisten Kaivan bertanya-tanya di dalam pikirannya apa warna kulit yang dimiliki Juan karena dia sering panas-panasan untuk memanjat pohon kelapa atau bekerja sebagainya yang mengharuskan di luar ruangan.


"Apa warna kulit aslimu sebenarnya putih?" Tanya asisten Kaivan tiba-tiba dengan menatap Juan.


Juan tertawa kecil mendengarnya. "Kulit saya memang begini dari lahir Tuan sudah hitam."


"Juan berapa buah yang kamu petik?" Tanya Kevin yang sudah duduk dengan menyandarkan kedua tangannya di belakang untuk menopang tubuhnya sementara kedua kakinya ia selonjorkan ke depan.


"6 buah. Semua kelapa muda di atas yang masih muda saya petik." Kevin menganga tak percaya lalu melihat pohon kelapa yang dipanjat oleh Juan padahal pohon kelapa yang dipanjat Juan sangatlah tinggi sementara miliknya dan Tala cukup rendah.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2