Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 123. Bertamu Ke Rumah Dokter Raka


__ADS_3

Akhirnya Perjalanan yang memakan waktu hampir tiga puluh menit sampai juga. Tala memandang ke arah sekitar di mana rumah yang dikunjunginya tampak sangat sederhana namun terlihat sangat nyaman.


“Silahkan masuk.” Ujar dokter Raka dengan tersenyum ke arah Eve dan hal itu membuat Tala tampak kesal.


“Maafkan rumah kami yang sederhana ini Tuan Nabastala jika Tuan merasa tidak nyaman Tuan bisa menunggu di luar atau langsung pulang.” Ujar dokter Raka membuat Tala semakin tidak menyukainya.


“Jika aku pulang maka aku akan membawa Eve dan Orion ikut bersama ku.” Terang Tala dengan dingin. Sikap yang ditunjukkan Tala tidak ada baik-baiknya kepada dokter Raka.


Dokter Raka juga heran kenapa Tala terlihat sangat tidak menyukainya jika dulu mungkin bisa dimasukkan ke akal karena dirinya masih ingin mengejar Eve untuk mendapatkan cinta Eve walaupun sekarang dokter Raka masih berharap setiap kali dirinya bertemu dengan Eve dan masih mencintai Eve namun dokter Raka tau di mana dirinya harus berhenti sekarang.


Jika ditanya apakah dirinya masih mencintai Eve masih jika Tala ingin bertanya mengenai hal itu ataupun calon istrinya. Dirinya ingin bangkit dari rasa yang ada di dalam hatinya dan ingin membuat hatinya tumbuh menerima yang baru.


“Kalian sudah sampai.” Ujar seorang wanita yang seumuran dengan Eve. Eve dan wanita itu saling tersenyum dan memandang satu sama lain.


‘Pantas saja Raka jatuh cinta dengan dia ternyata dia sangat cantik.’ Ujar perempuan yang menyambut kedatangan rombongan dokter Raka bernama Emilia Wibowo.


“Sayang kenapa kamu tidak mempersilahkan tamu untuk duduk.” Ucap Emilia kepada dokter Raka tanpa merasa malu dengan memanggil dokter Raka dengan sayang.


Baik Emilia maupun dokter Raka sebenarnya belum terbiasa dengan panggilan itu namun apa boleh buat mereka harus membiasakan diri. Keduanya terpaksa menerima keadaan yang akan menjadi takdir keduanya.


Tidak ada rasa cinta bukan tidak tapi belum tumbuh rasa cinta di antara keduanya. Jika dokter Raka menerima perjodohan dan pernikahan ini karena ibunya yang ingin sekali melihatnya menikah dan menimang cucu darinya walaupun dokter Raka tidak yakin dengan hal itu namun berbeda dengan Emilia dia melakukannya karena wasiat dari saudari kembarnya dan perasaan bersalahnya kepada dokter Raka karena dirinya saudari kembarnya meninggal dunia.


“Oh iya aku lupa Lizzy dan Tuan Nabastala silahkan duduk. Dan perkenalkan ini adalah calon istriku namanya Emilia Wibowo. Sayang perkenalkan ini adalah wanita yang aku ceritakan namanya Elizabeth Abraham dan ini adalah suaminya Tuan Nabastala Affandra Werawan serta ini putra kecil mereka Sky Orion.”


“Werawan jangan lupakan nama belakangnya.” Ucap Tala dengan dingin dan dokter Raka menganggukkan kepalanya ke arah Emilia.


“Halo Tuan dan Nona perkenalkan nama saya  Emilia kalian bisa memanggilku Memei.” Sapa Emilia dengan hangat.


“Kalau begitu kalian berbincanglah aku akan memberitahu ibu dan membawanya ke sini. Ibu sudah sangat menantikan kalian terutama dengan kamu pangeran kecil yang tampan.” Ucap Emilia sembari mencolek hidung Orion dan Orion tersenyum senang.

__ADS_1


“Tidak usah biarkan aku saja yang memanggil ibu kamu berbicaralah dengan mereka.” Ujar dokter Raka dan Emilia menganggukkan kepalanya setuju.


Dokter Raka meninggalkan Tala, Eve dan Orion yang dalam gendongan tadi bersama dengan Emilia. “Senang bertemu dengan mu Nona Lizzy aku sudah mendengar banyak hal tentang mu melalui Raka.”


Sebenarnya usia Emilia sama dengan Eve namun Emilia tidak memanggil dokter Raka dengan sebutan kakak karena dirinya memang tidak terbiasa apalagi dirinya biasa memanggil Raka dengan embelan dokter dulunya.


Pembicaraan hangat pun terjalin di antara Eve dan Emilia sementara Tala hanya diam dan mengamati kalian pasti sudah tau lah apa yang diamati Tala siapa lagi kalau bukan Eve.


Yang dilihat dan dirasakan oleh Tala bahwa Eve sekarang sudah mau bergaul Tala merasa lega dan senang melihat Eve yang mau beradaptasi dan mau membuka dirinya dengan kehidupan luar.


Tala berharap bahwa perkembangan psikis Eve semakin membaik setiap harinya sampai Eve tidak didiagnosa lagi oleh gangguan yang dialaminya.


Sementara Emilia hanya tersenyum melihat interaksi Tala yang tidak bisa melepaskan pandangan dari Eve.


‘Betapa sangat beruntung sekali’


“Jadi, di mana kalian bertemu?” Tanya Eve dengan penasaran.


“Lalu, bagaimana kamu bisa bertemu dengan suami mu Lizzy?” Eve meminta Emilia untuk tidak memanggilnya dengan embelan Nona agar mereka bisa akrab dengan cepat dan tidak ada kesenjangan.


“Kami bertemu waktu masih sekolah dia dulu adalah kekasih ku dan sekarang menjadi mantan kekasih.” Bukan Eve yang menjawab pertanyaan dari Emilia melainkan Tala yang dengan semangatnya bercerita.


Eve hanya diam saja karena kenangan masa 8 tahun silam sebelum dirinya menikah dengan Tala hilang diingatannya.


“Hubungan kalian sangat long last. Aku berharap bahwa pernikahan ku juga nantinya.” Ujar Emilia. “Kalian ingin mempunyai anak berapa?”


“Kami ingin mempunyai banyak anak minimal empat.” Lagi lagi Tala menjawab dengan semangat membuat Eve tampak kesal dibuatnya.


Emilia tertawa melihat interaksi antara Eve dan Tala. “Woah banyak sekali jika nanti aku mempunyai anak perempuan apakah aku boleh berbesan dengan kalian melihat Orion yang sangat tampan membuat aku jatuh hati dengannya.” Ucap Emilia yang tidak tau malu. Emilia memang sangat pandai dalam bersosialisasi dan sering bercanda.

__ADS_1


“Itu masih sangat jauh.” Jawab dokter Raka sembari mendorong kursi roda milik maminya. “Kita menikah aja belum dan kamu sudah memikirkan berbesan.” Keluh dokter Raka.


Calon istrinya memang tidak biasa dari wanita yang pernah ditemuinya tidak anggun sama sekali dan malah terkesan bar-bar. Jika para wanita akan bersikap centil atau terkesan menarik perhatiannya maka Emilia jelas berbeda dari kebanyakan wanita setelah Eve tentunya.


“Maaf sudah merepotkan kalian untuk datang kemari. Abaikan saja perdebatan yang akan dimulai oleh calon pengantin itu mereka sudah biasa seperti itu.” Ucap wanita paruh baya dan memandang ke arah Eve dengan berbinar lalu beralih ke arah Tala yang tidak kalah tampan. Pasangan suami istri itu terlihat tidak nyata saking cantik dan tampannya.


“Pantas saja putraku itu tergila-gila dengan mu dulu kamu begitu sangat cantik tentunya setelah menantu ku Emilia hahah.” Ujar mami dokter Raka.


Eve hanya tersenyum mendengar gurauan dari mami dokter Raka, “kak Raka saat itu matanya bermasalah bibi sampai segitunya padahal aku biasa saja Memei lebih cantik bukan apalagi bibi walaupun sudah lanjut usia namun bibi terlihat sangat cantik.” Puji Eve dengan tulus.


“Mami berhentilah memuji aku nanti telinga aku lebar gimana.” Ujar Memei. Tala bisa merasakan bahwa baik dari dokter Raka, wanita bernama Emilia dan mami dokter Raka sangat suka bercanda untuk mendekatkan hubungan mereka.


“Kalian jangan memuji ku lagi oh tidak mungkin sebentar lagi aku akan menjadi Elf karena telinga ku lebar.”


Tala mengernyitkan dahinya bukankah Elf memiliki telinga yang panjang sejak kapan telinga Elf melebar. “Lihat Tuan Nabastala berpikir keras hahaha.” Emilia merasa lucu bahwa candaannya dianggap serius oleh Tala.


Eve merasa nyaman dan merasa iri melihat Emilia yang begitu mudahnya bercanda dan terbuka dengan orang lain. Eve ingin seperti itu namun entah kenapa dirinya mengatakan bahwa tidak akan bisa menjadi seperti Emilia yang ceria.


“Aku suka dengan kamu yang apa adanya.” Bisik Tala di telinga Eve membuat Eve terperanjat kaget dan menatap ke arah suaminya itu yang sedang tersenyum dan matanya yang memandangnya dengan tulus.


Bagaimana Tala bisa tau dengan apa yang ada di dalam pikirannya apalagi ucapan yang dilontarkan Tala sangat pas. Apakah Tala bisa membaca pikiran orang.


“Oh tidak kalian sangat romantis sekali serasa dunia milik berdua yang lain hanya mengontrak.” Celetuk Emilia membuat Tala hanya tersenyum dan Eve tersenyum canggung.


Tala sangat suka jika ada orang yang memuji hubungan dirinya dengan Eve dengan kata-kata baik itu artinya ada kemajuan dalam hubungan mereka. Sepertinya Emilia mirip dengan ibunya yang suka sekali melebih-lebihkan dan membuat drama.


Tidak bisa Tala bayangkan nanti bagaimana jika memang benar bahwa Orion atau anak-anaknya nanti akan berjodoh dengan anak Emilia dan dokter Raka.


‘Kenapa aku jadi mikir sejauh itu, sepertinya aku ketularan Emilia dan ibu.’

__ADS_1


 


*Bersambung*


__ADS_2