
Galaksi dan Orion masih saja berdebat hingga akhirnya Eve menghentikan keduanya.
"Kalau masih bertengkar bunda tutup teleponnya ya." Ucap Eve membuat kedua putra Nabastala itu akhirnya diam.
"Paman." Panggil Orion, "nenek Nara di mana paman?"
"Paman mu sudah kembali ke kamar sayang." Orion menatap nyalang ke arah adiknya itu begitu juga dengan Galaksi.
"Ya sudah bunda tutup aja teleponnya." Ucap Galaksi merajuk.
"Sayang bicaranya yang baik dong." Ingat Tala.
"Nenek tutup dulu ya teleponnya Gala mengantuk pengen tidur bersama bunda." Ucap Galaksi membuat Tala terkejut mendengarnya. Jika begini dia tidak bisa berduaan dengan Eve dan Orion pasti akan ikut juga.
"Sayang nenek Nala/Nara." Ucap Orion dan Galaksi bersamaan.
TUT
Galaksi duduk di atas pangkuan Eve dan bersandar nyaman di dadanya Eve membuat Tala menghela nafasnya.
"Kenapa hmm? Kesal?" Tanya Eve dengan lembut dan Galaksi menganggukkan kepalanya kemudian terdengar isak tangis dari Galaksi.
Orion yang berada di sebelah Eve dan di tengah Tala merasa bersalah. "Didi maafkan kakak." Ucap Orion padahal dia tidak melakukan kesalahan. Keduanya memang suka berdebat dan bertengkar namun ujungnya selalu Orion akan meminta maaf dan Galaksi akan menangis atau sebaliknya.
Galaksi menghentikan Isak tangisnya dan menatap ke arah Orion. Galaksi menggengam tangan Orion lalu menganggukkan kepalanya. "Didi ju...juga...aaa...mi..mi...minta...aaa...maaf...." Lalu keduanya berpelukan.
"Bunda kakak juga mau tidur bersama bunda." Pinta Orion dengan wajah memelas-nya.
Eve menatap ke arah suaminya yang mulai nelangsa wajahnya. "Boleh sayang. Tapi, coba tanya sama ayah dulu."
Tala melihat tatapan memelas kedua putranya itu hanya bisa pasrah. Ini hari apa sih dia ingin berduaan bersama Eve. Semenjak mereka mempunyai dua anak waktu kebersamaan antara dirinya dengan Eve tersita namun Tala bersyukur karena dengan adanya anak bisa menambah warna kehidupan mereka.
Dua minggu kemudian...
Geya sedang berkunjung ke rumah Airen dan Joha tadi dia sudah menjemput Kala dan juga Gala. Orion masih sekolah jadi nanti Orion akan dijemput oleh Eve.
"Bibi Geya, bibi nanti kalau punya anak pengen sepelti Gala atau abang?" Tanya Kalandra.
__ADS_1
Geya mengernyitkan dahinya bingung maksud Kala bagaimana. Apa maksudnya kulit anaknya nanti ingin seperti Kala yang agak gelap seperti sawo matang atau kulit Gala yang seputih susu dan salju itu.
"Maksudnya laki-laki gitu?" Tanya Geya kebingungan. Dia hamil saja belum gimana mau memikirkan anaknya nanti ingin seperti apa.
"Iya manis sepelti abang atau tampan sepelti Gala." Airen memang mengatakan kepada Kalandra bahwa dia adalah anak yang manis dengan warna kulitnya yang sangat berbeda dengan kedua sepupunya serta kakaknya Jean. Semua orang juga bingung kenapa kulit Kala berwarna gelap padahal mami sama papinya putih.
"Seperti kakak Jean." Ucap Geya tertawa kecil membuat kedua bocah yang berbeda kulit itu cemberut kesal.
"Kenapa sih keponakan bibi yang tampan ini cemberut?" Tanya Geya.
"Itu altinya nanti anak bibi celewet seperti kakak Jean." Galaksi menganggukkan kepalanya setuju.
"Dan juga kami akan didandani sepelti kakak Jean dan Jeje Lily selta Cheesy." Iya ketiga gadis perempuan itu memang suka sekali mendandani Kala dan Gala tidak hanya itu mereka juga akan ikut memaksa Ryder dan Kafin juga. Perempuan di keluarga para ibu muda itu memang mendominasi walaupun mereka kalah dalam jumlah namun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Bukankah mereka menggemaskan dan cantik." Ujar Geya dan kedua bocah itu mencibir mendengarnya.
"Kalian tau kan bahwa kakak Jean, Jeje Lily, dan Cheesy suka sama kalian. Karena kalian menggemaskan." Kedua bocah laki-laki itu mengangguk jawaban itu akan selalu mereka dengar jika mereka mengadu dan juga nanti Jean, Lily, dan Cheesy akan meminta maaf dan mereka akur kembali. Sangat mudah memaafkan satu sama lain. Tidak ada dendam sama sekali. Itulah dunia anak-anak dibalik tingkah mereka yang sering bertengkar namun mudah memaafkan dan memberikan kasih sayang dengan tulus.
Geya memikirkannya ingin sekali menjadi kecil seperti mereka jika bisa.
"Tapi, bibi nanti kalau bibi punya anak baik sepelti abang atau Gala atau kakak Jean. Kami akan menyayanginya sepelti abang dan Gala." Ujar Kalandra dan Geya terharu mendengarnya.
Galaksi memegang perut Geya lalu menciumnya. "Tumbuh yang baik adik Gala dan abang." Ucap Gala membuat Geya terkesiap. Apa yang dilakukan Gala ditiru oleh Kala.
"Sayang bibi sedang tidak hamil dan tidak ada bayi di dalam perut bibi yang ada roti, ayam, daging dan es krim." Ucap Geya dengan tertawa kecil.
"Tapi nanti ada adik bayi dali pelut bibi. Gala seling do'a setiap malam sebelum tidur agak bibi punya anak setampan Gala dan semanis abang. Abang juga iyakan bang?" Tanya Gala dengan sumringah dan semangat.
"Iya, Abang ngikutin Gala. Abang dan Gala nggak mau lagi liat bibi sedih kalena merasa tidak punya anak."
Geya merasa terharu dengan kedua keponakannya itu. "Siapa yang ngajarin sih." Ujar Geya dengan gemas.
"Bunda dan mami. Kata bunda halus selalu beldoa untuk semua olang yang disayangi Gala. Kakak Lion juga gitu jadi Gala ikut deh iyakan bang." Kalandra mengangguk lagi.
"Gemas deh sama kalian berdua pengen bibi gigit." Kedua bocah itu dengan reflek memegang kedua pipi mereka dengan tangan.
"Tapi kan sayang di perut bibi belum ada adik bayinya." Ujar Geya menjelaskan.
__ADS_1
Kedua bocah laki-laki itu menatap ke arah Geya dengan polosnya. Geya tidak tahan melihat keluguan kedua keponakannya itu.
"Ada kok bibi bental lagi iya kan bang. Bibi halus belsabar. Kata mami kalau sabal disayang Tuhan. Gala dan abang akan banyak-banyak doa supaya di dalam pelu bibi ada adik bayi dan meletus deh duarrrr."
Tidak hanya Geya yang tertawa sopir dan pengawal yang mengantar ketiganya itu ikut tertawa mendengar celotehan dari Gala.
"Bibi dan paman jangan ketawa abang dan Gala selius tau. Kata nenek Dhala dan kakek Davka doa anak kecil seling banyak banyak didengal oleh Tuhan kalena kami manis dan tampan hatinya kata bunda juga iya kan Gala?" Ujar Kala menerangkan dan Gala mengangguk setuju aja.
Sungguh sangat menggemaskan dengan Kala dan Gala yang seperti kopi susu itu.
"Iya iya terimakasih yah keponakan bibi yang tampan dan manis. Sayang deh gemes deh pengen dikarungin bawa pulang." Goda Geya dengan gemas.
"Kala sama Gala mau punya adik lagi nggak dari mami dan bunda?" Tanya Geya penasaran mumpung kedua bocah itu membahas bayi.
"Tidak mau." Ucap keduanya serentak membuat Geya terperanjat kaget dengan kekompakan keduanya.
"Kenapa kok tidak mau?"
"Nanti kan nanti mami sibuk nguncilin lambutnya kayak kakak Jean telus nanti abang dan Gala juga didandanin." Ucap Kala sebal.
"Iya, telus Gala nggak mau nanti bunda lebih sayang sama adik bayi. Gala sudah lelah halus berebut pelhatian dan jagain bunda agal tidak dicium sama ayah dan kakak Lion. Bunda hanyalah milik Gala."
Geya menghela nafasnya mendengar penolakan yang sangat kuat dari kedua bocah laki-laki itu. "Tapi, nanti kalau misalnya adik bayi sudah ada di perut bunda dan mami gimana? Kan kasihan adik bayinya jadi sedih kalena tidak diterima sama didinya dan abangnya." Ujar Geya.
Kala dan Gala saling menatap, "adik bayi di pelut bunda nanti dipindahin ke pelut bibi." Ujar Gala Geya yang mendengarnya menahan tawanya.
"Iya sama. Sama juga dengan mami adik bayinya dipindahin ke pelut bibi saja."
"Tapi, kan adik bayinya ada di perut bunda dan mami. Tuhan yang ngasih kalau Kala dan Gala menolak nanti Tuhan marah dan sedih begitu juga dengan dik bayi nanti dia nangis di dalam perut bunda dan mami gimana?"
"Oeeekkkk oeeeeeeek kayak gitu bibi?" Tanya Gala dengan polos dan Geya mengangguk dengan cepat.
"Nanti Gala kasih mimi susu pakai botol susu punya kakak Jean yang seling dikasih ke Gala dan abang." Sudahlah Geya rasanya tidak kuat.
Kedua bocah itu jika diajak berbicara memang tidak ada habisnya dan Geya sampai sakit perut melihat keluguannya.
Senangnya jika mempunyai anak sendiri ucap Geya membatin dan memegang perutnya.
__ADS_1
*Bersambung*