Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 30. Apa Lagi yang Harus Aku Lakukan?


__ADS_3

Eve melakukan apa yang sudah direncanakan oleh Adya dan mengikuti instruksi dari Adya.


Namun, sampai sekarang setelah hari pertama di mana dirinya menggunakan lingerie dan demam Tala tidak pernah lagi masuk ke kamar jika malam hari.


Tala akan mengurung dirinya di ruang kerjanya dan Eve yang menunggu Tala setiap malamnya untuk keluar dari ruang kerjanya berakhir ketiduran karena tak kuasa menahan rasa kantuknya.


Satu bulan sudah ia lakukan dan menggunakan baju tipis ini. Akhirnya Eve memutuskan tidak mau lagi melakukannya.


Eve berpikir mungkin Tala merasa jijik dengannya sehingga membuat Tala tidak mau menyentuhnya lagi.


Apa karena dirinya yang tidak bisa menjaga kandungannya sehingga membuat dirinya keguguran dan Tala marah kepadanya dan di dalam pikiran Tala bahwa dirinya sudah membunuh darah dagingnya.


Eve juga kini sudah bekerja dan kakek Werawan sudah kembali ke mansion miliknya dua minggu yang lalu.


Adya kembali merasakan kesepian karena Eve tidak ada di rumah. Sedangkan ibu Dhara selalu mengikuti ayah Davka ke mana pun ayah Davka pergi entah berbincang dengan rekan bisnisnya atau reuni bersama sahabatnya.


Adya juga merasa jenuh dengan apa yang dilakukannya namun dirinya tidak bisa mengeluh dan tidak bisa mengatakan bahwa dirinya sudah tidak ingin lagi melakukan pengobatan yang dijalaninya.


Dokter Raka dan Eve semakin hari semakin dekat setelah selama dua minggu mereka sering menghabiskan waktu berdua dengan mengikuti seminar baik di luar kota atau pun dalam kota.


Tapi, Eve tetap menjaga batasannya dan selalu dijaga oleh pengawal dan di antar jemput oleh sopir yang memang sudah disediakan untuknya dan selalu standby.


"Apakah kamu mau ikut dengan ku melihat anak penderita kanker di poli anak?" Tanya dokter Raka.


Mereka berdua baru saja selesai makan siang bersama di kantin.


"Sepertinya boleh lagipula aku ada waktu senggang sebelum pulang." Jawab Eve.


Dokter Raka tersenyum mendengar jawaban Eve. Dokter Raka sudah memahami bagaimana bisa mengajak Eve untuk mau pergi dengannya salah satunya dengan melihat anak penderita kanker, panti asuhan, dan mengikuti seminar.


Walaupun itu hanyalah hal yang menurut orang sangat biasa tapi beda bagi dokter Raka. Dokter Raka merasa sangat senang dan pengalamannya bersama dengan Eve terasa menjadi luar biasa.


Sesampainya di poli anak Eve langsung melihat dan tersenyum melihat anak-anak yang tertawa satu sama lain dan bercerita serta bermain.


Sangat menyejukkan mata Eve. Walaupun mereka mendapatkan sebuah penyakit yang ganas tapi mereka tetap tersenyum dan bahagia.


Eve mendekat ke salah satu anak yang sedang duduk sendiri bermain bonekanya. "Halo, apakah aku boleh duduk di sini?" Tanya Eve sembari memberikan senyumannya.


Anak itu hanya diam saja sambil menatap ke arah Eve dengan datar. Eve tersenyum, "perkenalkan namaku Eve nama kamu siapa?"


Anak kecil yang berjenis kelamin perempuan itu hanya diam dan menatap uluran tangan Eve. "Nama ku Elakshi." Jawab anak itu sembari menjabat tangan Eve.


Eve terkejut mendengar nama anak perempuan yang diajaknya berbicara itu. "Nama kita sama. Nama lengkap dokter Elakshi Feshika." Ucap Eve dengan sumringah.


Anak kecil bernama Elakshi itu tersenyum. "Kamu boleh memanggil aku dengan kakak." Ujar Eve dengan semangat saya melihat senyum di wajah gadis kecil bernama Elakshi itu.


"Kak Eve boleh memanggilku Ashi." Jawab Elakshi.


"Apakah kak Eve boleh bertanya pada Ashi?" Tanya Eve dan Ashi menganggukkan kepalanya.


"Kak Eve sudah bertanya." Jawab Ashi dan membuat Eve terkekeh mendengarnya dan Ashi yang tersenyum.


"Kamu benar." Ujar Eve.


"Jadi, kenapa Ashi duduk diam dan sendiri di sini?" Tanya Eve dengan lembut.


Ashi menampilkan wajah murungnya lalu menatap ke arah luar pemandangan taman di depannya.

__ADS_1


Eve melihat raut wajah murung Ashi menjadi penasaran namun, "kalau Ashi tidak mau menjawabnya tidak apa-apa kak Eve mengerti. Apakah kak Eve boleh berteman dengan Ashi?" Tanya Eve lagi.


Ashi menolehkan kepalanya ke samping dan melihat Eve tersenyum dengan senang. "Apakah kak Eve seorang dokter?" Tanya Ashi yang melihat Eve memakai jas putih dokternya.


"Iya, kak Eve adalah dokter. Tapi, kak Eve bukan dokter anak kak Eve dokter bedah penyakit dalam." Jawab Eve.


"Cita-cita Ashi juga menjadi dokter." Celetuk Ashi, "tapi, sepertinya itu tidak mungkin." Lanjut Ashi dengan datar dan tatapan kosongnya.


"Kata dokter umur Ashi sisa 6 bulan lagi. Tapi, Ashi tidak apa-apa setidaknya Ashi mengurangi beban mama."


Eve tertegun mendengarnya, "mama berusaha sangat keras untuk merawat dan menjaga Ashi bahkan mama selalu bertengkar dengan papa hanya karena Ashi. Papa sudah lelah dengan Ashi yang terus sakit-sakitan."


"Bahkan karena Ashi mama sama papa ingin bercerai." Eve segera memeluk gadis kecil itu.


"Tante yang dekat sama papa jahat. Kalau Ashi udah nggak ada siapa yang akan menjaga mama dan mama akan sangat sedih."


"Mama tidak ada yang menjaganya." Eve tidak bisa tidak menangis namun Eve berusaha untuk menahannya.


"Ashi ingin sembuh tapi kata dokter itu sangat jauh."


"Ashi dokter bukan Tuhan dokter hanya perantara saja untuk membantu dan menolong orang yang sedang sakit. Ashi tidak boleh berbicara seperti itu Ashi jangan mendengarkannya. Ashi cukup fokus dengan kesehatan Ashi."


"Bagaimana jika mama Ashi mendengarnya dan sangat sedih." Ujar Eve.


Ashi menggelengkan kepalanya. "Mama sudah sangat sedih dan menderita karena ada Ashi. Papa tidak menginginkan Ashi karena Ashi ternyata lahir sebagai perempuan."


"Oma dan Opa juga selalu menyalahi mama dan menyuruh papa untuk menceraikan mama itu semua karena Ashi. Ashi sudah membuat hidup mama menderita." Ujar Ashi.


"Ashi tidak boleh berbicara seperti itu. Ashi harus sembuh demi mama dan juga kak Eve."


"Ashi senang berteman dengan kak Eve, nanti jika Ashi tidak ada mau kah kak Eve menjadi teman mama." Akhirnya Ashi menangis Eve hanya bisa memeluk dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Ashi dengarkan kak Eve, Ashi harus semangat untuk sembuh ya kak Eve akan berusaha untuk datang ke sini setiap harinya." Ujar Eve, Ashi tersenyum mendengarnya.


"Apakah kak Eve mau bermain boneka dengan Ashi. Ashi merasa kesepian karena mama dari pagi sampai sore harus bekerja." Ucap Ashi.


Eve merasakan hatinya sangat pedih mendengar Ashi yang bercerita kepadanya.


Dokter Raka dan Eve kembali ke ruangannya. "Sepertinya kamu terlihat lebih bersemangat sekarang." Ujar dokter Raka membuat Eve menolehkan kepalanya menatap ke arah Dokter Raka.


"Kamu tau gadis kecil yang aku ajak bicara bernama Ashi itu membuatku lebih bersemangat lagi menjalani hidup."


"Dia masih kecil tapi sangat dewasa." Lanjut Eve membuat dokter Adam tersenyum mendengarnya.


"Terimakasih sudah mengajakku ke sana." Ucap Eve tersenyum dan dibalas dokter Raka tersenyum.


Sore harinya Eve pulang ke mansion dan seperti biasa ia disambut dengan hangat oleh Adya dan ibu Dhara.


"Sayang kamu sudah pulang bagaimana dengan pekerjaan mu hari ini?" Tanya ibu Dhara seperti biasa.


Eve tersenyum dengan hangat dan senang mendengar pertanyaan yang selalu ditanyakan mertuanya itu kepadanya.


Eve memeluk ibu Dhara dan menyandarkan kepalanya hal itu membuat Adya dan ibu Dhara tertawa mendengarnya. "Lihatlah menanti dokter ibu sangat manja seperti biasanya." Ucap Adya.


"Iya, kamu benar sayang tapi dia bukan menantu ibu tapi anak ibu sama seperti kamu." Ketiganya tertawa.


"Sore-sore ibu sudah mulai menggombal." Canda Adya hal itu semakin keras suara tertawa mereka.

__ADS_1


Tala yang baru pulang mendengar suara gelak tawa dari arah ruang keluarga. Hari ini Tala pulang lebih cepat dari biasanya.


Suara derap langkah kaki Tala membuat ibu Dhara, Adya, dan Eve menatap ke arah sumber suara.


Ternyata itu adalah Tala ketiganya kembali bercanda tanpa menghiraukan Tala yang sedang melihat ketiganya.


Lebih tepatnya ibu Dhara dan Adya mengajak Eve mengobrol.


Tala yang melihatnya hanya mendengus lalu segera pergi ke kamarnya. "Ibu Eve masuk ke kamar dulu ya." Ucap Eve dan diangguki oleh ibu Dhara.


"Bye kak." Ucap Eve dan mengecup pipi Adya dan ibu Dhara sebelum pergi.


Eve berjalan menaiki lift sedangkan Tala menaiki tangga. Eve yang sampai dulu di kamar segera mencuci tangannya lalu mengelapnya.


Eve berjalan dengan cepat untuk mengambil baju ruang baut Tala dan menyiapkan air hangat di bak mandi.


Tala membukakan pintunya dan menatap Eve yang baru saja selesai dengan meletakkan baju di atas tempat tidur.


Seperti biasa Eve menyalami tangan Tala dan mengambil tas kerja Tala dan meletakkannya di tempat seharusnya.


Eve lalu kembali ke arah Tala dan mengambil sepatu serat kaos kaki yang sudah dilepaskan Tala.


Tapi, tangan Eve terhenti saat mengingat bahwa dirinya belum membuka dasi Tala.


Eve menggigit bibirnya hendak membicarakan sesuatu namun ragu-ragu untuk mengatakannya.


"Katakan." Ucap Tala yang sudah tau gelagat Eve jika ingin bertanya tapi ragu. Eve akan menggigit bibir dalamnya saat dirinya gugup dan hendak bertanya kepadanya.


"Ekhm, aku tidak jadi." Ucap Eve sambil memamerkan senyum canggungnya.


Tala bangkit dari posisi duduknya dan membuat Eve mundur.


Tala langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sementara Eve pergi ke ruang kerja Tala untuk memeriksa apakah mineral di ruangan Tala sudah habis atau belum di dalam teko.


Lalu Eve memeriksa cemilan di atas meja Tala. "Ternyata masih utuh dan itu sudah satu bulan yang lalu. Dia memang jarang mengemil sepertinya."


Eve berjalan keluar dari kamarnya dan mengambil beberapa jenis buah seperti strawberry, apel, dan pir serta anggur untuk diletakkan di ruang kerja Tala.


Selama tiga puluh menit lamanya Tala keluar dari dalam kamar mandi dan tidak melihat Eve di dalam kamar.


Eve keluar dari ruang kerja Tala hal itu membuat Tala menatap tajam ke arah Eve. "Aku ingin memastikan makanan dan minuman di ruang kerjamu sudah habis apa belum. Aku sudah menaruh buah baru di meja dan juga menambahkan air minum buatmu." Ujar Eve.


Tala hanya diam saja dan tidak menggubris Eve. Yang dilakukan Tala hanya bekerja, pulang dan masuk ke ruang kerjanya.


Entah apa yang dilakukan Tala Eve saja bingung dan penasaran apakah CEO memang sangat sibuk itu yang ada di benak Eve.


Bohong jika Eve merasa tidak sedih dan tersinggung dengan apa yang dilakukan Tala kepadanya.


Sengaja menghindar dan menutup diri dengannya tapi tidak dengan Adya.


Bukannya Eve merasa iri hanya saja Eve ingin juga diperhatikan oleh Tala sama seperti Eve


Tapi, kembali mengingat posisinya bahwa dirinya hanyalah istri kedua dan sementara tempatnya serta memberikan keturunan buat Tala.


Tapi Tala tidak menyentuhnya sama sekali terasa enggan dengannya. Padahal Eve sudah merendahkan dirinya untuk menggoda Tala dan merayu Tala namun pertahan Tala sangat kuat.


Apakah dirinya tidak semenarik itu?

__ADS_1


"Apa lagi yang harus aku lakukan?" Tanya Eve sambil merendamkan tubuhnya di bak kamar mandi.


*Bersambung*


__ADS_2