Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 31. Ulang Tahun Kakek Werawan


__ADS_3

Hari ini adalah hari libur Eve sedang duduk di taman sambil termenung. Adya yang melihat Eve dari jauh segera berjalan menghampiri.


Adya menyuruh suster yang memang disediakan khusus untuknya pergi ketika mendapat isyarat dari Adya.


Eve masih belum menyadari keberadaan Adya. Banyak helaan nafas yang dikeluarkan oleh Eve selama Adya berada di belakang Eve lima belas menit yang lalu.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Eve?" Tanya Adya membuat Eve menoleh ke belakang di mana arah suara berada.


Eve tersenyum ketika melihat Adya yang sedang duduk di atas kursi rodanya.


Berjalan menghampiri Adya dan mendorong kursi roda Adya dengan tempat duduk yang di dudukinya tadi.


"Bukankah seharusnya kakak istirahat di kamar." Ujar Eve


"Sebenarnya tadi iya tapi aku melihat mu di sini jadi ingin menghampiri."


Eve tersenyum mendengarnya dan matanya ia alihkan ke pemandangan taman di depannya.


"Aku hanya menikmati suasana taman ini. Aku baru tau satu bulan yang lalu bahwa ada taman bunga berbentuk labirin di sini." Ujar Eve terkekeh dengan kekonyolannya sendiri melihat betapa tidak sadarnya dirinya selama tinggal di mansion ini.


Bahkan Eve juga tidak menyadari bahwa dirinya mempunyai kalung yang berbeda dengan yang ia miliki sebelumnya.


Kalung diberikan oleh Gulzar di mana pertama kalinya Gulzar menghampiri Eve ke mansion ketika hari peringatan pernikahan Eve dengan Tala yang pertama.


Saat itu Eve memang tidak sadar karena Eve sedang tertidur karena lelah menangis hari itu.


Bahkan Eve berpikir yang membawanya ke kamar adalah pengawal.


"Taman itu baru sekitar empat bulan yang lalu. Pengerjaannya dilakukan selama tiga hari. Banyak tukang yang keluar masuk ke dalam mansion ini."


"Wajar saja kalau kamu tidak tau karena saat itu kamu sering mengambil shift malam dan pulang pagi hari untuk istirahat dan siangnya kamu akan membuat kue dan menemaniku sore harinya kamu pergi lagi ke rumah sakit."


Eve tertawa mendengar rutinitasnya setiap hari yang keluar dari mulut Adya.


"Lihat kamu tertawa sendiri. Aku rasa kamu adalah orang yang pertama kali aku temui sangat kaku."


Eve lagi lagi tertawa mendengarnya memang benar bahwa dirinya sangat kaku dan dingin.


Ada sebuah alasan kenapa orang melakukan sesuatu atau bertindak sesuatu bukan seperti yang Eve lakukan. Eve masih belum ingin membagikannya kepada siapa pun dan tidak ada orang yang mengetahui itu.


"Itu bukanlah pujian Eve tapi kamu terlihat sangat senang." Ujar Adya merasa heran.


Eve menatap Adya dengan senyumannya. "Aku tau kak. Tapi, ketika mendengarnya aku merasa geli entah karena apa. Padahal tidak ada yang lucu bukan." Ujar Eve.


"Selera humor mu sangat garing." Celetuk Adya lagi lagi Eve tertawa mendengarnya.


"Jadi, siapa yang mempunyai ide membuat taman bunga labirin itu. Apa kelopak bunga mawar yang sering mengisi bak mandi aku setiap sorenya dari taman bunga labirin itu?" Tanya Eve.


Kali ini Adya yang tertawa mendengarnya. "Tentu saja memangnya dari mana lagi tapi itu hanya bisa mencukupi selama dua Minggu. Dua minggunya kelopak bunga mawar di beli karena kamu bisa lihat sendiri bunganya sudah habis."


"Aku merasa prihatin dengan taman bunga labirin." Ujar Eve dan membuat keduanya tertawa bersama.


Bagi Adya bercanda dan berbicara dengan Eve adalah hal yang paling dia senangi dan Adya merasa sangat nyaman dengan itu.


"Jadi, apakah belum ada tanda-tanda lagi?" Tanya Adya penasaran karena ini sudah lebih dari satu bulan.


Rencana yang disusun Adya adalah rencana jangka panjang namun Eve tidak mau melakukannya lagu jika menggunakan lingerie saat tidur dan menggoda Tala karena sama sekali tidak berhasil.


Cukup bagi Eve satu bulan saja Eve sudah merasa sangat malu dan rasa rendah dirinya sebagai perempuan membuatnya merasa seperti sangat menyedihkan karena tidak berhasil.

__ADS_1


"Tanda-tanda apa kak?" Tanya Eve kebingungan Adat yang mendengar dan melihatnya mendengus.


"Tanda-tanda apa lagi memangnya ya tanda-tanda kamu hamil Eve. Kamu tidak mengkonsumsi obat pencegah kehamilan kan?"


"Ouw itu seperti yang kakak lihat masih belum dan kakak juga bisa lihat kak Tala masih dingin dengan Eve. Mana mungkin Eve mengkonsumsi itu tujuan kita kan adalah itu."


"Bukan hanya itu saja tapi salah satunya karena sebenarnya tujuan kita banyak." Ujar Adya.


"Kamu masih belum menjawab pertanyaan ku tadi. Aku rasa kamu semakin hari semakin pandai mengalihkan pembicaraan Eve." Ungkap Adya dengan memicingkan matanya ke arah Eve.


Eve tidak bisa tidak tertawa melihat ekspresi yang ditunjukkan Adya kepadanya. "Aku tidak memikirkan apa-apa kak.


"Jelas banget kelihatan bohongnya. Apakah kamu memikirkan pesta ulang tahun kakek yang diadakan seminggu lagi?"


Eve hanya diam karena sebenarnya memang itulah yang dipikirnya salah satunya.


"Jangan khawatir kakek tidak mungkin membiarkan kamu dihina dan diperlakukan tidak sopan dan adil oleh keluarganya sendiri."


"Jangan terlalu dipikirkan, lagipula ada aku, ibu, ayah, dan kakek yang akan membantumu dan melindungi mu dan juga ada Tala walaupun dia bersikap dingin kepadamu tapi percayalah dari jauh dia melindungi mu."


Eve terdiam mendengarnya dan masih bertanya apakah benar Tala menjaga dan melindunginya dari jauh. Sementara dari jarak dekat saja Tala masih bersikap ketus dan dingin kepadanya.


Satu hari sebelum ulang tahun kakek Werawan. Eve sedang duduk di kamar Adya karena hari ini mereka ada fitting gaun dengan seorang desainer yang tidak lain dari butik ibu Dhara sendiri.


Eve dan Adya duduk manis melihat baju-baju yang berjejer rapi di raknya setelah digantung oleh para pelayan dari butik ibu Dhara.


"Nona, ini adalah baju yang dibuat oleh desainer kami selama satu minggu ini."


"Ada banyak pilihan dan warna yang semuanya sangat cocok untuk Nona."


"Nyonya sudah memberitahukan gambarannya kepada semua desainer kami. Silahkan Nona bisa memilihnya."


"Eve kamu coba yang ini." Ucap Adya


Eve kaget mendengarnya. "Tidak bukankah kakak tadi bilang bagus itu kakak saja yang coba dan pilih dulu mana yang pas buat kakak baru setelah itu Eve pilih buat Eve."


"Tidak, tidak kamu sekarang coba yang ini ya cantik." Ujar Adya lalu memberikan gaun berwarna pink yang dipegangnya.


Eve hanya bisa pasrah dan menuruti saja. Pegawai yang berkerja di butik ibu Dhara tidak menyangka bahwa hubungan istri pertama dengan istri muda sebaik ini bahkan mereka terlihat seperti kakak beradik.


Eve keluar dari kamar mandi, Adya yang melihatnya tersenyum dan menilik Eve dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Itu bagus, tapi kamu harus mencoba yang lain juga. Jika perlu coba semuanya." Ujar Adya lalu Adya menyuruh pegawai untuk minta tolong menyerahkan gaun berwarna biru muda untuk Eve.


"Sebenarnya semuanya bagus Eve. Apa pun yang kamu pakai akan sangat cocok. Tapi, aku ingin melihat kamu coba pakai gaun berwarna krem ini."


"Okay sepertinya warna krem sangat cocok untukmu kamu terlihat lebih bercahaya apalagi modelnya cukup tertutup sesuai style dari Tala."


"Lalu apakah kakak sudah menemukan yang cocok?" Tanya Eve setelah selesai mengganti pakaiannya.


"Emmm aku pilih yang putih ini. Bagaimana?" Tanya Adya kepada Eve dan Eve mengangguk setuju.


"Iya itu sangat cocok buat kakak." Ujar Eve. "Tapi, apakah kakak tidak ingin mencobanya?" Tanya Eve.


Adya menggelengkan kepalanya. "Tidak aku sangat lelah." Ucap Adya sambil tertawa Eve juga ikut tertawa mendengarnya.


"Kakak curang seharusnya Eve juga harus milih buat kakak." Ujar Eve.


"Tapi, sudah tidak bisa lagi karena kamu sudah bilang bahwa warna ****** ini cocok buat kakak bahkan kamu menambahkan kata sangat di depannya." Ucap Adya membuat Eve mendengus mendengarnya.

__ADS_1


Eve tau bahwa Adya sedang menjahili dan menggodanya namun Eve sangat senang karena Adya bisa tertawa lepas padahal satu hari yang lalu dirinya baru keluar dari rumah sakit.


"Kakak teruslah tertawa seperti ini jangan sedih kalau kakak sedih Eve juga sangat sedih." Ucap Eve sambil memeluk Adya dengan erat.


Para pegawai yang melihatnya hanya mampu terdiam ini memang di luar dugaan mereka.


Mereka berpikir istri pertama dan kedua akan berebut gaun dan berkelahi karena memilik gaun yang sama atau bahkan saling menyindir satu sama lain.


Tapi, apa yang dilihat mereka di luar ekspektasi sangat jelas berbeda dengan kenyataannya.


"Hey apakah kamu tidak mau dilihat mereka." Ucap Adya yang melihat ke arah dua pegawai dari butik mertuanya itu yang sedang menatap mereka kikuk.


Eve segera melepaskan pelukannya dari Adya. "Tidak Eve tidak malu. Mereka juga pasti sama jika mempunyai seorang kakak yang baik kepada mereka." Ujar Eve membuat Adya terkekeh mendengarnya.


"Bolehkah Eve tidur di sini malam ini." Pinta Eve dengan wajah memelasnya membuat Adya menjaga jarak dan melihat wajah Eve yang sedang memasang ekspresi imutnya.


"Tidak boleh sayangku, cintaku, matahariku segalanya bagiku." Ucap Adya yang tertawa geli sendiri mendengarnya.


"Kakak sudah pandai menggombal. Lagipula Eve mau mengajak kakak untuk menonton film Disney baru tau. Itu baru tayang di TV." Ujar Eve.


"Cuman menantu Werawan yang berbeda nih padahal mertua dan suaminya mampu menyewa bioskop dan membeli bioskop namun menantunya malah menunggu untuk menonton di TV." Ujar Adya membuat Eve tertawa menyengir melihatnya.


"Eve terlalu malas keluar kak. Kakak tau sendiri bukan kalau Eve tidak pergi ke rumah sakit maka Eve akan di mansion. Eve bosan bersiap-siap cukup pergi ke rumah sakit atau ada acara penting saja seperti besok ulang tahun kakek."


"Bisa aja kamu nih gemesy deh." Keduanya tertawa dengan penuh bahagia. Kedua pegawai yang sejak tadi memperhatikan mereka seolah tidak terlihat oleh kedua orang itu.


"Tuh kan kakak jadi lupa. Kalian boleh pergi terimakasih ya sudah mengantar dan membantu." Ucap Adya dan Eve menganggukkan kepalanya.


"Bukan kamu Eve." Ujar Adya yang melihat Eve mengangguk.


"Maksudnya Eve kan ucapan kakak juga mewakili Eve." Ujar Eve dan tertawa senang bahkan Adya juga tertawa. Terkadang keduanya sangat konyol jika sedang bersama.


Satu minggu telah berlalu Eve, ibu Dhara, ayah Davka, Adya serta Tala pergi ke mansion kakek Werawan untuk merayakan ulang tahun kakek Werawan.


Tahun ini kakek Werawan mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke 85 tahun.


Ibu Dhara, ayah Davka dan Adya berada dalam satu mobil. Adya sengaja membiarkan Eve satu mobil dengan Tala. Ini adalah salah satu cara Adya untuk mendekatkan Eve dengan Tala.


Eve merasa sangat gugup sedari tadi apalagi dengan atmosfir di dalam mobil yang hanya berdua dengan Tala.


Tala hanya fokus melihat pemandangan di luar jendela atau memainkan ponselnya.


Eve memainkan jari jemarinya dan menggigit bibir dalamnya karena merasa gugup.


Ingin rasanya Eve tidak ikut menghadiri acara seperti ini namun Eve tidak mau mengecewakan kakek Werawan.


Eve juga tidak mau membuat ibu Dhara dan ayah Davka digunjing oleh kerabatnya karena Eve tidak datang.


Masalah tidak akan ada habisnya dan orang-orang akan sibuk mencari celah untuk menemukan kesalahan orang lain daripada melihat kebenaran yang ada.


Eve berusaha menahan nafasnya dan menghembuskannya dengan sangat pelan agar Tala tidak terganggu dengan itu seperti waktu lalu.


Mobil yang membawa dirinya dan Tala akhirnya sampai juga Eve turun dan melihat Adya juga ikut turun dengan mobil yang lain bersama dengan ibu Dhara dan ayah Davka.


Eve mendorong kursi roda Adya. Adya menggenggam tangan kanan Eve seolah memberikan penguatan dan semangat kepada Eve.


"Jangan memikirkan berlebihan tetap tenang okay."


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2