Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 48. Rasa Rendah Diri


__ADS_3

POV ON EVE


Aku melihat pengawal Bee yang begitu senantiasa mendengarkan cerita ku.


Dalam hati aku berkata bahwa apakah dia percaya atau tidak dengan apa yang aku katakan kepadanya.


Aku akui aku bercerita tidak sepenuhnya aku menceritakan segalanya masih ada yang aku sembunyikan dan rahasiakan.


Tapi, aku merasa sedikit lega dan merasa bahwa beban aku sedikit terangkat.


Aku mengingat lagi kata Tala waktu itu, "jangan terlalu memendam perasaan dan pikiranmu bercerita lah maka jiwa mu akan lega."


Aku lagi lagi tersenyum ketika mengingat betapa dia sangat perhatian kepadaku walaupun aku sering tidak peduli kepadanya dulu.


Selain perhatian dia sangat pengertian dan sangat dewasa walaupun aku terus membuatnya terluka dengan mencari banyak perhatian di luar sana.


Aku tersenyum miris mengingat bahwa aku begitu egois kala itu kepadanya. Terlalu serakah akan sebuah perhatian yang ingin aku dapatkan lebih.


Kecantikan, kemolekan tubuh serta kecerdasan yang aku miliki membuatku tinggi hati karena aku memiliki banyak penggemar dan mereka selalu memberiku hadiah atau sesuatu untuk menunjukkan rasa kagumnya kepadaku.


Tak jarang dikala aku sedang berkencan dengannya Tala akan kehilangan eksistensinya tapi entah kenapa aku merasa senang karena dia sangat begitu bergantung kepadaku.


Alasan aku menerima begitu banyak perhatian dan meladeni mereka karena aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa dia tidak boleh meninggalkan ku apa pun yang aku lakukan karena jika dia meninggalkan aku atau menyerah maka akan ada banyak yang akan menggantikannya apalagi dia sangat bergantung denganku


Bukankah aku terlihat sangat egois bukan. "Nona." Panggil pengawal Bee membuat lamunan aku akan masa lalu buyar.


"Jangan melamun apalagi Nona terkadang tersenyum dan terkadang datar." Ujarnya kepadaku.


"Aku tidak tau harus bereaksi seperti apa dan berkata apa tapi yang pasti aku mengerti bahwa saat itu bukanlah hal mudah bagi setiap orang untuk melewatinya." Pengawal Bee berusaha menghiburku namun di hatiku masih ada yang mengganjal karena aku tidak berbicara secara jujur dan sepenuhnya kepada dirinya.


Ada rasa bersalah yang mendalam di hatiku namun aku simpan karena bercerita seperti ini saja aku berpikir panjang terhadap siapa pun apalagi kepribadian aku yang tidak mudah dekat dengan orang.


Mungkin agak klise sebenarnya aku takut dalam berteman atau bergaul. Aku takut jika aku sudah merasa sangat nyaman dan menganggap mereka sebagai teman lalu saat mereka mengetahui bahwa aku anak pungut dan lebih parahnya bahwa mereka tau aku...


Aku tidak kuat untuk mengatakannya tapi yang pasti ini terjadi karena aku terlalu banyak memendam dan memendam.


Aku takut jika mereka tau itu mereka akan menjauhiku dan meninggalkanku atau lebih parahnya mereka akan menyebar segala apa yang bisa membuat semua orang akan menjauhi aku.


Dikatakan sebagai anak pungut saja sampai saat ini kedua telinga masih saja mendengar di mana pun aku berada walaupun sekarang sudah berkurang karena ke mana pun aku pergi selalu ada pengawal yang akan menjaga.


Lagipula aku jarang keluar dari mansion selain untuk bekerja. Jadwalku sangat monoton semenjak aku lulus dari SHS.


Karena tidak ada teman yang mau mengajak aku untuk sekedar pergi jalan-jalan karena mereka sudah tau bahwa ternyata aku hanyalah anak pungut.


Entah bagaimana mereka bisa tau tapi aku tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun.


Aku tidak mau berpikiran buruk bahwa yang menyebarkan berita itu adalah Harsha seperti yang sudah-sudah.


Apalagi kala itu aku sedang berduka atas meninggalnya orang tua angkat ku. Hidup aku pun berubah menjadi 360 derajat.


"Terimakasih karena sudah mendengar ceritaku yang membosankan." Ujar ku dengan tulus kepada pengawal Bee.


"Nona tidak perlu berterimakasih. Justru saya yang harus berterimakasih karena Nona mempercayai saya untuk mendengar cerita dari Nona." Ujarnya.


"Nona jangan memikirkan hal yang terlalu berlebihan. Asal Nona tau bahwa Nona sangat luar biasa dan semua orang pasti ingin menjadi seperti Nona."


"Ibaratnya Nona itu paket lengkap. Walaupun Nona berasal dari keluarga terpandang tapi Nona tidak sombong dan sangat elegan."


Aku hanya bisa tersenyum sebelum pamit untuk beristirahat di kamar karena jujur aku merasa lelah padahal tadi aku tidur cukup lama.


Sepertinya aku bukan tidur tapi aku dikasih obat bius entah siapa yang memberikannya karena di lengan kiri aku merasa cukup sedikit pegal.


Apalagi aku bukan orang yang tidur lama kalau bukan malam hari.

__ADS_1


Banyak hal yang mengganjal di hati aku. Aku teringat lagi kata pengawal Bee bahwa aku tidak sombong jika saja pengawal Bee tau bahwa dulunya aku sangat sombong dan sangat egois maka pengawal Bee tidak akan mau berdekatan dan berbicara dengan ku dia akan menjaga jarak.


Aku sangat rendah diri jika menyangkut hubungan yang berkaitan dengan sosialisasi karena kata-kata aku anak pungut sudah mengakar di alam bawah sadar ku.


Aku selalu berdoa kepada Tuhan bahwa aku diberikan kekuatan lagi untuk menghadapi apa yang telah aku alami.


Apalagi sekarang aku merasa bahwa kondisiku sedang tidak baik-baik saja ditinggal kakek.


"Mungkinkah dia membawa ku ke sini karena terlalu muak melihat wajahku." Air mata aku merembes lagi di atas sarung bantal berwarna biru kala mengingat perkataan Tala kala itu.


'Pembunuh'


Bukan hanya dari Tala tapi dari sepupunya Geya dan juga bibi Tala.


Ini sangat gawat sepertinya aku memerlukan obat apalagi aku nggak bisa tidur sekarang jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi.


Sebenarnya wajar saja aku tidak bisa tidur melihat diriku tadi sudah tidur dengan waktu yang cukup lama akibat obat bius yang diberikan.


Kuedarkan pandangan mata ini ke sekeliling kamar dengan seksama setiap interior yang ada.


Aku merasa aneh entah kenapa, "aku merindukan papa." Papa adalah boneka panda kesayangan ku yang diberikan oleh seseorang yang spesial.


Tapi, boneka itu tidak berada di sini boneka itu berada di negara L di mana apartemen tempat aku tinggal selama menempuh pendidikan dan bekerja di sana.


Hanya boneka itu yang bisa membuatku menjadi tenang. Boneka itu adalah tempat aku mencurahkan segala apa yang ada di dalam pikiran dan hatiku.


Dikala hati resah dan pikiran mulai gelisah aku selalu melakukannya dengan boneka Panda yang aku beri nama Papa.


Ada alasan kenapa aku memberinya nama Papa karena dia adalah seorang ibu tunggal yang merawat anaknya seorang diri waktu seseorang itu membelinya.


Aku sempat kesal melihat orang yang memberikan dengan teganya memisahkan Papa dengan anaknya yang aku beri nama Hipa.


"Kamu pegang Papa aku pegang Hipa." Ucap orang itu dan aku yang mendengarnya menatap tajam.


"Biar kamu selalu ingat kepadaku. Jika aku sedang tidak ada maka kamu bisa meluapkan dan menceritakan segalanya kepada Papa." Ujarnya.


Perkataan orang yang spesial itu tidak masuk ke dalam logika aku sehingga aku meninggalkannya dengan membawa Papa pulang bersama ku.


Tanpa sengaja aku juga memisahkan boneka panda ibu dan anak itu.


Ternyata di sini akulah yang kejam jika dia hanya berkata saja sedangkan aku bertindak.


Air mata ku menetes lagi mengingat setiap kenangan demi kenangan itu. Mungkin sekarang Hipa sudah dibuangnya.


Hatiku sangat sedih bagaimana Hipa nanti mencari Papa sedangkan dua anak manusia memisahkan mereka karena keegoisan mereka.


Dan mereka itu adalah aku dan dia. Tapi, di dalam lubuk hati ini aku masih percaya bahwa dia masih menyimpannya dan aku tidak tau di mana.


Aku membuka mataku dengan perlahan tanpa sadar semalam aku ketiduran karena lelah menangis.


Aku melihat jam di dinding kamar sudah jam setengah sembilan.


Dengan segera aku bangkit dan merapikan tempat tidur lalu segera mandi.


Perasaan ini selalu hampa dan hati ini sudah mati rasa pandangan pun sudah tak ada jiwanya.


Hari kedua aku di sini aku tidak bisa melakukan apa-apa karena ponsel aku tidak berada di tanganku.


Semenjak aku bangun hari di mana pertama kali aku ke sini aku sudah tidak melihat ponselku.


Bahkan telepon di apartemen ini sudah tidak ada seperti waktu pertama kali aku datang aku mengingat dengan jelas.


Aku kembali mengingat perkataan pengawal Bee sebelum aku pamit kembali ke kamar.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirkan apa yang dilakukan oleh Tuan muda. Percayalah Nona bahwa Tuan muda sudah mencintai Nona."


Tapi, yang aku lihat dan rasakan kata cinta itu masih sangat jauh kalau dulu adalah iya tapi kalau sekarang adalah tidak.


Sekarang dia sangat membenci aku. Bibir ini tersenyum miris mengingat kata benci itu.


Aku sudah bilang bukan bahwa aku sangat rendah diri terutama dalam hubungan interpersonal.


Banyak ketakutan yang berada di dalam pikiran ketika aku ingin melakukan interaksi sosial.


Ketakutan-ketakutan dari kenangan buruk di masa lalu membuatku tidak berani untuk melangkah lebih jauh.


Jujur aku sangat kesepian tidak ada teman yang bisa aku ajak untuk pergi bersama-sama sekedar melepas penat dan tidak ada teman yang mengajak pergi.


Ketika aku melihat teman-teman semasa sekolah dulu di akun pribadi mereka yang membahas tentang pertemanan dan persahabatan sampai saat ini masih terjalin aku merasa rendah diri.


Aku dikucilkan, aku dibuang, aku anak pungut, aku pembunuh, dan aku tidak diinginkan tapi aku sering dimanfaatkan.


POV OFF EVE


Tala yang sedang berada di mansion sudah ditodong berkali-kali oleh pertanyaan dari Adya yang menanyakan di mana keberadaan Eve.


"Di mana kamu menyembunyikan Eve?" Tanya Adya untuk kesekian kalinya.


Tala tidak menggubrisnya karena Tala sudah menjawab pertanyaan dari Adya.


"Tala di mana kamu menyembunyikan Eve." Ucap Adya dengan kesal.


Tala menatap ke arah Adya yang sedang menahan emosi tersebut lalu berjalan mendekat. "Jangan marah-marah ingatlah kondisi kesehatan mu aku tidak ingin kesehatan mu menurun. Jangan pikirkan Eve cukup pikirkan kesehatan mu saja."


"Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak tau. Jika kamu terus bertanya di mana keberadaan Eve dan memikirkannya sehingga kondisi mu kembali drop lagi maka aku akan semakin membenci Eve." Ujar Tala.


Adya menatap Tala dengan pandangannya yang sangat terluka akan sikap Tala yang tidak memberikan perhatian kepada Eve dan tidak peduli.


"Manusia adalah tempatnya salah dan Tuhan selalu memaafkannya. Aku tidak ingin melihat wajahmu di hadapan ku jadi jangan muncul." Ucap Adya lalu langsung berbalik menggunakan kursi rodanya.


"Lihat bahkan kakak bicara tidak sopan terhadap suami sendiri karena terlalu memikirkan orang lain."


Adya menghentikan kursi rodanya. "Kamu juga tidak menghormati Eve." Adya tau bahwa Adya sangat salah telah membantah dan menentang Tala sebagai suaminya.


Tapi, kelakukan Tala sudah sangat keterlaluan menurut Adya. Adya tidak ingin Tala mengambil jalan yang salah dan menyesal di kemudian hari namun mata dan hati Tala sangat tertutup jika itu berkaitan dengan Eve.


"Kamu tau seberapa penting Eve bagi aku tapi kamu malah menjauhkannya dari aku. Aku berdoa kepada Tuhan semoga aku cepat diambilkan nyawanya." Ujar Adya.


"Kakak." Teriak Tala murka kepada Adya ketika mendengar perkataan tidak pantas yang keluar dari mulut Adya.


Suara lantang Tala untungnya tidak terdengar karena kamar yang ditempati Adya kedap suara


"Jangan berkata seperti itu kakak tau ucapan adalah doa jadi kakak jangan berbicara sembarangan." Ucap Tala dengan lembut sambil berjongkok di depan Adya yang sedang membuang muka ketika Tala berjongkok di depan kursi rodanya.


"Baiklah aku akan membawa dia kembali ke sini tapi tidak untuk sekarang. Tolong kakak jangan membantah walaupun usia kakak lebih tua dari aku tapi di sini aku adalah suami kakak." Ujar Tala lalu segera pergi dari kamar Adya setelah sempat mencium tangan Adya.


Adya meneteskan air matanya setelah Tala pergi dari kamarnya.


"Ya Tuhan kuatkan lah Eve dan berikan Eve kebahagiaan sesegera mungkin." Doa Adya kepada Eve.


"Sudah cukup Engkau memberikan kesulitan atas rumitnya jalan hidup yang dijalaninya sekarang berilah Eve kebahagiaan. Jika Eve bahagia dengan berpisah maka buatlah mereka pisah secepatnya. Aku tidak sanggup melihat Eve seperti ini."


"Aku salah dan egois karena memaksakan kehendak aku untuk membuat mereka menyatu seperti dulu."


"Aku tidak peduli lagi jika nantinya Tala menyesal jika kehilangan Eve. Dia sudah sangat cukup menyiksa jiwa Eve."


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2