Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 144. Kenapa Tidak Bilang!?


__ADS_3

Tala yang saat itu sedang rapat dan mendengar apa yang disampaikan oleh sekretaris Diego dari asisten Kaivan terdiam.


‘Kenapa kamu tidak bilang bahwa kamu ingin ke sana?’


“Izinkan dia.” Jawab Tala kepada sekretaris Diego yang bingung bukankah seharusnya Eve tidak usah ke sana bagaimana nanti jika terjadi sesuatu.


‘Kenapa dia mengizinkannya’


“Rapat ini selesai.” Ucap Tala membuat orang yang baru selesai presentasi merasa lega begitu juga dengan semua orang yang sedang duduk di tempatnya masing-masing.


Tala langsung pergi setelah mengatakan itu mengendarai mobilnya dengan diikuti sekretaris Diego di belakang sementara Geya merasa penasaran kenapa dengan sepupunya itu yang pergi dengan tergesa-gesa.


“Tuan.” Sapa pengawal saat melihat Tala sampai di lobi kantor sembari menyerahkan kunci mobil yang tadi sempat dimintai Tala kepada pengawalnya untuk menyiapkan segera mobil di depan lobi.


Eve keluar dari kantor polisi dengan pandangannya yang kosong merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Para polisi yang melihat merasa bingung sekaligus cemas begitu juga dengan para pengawal yang menunggu di luar apalagi melihat bahwa Nyonya muda mereka sedang tidak baik-baik saja.


Tala yang sudah sampai dan menunggu di depan parkir sembari menatap ke arah pintu masuk polisi diam dan dingin membuat suasana semakin mencekam.


Berjalan dengan kaki yang jenjang dan langkah yang tegas menghampiri Eve membuat Eve menatap ke arah Tala dengan pandangan kosong namun nanarnya.


Tanpa banyak bicara Tala langsung meraih tangan Eve dan membawa Eve masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil tidak ada yang bersuara semua sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


“Kenapa tidak bilang padaku bahwa kamu ingin ke sana?” Tanya Tala setelah akhirnya saling diam satu sama lain saat ini Tala sedang menghentikan mobilnya dan menepinya di samping jalan.


“Kenapa?” Tanya Eve merasa tidak percaya dengan apa yang didengarkannya bukankah seharusnya dirinya yang bertanya.


Tala menghela nafasnya, “apa kamu tidak percaya padaku?” Tanya Tala kembali tidak ada ekspresi yang selalu dia tunjukkan kepada Eve dengan wajah tengil dan menggodanya. Tatapan Tala sekarang adalah tatapan dingin yang selalu diterima oleh Eve waktu mereka awal menikah dan sebelum mereka berpisah.


“Kenapa?” Tanya Eve dengan lirih. Tala langsung membalikkan badan Eve agar menghadap ke arahnya.


“Bebaskan mereka.” Ucapan Eve membuat Tala tidak habis pikir, apa yang sebenarnya dibicarakan mereka kepada Eve.


“Tidak. Tidak akan pernah!” Eve melepaskan tangan Tala dari bahunya.

__ADS_1


Tala yang melihat itu merasa frustrasi dan kesal dengan dirinya sendiri, Tala pikir selama ini dirinya sudah cukup mengerti dan memahami Eve namun sepertinya dirinya salah. Mengerti dan memahami Eve adalah hal yang sulit.


“Kenapa?” Tanya Eve dengan datar dan air mata yang menganak di pelupuk matanya.


“Jangan menangis atau aku akan memberikan hukuman kepada mereka sesuai dengan hukuman ku.” Seru Tala dengan dingin, dari nadanya terdengar sangat frustrasi.


“Jika kamu tidak mau membebaskan mereka maka aku dan Orion akan pergi lagi!” Eve kali ini tidak kalah tegas hingga membuat Tala merasa tegang dibuatnya.


Tala memukul stir mobil untuk meluapkan kemarahannya sehingga membuat Eve tampak sangat ketakutan dan badannya bergetar.


Sadar akan apa yang dilakukannya telah menakuti istrinya membuat Tala merasa lemah dan tidak berdaya. “Maafkan aku.” Ucap Tala dengan lirih sembari memeluk badan Eve yang bergetar.


“Kenapa, kenapa mereka melakukan itu? Kenapa, apakah aku hidup di dunia ini sangat mengganggu?” Tala menggelengkan kepalanya kuat dan memeluk Eve dengan erat agar Eve kembali tenang jangan sampai pengobatan rawat jalan yang dilakukannya untuk kesembuhan mental Eve harus menurun drastis.


“Tidak. Keberadaan mu sama sekali tidak mengganggu.”


Eve melepaskan pelukan Tala dengan kuat, “tidak mengganggu!?”


“Buktinya mereka membunuh kedua orangtua angkat ku hanya karena kehadiran ku!” Teriak Eve dengan air matanya. Tala mengepalkan kedua tangannya mendengar teriakan histeris Eve.


“Tenanglah sayang.” Ujar Tala sembari memegang kedua pipi istrinya dan mengusap air mata Eve dengan ibu jarinya. “Jangan dengarkan mereka, cukup dengarkan apa yang aku katakan percayakan aku oke!”


Tala mengambil sesuatu di dalam dasbor mobil lalu menyuntikkannya di lengan Eve yang kini sudah menjambak rambutnya sendiri hingga akhirnya Eve kehilangan kesadarannya karena obat bius sekaligus penenang.


Ini adalah pertama kalinya Tala melakukannya kepada Eve setelah Eve didiagnosa PTSD oleh psikiater dan psikolog.


Tangan Tala merapikan rambut Eve yang ia jambak tadi lalu menatap tangan Eve yang dipenuhi oleh hasil jambakannya.


“Cepat cari tau apa yang mereka katakan tadi aku tidak mau tau pokoknya harus ada jawaban dan hari ini juga!” Ucap Tala di seberang telepon sedangkan si penerima bergetar menerima panggilan dari Tala apalagi mendengar perintah dan perkataan Tala.


Seharusnya tadi ia tidak membiarkan Eve masuk menemui mereka, seharusnya ia tidak mengizinkannya. Tidak, seharusnya ia tidak menunggu Eve di parkiran sampai istrinya itu keluar seharusnya ia masuk dan menemaninya. Lagi, lagi egonya mengalahkan segalanya.


Tala membawa Eve ke apartemennya, saat ini kondisi Eve sedang tidak baik-baik saja.


Telepon Tala berdering dan ia melihat bahwa itu adalah ayahnya yang menelpon.


“Tala bagaimana dengan keadaan Lizzy sekarang?” Tala menghela nafasnya dengan dalam sudah ia duga pasti cepat atau lambat akan sampai di telinga ayahnya tidak lama lagi kakak iparnya akan menelponnya dan ia harus siap untuk menerima cercaan dari kakak iparnya karena telah membuat adiknya menangis dan sedih.

__ADS_1


“Tidak baik. Aku sudah memanggil dokter dan psikiater mereka sedang menuju kemari” Jawab Tala dengan lemah dan lirih sembari menatap ke arah Eve yang tertidur karena obat bius. “Ayah bisakah tolong ambil Orion di kediaman kak Joha.” Pinta Tala.


“Baiklah. Kamu tenanglah Lizzy pasti akan baik-baik saja. Urusan dengan Johanes biarkan ayah yang mengurusnya nanti tenanglah.”


Panggilan telepon itu terputus, kini kembali berdering dan yang menelpon adalah kakak iparnya Johanes. “Bawakan adikku ke sini cepat.” Tidak ada keramahan di dalam nada bicaranya.


“Tidak dia akan tetap bersamaku.” Ucap Tala.


“Aku tidak mempercayaimu!” Tukas Joha membuat Tala mengambil nafasnya banyak-banyak mendengar perkataan dari kakak iparnya itu. “Kamu dengan santainya mengendurkan penjagaan mu begitu muda hingga kejadian seperti ini dan kamu mengizinkan adikku menemui mereka. Kamu tidak bisa menjaga adikku.” Teriak Joha dengan suara tertahannya.


Airen yang berdiri di samping suaminya hanya diam dan memeluk suaminya itu dari belakang agar tenang dan jangan marah-marah. “Walaupun kamu mempunyai banyak pengawal untuk menjaga Eve namun aku tetap menugaskan pengawalku untuk menjaga adikku walaupun itu ada kamu sekalipun. Tidak pernah aku mengendurkan penjagaannya dan kamu…” Joha memijat pelipisnya dan menggertakkan giginya.


Airen yang sedang memeluk Joha menyandarkan kepalanya di belakang suaminya sembari tangannya mengelus dada suaminya sesekali Airen mencium punggung suaminya itu.


“Antarkan adikku kepadaku dan menjauhlah selama-lamanya darinya aku sudah tidak percaya bahwa kamu bisa melindunginya.”


Tala menjadi tegang dengan perkataan kakak iparnya, “maafkan aku yang lalai menjaganya dan maafkan aku, aku tidak bisa melepaskannya dia dan Orion akan selalu bersama dengan ku selamanya.”


Joha yang mendengarnya semakin meradang, Airen langsung merebut ponsel dari tangan Joha sembari memberikan senyumannya kepada Joha dan mengecup bibir suaminya sekilas.


“Tala tolong jaga Lizzy dengan baik, Orion biarkan saja saat ini bersama dengan Jean kamu jangan khawatir fokuslah pada Lizzy. Jangan dengarkan perkataan kakak ipar mu kamu tau kan dia begitu karena sangat menyayangi Lizzy.” Setelah mengatakan itu Airen langsung menutup sambungan teleponnya lalu menatap suaminya yang tampak sangat kesal.


Airen berjalan mendekat ke arah suaminya itu dan mengalungkan tangannya di leher suaminya itu, “sayang suamiku ayahnya putriku Jean apa suamiku ini kesal?” Tanya Airen dengan senyuman dan tatapan menggodanya.


Joha melepaskan tangan Airen di lehernya namun Airen dengan cepat memeluk suaminya itu dengan erat dan mengelus punggung suaminya dengan pelan. “Maafkan aku bayi kita tidak mau melihat ayahnya marah dia takut.” Ucap Airen sembari mengarahkan tangan Joha di perutnya.


Joha menundukkan kepalanya menatap dalam manik mata istrinya yang sedang mendongakkan kepalanya, “dia ingin dijenguk oleh ayahnya.” Setelah mengatakan itu Airen langsung mencium bibir suaminya itu dengan agresif dan mendorong suaminya ke atas tempat tidur. Tangan nakalnya tidak segan-segan mengelus aset milik suaminya dan menatap ke arah suaminya dengan menggoda.


Joha berusaha untuk bangkit dan menyadarkan dirinya atar apa yang dilakukan oleh istrinya itu yang terlihat sangat menggoda. “Diamlah papi biarkan mami yang bekerja karena bayi di dalam perut mami menginginkannya.” Tidak Airen biarkan suaminya lepas darinya begitu saja ini adalah cara ampuh untuk menenangkan suaminya jika sudah tidak tenang lagi dipeluk.


Airen tersenyum kemenangan melihat suaminya yang terlihat mulai mengikuti hasratnya Joha memejamkan matanya ingin berucap karena ada pertanyaan di dalam benaknya.


Airen berbisik di telinga Joha, “simpan pertanyaannya nanti setelah selesai sekarang papi nikmati saja.” Bisik Airen dengan sensual dan menggigit telinga suaminya itu.


*Bersambung*


Maafkan Lunar yang nggak update selama dua hari ya gengs kesibukan di dunia nyata menyita waktu karena Lunar mau sidang skripsi.

__ADS_1


Selamat membaca


__ADS_2