
Eve yang mendengar perkataan Gulzar hanya memberikan senyumannya.
Senyuman yang diberikan Eve bukan senyum karena merasa suka dengan apa yang dikatakan Gulzar kepadanya.
Senyuman miris itu karena Eve sudah tidak bisa mempercayai siapa pun orang di sekitarnya sekarang.
Yang Eve percaya hanyalah Tuhan dan dirinya sendiri.
Setiap kali dirinya merasa terpuruk dan sedih hanya ada dirinya dan Tuhan yang melihatnya.
Rasa terharu apa yang diucapkan Gulzar kepadanya tidak terasa menyentuh hati.
Mungkinkah sekarang hati Eve terasa kaku akan sentuhan kasih sayang.
Atau karena Eve tidak mau berharap untuk berkali-kali nya bahwa dirinya akan jatuh kembali terpuruk.
Apa yang dijalani Eve dan apa yang akan terjadi ke depannya Eve hanya bisa pasrah menerima segala yang sudah menjadi takdir baginya.
Jika memang sudah menjadi miliknya maka tidak akan pernah menjadi milik orang lain.
"Terimakasih. Tapi, kak Zee tidak perlu melakukan itu. Sekarang Eve sudah terbiasa dengan kesendirian Eve." Ucap Eve.
Gulzar yang mendengarnya merasa sedih dan merasakan sakitnya apa yang diucapkan Eve sangat mendalam baginya.
Gulzar berpikir mungkin saking seringnya tersakiti sampai-sampai setiap perkataan yang diucapkan Eve menusuk.
"Kenapa kak Zee menatap seperti aku seperti itu?" Tanya Eve saat melihat tatapan Gulzar yang terus memandang ke arahnya.
"Apa karena kamu sudah menikah maka kamu tidak memerlukan aku lagi?" Tanya Gulzar.
Eve menatap Gulzar dengan dalam lalu menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Tidak, bukan karena itu. Tapi, karena mungkin aku sudah terbiasa menghadapinya sendiri " Ujar Eve sambil tersenyum.
"Lalu kenapa kak Zee tidak pernah memberi kabar dan membalas pesan aku?" Tanya Eve penasaran.
"Ouw aku tau mungkin kak Zee merasa bahwa pesan aku bukanlah hal yang penting selain dokumen dan kesibukan harian kak Zee." Ujar Eve dengan candaannya.
"Apakah aku seburuk itu selama ini." Ujar Gulzar yang masih memandang Eve yang sedang melihat bintang di langit malam.
"Kak Zee baru tau bahkan kak Zee sudah mau menginjak usia kepala tiga tapi kak Zee masih sibuk saja dengan kerja kantoran." Ucap Eve.
"Bukan...bukan karena itu." Ucap Gulzar dengan suara dalam dan pandangannya yang dalam kepada Eve.
Eve menolehkan kepalanya dan menatap mata Gulzar dengan tertegun. "Karena kamu sudah menikah."
Eve mengerjapkan matanya karena bingung setelah sempat tertegun mendengar perkataan Gulzar. "Memangnya kenapa dengan aku yang sudah menikah?"
"Karena kamu sudah ada yang bertanggungjawab dan melindungi kamu."
Eve yang mendengarnya tersenyum miris namun tidak Eve tunjukkan kepada Gulzar. "Kakak benar karena aku sudah berstatus jadi istri dan ada orang yang bertanggungjawab dan melindungi aku."
"Namun, tidak semua yang kak Zee bayangkan. Pernikahan ini terasa hambar dan sebentar lagi akan ada perceraian." Lanjut Eve dalam hatinya.
"Ini sudah jam berapa. Kak Adya pasti khawatir karena aku terlalu lama pergi ke toilet." Ujar Eve yang hendak bangkit namun ditahan oleh Gulzar.
Eve memandang tangannya yang digenggam oleh Gulzar. "Hanya Adya yang khawatir?" Ulang Gulzar.
Eve pun segera meluruskan. "Iya maksud Eve kak Adya akan merasa khawatir begitu juga dengan ibu Dhara dan ayah Davka." Lanjut Eve.
"Tala?" Tanya Gulzar menahan sesuatu di dalam dirinya.
__ADS_1
"Tentu saja kak Tala akan khawatir karena kan suami aku. Kak Zee ini bagaimana sih." Ucap Eve berusaha biasa saja.
Gulzar yang melihat sikap Eve yang agak canggung merasa ada yang aneh. "Apakah pernikahan mu baik-baik saja dan apa mereka memperlakukan kamu dengan baik?" Tanya Gulzar.
Eve bingung harus berbicara apa namun ada seseorang yang sedang menarik tangannya yang lain hal itu membuat Gulzar dan Eve menatap orang itu.
"Kamu sudah terlalu lama pergi." Ucap Tala dengan datar dan memandang Eve dengan dalam.
"Ayo sebaiknya kita pergi." Ucap Tala lalu melepaskan genggaman tangan Gulzar dari tangan Eve.
Eve hanya bisa diam dan menurut sambil berkata di dalam benaknya bahwa yang dilakukan Tala saat ini pasti karena Adya yang menyuruhnya.
"Bisakah kamu lebih lembut dengannya lagipula dia belum menjawab pertanyaan aku tadi." Ujar Gulzar.
Tala menghentikan langkahnya namun masih menggenggam tangan Eve. "Apa yang sedang ingin kamu Kulik? Perkara rumah tangga tidak boleh ada yang tau kecuali suami istri itu sendiri."
"Dan jangan khawatir kedua orang tua ku selalu memberikan kenyamanannya dan bahkan menganggapnya sebagai anak kandung mereka sendiri." Ucap Tala dengan dingin.
Eve menundukkan kepalanya mendengar perkataan Tala. "Dan ingat kamu bukanlah siapa-siapa nya sekarang."
Tala terus membawa Eve bersamanya. Eve merasa kebingungan kenapa Tala membawanya ke parkiran mansion.
"Kita mau ke mana. Kita belum pamit kepada kakek." Ujar Eve saat Tala menyuruhnya masuk ke dalam mobil melalui isyarat matanya.
"Apalagi yang kamu tunggu Elakshi Feshika." Ucap Tala dengan suara dinginnya.
"Aku tidak mau masuk aku mau masuk dan menemui kakek dan kak Adya saja." Ujar Eve namun Eve segera ditahan.
Tala yang melihat Eve hendak pergi segera menggenggam pergelangan tangan Eve hal itu membuat Eve menatap pergelangan tangannya yang digenggam oleh Tala.
"Apakah kamu tidak mau menuruti kehendak suami mu. Ingat aku adalah suami mu sekarang." Ucap Tala dengan wajah datarnya.
Eve yang terdiam segera masuk ke dalam mobil yang sudah dibuka oleh Tala.
Suasana terasa hening Eve kebingungan dengan sikap Tala. "Kita mau pergi ke mana ini bukan jalan pulang." Ucap Eve yang melihat ke sekitar luar jendela yang tampak gelap karena memang hari sudah malam.
Pikiran-pikiran negatif sudah masuk ke dalam benak Eve.
"Apakah aku akan dibuang lagi?" Tanya Eve dengan dirinya sendiri Eve sudah mulai merasa gelisah ketika dirinya terus bertanya-tanya akan kata dibuang.
Eve memegang telinganya dan duduk dengan menyudutkan dirinya ke samping mobil.
Tala yang sedang menyetir melirik ke arah Eve sekilas dan memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apakah aku dibuang." Ucap Eve dengan lirih dengan air mata yang sudah mulai bercucuran dan keringat yang membasahi dahinya.
Tala hanya diam saja. "Tidak jangan buang aku. Jangan buang aku. Aku mohon." Ucap Eve yang kini sudah menangis histeris.
Tala yang semula menyetir segera menghentikan mobilnya ketika mendengar suara jeritan histeris Eve.
Memandang Eve dengan tajam dan diamnya. "Tidak, tidak jangan buang aku. Aku mohon jangan buang aku." Ucap Eve.
Tala menyentuh lengan Eve hal itu membuat Eve menatap dalam manik mata Tala yang sedang menatap Eve dengan diam.
Eve segera memeluk Tala dengan erat. "Tidak, aku mohon jangan buang aku jangan buang aku. Tolong, aku tidak mau." Ucap Eve memeluk Tala dengan erat.
Tala merasa sangat susah bernafas akibat pelukan Eve yang terlalu kencang. "Aku...aku...aku akan melakukan apa pun asal jangan buang aku lagi."
"Aku mohon jangan buang aku." Ucap Eve menangis lalu tiba-tiba tidak ada suara lagi dan pelukan Eve semakin mengendur.
Tala segera melepaskan pelukan Eve kepada dirinya dan melihat Eve yang kini sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Memandang lama Eve yang sedang pingsan lalu segera menyandarkan Eve ke posisi semula dan melajukan mobilnya.
Mobil Tala berhenti di sebuah gedung yang bertingkat dan sangat mewah.
Gedung di mana apartemen mewah milik Tala berada. Tala menggendong Eve yang sedang tidak sadarkan diri itu.
Menaiki lift khusus yang memang sengaja dibuatkan untuk dirinya dan memencet tombol yang paling tinggi.
Gedung ini adalah salah satu gedung milik keluarga Werawan dan Tala lah yang membuat proyek gedung ini menjadi apartemen.
Gedung ini dipenuhi dengan kaca dari seluruh gedungnya.
Jika dilihat gedung ini memiliki lima puluh enam lantai namun kenyataannya gedung ini memiliki lima puluh delapan lantai.
Ini terjadi karena ada ilusi optik yang memang sengaja dirancang sendiri oleh Tala sebagai arsiteknya. Tala membuatnya karena memang terkadang Tala memerlukan privasi untuk menjalankan apa yang menjadi rahasia bagi dirinya.
Tala merebahkan Eve di kasur king size miliknya yang berwarna putih dari sprei sarung bantal dan bed cover.
Jika di mansion kamar Tala bernuansa hitam maka sebaliknya kamar Tala di apartemen bernuansa putih.
Memanggil seseorang perempuan yang menjadi orang kepercayaannya untuk mengganti pakaian Eve dengan pakaian yang lebih nyaman.
Sementara Tala setelah selesai membersihkan badannya mengirim pesan kepada Adya dan juga kepada ibu dan ayahnya bahwa dirinya dan Eve akan menginap di apartemen miliknya.
Adya ibu Dhara dan ayah Davka yang melihat isi pesan tersebut merasa senang.
Mereka berpikir bahwa hubungan Tala dengan Eve semakin baik oleh karena itulah Eve pergi terlalu lama ke toiletnya.
Apalagi saat mereka menanyakan di mana Eve dan Tala bilang bahwa Eve sedang tidur karena merasa sangat kelelahan.
Ketiganya sudah memikirkan hal yang berlebihan bahkan ayah Davka memberikan nasihat kepada Tala. "Jangan terlalu memaksa berikan Eve waktu istirahat akan ada esok buat kalian bisa melakukannya."
Tala yang mendengar telepon singkat dari ayahnya hanya mengernyit heran mendengar perkataan ayah Davka.
Seorang perempuan yang tidak lain adalah salah satu pengawal miliknya yang tentunya setia kepada dirinya keluar dari kamarnya.
"Tuan muda saya sudah mengganti pakaian Nona muda dan mengelapnya dengan air. Sepertinya Nona muda sedang tidak baik-baik saja sekarang." Ujar pengawal perempuan itu.
"Oh iya Tuan muda tadi saya memberikan obat bius sekaligus vitamin untuk Nona muda agar Nona muda bisa beristirahat lebih lama. Jadi, jangan merasa khawatir jika Nona muda tidak bangun-bangun. Kemungkinan efek obatnya bisa hilang sampai besok."
"Karena yang saya lihat dan periksa kondisinya Nona muda terlihat lemah dan lelah baik psikis dan fisiknya." Ucap pengawal wanita.
Tala menganggukkan kepalanya. "Aku sudah mengirimnya. Apa kamu sudah melihatnya?" Tanya Tala kepada pengawal yang itu.
"Sudah Tuan muda." Pengawal wanita
"Kamu tau kan apa yang harus dilakukan." Ucap Tala lagi kini Tala melangkahkan kakinya di dekat jendela kaca.
Pemandangan yang dilihat Tala sangat menarik apalagi di malam hari. Lampu mobil, gedung-gedung dan gelapnya malam. Semakin malam semakin ramai.
"Iya Tuan muda kami sudah mencari taunya." Jawab pengawal wanita itu lagi.
"Apakah ada yang ingin Tuan muda bicarakan lagi?" Tanya pengawal wanita itu Tala membalikkan badannya dan menggelengkan kepalanya.
"Saya pamit undur diri Tuan muda jika ada lagi yang dibutuhkan saya segera siap membantu dan melayani." Ujar pengawal perempuan tersebut kepada Tala. Sementara Tala hanya diam dan mendengar saja karena dirinya sudah terbiasa dengan hal itu.
Mungkin eskpresi yang diberikan adalah yang terbaik bagi Tala hanyalah senyuman paksa yang dipaksakan oleh Adya.
Tala merebahkan tubuhnya di sofa dengan meletakkan sebelah tangannya di atas jidatnya.
Kepala Tala terasa pusing memikirkan banyak hal yang terjadi dan apa yang dirasakannya sangatlah berbeda dengan apa yang dilakukannya.
__ADS_1
*Bersambung*