Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 29. Manja


__ADS_3

Eve kembali ke kamar dirinya dengan Tala. Saat Eve membukakan pintu kamar Tala duduk bersandar di kepala ranjang sambil memejamkan kedua matanya.


"Aku bilang jangan pergi." Ucap Tala dengan dingin dan masih dengan matanya yang terpejam.


Eve yang mendengarnya menatap Tala dengan kebingungan Eve masih belum mengerti apakah Tala sadar atau tidak dengan ucapannya.


"Maafkan aku, aku tidak tahan melihat bekas mangkok kotor di kamar. Lagipula kalau ada semut bagaimana nanti ke tempat tidur dan masuk telinga."


Tala membukakan kedua matanya menatap Eve dengan tajam membuat Eve kembali merasa gugup saat Tala memandangnya seperti itu.


Tala merebahkan tubuhnya dan berbaring menyamping. Eve yang melihatnya menghela nafas dan duduk di samping Tala lebih tepatnya di belakang punggung Tala yang sedang tidur menyamping ke kanan.


"Apakah ada yang kamu butuhkan? Apakah kepalamu terasa pusing? Kalau pusing aku bisa memijat mu jika kamu izinkan." Ujar Eve.


Namun Tala hanya diam saja sambil memejamkan kedua matanya dengan tangan yang dilipat di depan dada.


Eve menghela nafasnya dengan lelah. "Jika ada yang sakit katakanlah maka aku akan membantumu setidaknya sebagai seorang dokter."


Tala membukakan matanya lalu membalikkan badannya sehingga berhadapan dengan manik mata Eve.


Keduanya saling memandang dan terdiam entah apa yang di dalam pikiran masing-masing hanya mereka berdua yang tau.


"Ekhm, kalau kamu tidak berbicara bagaimana bisa aku tau. Kalau kamu merasa tidak nyaman dengan aku maka anggaplah aku sebagai dokter mu." Ucap Eve.


"Kenapa kamu selalu tidak mendengarkan ku." Ucap Tala dengan datar membuat Eve kebingungan karena selama ini menurut Eve dirinya selalu menuruti ucapan pria ini.


Tala yang melihat Eve terdiam segera membuat Eve berbaring di sisinya membuat Eve kaget dengan apa yang dilakukan Tala.


"Aku menyuruhmu jangan pergi bisakah kamu mendengarkan aku." Ucap Tala datar dan langsung memeluk Eve dan bersembunyi di dada Eve.


Eve masih mengerjapkan kedua matanya yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi tidak lebih tepatnya apa yang dilakukan Tala apakah Tala menyadarinya atau tidak.


"Jangan bergerak kepala ku sangat pusing." Ucap Tala membuat Eve berhenti bergerak gelisah.


Eve menggigit bibir dalamnya untuk menahan rasa gelisah nya. Eve takut Tala bisa mendengar suara detak jantungnya yang sedang memompa dengan cepat dengan keadaan Tala yang memeluknya erat seperti ini.


Tala tidak mempedulikan lagi Eve yang terdiam yang dipikirkan Tala adalah bagaimana dirinya bisa mengurangi sakit di kepalanya yang terasa sangat pusing.


Nafas Tala sudah teratur itu artinya Tala kembali tidur. Eve bergerak sedikit untuk merenggangkan pelukan Tala yang melilit di tubuhnya.


"Apakah kalau sakit dia bisa manja ke semua orang?" Tanya Eve di dalam pikirannya melihat Tala yang begitu manja kepadanya.


"Apakah dia menyadari apa yang dia lakukan?" Tanya Eve kembali. Tidak henti-hentinya Eve bertanya-tanya di dalam benaknya.


Daripada dirinya dibuat melayang oleh perbuatan Tala kepadanya hari ini lebih baik Eve berpikir sesuai yang dikatakan oleh ibu Dhara jika Tala sedang sakit maka Tala akan bersikap manja.


Eve tidak mau berpikir terlalu jauh atau menganggapnya bahwa Tala sudah ada rasa kepadanya. Tala seperti ini hanya karena dirinya yang sedang sakit.


"Tapi, semalam dia terlihat baik-baik saja. Bahkan dia masih mandi malam dan sangat lama sampai aku terlelap."


"Apakah dia sebegitu jijiknya kah dengan aku karena aku sudah menggoda dan menciumnya tapi dia sangat agresif."


Eve terus berpikir di dalam benaknya mengenai sikap Tala yang sangat aneh dan sering berubah-ubah sampai akhirnya karena tidak kuasa lagi akhirnya Eve juga ikut terlelap dengan Tala yang memeluknya erat.


Adya membukakan pintu untuk mengintip apa yang sedang dilakukan oleh Tala dan Eve.

__ADS_1


Beruntungnya pintu kamar Tala dan Eve tidak terkunci.


Saat Adya melihat dua seonggok manusia yang sedang tertidur dengan Tala yang memeluk Eve dan Eve yang hanya bisa pasrah membuat Adya tersenyum.


"Beruntung aku selalu membawa kamera." Ucap Adya dengan lirih sambil tertawa cekikikan yang yang ditahan agar tidak membangun kedua orang yang sedang tertidur tersebut.


Cekrek, cekrek, cekrek


Adya mengambil tiga foto dengan arah yang berbeda. Adya melihat hasil jepretannya merasa sangat puas.


"Selamat tidur adik-adikku mimpi yang indah." Ucap Adya sebelum menutup pintu dengan pelan.


Beberapa jam kemudian Eve membuka matanya karena merasa bahwa perutnya sangat lah lapar.


Tapi, di sampingnya sudah tidak ada Nabastala hal itu membuat Eve segera bangkit dari posisi tidurnya.


Namun sayang Eve terhuyung sehingga membuat tulang keringnya terbentur pinggiran ranjang hak itu membuat Eve mengaduh.


Tala yang duduk di sofa sudah memperhatikan Eve ketika Eve mulai bergerak namun Tala tetap diam dan hanya melihat.


Eve yang mengaduh kesakitan lalu matanya menangkap siluet orang yang dikhawatirkannya sedang duduk di sofa.


Menahan rasa sakit di tulang keringnya sehingga langkah kakinya terlihat agak pincang.


Eve mendekat ke arah Tala dan memeriksa tubuh Tala membuat Tala yang terduduk terdiam dengan apa yang dilakukan Eve apalagi posisi mereka yang semakin dekat dengan Eve yang menahan tubuhnya dengan salah satu tangannya yang berada di sofa tepatnya di samping bagi Tala.


"Sudah tidak panas lagi." Ujar Eve lalu memeriksa di samping leher Tala. Eve masih belum menyadari posisinya saat ini yang begitu dekat dengan Tala.


Saat Eve hendak bangkit Eve terhuyung sehingga membuatnya terjatuh di atas pangkuan Tala.


Eve memekik penuh kekagetan lalu matanya menatap ke arah Tala yang juga sedang menatap ke arahnya. "Hah, maafkan aku." Ucap Eve yang segera bangkit dari atas pangkuan Tala.


Tala memajukan wajahnya ke wajah Eve membuat Eve memejamkan kedua matanya tanpa sadar.


"Apakah kamu sudah mulai berani menggodaku." Ucap Tala dengan nada yang datar dan suaranya yang serak berbisik di telinga Eve.


Eve yang memejamkan matanya membuka kedua matanya dan melihat bola mata Tala dari dekat. Jarak keduanya hanya terpisah di antara hidung mancung mereka saja.


Jantung Eve terasa berdetak begitu kencang apalagi dirinya menatap mata Tala yang setajam elang.


"Berdiri." Ucap Tala membuat Eve tersadar dan segera membangkitkan dirinya.


"Maafkan aku. Aku hanya ingin memeriksa kondisi mu apakah demam mu sudah turun atau belum." Ujar Eve dengan kedua tangan yang ditangkupkan di depan kedua pahanya.


"Lalu bagaimana?" Tanya Tala.


"Aku rasa sudah sembuh tapi kak Tala harus minum obat terlebih dahulu dan tidak melakukan pekerjaan untuk hari ini. Jadi kak Tala harus istirahat full jangan memikirkan pekerjaan."


"Jika kak Tala tidak suka aku yang mengasih tau sebagai istri maka kak Tala harus mendengar aku sebagai dokter. Jika kak Tala tidak mau mendengarkan maka akan aku adukan kepada ibu dan ayah." Ucap Eve.


Ya ampun Eve kamu berani sekali dan kamu sudah mulai mengancam suami mu.


"Kamu sudah mulai berani ya." Ucap Tala dengan dingin.


"Ekhm aku permisi dulu kak mau makan siang. Apakah kak Tala sudah makan siang atau belum." Ucap Eve yang ingin segera menghindar dari tatapan tajam Tala.

__ADS_1


"Menurutmu?" Tanya Tala


"Aku tidak tau." Jawab Eve dengan wajah polosnya.


"Kalau kakak belum makan maka aku akan mengambilnya buat kakak." Ujar Eve.


Eve langsung keluar dari kamar dan memegang dadanya dengan kedua tangannya.


"Dia sudah kembali seperti semula." Ucap Eve sambil menggelengkan kepalanya. "Kenapa aku semakin berani seperti ini."


Eve melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur jam sudah menunjukkan pukul setengah dua itu artinya seluruh keluarga sudah makan siang.


Di dapur Eve bertemu dengan kepala pelayan dan beberapa pelayan yang sedang sibuk membersihkan piring-piring dan menyimpan lauk yang masih ada.


"Nona Eve, apakah Nona mau memakan sesuatu katakan saja biar bibi yang panaskan atau mau dimasak yang baru?" Tanya kepala pelayan.


Eve menggelengkan kepalanya. "Eve makan yang sudah ada saja bibi. Lagipula itu masih banyak juga. Tapi, apakah Eve bisa minta tolong untuk buatkan sop ayam bening buat kak Tala?" Ucap Eve.


Kepala pelayan tersenyum, "Tuan muda sudah makan siang Nona tadi bibi masakin Tuan muda sop ayam bening sesuai perintah dari Nyonya."


Eve menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terimakasih kepada bibi dan pelayan yang telah menyiapkan makanan dan menyaksikan di hadapannya.


"Apakah Nona tidur dengan nyenyak?" Tanya kepala pelayan tiba-tiba sambil menunggu Eve selesai makan.


Eve menatap ke arah kepala pelayan yang sedang menatapnya dengan tersenyum hal itu membuat Eve kebingungan.


"Iya tadi Eve ketiduran menjaga kak Tala. Tapi, syukurlah demam kak Tala sudah normal hanya perlu istirahat saja." Ucap Eve.


"Bibi apakah kak Adya dan kakek meminum obat dan vitamin mereka?" Tanya Eve.


"Sepertinya yang Nona perintahkan Nona Adya dan Tuan besar sudah meminum obat dan vitaminnya." Ucap kepala pelayan dengan terus tersenyum.


"Sepertinya bibi sangat senang hari ini. Bibi duduklah di sini jangan berdiri di sana jangan sungkan kepada Eve."


Kepala pelayan yang sudah tau karakter dari Nona mudanya ini segera menurutinya karena kalau tidak dituruti maka Nona mudanya ini akan terus menyuruhnya sampai ia mau melakukannya. Tapi, sejauh ini adalah semuanya baik dan sesuai kepribadian dan paras yang dimiliki.


"Apa yang membuat bibi sangat senang?" Tanya Eve penasaran dan memasukkan lagi sesuap nasi serta lauk ke dalam mulutnya


"Bibi hanya merasa senang saja Nona melihat Nona berada di mansion ini dan memberikan kebahagiaan."


"Nona juga sangat baik dan cantik." Ujar kepala pelayan.


"Bibi jangan terlalu memuji Eve nanti telinga Eve semakin lebar." Hal itu membuat kepala pelayan tertawa mendengarnya.


"Kenyataannya Nona memang sangat baik dan sangat cantik." Eve hanya tersenyum dirinya sudah biasa mendengar kalimat pujian itu.


Tapi, Eve seperti biasa hanya menganggap sebagai angin lalu saja.


Eve tidak ingin dia menjadi sombong akan pujian itu dan Eve melakukan yang menurutnya baik karena ingin berbuat baik dan berguna bagi sebagian orang yang masih bisa menerima dan mengharapkan pertolongan dan perasaan dihargai saling menghargai satu sama lainnya.


Tinggal di mansion ini benar-benar membuat Eve merasa nyaman dan mungkin hal yang sangat dirindukannya nanti jika dia sudah bercerai dengan Tala.


Mata Eve berkaca-kaca. "Ah pedas bibi mata Eve sampai berair." Ujar Eve sambil tersenyum.


Kepala pelayan tau bahwa itu bukan karena rasa pedas melainkan air mata yang menganak dan hendak keluar itu adalah air mata apa yang sedang dipikirkan Eve.

__ADS_1


Namun kepala pelayan hanya tersenyum agar Eve merasa nyaman dan santai dengannya.


*Bersambung*


__ADS_2