
Setelah sarapan Eve langsung pergi ke rumah sakit di dalam perjalanan tidak hentinya wajah Eve tersenyum. Hal itu juga menambah suasana di dalam mobil lebih cerah. Sopir dan pengawal Eve yang menatap bahwa Nona muda mereka sudah kembali juga tersenyum senang.
Walaupun mereka tidak tau bahwa senyum yang ditunjukkan oleh Nona muda itu palsu untuk menutupi hatinya yang kosong atau tidak tapi mereka sangat senang setidaknya Nona muda mereka mulai bangkit kembali.
Eve memandang ke arah jalan di sekitarnya dan menikmati suasana yang berada di luar setelah satu bulan lamanya dirinya tidak keluar rumah. “Nona apakah Nona ingin berhenti di suatu tempat untuk membeli sesuatu?” Tanya sopir kepada Eve.
Eve tersenyum sebelum menjawab. “Tidak terimakasih pak kita langsung ke rumah sakit saja.” Jawab Eve dan sopir menganggukkan kepalanya mendengar permintaan Eve.
Tanpa Eve tau bahwa pengawal yang ditugaskan untuk menjaganya bertambah banyak di luar hanya saja Eve tidak tau bahwa pengawalnya bertambah yang Eve tau bahwa dirinya hanya punya lima pengawal saja yang akan mengawalinya ke mana pun dirinya pergi.
Pengawal yang ditambahkan dengan sengaja oleh Tala atas perintah dari kakek Werawan kepada Eve bertambah menjadi lima kali lipat. Namun, Tala memberikan perintah agar jangan kentara dan berpakailah seperti orang biasa.
Dokter Raka yang sedang berjalan di lobi dan hendak pulang dari shift malam sampai paginya terkejut melihat bahwa wanita yang membuatnya jatuh hati ada di rumah sakit dengan pakaian dokternya.
Dokter Raka datang mendekat ke arah Eve yang sedang menyapa semua orang. “Selamat pagi dokter Elakshi.” Sapa dokter Raka menghentikan langkah kaki Eve yang hendak ke ruangannya.
Eve memberikan senyumannya dan hal itu membuat dokter Raka juga ikut tersenyum karena sangat jarang Eve memberikan senyumannya kepada dirinya. “Senang melihat dokter Elakshi kembali bekerja. Banyak pasien yang menanyakan dan merindukan keberadaan dokter Elakshi.” Ucap dokter Raka. “Termasuk aku.” Lanjut dokter Raka di dalam hatinya.
“Benarkah.” Ucap Eve berbinar. “Aku juga sangat senang bahwa sudah bekerja kembali dan aku sangat merindukan pasienku.” Ungkap Eve dengan wajah berbinarnya dokter Raka semakin terpesona melihat wajah yang terus tersenyum itu.
“Apakah dokter Raka mendapatkan shift malam dan hendak pulang?” Tanya Eve yang melihat dokter Raka menenteng tas kerjanya dan menyampirkan jasnya di lengannya. Dokter Raka tidak bisa mengelak karena memang arahnya adalah keluar dan dirinya sudah menenteng tas.
Jika dirinya tau bahwa Eve akan bekerja hari ini dirinya harus menyiapkan diri dan tidak hendak duluan karena sudah selesai dengan shift malamnya. “Iya dokter Elakshi.” Jawab dokter Raka sambil memegang rambut belakangnya dan tersenyum kikuk.
“Kalau begitu selamat beristirahat dokter Raka. Saya pamit ke ruangan saya.” Ujar Eve lalu melangkahkan kakinya dengan riang.
Dokter Raka melihat punggung Eve sampai Eve menghilang dibalik lorong yang mengarah ke ruangan kerja dan istirahatnya.
“Sadarlah Raka dia sudah menikah dan sepertinya hubungannya dengan suaminya semakin baik.” Gumam dokter Raka sambil menyadarkan dirinya bahwa wanita yang membuatnya jatuh hati sudah bersuami.
“Apakah dokter Raka menyukai dokter Elakshi.” Tanya suster yang sedari tadi melihat interaksi di antara dokter Raka dan Eve.
“Sepertinya iya. Siapa yang tidak suka dengan dokter Elakshi. Ibaratnya dokter Elakshi adalah paket lengkap udah cantik, baik, rendah hati, ramah sangat cantik karakternya sesuai dengan wajahnya.” Timpal suster lain.
Di dalam ruang kerjanya Eve memegang dadanya dan menghembuskan nafasnya dengan lega. “Kamu bisa Eve, selangkah demi selangkah.” Ucap Eve dengan dirinya.
Di tempat lain tepatnya di ruang kerja Tala, Tala melihat sebuah gambar yang ditunjukkan anak buahnya di mana terlihat bahwa Eve dengan ramah menyapa teman sejawat dan pasiennya.
Tala memang sengaja untuk setiap hari menyuruh pengawalnya memberikan informasi mengenai apa yang dilakukan Eve terutama saat wanita itu dalam bahaya sesuai yang diperintahkan oleh kakek Werawan.
Tala tidak ingin kecolongan untuk kedua kalinya dan tidak ingin ditegur oleh kakek Werawan akibat ketidaktelitiannya. Selain itu, yang Tala lakukan agar dirinya dan Adya tidak bertengkar dan berdebat mengenai ketidakperhatiannya kepada Eve.
Jika Adya memberikan protes dan memulai pertengkarannya Tala akan menunjukkan foto-foto yang dikirimkan oleh pengawalnya. Menurut Tala ini lebih dari cukup yang didapatkan Eve atas perhatiannya.
Tala tidak ingin membuat Eve besar kepala bahwa dirinya sudah bersikap lunak dan berpikir bahwa dirinya sudah mulai membuka hatinya kembali. Selamanya tidak akan itu yang akan Tala benamkan di dalam pikiran dan alam bawah sadarnya.
Dapat Tala lihat Eve yang terlihat senang berbicara dengan seorang dokter yang Tala tidak kenal dan tidak tau siapa namun untuk menghindari sesuatu hal yang tidak diinginkan Tala memerintahkan kepada pengawalnya untuk segera mencari informasi mengenai dokter yang berbicara dengan Eve.
__ADS_1
“Huh, apakah dia senang karena bertemu dengan dokter itu makanya dari tadi tersenyum. Rupanya kamu sudah menunjukkan taringmu.” Gumam Tala saat melihat Eve yang begitu akrab dari foto yang dikirimkan pengawalnya melalui e-mail.
Hari demi hari Eve lalui dan bekerja sebagai layaknya dokter pada umumnya melakukan operasi dan hal itu adalah kesenangan yang Eve rindukan suatu hari nanti.
Eve akan mengingatnya dalam kenangannya dan fokus pada apa yang ada di hadapannya agar kenangan itu masuk ke dalam benaknya dan kenangan yang sedih sedikit demi sedikit teralihkan. “Kamu harus mengingatnya karena suatu hari nanti kamu akan merindukannya.” Gumam Eve yang terus tersenyum dengan wajah cerianya.
“Apakah kamu mau makan siang?” Tanya dokter Raka yang melihat Eve keluar dari ruang operasinya. Kini di antara keduanya sudah berbicara dengan santai. “Di kantin ada menu kesukaan mu aku lihat.”
“Benarkah, kalau begitu ayo kita makan siang lagipula perut aku sudah berbunyi semenjak kamu bilang bahwa menu kesukaan aku ada di kantin.” Ucap Eve dengan semangat dan hal itu membuat keduanya tertawa bersama.
“Kalau begitu aku tunggu di depan ruanganmu.” Ucap dokter Raka karena dirinya pasti tau bahwa Eve akan mengganti baju operasinya dengan bau yang dipakainya dari rumah.
Dokter Raka memainkan ponselnya sambil tersenyum menatap potret yang ada di dalam galeri ponselnya sampai tidak menyadari kehadiran Eve yang sudah keluar dari ruangannya. “Sepertinya itu adalah orang yang spesial sampai membuatmu tersenyum begitu cerah saat menatapnya.” Ucap Eve.
“Kamu mengagetkan ku saja.” Ujar dokter Raka yang segera mematikan ponselnya dan tersenyum kikuk.
“Apakah dia sangat cantik sampai membuat dokter Raka yang dikagumi oleh para suster ini tersenyum dengan lebarnya.” Goda Eve membuat telinga dokter Raka memerah karenanya.
“Lihat telingamu memerah, pasti kamu sangat malu iyakan.” Ujar Eve sambil menunjukkan wajah usilnya kepada dokter Raka.
“Ternyata kamu sangat suka menjahili orang.” Ungkap dokter Raka membuat keduanya tertawa bersama selama perjalanan ke kantin.
Tala dan Adya tiba di rumah sakit karena untuk melakukan pemeriksaan rutin yang harus dilakukan oleh Adya dan hari ini adalah jadwal rutinnya.
Tala mendorong kursi roda Adya dan berjalan di lobi rumah sakit. Semua mata memandang ketika melihat Tala yang senantiasa mendorong Adya. Para perawat dan dokter sudah biasa melihat seorang pria yang setia mendorong kursi roda seorang wanita.
“Bisakah sebelum pulang nanti kita ke ruangan Eve aku sangat merindukannya.” Pinta Adya dan dengan segera diangguki oleh Tala.
Lalu kedua mata mereka memandang ke arah depan di mana Eve berada sedang mengobrol dengan nyaman bersama seorang pria. Bahkan mereka berdua tertawa tanpa memperhatikan semua orang yang menatap mereka dengan pandangan yang berbeda termasuk Tala dan Adya.
“Sepertinya Eve menemukan teman di rumah sakit. Baguslah, dokter itu membuatkan Eve tersenyum. Ternyata selama ini aku terlalu mengkhawatirkan bahwa Eve hanya pura-pura ceria ternyata tidak.”
“Aku senang bahwa dokter itu memberikan senyuman kepada Eve. Benar bukan?” Tanya Adya dan mendongak melihat wajah Tala yang hanya diam dan memandang kepergian Eve dan dokter yang diketahuinya bernama Caraka Arkatama.
Adya tersenyum melihat Tala yang terdiam ketika melihat pemandangan bagaimana lepasnya Eve tertawa bersama dokter itu. “Mereka terlihat sangat cocok dan serasi. Sepertinya aku harus berkenalan dengan dokter itu yang telah memberikan senyuman cerah bagi Eve.” Di dalam hatinya Eve tertawa senang melihat wajah Tala.
Tala yang mendengar Adya terus memuji dokter itu tidak menggubrisnya dan masih menatap ke arah Eve dan dokter Raka yang sudah menghilang dari pandangannya. “Ekhm, Eve sudah pergi apakah kita jadi ke ruang pemeriksaan.” Ucap Adya.
Tala yang sadar kembali mendorong kursi roda Adya, “menurut ku dokter yang bersama Eve tadi sangat tampan kelihatannya sangat baik dan jatuh hati kepada Eve.” Ucap Adya memanasi Tala.
Tala hanya diam dan pikirannya melayang melihat interaksi di antara Eve dan dokter Raka. “Bukankah kamu pernah menunjukkan foto Eve dan dokter itu kepadaku sebelumnya. Apakah kamu tau nama dokter itu, pasti tau kan.” Ucap Adya.
“Untuk apa kamu perlu tau nama dokter itu.” Ujar Tala dengan wajah datarnya, mendengar hal itu membuat Adya tidak henti mengulum senyumnya. Sekarang dirinya tau bagaimana memanasi Tala yang memiliki gengsi yang sangat tinggi.
“Aku hanya ingin mengenalnya lebih jauh apalagi wajahnya begitu tampan dan berterimakasih kepada dokter tampan itu karena sudah membuat Eve ku tersenyum.” Ucap Adya.
Tala rasanya merasa sangat kesal mendengar Adya yang terus membicarakan dokter Raka dan interaksi keduanya. “Jangan melihat orang dari sampulnya. Cukup kamu hanya fokuskan pada kesembuhan kamu.”
__ADS_1
Adya tidak henti-hentinya tersenyum saat melihat wajah Tala yang sangat kesal karena dirinya.
Di dalam kantin Eve dan dokter Raka makan dalam satu meja. Mereka menikmati makanan mereka sambil berbincang santai.
Dari depan pintu kantin ada sepasang mata yang menatap keduanya. Eve yang tertawa lalu matanya bertemu dengan sepasang mata tajam di depan pintu kantin yang menatap ke arah dirinya dan dokter Raka.
Tala yang disuruh Adya untuk membelikan minuman dan cemilan segera pergi ke kantin. Adya memang sengaja melakukan itu karena ingin memanaskan Tala melihat kedekatan Eve dan dokter Raka.
Tala berjalan ke rak makanan dan minuman lalu ke kasir tanpa menghiraukan tatapan Eve yang melihat ke arahnya.
Sementara dokter Raka terus berbicara dan Eve hanya tersenyum menyimak mendengarnya dan sesekali perhatian Eve terbagi melihat suaminya yang sama sekali tidak datang menyapanya.
Menghela nafasnya dengan panjang membuat dokter Raka berhenti berbicara. “Kenapa apakah kamu bosan mendengar ceritaku?” Tanya dokter Raka yang melihat Eve menghela nafas dengan begitu keras.
“Tidak hanya saja aku kekenyangan karena makanan ini sangat enak dan ini adalah makanan kesukaan aku.” Ucap Eve terkekeh dan hal itu membuat dokter Raka tertawa melihatnya.
Tala segera pergi dari kantin tanpa melihat ke arah Eve dan dokter Raka lagi yang asik dengan dunianya sendiri.
“Apakah kamu sudah selesai?” Tanya Eve kepada dokter Raka. Dokter Raka mengangguk dan menjawab iya kepada Eve. “Kalau begitu ayo kembali ke ruangan untuk beristirahat di ruang masing-masing.” Ucap Eve yang terkesan terburu-buru.
“Apakah kamu ada pekerjaan?” Tanya dokter Raka.
“Tidak hanya saja aku lupa bahwa hari ini ada pemeriksaan rutin kak Adya jam segini.” Jawab Eve dengan jujur walaupun tidak sepenuhnya. Karena sebenarnya Eve merasa tidak nyaman melihat tatapan Tala yang menghunus tajam kepadanya.
Eve merasa bahwa dia baru saja kepergok selingkuh oleh suami yang tidak mencintainya. “Baiklah kalau begitu.” Ujar dokter Raka.
Dokter Raka dan Eve berpisah saat mereka berada di depan ruangan mereka masing-masing. Eve yang baru saja masuk ke dalam ruangannya segera keluar dan menuju ke ruangan di mana Adya biasa melakukan pemeriksaannya.
Di luar ruangan Adya melihat bahwa suaminya itu sedang duduk di ruang tunggu tidak seperti biasanya. “Kenapa kak Tala nggak masuk?” Gumam Eve dari jauh.
Eve segera berjalan mendekat ke arah suaminya. “Apakah kak Tala sedang tidak enak badan?” Tanya Eve kepada Tala yang melihat Tala terlihat sangat lelah dengan menyandarkan kepalanya ke atas sambil memijitkan keningnya.
Tala yang mendengar suara wanita yang tersenyum dengan cerah di kantin tadi menatap ke arah Eve dengan tajam. “Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa kamu harus menjaga perilaku mu ingat bahwa kamu adalah menantu keluarga Werawan jangan membuat nama keluarga aku buruk di mata orang lain.” Ucap Tala dengan tajam lalu segera masuk ke dalam ruang pemeriksaan Adya.
Eve terdiam mendengar perkataan pedas dari suaminya yang sudah lama tidak didengarkannya dan hari ini dirinya mendengar lagi. Menundukkan kepalanya dan berusaha menguatkan hatinya.
Eve mengetuk pintu dan ikut masuk melihat perkembangan pemeriksaan Adya. “Bagaimana keadaan kak Adya dokter?” Tanya Eve penasaran setelah dokter melakukan pemeriksaan kepada Adya.
Dokter tersebut menatap ke arah Adya dan tersenyum. “Sejauh ini sudah semakin membaik jika Nona Adya melakukan pemeriksaan rutinnya dengan baik.” Jawab dokter tersebut kepada Eve dan juga Tala.
Eve yang mendengarnya bernafas lega dan menggenggam tangan Adya. “Kakak bisa sembuh kakak harus semangat.” Ucap Eve kepada Adya dan keduanya tersenyum.
“Kamu juga harus semangat.” Balas Adya yang memberikan semangat kepada Eve.
“Aku senang melihat kamu senang Eve semoga senyuman ini tidak hilang dan kamu bahagia selalu.” Ucap Adya di dalam hatinya. “Maafkan aku karena telah membohongimu, ayah, ibu, dan juga Tala. Tuhan tolong lindungi orang yang aku sayang dan berilah mereka kekuatan.”
*Bersambung*
__ADS_1