
Ini adalah pertama kalinya bagi Eve datang ke mansion kakek Werawan selama dirinya menikah dengan Tala.
Dekorasi cukup ramai untuk memeriahkannya sederhana namun elegan.
Pesta yang diadakan kakek Werawan hanya mengundang para keluarga dan teman bisnis yang sudah menjadi teman dan sahabatnya saja.
Keluarga yang diundang kakek Werawan termasuk keluarga menantu dan cucu menantunya termasuk keluarga Adwitiya.
Eve menggigit bibir dalamnya setiap kali Eve merasa gugup.
Sungguh rasanya Eve sangat tidak nyaman namun dirinya harus berusaha untuk memerangi rasa tidak nyaman itu.
Eve berusaha menguatkan hatinya untuk terus bertahan dan bersabar. "Tenanglah Eve mungkin ini adalah acara terakhir kali yang kamu ikuti sebelum Tala menceraikan mu. Kamu harus menikmatinya." Ucap Eve di dalam hatinya.
Eve dan Adya duduk di tempat yang telah diberikan kepada mereka bersama dengan ibu Dhara, ayah Davka dan Tala.
Pemeran utama yang membuat rangkaian acara ini masih belum keluar. "Di mana kakek apakah masih bersiap-siap." Ujar Adya yang masih belum melihat keberadaan kakek Werawan.
"Ck kakek pasti ingin tebar pesona karena banyak wanita cantik di sini." Celetuk Adya dengan bercanda membuat ibu Dhara juga tertawa mendengarnya.
Tala sudah tau dan mengerti bahwa Adya merasa bosan jika disuruh menunggu seperti ini. Lihat akan ada saja kelakukannya ketika dihadapkan untuk menunggu seperti ini.
"Aku sungguh bosan." Celetuk Adya Tala hanya menggelengkan kepalanya sungguh cerewet ucap Tala dalam benaknya.
"Kakak tenanglah nanti kakek juga datang." Ujar Eve.
"Pasti kakek sekarang sedang berganti-ganti pakaian dan menyisir rambut ubannya." Ujar Adya membuat Eve tertawa mendengarnya
"Kamu tau kan kebiasaan kakek." Ucap Adya lagi membuat Eve mengangguk.
Ayah Davka yang mendengar kedua menantunya menggosipi ayahnya hanya diam saja bahkan ayah Davka tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh menantu pertamanya itu.
"Apa kalian berdua tidak takut dihukum ayah karena membicarakan kakek kalian." Ucap ibu Dhara sambil tertawa.
"Tidak mungkin ayah akan menghukum kedua menantunya yang paling cantik dan cetar membahana ini." Ucap Adya sambil memainkan kedua alisnya kepada ayah Davka.
"Lihat ayah tertawa kan. Bahkan tadi saat Adya bicara bahwa kakek sibuk dengan menyusuri rambut ubannya ayah juga tertawa." Ucap Adya.
"Kalau ayah menghukum kami. Kami akan mengadu kepada kakek karena ayah Davka juga tertawa mendengar apa yang dikatakan Adya tadi." Sudahlah Tala pusing melihat Adya yang terus berbicara tidak ada habisnya apalagi sekarang ayah dan ibunya ikut tertawa dan menggosipi kakek Werawan.
Akhirnya sang pemeran utama datang juga dengan tongkat serta rambutnya yang klimis membuat Adya tertawa senang melihatnya begitu juga dengan ibu Dhara.
"Mertua ibu memang luar biasa selalu fashionable." Celetuk Adya yang lagi-lagi membuat ayah Davka tertawa.
"Kamu benar sayang." Ujar Ayah Davka menyetujui.
Di depan podium kakek Werawan melirik sekilas ke meja keluarga putra kesayangannya yang sedang tertawa.
Kakek Werawan sudah paham betul apa yang mereka tertawakan pasti dirinya memang benar-benar sesuatu.
"Selamat malam semuanya maaf sudah membuat kalian menunggu. Sebelumnya terimakasih karena sudah datang ke ulang tahun saya yang ke 85 tahun ini."
"Seperti kata cucu menantu saya yang selalu tertawa dan membuat saya senang jika saya lama saya sibuk untuk menyisir rambut yang sudah berubah menjadi warna putih ini." Tamu undangan tertawa mendengarnya.
Adya bertepuk tangan sambil melambaikan tangannya kepada kakek Werawan. Tala menurunkan tangan Adya membuat Adya menoleh dan menatap ke arah Tala.
__ADS_1
Tala mengerutkan alisnya dengan kesal heboh seperti biasa itulah di dalam benak Tala.
Acara demi acara berjalan dengan lancar. Eve meminta izin untuk pergi ke toilet setelah selesai berfoto dengan kakek Werawan tadi.
Adya ingin mengikuti Eve namun Eve mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan jangan mengkhawatirkannya. "Sebaiknya aku ikut deh Eve." Ucap Adya.
"Kakak jangan khawatir Eve bisa menjaga diri Eve. Apalagi ini di mansion kakek mana mungkin ada orang yang berani menyakiti Eve." Ujar Eve
"Bukan orang lain Eve tapi keluarga kakek sendiri dan terlebih ada keluarga kamu." Ucap Adya.
"Sudahlah biarkan dia pergi sendiri." Ucap Tala menengahi pembicaraan kedua istrinya dengan datar dan kesal.
Semenjak tadi Tala tidak mengucapkan sepatah kata pun terhadap kedua istrinya itu.
Mereka berdua asik bercanda dan bercerita sampai melupakan dirinya. Hal itu semakin membuat Tala kesal dengan Eve karena perhatiannya terbagi.
"Kamu ini." Cubit Adya dengan kesal kepada Tala. Eve langsung pergi ke kamar mandi.
Sebenarnya ini hanyalah alasan Eve saja karena Eve merasa sesak di pesta itu.
"Huft leganya." Ujar Eve sambil melihat pemandangan di taman.
Tanpa Eve sadari ada dua wanita yang mengikuti Eve dari belakang. Ketika sampai di belakang Eve keduanya menyeret Eve.
Eve yang diseret terkejut lalu Eve dihempaskan dan dipojokkan di sudut lorong.
Eve yang melihat bahwa itu adalah Geya dan Harsha. "Nona muda Werawan." Ujar Geya dengan senyum sinisnya.
"Ternyata kamu punya banyak keberanian dan kamu percaya diri sekali berdiri di hadapan semua tamu undangan ya." Ujar Geya.
"Apakah kamu tidak takut jika statusmu sebagai anak angkat dari keluarga Adwitiya eh bukan tapi anak pungut diketahui semua orang dan status kamu yang tidak jelas dibongkar di sini." Gertak Geya.
"Kalian tidak akan berani melakukannya ini adalah mansion kakek dan pesta ulang tahun kakek." Ujar Eve dengan berani.
Geya dan Harsha menatap tidak suka kepada Eve. "Kamu ternyata semakin berani ya. Pantas saja karena kamu berteman baik dengan wanita penggoda seperti Adya."
"Jaga bicaramu Nona Geya." Ucap Eve dengan tidak suka mendengar Adya yang disebut sebagai wanita penggoda.
"Ouw sepertinya hubungan istri pertama dan istri kedua sangat baik." Sinis Geya.
"CK padahal status mereka sangat rendah." Celetuk Harsha dengan senyum sinisnya.
"Atau jangan-jangan ibu kandungmu membuang mu karena kamu tidak bisa digunakan untuk masuk ke dalam keluarga seperti kami." Ucap Geya.
"Atau ibumu itu sama dengan wanita penggoda di luar sana." Ejek Geya dengan senyuman sinisnya.
"Jaga bicaramu Nona Geya jangan sampai itu kembali kepadamu." Ucap Eve menekankan nada bicaranya dan masih tetap mengingatkan Geya untuk menyaring apa yang diucapkannya.
"Ternyata kamu sangat berani juga ya. Dengar tidak mungkin aku melakukan hal yang serendah itu. Aku terlahir dari keluarga kaya dan terpandang bukan seperti kamu yang statusnya tidak jelas tapi melunjak setelah dipungut." Ucap Geya
"Anak pungut memang tidak tau diri." Ejek Harsha.
"Aku tau tanpa kalian kasih tau lagi. Tapi, aku pun tidak bisa memilih untuk lahir di rahim siapa dengan keluarga yang seperti apa. Anak itu adalah anugrah jangan menghakimi sembarangan orang itu tidak baik. Jika kalian masih berpikir bahwa orang menghormati dan memandang orang-orang karena kalian cantik, keluarga terpandang, pendidikan tinggi percuma saja kalau attitude kalian buruk." Ucap Eve.
Geya menarik rambut Eve sehingga membuat kepala Eve tertarik ke samping depan. "Jangan berani menasehati kami. Kamu bukanlah orang yang suci jangan sok suci."
__ADS_1
Eve meringis rasanya kulit kepalanya tercabut. "Jika suamiku melihat kamu melakukan ini kepadaku apa yang akan terjadi kepadamu Nona Geya."
"Jangan berani-berani kamu mengadu ingat kamu itu hanyalah anak pungut. Dasar anak pungut." Geya melepaskan tangannya dari rambut Eve dengan kuat sehingga membuat kepala Eve terbentur dinding.
Kepala Eve terasa sangat sakit Harsha yang melihatnya tersenyum penuh kemenangan. "Anak pungut aja belagu." Sinis Harsha kepada Eve.
Geya dan Harsha tertawa mendengarnya. "Apa salahku kepada kalian aku tidak pernah mencari gara-gara dengan kalian?" Tanya Eve sambil meringis karena merasa pusing.
"Salahmu adalah karena kamu masuk dalam keluarga kami sedangkan statusmu tidak jelas asal usulnya dan kamu hanyalah anak pungut." Ucap Hasrha berjalan mendekat dan hendak menarik rambut Eve.
"Hentikan." Ucap suara lantang dari arah belakang.
Harsha dan Geya terkejut melihat kedatangan pria itu. "Kak Zee." Ucap Harsha dengan lirih.
Geya dan Harsha menundukkan kepalanya saat melihat mata tajam Gulzar yang memandang tajam ke arah mereka.
"Apa yang telah kalian berdua lakukan aku tidak akan tinggal diam. Dan untukmu Nona Geya Werawan aku akan bilang kepada kakak sepupumu karena telah berani melukai istrinya." Ujar Gulzar. "Dan aku akan membatalkan perjodohan antara aku dengan kamu."
Geya memegang tangan Gulzar. "Kak Zee aku mohon jangan batalkan perjodohan itu aku sangat mencintai kak Zee." Ucap Geya memohon.
Gulzar menghempaskan tangan Geya dari tangannya. "Aku tidak akan pernah mau menikahi seorang wanita yang busuk hatinya seperti kamu. Ingat aku selalu mengawasi kamu. Jangan berani untuk menyakiti Eve lagi."
Geya hendak ingin mengejar Gulzar yang sedang membawa Eve bersamanya namun ditahan oleh Harsha.
"Apa yang kamu lakukan Harsha lepaskan aku. Aku mau menyusul kak Zee." Ucap Geya merasa kesal dan marah.
"Kamu jangan bodoh Geya kak Zee sedang marah sekarang apalagi tadi melihat kita bersama dengan Eve. Biarkan kak Zee tenang dulu kak Zee tidak akan mampu membatalkan perjodohan kalian percayalah kepadaku." Ucapan Harsha mampu membuat Geya tenang.
"Awas saja kamu Eve aku akan memberikan pelajaran yang lebih setimpal lagi dengan mu." Ucap Geya dengan sangat kesal dan marahnya.
Gulzar menarik tangan Eve sedangkan Eve hanya pasrah melihatnya.
Kini Gulzar dan Eve berada di taman mansion rumah kakek Werawan.
Gulzar melepaskan tangan Eve dan memijit pelipisnya yang terasa pusing.
Dari dulu Eve selalu tidak melawan jika ada orang yang ingin menyakitinya.
Hal itu benar-benar membuat Gulzar merasa sangat kesal dengan sikap Eve yang mendiamkan orang yang menyakitinya.
Terkadang Gulzar berpikir mental dan hati Eve terbuat dari apa sampai bisa sekuat itu untuk mendengar cemoohan yang didapatkannya dari orang lain.
Gulzar membalikkan badannya menghadap ke arah Eve. "Bisakah kamu tidak diam hah." Ucap Gulzar membuang nafasnya dengan keras serta lantang.
"Aku sudah bilang kepadamu kamu harus melawan Eve. Apa kamu mau begini terus digertak dan dibully selamanya seperti ini." Ucap Gulzar dengan penuh emosi karena merasa kesal melihat Eve yang hanya diam saja sedari dulu.
Gulzar yang baru datang ke pesta ulang tahun kakek Werawan matanya melihat ke penjuru ruangan untuk mencari seseorang namun terlihat.
Melihat orang yang dicarinya tidak ada Gulzar mencari ke seluruh ruangan karena merasa khawatir dan benar saja di sana Gulzar melihat bagaimana Eve diremehkan dicemoohkan oleh adiknya dan juga temannya sekaligus orang yang dijodohkan dengannya yang Gulzar kenal sebagai sepupu dari Nabastala Affandra Werawan.
Gulzar yang menatap Eve hanya diam merasa sangat kesal dan frustrasi dibuatnya.
"Lihat kamu sekarang sangat menyedihkan Eve." Ujar Gulzar.
"Jangan diam saja Eve jika kamu diam maka Mereka akan terus menginjak kamu seperti ini. Bagaimana kalau aku tidak datang untuk menyelamatkanmu lain waktu." Ucap Gulzar yang merasa sangat frustrasi.
__ADS_1
"Kamu yang seperti ini sangat menyedihkan Eve." Ucap Gulzar.
*Bersambung*