
Eve menangis dengan sesenggukan hampir tiga puluh menit lamanya Eve terduduk dan sibuk dengan tangisannya.
Eve berusaha bangkit namun kepalanya terasa pusing, pengawal pribadi yang baru saja datang dan melihat Nona mudanya tampak lemah dan lelah segera mendekat dan membantu untuk berdiri dan berjalan ke mobil.
“Nona muda.” Ucap pengawal pribadi Eve yang Eve beri nama Ai itu menatap khawatir dan prihatin dengan kondisi Eve.
Pengawal itu tau bagaimana hubungan kedekatan antara Eve dan Adya yang seperti saudara kandung bahkan hubungan keduanya lebih kental dari darah saudara walaupun kenyataan keduanya ditakdirkan menjadi istri dari Tuan mudanya itu.
Tidak pernah sekali pun pengawal Ai melihat Adya dan Eve bertengkar atau saling cemburu satu sama lain melihat tidak adil perhatian yang diberikan oleh Tuan mudanya itu yang lebih condong ke istri pertamanya.
Seperti yang terjadi Tuan mudanya tanpa menghiraukan kehadiran Nona muda yang dijaganya ini padahal berada di sampingnya karena saking paniknya setelah mendengar kabar bahwa istri pertamanya mengalami kesehatan yang menurun.
Pengawal Ai bertanya-tanya seberapa besar lapang dada dari seorang Elakshi Feshika Adwitya terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya.
Pengawal Ai juga tidak menyalahkan akan sikap dari Tuan mudanya yang sampai melupakan istrinya di bandara karena saking paniknya hal itu diwajarkan karena situasi yang begitu mendadak.
Pandangan Eve kosong menatap jalan di sekelilingnya tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari dalam mulutnya.
Melihat Eve yang seperti itu membuat pengawal Ai merasa sedih wajahnya yang berbinar cerah kini menjadi pucat. Sudah berapa kali pengawal Ai mengajak berbicara namun tetap tidak ada sahutan dari pemilik suara yang ditanyakan.
Sopir yang biasa mengantar jemput dan pengawal Ai menghela nafasnya. Menurut mereka kepribadian Eve sangat cantik seperti paras yang dimilikinya.
Eve melihat jalan di sekitarnya yang menuju ke mansion segera menoleh menatap ke arah sopir. “Pergi ke rumah sakit.” Ucap Eve kepada sopirnya.
Sopir dan pengawal bingung karena perintah yang diberikan oleh Tuan mudanya agar Nona mudanya itu di mansion saja namun mereka merasa tidak tega melihat ekspresi Eve. “Tolong.” Ucap Eve dengan lirih.
Eve tau apa yang membuat pengawal pribadi dan sopir itu ragu karena perintah yang diberikan dengan permintaannya pasti bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
Akhirnya sopir memutar balikkan mobil menuju ke rumah sakit yang menjadi tempat di mana Adya dilarikan ke rumah sakit dan sedang diperiksa itu.
Sesampainya di rumah sakit Eve berjalan dengan tergesa sambil mengusap air matanya yang berjatuhan takut sesuatu terjadi hal yang tidak diinginkan.
Eve tidak bisa memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu dengan Adya. Menurut Eve apa yang terjadi pada Adya adalah salah dirinya karena kehadirannya membuat semua orang berada dalam berbahaya dan merasa tersiksa.
Dokter Raka yang melihat Eve berjalan tergesa-gesa dengan tidak hati-hati terkadang menabrak orang yang sedang lewat di depannya bahkan Eve tidak menyadari kehadiran dokter Raka.
Dokter Raka mengikuti Eve dan menyusul Eve karena merasa penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
Waktu Adya dilarikan ke rumah sakit dokter Raka berada di ruang operasi jadi dokter Raka yang baru keluar itu tidak tau berita yang menyebar di rumah sakit terkait menantu pertama keluarga Werawan dilarikan ke rumah sakit.
Apalagi yang dokter Raka tau bahwa Eve sedang cuti untuk bulan madu keduanya namun yang dilihatnya kenapa Eve terlihat sangat panik bahkan menangis selama menuju ke tempat tujuannya.
Di sana langkah kaki Eve berjalan dengan perlahan ketika melihat ibu Dhara yang sudah menangis di pelukan ayah Davka dan wajah khawatir ayah Davka yang tampak di raut wajahnya yang sudah lanjut usia itu.
Lalu mata Eve menatap ke arah Tala yang menangis dalam diam membuat langkah kaki Eve terasa lemah melihat orang yang disayangnya sedih.
__ADS_1
“Ini semua karena kehadiran mu Eve.” Pikiran Eve berkecamuk menyalahkan dirinya air matanya terus mengalir di pipi putihnya yang kini tampak pucat.
“Ibu, ayah.” Panggil Eve yang kini sudah dekat dengan bangku di mana ibu Dhara dan ayah Davka berada.
Kedua mertua Eve itu menolehkan kepalanya begitu juga dengan Tala yang menunduk untuk menyembunyikan air matanya.
“Sayang.” Ucap ibu Dhara lalu memeluk tubuh Eve kedua wanita itu menangis bersama untuk saling menguatkan. “Kak Adya akan baik-baik saja, jadi tenanglah semua akan baik-baik saja.” Ucap ibu Dhara.
Eve tau bahwa keadaan sekarang tidak baik-baik saja melihat ibu Dhara, ayah Davka, dan suaminya Tala menangis seperti ini. “Ap-apa yang sebenarnya terjadi ibu?” Tanya Eve, ibu Dhara menggelengkan kepalanya kepada Eve.
“Kita harus kuat dan berdoa sayang.” Ujar ibu Dhara. Kata-kata itu sebenarnya untuk ibu Dhara sendiri bukan hanya untuk Eve saja.
Eve menganggukkan kepalanya hati Eve merasa sakit melihat mertuanya menangis seperti ini. “Maafkan Eve.” Ucap Eve dengan lirih membuat ayah Davka dan ibu Dhara menatap ke arah Eve dengan bingung.
“Sayang jangan menyalahkan siapa-siapa pun ini semua sudah menjadi jalan yang di atas. Tenangkan dirimu dan berdoa.” Ujar ibu Dhara.
Entah kenapa dalam setiap sesuatu yang terjadi pada Adya selama ini ibu Dhara melihat bahwa Eve akan selalu meminta maaf dan menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi.
Ibu Dhara membawa Eve duduk di sebelahnya. Dokter Raka yang melihat dari jauh menatap khawatir ke arah Eve apalagi wajah Eve sangat pucat sekarang.
Tala hanya diam saja sambil berdiri dan mengangkat kepalanya ke atas entah apa yang dipikirkannya. Lalu mata Tala melihat ke arah samping kanan di sana Tala melihat dokter Raka yang berdiri di ujung lorong memperhatikan ke arah sini.
Mata dokter Raka dan Tala bertemu. Tala sama sekali tidak ramah dari awal itu yang dokter Raka rasakan. Tatapan suami dari Eve itu selalu dingin sedari awal mereka bertemu.
Mungkin jika bibir itu tersenyum akan membuat persepsi orang berbeda namun selama bertemu dokter Raka tidak pernah sekalipun melihat senyum di wajah suami dari orang yang sangat dicintainya itu.
Sudah hampir lima jam lamanya mereka menunggu bahkan hari sudah malam dokter yang mengoperasi Adya keluar dengan wajah lelahnya.
“Bagaimana keadaan putri saya dokter?” Tanya ayah Davka kepada dokter yang baru keluar tersebut.
Tala sudah berdiri di samping ayahnya ingin mendengar penjelasan dokter mengenai Adya. Ibu Dhara dan Eve hanya duduk saja.
Eve sebenarnya merasa penasaran namun melihat ibu Dhara yang menyuruhnya untuk duduk dan memegang kedua bahunya membuat Eve hanya pasrah saja.
“Keadaan Nona Adya sudah bisa kami tangani Tuan namun kondisinya saat ini sedang kritis.” Jelas dokter tersebut.
Tala yang mendengarnya tanpa sadar memundurkan tubuhnya dan jatuh terduduk di hadapan Eve. Eve yang melihatnya terkejut dan khawatir apalagi tatapan Tala yang menatap kosong.
“Kesehatan putri saya selama sebulan ini baik-baik saja dokter lalu kenapa bisa sampai kritis seperti ini?” Tanya ayah Davka meminta penjelasan kepada dokter tersebut.
Dokter itu sebutlah dokter A menjelaskan bahwa ada yang menjadi pemicu kenapa Adya sampai krisis seperti sekarang.
Eve memegang bahu Tala dengan pelan membantu untuk memberikan kekuatan namun segera Tala tepis lalu segera pergi dari hadapan kedua orang tuanya dan juga Eve.
Ibu Dhara dan ayah Davka yang melihat Tala seperti itu kepada Eve hanya diam karena situasi sekarang tidak baik-baik saja jika mereka menasehati apa yang dilakukan oleh putra semata wayangnya itu.
__ADS_1
Mereka juga berusaha memahami dan berpikir positif mungkin anak semata wayangnya itu tanpa sengaja melakukannya.
“Eve sebaiknya kamu pergi beristirahat maafkan Adya karena acara bulan madu kalian batal.” Ujar ibu Dhara membuat Eve menggelengkan kepalanya.
“Ibu jangan berkata seperti itu. Eve baik-baik saja lagipula Eve mengerti dan memahami mana mungkin kami sedang asyik berlibur sedangkan kondisi kak Adya seperti ini. Sebaiknya ibu dan ayah yang harus beristirahat kak Adya biarkan Eve yang menjaganya.” Ujar Eve.
Tak lama Eve berbicara seperti itu Adya dipindahkan ke ruang rawat yang memang sudah disediakan dan hanya untuk keluarga Werawan.
Eve, ibu Dhara dan ayah Davka berjalan mengikuti tidak ada yang bicara semuanya sibuk dengan pemikiran dan rasa khawatir melihat kondisi Adya.
“Karena kondisi pasien saat ini dalam keadaan yang tidak stabil jadi yang menjaganya cukup satu saja agar pasien tidak terganggu.” Ucap dokter A tersebut.
Ibu Dhara, ayah Davka dan Eve mengangguk mengerti. “Ibu, ayah sebaikanya ibu dan ayah pulanglah ke mansion biarkan Eve yang menjaga kak Adya. Eve mohon, Eve tidak ingin dan akan merasa bersalah jika ibu dan ayah sakit karena kelelahan. Besok kembalilah ke sini lagi tapi malam ini beristirahatlah Eve harap ibu dan ayah mengerti.” Ujar Eve sambil membungkukkan badannya membuat ibu Dhara dan ayah Davka tidak bisa menolak.
“Terimakasih.” Ucap Eve memberikan senyumannya kepada ibu Dhara dan ayah Davka yang mengikuti keinginannya.
“Kami akan kembali besok pagi jam 7 ya sayang nanti akan ada Tala yang menemani mu jika ingin beristirahat ruang di sebelah sudah disiapkan. Ingat kesehatan mu sendiri.” Ucap ibu Dhara lalu memeluk menantu keduanya itu.
Setelah ayah Davka dan ibu Dhara pergi kini hanya Eve sendiri di depan ruang rawat Adya. Eve tidak berani masuk dan hanya melihat Adya yang dalam kondisi kritis itu dari balik kaca pintu.
“Kak cepatlah bangun ibu, ayah dan kak Tala sangat sedih melihat kakak seperti ini termasuk Eve.” Ucap Eve dengan lirih sambil tangan jari-jemari Eve letakkan di kaca itu seolah-seolah mengelus wajah Adya yang terbaring di ranjang pasiennya.
“Jangan tinggalkan Eve seperti kakek.” Ucap Eve sedih dan merasa takut. “Eve janji jika kakak sudah sehat Eve akan menceritakan apa yang Eve pikirkan dan Eve akan lebih terbuka tapi kakak harus bangun dan sehat terlebih dahulu.”
Eve menahan isak tangisnya namun tetap saja itu tidak bisa. “Eve tidak tega melihat kak Tala sedih seperti ini. Kak Tala sangat mencintai kakak tolong jangan tinggalkan kak Tala seperti yang Eve lakukan dulu.”
“Kakak harus bangun biar kita bisa bertukar cerita, Eve akan melakukan apa pun yang kakak inginkan tapi Eve mohon bangunlah kak.” Eve terduduk dan menekuk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya di antara lekukan lutut dan tangannya.
Eve yang menangis itu sampai ketiduran di ruang rawat Eve dan Tala yang baru kembali melihat Eve yang sedang berada di ruang rawat Eve.
Mata Tala menatap kelam ke arah Eve yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya. Tala sedikit menendang ujung sepatu Eve agar Eve segera bangun dan benar saja Eve yang merasakan ujung sepatunya seperti ada yang menyentuh melihat lalu Eve mengangkat kepalanya dan di sana sudah ada suaminya Tala.
“Pergilah dari sini.” Ujar Tala dengan dingin dan datar.
Eve mengusap air matanya yang melekat di pipinya yang sudah mengering. “Kak Tala sudah kembali sebaiknya kaka beristirahat biarkan aku saja yang menjaga kak Adya.” Ucap Eve dengan wajah lelahnya.
Tanpa banyak suara Tala menggenggam tangan Eve dan membawa Eve ke ruang yang berada di sebelah ruang Adya lalu memasukkan Eve di ruang itu yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit lalu mengambil kunci dan mengunci Eve dari luar agar Eve tidak keluar dari ruang rawat itu.
“Kak apa yang kak Tala lakukan?” Tanya Eve melihat dirinya yang di kunci sementara Tala menatap Eve dengan datar melalui kaca pintu itu lalu segera pergi dari depan kamar rawat tempat istirahat itu.
*Bersambung*
__ADS_1