
“Memangnya sekarang kamu tinggal di mana Gey?” Tanya Axel kepada Geya yang berada di sebelahnya.
“Jangan panggil aku Gey, Geya okay.” Ujar Geya kesal nanti bagaimana jika orang mengira dirinya ada kelainan seksual.
Axel terkekeh dibuatnya Geya masih sama seperti dulu manis dan lucu. “Aku tinggal di mansion kak Tala?” Jawab Geya dengan mata memandang ke luar jendela mobil hal itu sengaja dilakukan oleh Geya untuk menutupi kesedihannya.
Axel yang peka terhadap Geya tentu saja sedikit paham apa yang dirasakan oleh wanita yang sangat dicintainya itu tentang permasalahan keluarganya.
“Kelihatannya kak Tala masih sangat tidak menyukai ku.” Alih Axel. “Apa dia masih kesal karena aku mengalahkannya waktu kamu bertanding berkuda kali ya!”
“Entahlah.” Jawab Geya seadanya.
“Geya kamu tau kan maksud dari apa yang aku lakukan?” Geya menolehkan kepalanya menatap Axel. Pria ini memang tidak pernah bertele-tele hal yang disukai Geya dari Axel adalah sifat tegasnya namun itu juga menjadi hal yang tidak disukai Geya dari Axel.
“Apa kamu mau menjalin hubungan dengan ku atau kamu mau kita langsung menikah aku akan lebih senang jika kita langsung menikah!” Seru Axel dengan semangat.
“Kamu ini sama sekali tidak romantis dan tidak sabaran aku heran bagaimana kamu menjalin kasih dengan pada wanita!” Keluh Geya, menerima ajakan dari Axel yang sering diucapkan oleh pria itu sedari dulu tidak membuat Geya dengan mudahnya menerima.
Padahal mereka baru dua kali bertemu setelah beberapa tahun berpisah. “Jadi, kamu menerimanya?” Tanya Axel dengan semangat dan mendapatkan cubitan dari Geya karena wanita itu kesal.
“Asal kamu tau aku sama sekali tidak pernah menjalin kasih dengan wanita mana pun. Aku Axel Barata akan selalu setia untuk mencintai Geya Werawan selamanya.” Lihat sekarang Axel menjadi puitis.
Geya tidak tau bagaimana harus menanggapi Axel sehingga Geya memilih diam saja. Melihat Geya yang diam membuat Axel tersenyum miris. Namun, bukan berarti Axel akan menyerah begitu saja dirinya sudah berusaha untuk membuatnya agar pantas menjadi pendamping Geya sekarang saatnya harus dia tunjukkan lagi kepada Geya bahwa ia benar-benar serius dengan Geya.
“Lihat kak Tala sudah menunggu di depan. Aku seperti membawa anak gadis dari kak Tala.” Ujar Axel sembari menggelengkan kepalanya.
Saat Geya hendak membuka pintu mobilnya Axel keluar terlebih dahulu dengan cepat sehingga membuat Geya kebingungan apa yang hendak dilakukan oleh pria yang sering disebut tengil oleh kakak sepupunya itu.
Ternyata Axel membukakan pintu untuk Geya membuat Geya terdiam sudah sangat lama dia tidak diperlakukan seperti ini oleh seorang pria. Gulzar tidak pernah melakukan ini kepadanya jangankan ini berbicara saja pria itu seadanya.
“Kamu pulanglah.” Bukan Geya yang berbicara melainkan Nabastala yang sudah berdiri di belakang Axel dan memandang pria itu dengan tajam.
Bukan Axel namanya kalau tidak menanggapi dengan candaan. “Kakak ipar aku ingin masuk dan bertegur sapa dengan paman dan bibi karena sudah sangat lama sekali kami tidak bertemu. Mereka pasti sangat merindukan aku yang sangat tampan paripurna ini.”
“Kakak ipar, kakak ipar kepalamu. Tidak sana kamu pergi mereka tidak ada.” Usir Tala, “Hey kamu kenapa masih di sini sana masuk.” Ujar Tala kepada Geya.
“Kenapa kamu mengusir orang Tala kamu ini benar-benar tidak sopan pantas saja Eve meninggalkan mu karena tidak betah dengan sikap mu itu.” Ucap ibu Dhara di belakang Tala.
__ADS_1
Geya menatap kakak sepupunya yang terlihat sedih saat ada seseorang yang menyebut nama istrinya itu Axel juga melihat ada kesedihan mendalam di mata pria yang sering dia panggil kakak ipar itu.
“Baiklah kalau begitu aku pulang dulu…”
“Kenapa kamu mau pulang bukankah tadi ingin bertemu denganku?” Tanya ibu Dhara yang memandang Axel dari atas sampai bawah.
Ibu Dhara tadi yang melihat Tala hanya pulang sendiri tidak ada Geya di belakang yang membuntuti anaknya itu seperti biasanya merasa heran di mana keponakan perempuannya itu.
Apalagi melihat wajah Tala yang dingin dan menunggu Geya di depan pintu masuk mansion semakin menambah rasa penasaran Ibu Dhara. Awalnya ibu Dhara mengira bahwa kedua sepupu itu sedang tidak akur.
“Kamu siapa?” Tanya ibu Dhara.
Axel tersenyum sembari melangkah maju mengambil tangan ibu Dhara dan menciumnya lalu memeluk ibu Dhara dengan erat. “Hati ku sakit jika bibi tidak mengingat aku yang sangat tampan ini.”
Ibu Dhara menatap ke arah Axel bertanya, laki-laki yang penuh dengan drama ini. “Axel!” Dan Axel menjawab dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang.
“Kamu benar-benar Axel Barata!” Ibu Dhara menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang lalu memandang ke arah Geya.
“Iya bibi aku Axel Barata yang selalu mengejar cintanya Geya.”
Ibu Dhara menggandeng tangan Axel dan membawa Axel masuk ke dalam mansionnya meninggalkan Geya dan Tala yang melihat keakraban mereka berdua.
Tala melangkahkan kakinya ke depan tanpa membalas perkataan dari Geya. Geya memandang sendu ke arah kakak sepupunya itu.
Di dalam ruang keluarga ibu Dhara dan Axel asyik bercerita tanpa memedulikan Tala dan Geya yang sudah masuk dan melihat mereka.
“Kalian berdua kenapa masih di sini sana pergi kalian sudah bau kaos kaki.” Membuat Axel melipat bibirnya untuk menahan tawanya.
Selepas pergi Tala dan Geya ke kamar mereka ibu Dhara menatap ke arah Axel, “apa kamu masih sangat mencintai Geya?” Tanya ibu Dhara.
Axel mengangguk dengan cepat, “iya bibi bahkan Axel sama sekali tidak menjalin kasih dengan wanita mana pun di dalam hati dan pikiran Axel hanya ada Geya.”
Ibu Dhara menepuk tangan Axel karena merasa malas mendengar Axel yang akan berbicara puitis jika berkaitan dengan Geya. “Bibi tidak percaya!?” Seru Axel.
“Bibi percaya, bibi percaya.” Membuat senyum di wajah Axel mengembang dan ibu Dhara merasa ngeri melihatnya.
Tidak bisa ibu Dhara bayangkan dulu betapa risihnya Geya yang selalu diikuti Axel ke mana pun dirinya pergi dan pernyataan cinta Axel yang secara tiba-tiba setiap kali ada pria yang ingin mendekati Geya.
__ADS_1
Ibu Dhara jadi mengingat dulu Geya bahkan memohon kepada Axel untuk jangan menyatakan cintanya lagi kepadanya apalagi di depan umum saking lelahnya dengan sikap Axel.
Tala yang muncul memberikan ultimatum kepada Axel jika pria itu ingin bersanding dengan Geya maka dia harus kuliah dan menuntaskan pendidikannya dengan gelar yang memuaskan.
“Tapi, Axel…” Axel menunggu perkataan ibu Dhara dengan perasaan penasaran. “Geya baru saja selesai memutuskan pertunangannya.” Axel merasa lega itu berarti dirinya masih mempunyai banyak kesempatan dan peluang untuk merebut hati Geya kembali.
“Sepertinya Geya mendapatkan karmanya karena sering menolak mu dulu.” Lanjut ibu Dhara, Axel berusaha menerjemahkan maksud dari perkataan ibu Dhara.
Apa itu artinya Geya sangat mencintai mantan tunangannya itu? Lalu kenapa dia memutuskan pertunangan itu jika mencintainya? Hal ini membuat Axel merasa bingung.
“Jangan tanyakan ini kepada bibi tapi tanyakan langsung kepada Geya sendiri bukankah kamu suka berinteraksi dan melakukan sesuatu langsung dengan orangnya.”
“Itu artinya Geya sangat mencintai mantan tunangannya itu?” Tanya Axel kepada ibu Dhara dan mendapatkan anggukan.
“Tapi, bibi jika Axel bertanya ke Geya maka Axel akan mati penasaran karena memerlukan waktu untuk membuat Geya bercerita ke Axel.”
“Itu adalah tantangan mu bukannya kamu ingin mendapatkan Geya maka bibi memberikan kesempatan kepada mu.” Axel tentu saja merasa senang mendengarnya.
“Jadi, siapa mantan tunangan Geya please beri tahu Axel. Axel tidak akan menanyakan lebih lanjut setelah tau namanya.”
“Dia adalah kakak kandung mantan sahabatnya Geya.” Jawab ibu Dhara tanpa menyebut namanya.
Tunggu kenapa menjadi mantan sahabat? Siapa sahabat Geya? Bukankah Geya hanya memiliki satu orang! Dan itu adalah Harsha Adwitya!
“Kenapa jadi mantan sahabat bibi?” Tanya Axel.
“Bukankah tadi kamu bilang tidak akan bertanya lagi!” Seru Ibu Dhara dengan kesal membuat Axel cengengesan dibuatnya.
“Bibi tidak menyebut namanya!” Seru Axel lagi.
“Sudahlah kamu ini! Kamu mau makan malam di sini tidak?” Tanya ibu Dhara.
Tentu saja Axel sangat ingin menerima ajakan makan malam itu namun Axel merasa tidak tega jika harus membuat mamanya sendirian makan di rumah.
“Sebenarnya Axel ingin bibi tapi Axel tidak tega jika mama menunggu Axel untuk makan malam dan mama makan sendirian.”
Ibu Dhara tidak bertanya lebih jauh karena itu adalah privasi apalagi jika Axel tidak menceritakannya toh dia bisa mencari tau sendiri bagaimana kehidupan Axel setelah menerima tantangan dari anaknya itu agar pantas mendapatkan Geya.
__ADS_1
Flashback Off
*Bersambung*