Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 12. Ragu untuk Memberitahu


__ADS_3

Dokter Raka pamit meninggalkan Eve di dalam ruangan-nya. Merasa patah hati tentu saja saat melihat wanita yang membuatnya jatuh cinta kini sedang mengandung. Dirinya berpikir bahwa mempunyai kesempatan namun ternyata dirinya salah. Apakah salah jika mencintai istri dari orang.


Ketika dirinya memikirkan betapa miris kisah cinta dirinya untuk pertama kali merasakan jatuh cinta dan itu adalah cinta pada pandangan pertama. “Mungkinkah ini karma buat aku karena sering mencampakkan para gadis.” Ucap dokter Raka merenung di ruang kerjanya.


Dokter Raka memang terlihat tampan apalagi dengan bentuk badannya yang atletis serta kulitnya yang putih membuat dokter Raka dulunya sering memanfaatkan para perempuan di luar sana seperti mengencani mereka dan jika sudah bosan maka dirinya akan melepaskan begitu saja.


“Ternyata sangat sakit ya.” Ucap dokter Raka yang tertawa miris melihat dirinya yang begitu terluka atas apa yang terjadi hari ini.


Di dalam ruangan-nya Eve masih dengan suasana haru-nya dan mengelus perut rata-nya dengan sayang. “Kamu hadir di sini.” Ucap Eve dengan lirih sambil membayangkan bagaimana dirinya akan memberitahu kehamilan ini kepada ibu Dhara, ayah Davka, dan Adya serta suaminya.


Namun, ketika Eve mengingat suaminya Tala senyum di wajah Eve kembali menghilang ada rasa gelisah dan ketakutan saat dirinya nanti melahirkan dan berjauhan dengan anak yang baru berusia satu bulan di dalam kandungannya bagaimana nasib dirinya.


“Tidak apa-apa Eve, kamu bisa percayakan-nya kepada kak Adya setidaknya anakmu tidak merasakan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua. Tapi, apakah aku sanggup.” Ucap Eve yang mulai menangis untuk meluapkan kesedihan dan ketakutan dirinya nanti jika dirinya jauh dari anak yang akan dikandungnya ini.


“Ibu menyayangi mu sayang. Kamu adalah segalanya bagi ibu. Ibu tidak akan membiarkan mu merasakan apa yang dialami ibu. Kamu akan bahagia dengan keluargamu nanti mereka akan sangat baik.” Saat Eve mengatakan hal itu kepada bayi di perutnya Eve menangis terisak.


Perasaan Eve sangat sensitif baru saja tadi dirinya merasa bahagia dan senang serta menangis terharu sekarang kini perasaannya gelisah dan takut kehilangan anak yang ada di dalam kandungannya.


“Okey Eve kamu jangan stres ingat sekarang kamu tidak sendiri dan ada bayi di dalam perutmu.” Ucap Eve menguatkan dirinya. Lalu mata Eve melirik ke arah jarum jam dan di sana sudah menunjukkan pukul empat kurang lima belas menit.


Eve tersenyum dengan bahagia bahwa sudah waktunya pulang. “Baiklah mari sekarang kita pulang dan ketemu nenek sama kakek serta mama Adya.” Ucap Eve dengan penuh semangat.


Saat Eve membukakan pintu ruang rawat-nya Eve melihat pengawal yang selalu berada ke manapun dirinya pergi sedang berdiri dengan tegak seperti biasa. Eve memberikan senyuman-nya. “Aku tidak apa-apa, terimakasih karena sudah siaga kamu bekerja dengan baik. Ayo sekarang kita pulang.” Ucap Eve dengan semangat.


Pengawal yang melihat bahwa Nona dari istri Tuan muda terlihat begitu semangat dan bahagia keluar dari ruang rawat-nya setelah sebelumnya jatuh pingsan. Pengawal tidak bisa memberitahukan Tuan muda beserta Tuan besar dan Nyonya besar karena mereka berada di dalam pesawat bersama istri pertama dari Tuan muda.


Di dalam mobil Eve terus tersenyum sambil meletakkan tangannya di atas perutnya dan mengusap-nya. Pengawal dan sopir yang melihat saling melirik satu sama lain saat merasakan bahwa Nona muda mereka terlihat begitu bahagia dan ceria.


Mereka menerka apa yang membuat Nona muda mereka begitu bahaya. Saat pengawal menanyakan kepada dokter Adam dan dokter lainnya mereka bungkam tapi dengan meyakinkan bahwa ini adalah berita baik dan bahagia. Alasan lain yang didengar pengawal adalah bahwa dirinya harus menunggu Nona muda-nya untuk memberitahukan dan mengabarkannya.


“Nona.” Panggil sopir membuat Eve menatap sang sopir dengan senyum serta wajah cerianya. “Saya dengar bahwa Nona tadi sempat pingsan dan Nona terlihat sangat bahagia. Jadi, apakah saya boleh tau mengenai pingsan Nona dan wajah bahagia Nona?” Tanya sopir tersebut dengan pelan dan hati-hati.


Eve semakin memperlihatkan senyuman lebarnya mendengar pertanyaan dari sang sopir yang membuat Eve merasa bahwa dirinya memang diperhatikan oleh orang di sekitarnya. “Aku sangat senang.” Ucap Eve semakin membuat pengawal dan sopir merasa penasaran dengan kelanjutannya. “Tapi, kalian berdua tolong jangan kasih tau ke Tuan muda, ayah, ibu dan kak Adya. Mereka harus mendengarnya dari aku.” Ucap Eve dengan nada penuh semangatnya.


“Baiklah Nona kami akan berjanji tidak memberitahukan ini.” Ucap sopir tersebut, Eve semakin melebarkan senyumannya.


“Di dalam perut aku sekarang ada pewaris yang telah dinantikan ayah dan ibu serta kak Adya.” Ucap Eve dengan semangat tanpa menyebut nama Tala di dalamnya karena Eve tidak tau dan tidak mengerti bagaimana perasaan suaminya itu padanya sekarang.


Pengawal dan sopir tersenyum serta mengucapkan selamat kepada Eve namun di dalam hatinya mereka merasa miris saat melihat hubungan Tuan muda dengan Nona muda yang sedang hamil itu.


“Kalian sudah berjanji untuk tidak mengatakannya jadi kalian harus menjaga mulut kalian agar tidak bocor.” Ucap Eve mengancam dengan nada suara yang terdengar menggemaskan membuat pengawal dan sopir saling melirik.

__ADS_1


Mereka berpikir bagaimana bisa Tuan muda mereka tidak tertarik dengan Nona muda yang terlihat sangat menggemaskan, cantik, dan rendah hati. “Iya Nona kami tidak akan memberitahukan kepada siapa pun.” Ucap sopir tersebut.


“Terimakasih.” Ucap Eve dengan senyuman dan semangatnya.


Sesampainya di mansion Eve langsung membukakan pintu mobil dan melangkah dengan penuh semangat dan merasa tidak curiga bahwa mobil di dalam garasi depan mobil sangat utuh. “Nona terlihat sangat senang.” Ucap sang sopir yang memperhatikan Eve masuk ke dalam mansion. “Tunggu, apakah Nona tau bahwa tidak ada orang di rumah?” Tanya sopir tersebut dan mendapatkan tatapan yang dalam dari pengawal.


“Mungkin Nona sudah tau.” Jawab pengawal tersebut seadanya.


Namun sopir berkeyakinan bahwa Eve tidak tau bahwa tidak ada siapa pun di dalam mansion sekarang. “Aku rasa Nona tidak tau. Sebaiknya kita masuk ke dalam mansion dan memeriksa keadaan.” Ucap sang sopir dan pengawal hanya mengikuti dari belakang.


Eve di dalam mansion terus memamerkan senyuman sambil berjalan ke ruang keluarga di mana biasanya ibu Dhara dan Adya berada di sana sedang menunggu dirinya pulang. Saat Eve sampai di ruang keluarga Eve tidak menemukan siapa-siapa di sana.


Kepala pelayan yang melihat Eve sudah pulang segera memberikan minuman berupa air mineral kepada Eve dan diterima oleh Eve dengan mengucapkan terimakasih. “Apakah Nona memerlukan sesuatu lagi?” Tanya kepala pelayan.


Eve menatap kepala pelayan dan tersenyum. “Bibi apakah Eve tidak mengganggu pekerjaan bibi jika Eve bertanya sebentar?” Tanya Eve dengan sopan sedangkan kepala pelayan menggelengkan kepalanya dan membuat Eve tersenyum.


“Apakah bibi tau di mana ibu Dhara dan kak Adya biasanya mereka akan menunggu Eve di ruangan ini. Apakah mereka sedang ada keperluan atau mereka ada di kamar?” Tanya Eve dengan senyuman-nya.


Kepala pelayan menatap ke arah Eve dengan bingung, Eve yang melihatnya memasang wajah kebingungannya juga melihat kepala pelayan yang bungkam. “Maaf Nona apakah Nona belum tau bahwa Nyonya besar, Tuan besar, Nona muda Adya dan Tuan muda Tala pergi ke negara S untuk menemani pengobatan Nona muda Adya.”


Eve yang mendengarnya melepaskan gelas yang dipegangnya sehingga gelas itu pecah karena menyentuh lantai. Kepala pelayan kaget dengan hal itu sedangkan pengawal dan sopir yang mendengar suara pecahan dan teriakan kaget dari kepala pelayan segera datang ke arah sumber suara.


“Nona tidak apa-apa, Nona jangan bergerak itu akan sangat bahaya karena ada pecahan gelas.” Ucap kepala pelayan yang merasa khawatir saat serpihan gelas tersebut berhambur ke mana-mana saat melihat Eve yang bergerak.


“Nona tolong berhenti jangan membahayakan kandungan Nona.” Ucap sopir menghentikan langkah kaki Eve yang berdiri dengan linglung. Sementara pengawal segera mengamankan Eve ke tempat aman.


Kepala pelayan yang mendengar perkataan sopir menutup mulutnya tidak percaya karena merasa senang dan bahagia mendengarnya menatap ke arah Eve. “No-nona sedang hamil.” Ucap kepala pelayan dengan bahagianya.


Eve masih dengan keterdiaman-nya. Pengawal yang melihatnya merasa khawatir begitu juga dengan sang sopir. Menggigit bibir dalamnya, “ak-aku ingin ke kamar dan beristirahat.” Ucap Eve. “Aku bisa sendiri.” Saat pengawal hendak menemani Eve berjalan sampai ke depan pintu kamar.


Pengawal dan sopir menatap Eve yang berjalan dengan pelan, sementara kepala pelayan juga menatap ke arah punggung Eve dan pengawal serta sopir dengan bingung. “Kenapa wajah kalian?” Tanya kepala pelayan tersebut.


“Apakah Nona terkejut saat mendengar bahwa Nyonya besar, Tuan besar, Tuan muda, Nona Adya pergi ke negara S?” Tanya pengawal kepada kepala pelayan dan mendapat anggukan kepala pelayan.


“Sudah ku duga bahwa Nona tidak tau mengetahui hal itu.” Ucap sopir yang merasakan bahwa keyakinannya berbeda. “Kepala pelayan jangan kasih tau dulu mengenai kehamilan Nona muda Eve kepada Nyonya besar, Tuan besar, Tuan muda, dan Nona Adya. Biarkan Nona muda yang memberitahu-nya sendiri. Kami harap kepala pelayan bisa mengerti dengan keinginan Nona muda.” Ucap sopir kepada kepala pelayan dan diangguki pasrah oleh kepala pelayan karena menurut kepala pelayan berita kehamilan Eve harus segera diberitahukan agar Eve mendapatkan perhatian dari Tala.


Eve meluruhkan tubuhnya di belakang pintu kamarnya dan menelungkupkan wajahnya di antara lipatan tangannya. Eve merasa bahwa dirinya saat ini sangat cengeng dan mudah sekali menangis. Di dalam benak Eve terdapat pikiran negatif bahwa ibu Dhara, ayah Davka serta Adya sudah bosan dan malas dengan dirinya sehingga mereka tidak memberitahukan hal ini kepadanya.


Mengusap air matanya yang jatuh lalu segera membersihkan dirinya agar pikirannya tenang dan mengingat bahwa sekarang tidak hanya ada dirinya melainkan ada janin di dalam kandungannya. “Maafkan ibu yang mudah sekali menangis. Ibu akan kasih tau nenek dan kakek serta mama Adya nanti jika kamu sudah hadir di sini. Walaupun ibu nggak tau kapan mereka akan pulang.” Ucap Eve dengan mengusap perut-nya yang masih rata sambil menahan tangisnya.


“Ibu senang bahwa kamu ada di dalam sini. Kita akan berjuang bersama-sama terimakasih sudah hadir.” Ucap Eve lalu jatuh tertidur dan melewatkan makan malamnya. Kepala pelayan merasa khawatir dengan hal itu namun saat kepala pelayan melihat bahwa Eve sudah tidur dan kepala pelayan sudah berusaha membangunkan Eve namun Eve tetap tidak terbangun dan hanya mengigau saja.

__ADS_1


Di pagi harinya Eve terbangun dan merasakan bahwa dirinya sangat lapar namun saat hendak bangun Eve ingin muntah dan dengan segera ke kamar mandi untuk memuntahkan cairan yang terus minta dikeluarkan.


Selama hampir lima belas menit lamanya Eve berada di kamar mandi akhirnya Eve keluar dengan wajah lelahnya.


Terdengar suara ketukan pintu di luar kamar Eve segera menyuruh orang yang mengetuk pintu untuk masuk. “Nona maafkan bibi karena tidak bisa membangun Nona semalam. Tidur Nona sangat nyenyak.” Ucap kepala pelayan tersebut dan Eve mengangguk saja.


Kepala pelayan mendekat ke arah Eve saat melihat wajah Eve yang begitu pucat. “Sebaiknya Nona jangan berangkat bekerja hari ini. Wajah Nona terlihat sangat pucat, bibi akan buatkan air jahe hangat buat Nona serta mengantarkan sarapan. Nona tetaplah di sini jangan ke mana-mana.” Ucap kepala pelayan dengan cemas saat melihat wajah lemas dan tak berdaya Eve.


Tidak lupa Eve mengucapkan terimakasih kepada kepala pelayan sebelum kepala pelayan pergi ke dapur. Eve memejamkan matanya dan tiba-tiba matanya terbuka dan mengingat bahwa semenjak kemarin pagi dirinya tidak memainkan ponselnya.


Mata Eve memandang ke arah seluruh kamar sambil mengingat di mana dirinya meletakkan ponselnya kemarin pagi saat dirinya menahan rasa mual di dalam perutnya. “Di mana aku meletakkan ponsel ku.” Ucap Eve.


Eve turun dari tempat tidur dan mencari ponsel-nya langkah kakinya berjalan ke arah sofa dan melihat bahwa ponsel-nya terletak di sana. Eve segera membukakan ponsel-nya namun baru beberapa saat di pegang ponsel-nya mati. “Yah mati. Aku harus mengisi dayanya.” Ucap Eve dan berjalan lagi ke arah tempat tidur di mana pengisi daya ponsel miliknya berada.


“Nona sudah bibi bilang jangan ke mana-mana.” Ucap kepala pelayan saat melihat bahwa Eve baru saja duduk di atas tempat tidurnya. Eve hanya tersenyum mendengarkan nada penuh kekhawatiran itu. Rasanya Eve sangat merindukan kepala pelayan di mansion Adwitya yang juga begitu perhatian kepadanya.


“Aku mencari ponsel aku bibi yang dari kemarin pagi tidak aku lihat.” Jelas Eve agar kepala pelayan tidak khawatir lagi.


“Seharusnya Nona menunggu bibi saja atau Nona memanggil pelayan di luar sana untuk membantu Nona. Nona belum makan malam kemarin dan belum sarapan juga. Nanti bagaimana jika terjadi apa-apa. Setidaknya Nona harus sarapan dulu apalagi Nona habis muntah-muntah.”


“Iya bibi. Terimakasih sudah memperhatikan Eve dengan begitu baik.” Ucap Eve dengan terharu bahkan kini air matanya sudah menetes di pipi mulus Eve. Kepala pelayan yang melihat hal itu segera menghapus air mata yang jatuh di pipi Eve.


“Ibu hamil kenapa mudah sekali menangis. Nona jangan terlalu sering menangis nanti bayi Nona jadi sedih.” Hibur kepala pelayan dan dengan segera diangguki oleh Eve dan senyumannya.


Di siang harinya Eve merasa kurang betah di rumah karena tidak melakukan aktivitas apa pun akhirnya Eve pergi ke rumah sakit tentunya pasien yang dirawat oleh Eve hanya satu dan itu setiap hari. Pihak rumah sakit tidak mau membuat istri muda dari pewaris rumah sakit tersebut kelelahan apalagi itu istri muda dari Nabastala Affandra Werawan itu sedang mengandung.


Pihak rumah sakit juga tidak bisa melarang Eve melihat bahwa Eve sangat begitu keras kepala dan akhirnya mereka memberi penawaran bahwa Eve hanya boleh merawat satu pasien setiap harinya tidak boleh lebih dan tidak melakukan operasi. Eve hanya bisa pasrah menerima. “Ingat jangan kasih tau siapa pun bahwa saat ini aku sedang mengandung biarkan aku saja yang memberitahu keluargaku.”


 “Apakah kamu lapar lagi sayang? Padahal baru satu jam yang lalu kita baru selesai makan dan makan kita banyak.” Ucap Eve dengan terkekeh melihat bahwa sekarang makannya sangat banyak. Pengawal yang melihatnya tersenyum lalu segera menghampiri Eve yang berada di dalam ruang kerjanya.


“Apakah Nona muda memerlukan sesuatu?” Tanya pengawal tersebut kepada Eve membuat Eve tersenyum senang karena melihat bahwa ada pengawalnya yang selalu senantiasa menuruti keinginannya dan bayinya.


“Paman aku sangat lapar dan ingin makan bolu pandan serta ayam goreng. Bisakah paman membelinya untukku. Tolong.” Ucap Eve dengan suara anak kecilnya membuat pengawal tersebut tersenyum senang mendengarnya. Pengawal dengan segera menganggukkannya membuat Eve bersorak senang.


Dokter Raka yang melihat Eve tersenyum dengan ceria juga ikut senang. Semenjak dokter Raka tau bahwa saat ini Eve sedang mengandung dokter Raka berusaha bersikap senormalnya sebagai rekan agar Eve merasa nyaman dengannya dan terbukti bahwa Eve sekarang tidak sungkan bercanda dengannya walaupun dirinya tau bahwa Eve sangat kesepian. “Dengan melihat mu tersenyum senang sudah membuatku bahagia. Tetaplah tersenyum.” Ucap dokter Raka.


“Sayang banyak orang yang menyayangi kamu. Maafkan ibu karena belum memberitahukan keberadaan mu kepada nenek, kakek, dan mama Adya serta ayah Tala.” Ucap Eve dengan senyuman manisnya dan berusaha menahan sesak di dadanya saat dirinya menyebutkan nama Tala.


“Kamu tau ibu sangat senang melihat mu harus membuat ibu banyak makan, ibu menyayangimu sayang mari kita buat kenangan ini bersama sebelum…” Ucap Eve menahan tangisannya dengan menggigit bibir dalamnya. “Kamu harus lebih bahagia dan harus percaya bahwa bagi ibu kamu adalah segalanya. Hiduplah berbahagia nanti bersama ayah Tala dan mama Adya serta nenek dan kakek.” Ucap Eve yang kembali sensitif dan tidak kuat menahan rasa sedih, gelisah, dan takut nanti jika dirinya tidak bisa meninggalkan anaknya sesuai dengan perjanjian di dalam pernikahannya.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2