Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 69. Permintaan Adya


__ADS_3

Lalu mata Tala kembali menatap ke arah Adya, “apa kakak ingin Eve di sini juga?” Tanya Tala ke Adya. Adya menganggukkan kepalanya.


“Baiklah aku akan memanggil Eve dan menyuruhnya untuk ke sini. Kakak tidak apa-apa kan jika aku tinggal sebentar?” Tanya Tala merasa khawatir.


Adya tersenyum dan menganggukkan kepalanya setelah mendapatkan anggukan kepala dari Adya yang pelan Tala berjalan ke ara pintu untuk memanggil Eve.


Namun, saat Tala keluar dan berdiri di depan pintu Tala tidak melihat Eve di sekitar lantai. Pengawal yang melihat bahwa Tuan muda mereka seperti sedang mencari sesuatu pun bertanya.


“Tuan ada yang bisa kami bantu?” Tanya pengawal kepada Tala yang berdiri di depan pintu.


Tala menganggukkan kepalanya. “Ke mana perginya Eve?” Tanya Tala kepada pengawal yang mengajaknya berbicara.


Pengawal tersebut melihat ke arah temannya dan temannya menggelengkan kepalanya. “Mohon maaf Tuan muda tadi setelah Tuan muda masuk tidak lama kemudian Nona muda pergi sambil melihat layar ponselnya dan langsung masuk ke dalam lift.” Jelas pengawal tersebut.


Tala yang mendengarnya menganggukkan kepalanya mengerti mungkin Eve sedang ada pasien daruratnya makanya pergi. “Baiklah terimakasih.” Ucap Tala ke pengawal dan pengawal menganggukkan kepalanya.


Tala membalikkan badannya namun terhenti lalu membalikkan badannya. “Kalian pergilah dan bersantai sejenak.” Ucap Tala membuat pengawal yang ada di situ merasa senang namun tidak mereka tunjukkan. “Tolong panggil pengawal Adya dan Eve untuk kembali melakukan tugasnya.” Perintah Tala kembali.


Para pengawal menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terimakasih tidak lupa pamit pergi dari lantai itu ke Tala lalu setelahnya mereka pergi meninggalkan lantai tersebut.


Tala masuk kembali ke dalam ruang rawat Adya. Adya sudah menunggu Tala dan mencari seseorang dibalik belakang tubuh Tala yang kekar dan tinggi menjulang.


Namun, dari jangkauan matanya Adya tidak melihat siapa pun. Tala yang melihatnya tersenyum. “Maaf kak, Eve lagi ada pasien darurat kata pengawal tadi.” Jelas Tala dengan singkat padat apa yang disampaikan pengawal kepadanya tadi.


Adya melemaskan bahunya dan menjadi tidak semangat karena tidak ada Eve. Tala yang melihatnya mengerti dan tau hubungan keduanya yang begitu erat layaknya saudara.


“Kakak jangan khawatir nanti pasti Eve akan ke sini setelah urusannya selesai.” Hibur Tala melihat Adya yang terlihat sedih.


“Mungkin setelah ini aku akan meminta petinggi rumah sakit membuat Eve libur untuk menemani kakak. Lagipula selama tiga bulan ini Eve tidak mengambil libur karena merasa kurang profesional jika dirinya mengambil libur sementara dirinya meminta pasiennya berkurang dan operasi yang dilakukannya terbatas karena ingin merawat dan menemani kakak.” Jelas Tala apa adanya ke Adya, agar Adya tidak kembali sedih.


Melihat Adya yang sedih dan kurang semangat membuat Tala tidak bisa jika Adya meminta apa yang ada di dunia maka akan Tala kabulkan dengan segera selagi tidak membahayakan kesehatan Adya dan selagi itu perkembangan kesehatan Adya semakin membaik.


Sementara Adya yang mendengarnya menatap Tala. Adya merasa sedih mendengar apa yang dikatakan Tala mengenai Eve.


Tala yang melihat Adya merasa khawatir. “Kenapa kakak menangis apa ada yang sakit?” Tanya Tala dengan raut wajah dan intonasi nada bicaranya yang terlihat jelas bahwa dirinya khawatir.


Adya menggelengkan kepalanya, “dia pasti sangat menderita.” Ucap Adya dengan lirih namun bisa Tala tangkap melalui pendengarannya.


Tala yang panik menatap ke arah bola mata Adya yang sedang menatapnya dengan berkaca-kaca. “Kak jangan memikirkan yang berlebihan Eve baik-baik saja. Kakak cukup pikirkan kesehatan kakak saja. Dia adalah seorang dokter dan tau apa yang harus dilakukannya.” Ucap Tala dengan datar karena merasa tidak suka jika Adya menangis karena Eve.


Seperti yang Tala katakan bahwa Adya terlalu mengkhawatirkan Eve sedang kesehatannya tidak dikhawatirkan.


Menurut Tala, Eve sudah cukup dewasa dan pengetahuannya tentang dunia medis banyak daripada orang awam seperti dirinya dan Adya.


Jadi, Eve bisa mengantisipasi sendiri jika dirinya merasa tidak baik-baik saja dan tau apa yang harus dilakukannya.


“Kak tolong jangan memikirkan apa pun kakak fokus aja dengan kesehatan kakak okay.” Ucap Tala dengan lembut sembari tangannya menghapus air mata di pipi Adya.


“Berjanjilah ke aku kamu tidak akan menceraikan Eve sampai kapan pun dan kalian akan tetap menjadi sepasang suami istri selamanya. Aku ingin melihat kalian tetap bersama.” Pinta Adya membuat Tala terdiam.


Sementara Eve yang pergi setelah Tala masuk ke dalam ruang rawat Adya berpura-pura terlihat tergesa-gesa sembari melihat layar ponselnya agar tidak dicurigai oleh para pengawal yang menjaga.


Namun, ternyata yang dilakukan Eve adalah kembali ke ruangnya dan mengunci pintu sembari menangis menahan sesak di dadanya.

__ADS_1


Dering ponsel Eve terdengar membuat Eve menghapus air matanya lalu melihat siapa pengirim pesan tersebut.


Setelah Selama tiga bulan nomor asing itu tidak mengirim pesan kepada Eve kini nomor itu kembali lagi mengirimnya pesan.


Eve yang membacanya menegakkan tubuhnya karena merasa tegang dan Eve bertanya-tanya bagaimana nomor asing ini tau bahwa Adya sudah sadar.


‘Aku tau bahwa Adya sudah sadar namun itu tidak akan bertahan lama. Aku memberimu kejutan tunggu saja'


Nafas Eve terengah-engah dan merasa sesak setelah membacanya kenapa ada orang yang menerornya seperti ini dan kenapa orang tersebut tidak suka melihatnya bahagia.


Eve ingin sekali melapor namun Eve selalu merasa ketakutan dengan apa yang dilakukan nomor asing. Bukan takut nomor asing itu melukai dirinya namun Eve takut jika nomor asing itu melukai orang terdekatnya yang sama sekali tidak tau sama seperti dirinya tidak tau apa salahnya sampai nomor asing itu sangat tidak suka dengan dirinya.


‘Cepat atau lambat aku tidak sabar melihat mu Eve ditinggalkan sendiri dan kesepian lagi’


Satu pesan masuk lagi di layar hp Eve yang masih menyala dan Eve membacanya. Eve ingin sekali mengganti nomornya namun Eve tidak ingin membuat orang di sekitarnya merasa curiga dengan apa yang terjadi kepadanya kenapa suka sekali mengganti nomor.


Apalagi nomor asing ini mengirim pesan dengan nomor pribadi miliknya, bisa saja peneror itu mendapatkan nomornya dari biodatanya atau orangnya itu berada di sekitarnya atau berada di dalam mansion entahlah Eve hanya bisa menduga dan mencari tau sendiri walaupun Eve juga tidak tau apakah dirinya bisa menemukannya atau tidak yang pasti Eve tidak ingin menyusahkan orang lain hanya karena dirinya.


Mengenai hubungan dengan Tala sudah pasti itu tidak akan bisa selama-lamanya sampai maut memisahkan karena itu tidak akan bisa terutama dari internal baik dari dirinya sendiri dan juga Tala.


Bahkan selama mereka menikah nomor ponsel Tala juga tidak ada di dalam kontak ponselnya namun entah bagaimana caranya Tala selalu bisa menjemputnya tepat waktu ketika ada keadaan mendesak dan tau namun Eve tidak memikirkannya karena Tala memiliki banyak pengawal.


Eve keluar dari dalam ruangannya setelah merapikan penampilannya saat Eve membuka pintu Eve dikejutkan dengan kehadiran Tala yang berada di depan pintu ruangnya.


“Ada apa?” Tanya Eve menatap ke arah Tala sebentar lalu melihat kiri kanan. “Jika tidak ada aku harus kembali bekerja kak permisi.” Ucap Eve memang benar kali ini Eve tidak mengada-ngada karena dirinya harus memeriksa pasiennya.


Saat Eve hendak melangkahkan kakinya pergelangan tangan Eve digenggam oleh Tala membuat Eve menatap ke arah tangannya yang di genggam tersebut.


Eve melepaskan genggaman tangan Tala dari pergelangan tangannya, “kenapa meninggalkan kak Adya sendirian seharusnya kak Tala di sana.” Ujar Eve.


Lalu mata Eve melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Maaf kak aku harus pergi.” Pamit Eve namun tangan Eve di pegang lagi oleh Tala membuat Eve segera menghempaskannya.


Eve yang melihat dirinya melakukan hal itu sangat terkejut dan menutup mulutnya. “Maafkan aku, aku tidak sengaja.” Ujar Eve.


“Kamu diliburkan.” Ucap Tala datar dengan dua kata membuat Eve terdiam dan menatap ke arah Tala.


Eve merasa dirinya tidak mengambil libur atau mau mengajukan libur karena dirinya ingin bekerja sesibuk mungkin untuk melupakan masalah prahara rumah tangganya dan pesan teror.


“Apa maksudnya?” Tanya Eve dengan serius ke arah Tala namun Tala hanya diam dan menatap ke arah Eve. “Kak aku tau kakak adalah suami ku tapi ya hanya kita yang tau bukan mengenai awal permulaannya.” Ujar Eve tidak ingin berbicara sembarangan takut ada yang mendengar.


Karena tembok bisa mendengar jadi Eve lebih memilih berhati-hati dalam bertutur kata. “Aku ingin bekerja dan aku ada pasien yang harus aku tangani. Tidak boleh seenak ini, lagipula kita harus mengurus urusan masing-masing terlebih lagi tinggal dua bulan bukan. Jadi, aku harus kembali bekerja dan aku menolak diliburkan.”


Tala merasa kesal mendengar perkataan Eve sehingga menarik Eve dan mengukung Eve ke depan pintu ruang kerja Eve.


Eve meringis karena merasakan punggungnya yang terasa nyeri. “Apa yang sedang kakak lakukan ini di rumah sakit. Bagaimana jika orang melihatnya aku tidak mau keprofesionalitas aku tercoreng karena ini. Lepaskan aku.” Ucap Eve dengan tegas.


Eve merasa kesal apalagi suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja sekarang. “Kakak tolong jangan mencampuri urusan aku seperti yang kakak bilang bahwa aku juga tidak boleh mencampuri urusan kakak.”


“Apa aku perlu mengatakan semuanya di sini.” Ucap Eve dengan datar pandangan kedua suami istri itu bertemu seolah mereka sedang beradu tatap menatap.


“Ada ibu dan ayah.” Ucap Tala membuat Eve terdiam.


Dahi Eve berkerut sembari berkata di dalam hatinya “memberi tahu ibu saja kenapa harus lama sekali dan harus membuat punggungnya sakit, sepertinya aku PMS kenapa sensi sekali.”

__ADS_1


“Iya nanti aku akan temui ibu dan ayah tapi aku harus memeriksa pasien aku dulu.” Ucap Eve mencoba melepaskan namun belum sempat Eve mendengar ada suara seorang wanita yang memanggil dirinya.


“Eve.” Teriak seorang wanita dengan keras dari jarak cukup dekat membuat Tala dan Eve menolehkan kepalanya.


Eve yang melihat siapa yang memanggilnya itu segera keluar dari kungkungan Tala dan berjalan mendekat ke arah wanita yang tidak lain adalah ibu dari Ashi.


“Kak kenapa?” Tanya Eve setelah sampai di depan wanita tersebut.


“Ashi, Ashi Eve.” Ucap ibu Ashi dengan panik ke Eve membuat Eve segera berlari menuju ruang rawat Ashi diikuti oleh ibu Ashi.


“Kakak sudah panggilkan dokter?” Tanya Eve sambil berlari ke ibu Ashi.


“Sudah, aku sudah memanggil dokter.” Jawab ibu Ashi.


Sesampainya di sana mereka melihat bahwa Ashi dipindahkan ke dalam ruang operasi Eve yang melihatnya menoleh ke arah ibu Ashi dan memegangnya lalu mengikuti ke mana dokter membawa Ashi.


“Kakak tenanglah Ashi akan baik-baik saja.” Ucap Eve tak lama kemudian dokter Raka datang menghampiri kedua wanita tersebut.


“Apa yang terjadi?” Tanya dokter Raka membuat Eve menatap ke arah dokter Raka sambil menggelengkan kepalanya.


Dokter Raka menyugar rambutnya dan Eve menatap dokter Raka karena selama tiga bulan ini dokter Raka terlihat menghindarinya.


Dokter Raka yang merasa ada orang menatapnya melihat ke arah Eve dan benar saja bahwa Eve sedang melihat ke arahnya. “Kenapa melihatku?” Tanya dokter Raka pura-pura bingung, Eve menggelengkan kepalanya karena rasanya tidak tepat waktunya jika dirinya harus membicarakan masalah pribadi mengenai dokter Raka yang menghindarinya.


“Tadi, Ashi tiba-tiba saja kejang.” Ucap ibu Ashi yang sudah tenang sambil mengusap air matanya dan menggenggam tangan Eve.


“Eve, Ashi akan baik-baik saja kan dan dia tidak akan meninggalkan aku kan?” Tanya ibu Ashi kepada Eve.


Eve bingung harus menjawab apa karena takut salah berbicara lalu Eve melihat ke arah dokter Raka yang juga menatap ke arahnya seolah berkata aku harus menjawab apa.


“Tenanglah Ashi adalah anak yang kuat dia akan baik-baik saja.” Ucap dokter Raka.


Eve juga merasa cemas melihat Ashi yang baik-baik saja tiba-tiba harus dilakukan operasi. “Kak bagaimana ceritanya ketika Ashi kejang-kejang tadi?” Tanya Eve.


Ibu Ashi menundukkan kepalanya sedih melihat hal itu semakin menambah rasa penasaran. “Tadi, saat aku pergi istri dari mantan suami aku ke sini dan memberitahukan bahwa dirinya hamil di depan Ashi dan mengatakan bahwa ayahnya sudah tidak menyayanginya lagi karena sekarang ayahnya ada anak baru.”


“Aku tidak bisa menahan istri dari mantan suami aku berbicara karena aku dipegang oleh dua orang berbadan kekar yang mengawalnya.” Ucap ibu Ashi menjelaskan sembari menangis.


Eve yang mendengarnya merasa sedih dan merasa marah namun saat dirinya tau bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa jadi Eve hanya diam saja dan memberikan perasaan moril kepada ibunya Ashi.


Suara pesan masuk datang ke hp Eve dan Eve dengan segera merogoh saku jas kedokterannya itu dan melihat.


‘Bagaimana kejutannya menarik bukan’


Satu kalimat yang berisi pesan tersebut membuat tangan Eve bergetar, Eve menoleh kepalanya ke samping kanan dan kiri dengan gelisah.


Dokter Raka bisa menangkap kegelisahan Eve yang saat ini duduk di samping ibu Ashi. Eve ingin sekali membalasnya namun tidak bisa karena nomor itu langsung tidak aktif.


Ada ketakutan yang besar di dalam mata Eve ketika dokter Raka memperhatikannya ingin sekali bertanya namun dokter Raka harus menahannya. “Kenapa Eve terlihat sangat gelisah dan ketakutan seperti itu setelah melihat ponselnya?” Tanya dokter Raka di dalam hatinya.


 


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2