
Tala yang pergi dari ruang keluarga karena tidak mau mendengarkan permintaan ibunya apalagi jika ibunya mulai mengeluarkan jurusnya yang merengek.
Lebih baik Tala menghindar saja dari wanita pertama yang dicintai dan melahirkannya itu.
Terkadang Tala heran dengan tingkah laku ibunya. Adakalanya ibunya itu sangat kalem dan anggun dan adakalanya jika ada maunya seperti tadi ibunya akan merengek seperti anak kecil.
Kalau kata ayahnya ibunya jika sudah merengek seperti anak kecil yang tidak dikasih ibunya untuk membeli es krim.
Tala menggelengkan kepalanya mengingat bagaimana tingkah laku ibunya itu.
Apalagi jika keduanya sudah bersatu dengan Adya maka Tala akan pusing dengan segala tingkah laku menantu dan mertua tersebut.
Beruntungnya Eve tidak seperti Adya dan ibunya yang tidak merengek.
Justru istri keduanya itu sangat kalem dan anggun apalagi tutur tata bahasa dan tata krama yang dimilikinya.
Tunggu kenapa Tala sampai memuji Eve seperti ini. Sepertinya Tala sudah terkena sedikit atau bahkan banyak atau memang sudah lama namun ditahan oleh Tala akan pesona Eve.
Siapa sih yang tidak terpesona dengan wanita yang sudah bersuami bernama Elakshi Feshika Adwitya itu.
Seperti kata pengawal Bee, Eve sudah cantik luar dalam, baik hati, cerdas, anggun, akhlaknya bagus dan lembut.
Semua orang pasti iri dengan apa yang dimiliki Eve. Apalagi Eve adalah menantu dari keluarga terkaya nomor 1 di negara K dan istri dari seorang Nabastala Affandra Werawan.
Belum lagi prestasi yang dimilikinya sudah tidak diragukan lagi.
"Kenapa ibu terlihat sangat mengerikan jika seperti itu." Ucap Tala dengan dirinya sendiri ketika mengingat kelakukan ibunya.
"Untung aku sayang dan untung ibuku." Ujar Tala lagi lalu terkekeh. Di dalam pikiran Tala jika ibunya tau pasti dirinya akan dicubit habis-habisan karena merasa gemas dengan dirinya.
Eve yang melihat Tala tertawa dan berbicara sendiri hanya menatap dengan penuh keheranan.
Karena saat ini posisi Tala masih berada di dalam kamar dan Tala tidak menyadari bahwa Eve sudah bangun dari tidurnya.
"Apakah dia ada masalah kenapa menjadi aneh begini. Tadinya perhatian sekali dan sekarang dia tertawa dan berbicara sendiri." Ucap Eve dalam benaknya sambil mengedipkan bulu matanya menatap ke arah Tala.
"Apakah kak Tala sedang ada masalah?" Tanya Eve memberanikan diri membuat Tala tersadar dan menatap ke arah Eve yang kini menatapnya dengan penasaran.
Tala dengan segera menetralkan wajahnya menjadi datar kembali lalu Tala segera berjalan ke arah ruang kerjanya.
Mata Eve terus mengikuti langkah kaki Tala yang membawanya ke ruang kerjanya.
Tiba-tiba ada suara mengaduh yang terdengar di ruang kerja dan ada suara benda yang bergeser.
Eve yang mendengar suara dari arah ruang kerja Tala segera bangkit untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi kenapa ada suara pekikan.
Namun Eve lupa bahwa kakinya saat ini sedang terkilir sehingga membuat Eve terjatuh dan meringis apalagi vas bunga yang berada di samping nakas tempat tidur jatuh dan mengenai kening Eve.
Prang
Suara pecahan terdengar dan Eve masih belum menyadari bahwa keningnya berdarah karena vas bunga yang jatuh.
__ADS_1
Eve masih sibuk menetralkan rasa sakit di mata kakinya itu.
Tala yang habis menabrak sesuatu tersebut segera berlari untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Mata Tala mengarah ke arah tempat tidur di sana Tala tidak menemukan Eve yang berada di tempat tidur tersebut.
Lalu Tala melangkah dengan cepat dan baik ke atas tempat tidur dan melihat bahwa Eve sudah terjatuh di atas lantai sambil memegang kakinya.
Tala melihat darah segar mengalir di kening Eve lalu matanya turun ke lantai di mana vas bunga yang ada di atas nakas tersebut sudah pecah.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Tala dengan wajah datar dan suaranya yang dingin tidak lupa matanya yang tajam.
Eve yang melihat Tala seperti itu merasa sangat cemas.
Lalu mata Eve melihat ke sekelilingnya di mana pecahan vas bunga sudah berceceran di lantai.
"Maafkan aku kak karena tidak sengaja memecahkan vas bunga." Ucap Eve dengan gugup.
Tala segera menghampiri Eve dan menggendong Eve lalu meletakkannya di atas tempat tidur.
"Selalu ceroboh." Ucap Tala membuat Eve berhenti meringis dan menatap ke arah Tala.
Eve terdiam ketika dirinya bisa melihat dengan jelas wajah khawatir yang ditunjukkan Tala kepadanya sama seperti waktu dulu.
"Diam di sini jangan ke mana-mana." Titah Tala dengan tegas kepada Eve yang masih terpaku akan perubahan Tala yang dirasakan oleh Eve.
Tala segera mengambil plastik dan kemoceng yang ada di ruang kerjanya itu untuk menyapu pecahan vas bunga yang bertebaran di mana-mana.
Eve hanya diam menatap ke arah Tala yang sedang bingung untuk melakukan apa-apa. Rasanya seperti dejavu.
Tingkah laku Tala mengingatkan Eve waktu mereka masih pacaran dulu.
Dulu ketika Eve terluka sedikit saja maka Tala akan terlihat seperti orang linglung karena bingung harus melakukan apa namun pada akhirnya Tala menemukan apa yang harus dilakukannya terlebih dahulu seperti yang dilakukan Tala kali ini.
Tangannya dengan lincah membuka kotak P3K dan mengambil apa yang diperlukan untuk lupa di kening Eve.
Namun tangan Tala sempat terhenti karena masih bingung dan mengingat-ngingat. "Mana dulu?" Tanya Tala sambil menatap ke arah Eve.
Namun belum sempat Eve menjawab Tala langsung pergi ke kamar mandi.
"Kamu di sini dulu jangan ke mana-mana aku mau cuci tangan." Ujar Tala dan Eve mengangguk pasrah dan masih dalam kebingungannya. "Kenapa aku bisa lupa seharusnya yang terpenting cuci tangan dulu supaya tidak ada bakteri atau kuman yang masuk. Dasar Tala." Gerutu Tala di dalam kamar mandi bahkan Eve sampai mendengar gerutuan Tala dari luar kamar mandi.
Tidak lama kemudian Tala muncul dari arah kamar mandi dengan tangan yang sudah dibersihkan.
Lalu Tala segera mengambil cairan disinfektan ketika melihat tidak ada serpihan kaca yang menyangkut di kening Eve.
Sesekali Eve meringis membuat Tala meniup kening Eve dengan lembut untuk mengurangi rasa sakit itu.
Eve benar-benar merasa seperti di masa lalu melihat sikap yang ditunjukkan oleh Tala kepadanya dan Eve tanpa sadar menangis.
Tala yang baru selesai memberikan cairan disinfektan menggunakan kain kapas sembari meniup-niupnya mata Tala melihat Eve menangis.
__ADS_1
"Apakah sangat sakit?" Tanya Tala dengan lembut Eve yang mendengar semakin menangis dengan keras.
Tala semakin bingung dan panik melihat Eve menangis. "Nanti dulu nangisnya aku akan balut dulu lukanya." Ujar Tala dengan cepat.
Eve tidak menjawab perkataan dari Tala dan masih sibuk dengan tangisannya itu.
Setelah selesai Tala langsung memeluk Eve hal itu semakin membuat Eve menangis. Sebenarnya yang dilakukan oleh Tala sama sekali tidak disadari.
Tala melakukannya dengan reflek dan hal yang dilakukannya di masa lalu tanpa sadar masuk ke alam bawah sadarnya sehingga ketika kejadian yang hampir sama itu muncul dengan sendirinya.
Tala menepuk bahu Eve yang bergetar, lalu mata Tala menatap serpihan kaca yang belum sempat ia bersihkan sementara Eve masih menangis.
Ketika tangisan Eve sudah mula reda Tala melepaskan pelukannya dan melihat ke arah wajah sembab Eve.
Tala mengusap air mata yang jatuh ke pipi Eve. "Apakah sudah merasa baikan?" Tanya Tala membuat Eve menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu tunggu di sini jangan ke mana-mana aku akan bersihkan serpihan vas bunga ini." Ujar Tala lalu dengan fokusnya Tala membersihkan ceceran vas bunga tersebut.
Eve hanya diam sambil memilih bajunya namun sesekali Eve melihat ke arah Tala. Eve berpikir apakah Tala tidak sadar apa yang dilakukannya barusan.
Tala yang fokus dengan serpihan kaca tersebut terhenti lalu menoleh ke arah Eve yang sedang menunduk. "Jangan besar kepala atas apa yang aku lakukan itu hanyalah peri kemanusiaan saja lagipula aku tidak ingin membuat ibu dan istriku Adya bertambah kesal dengan ku hanya gara-gara aku yang terus membuatmu terluka. Aku lakukan ini untuk ibu dan istriku Adya." Ujar Tala dengan mode dinginnya.
Eve semakin menundukkan kepalanya mendengar perkataan Tala.
Lagi lagi tanpa sadar Eve berharap dengan hubungan dirinya dan Tala akan membaik.
Terutama tingkah laku Tala yang cukup perhatian dan sigap menolongnya seperti dulu.
Namun ternyata itu semua hanyalah khayalannya saja.
"Kamu sudah memainkan pernikahan dengan sebegitu baiknya bahkan janji suci pernikahan di hadapan Tuhan saja kamu mainkan Eve. Jadi, jangan berharap kamu bisa mendapatkan kebahagiaan my begitu mudah. Ingat yang kamu ingkari adalah Tuhan." Ucap Eve menguatkan hatinya dan membuat Eve harus sadar.
Tala kembali ke dalam kamar namun masuk ke ruang kerjanya setelah membuang serpihan vas bunga yang jatuh akibat ulah Eve.
Beruntungnya tadi Tala tidak bertemu dengan ibu Dhara, ayah Davka, Adya dan kepala pelayan. Jika tidak Tala akan disidang dengan pertanyaan.
Eve hanya diam dan merenung melihat apa yang sudah terjadi hari ini. "Ingat Eve kamu hanya istri sementara dan pernikahan kalian tidak akan lama lagi tinggal beberapa bulan lagi.
"Kenapa semakin mendekat semakin berat ya Tuhan." Ujar Eve dengan tatapan nanarnya.
Rasanya Eve tidak rela jika harus meninggalkan keluarga yang sudah memberikan kebahagiaannya dan semangatnya kembali.
Apalagi mendapat mertua yang begitu baik layaknya orang tua sendiri. Serta hubungannya dengan istri pertama dari suaminya yang dipanggil kakak sama sekali tidak masalah dan Eve meras bahwa Adya adalah sosok yang patut dijadikan panutan jika dia adalah seorang kakak.
Eve yang dulu ingin sekali punya kakak laki-laki namun itu semua tidak terwujud karena pada dasarnya Eve hanyalah anak pungut.
Namun karena pernikahan ini Eve juga sangat bersyukur kepada Tuhan bahwa dirinya mendapatkan kakak perempuan yang baik dan itu adalah istri pertama dari suaminya sendiri.
Jika Eve menjadi seperti Adya maka Eve akan merasa sangat sakit hati dan tidak berbesar hati untuk memberikan Tala menikah lagi.
"Ya Tuhan apakah masih ada aku di hatinya. Jika sudah ada maka dekatkanlah kami dan jika kami berjodoh maka dekatkanlah kami. Namun, jika bukan maka segera jauhkanlah kami agar tidak saling menyakiti dan menyiksa satu sama lain. Manusia berhak membuat rencana dan mengatur segala apa yang harus dilakukannya tapi sebagai manusia, manusia bukanlah siapa-siapa dan bukan makhluk yang ciptakan oleh Engkau betapa luar biasanya dia." Ujar Eve.
__ADS_1
*Bersambung*