
Sudah dua hari ini Eve tidak bertemu dengan Orion dan dia sudah sangat merindukan putra semata wayangnya itu.
Tala masih belum mengizinkannya untuk bertemu dengan Orion sementara waktu mereka hanya melakukan video call namun itu belum bisa mengobati kerinduan Eve.
Selama dua hati itu pula Eve mendiamkan Tala hanya menjawab ala kadarnya saja.
Eve akan banyak berbicara jika mereka akan menelpon Orion itu pun Eve sama sekali tidak menganggapnya ada.
Ingin kabur dari apartemen ini namun Eve sama sekali tidak tau kata sandi apartemennya apalagi apartemen ini menggunakan sidik jari dan sidik jari yang diatur hanya satu yaitu sidik jari Tala.
Padahal bukan hanya sidik jari Tala tapi ada sidik jari asisten Kaivan, sekretaris Diego dan pengawal Bee hanya saja Eve yang tidak tau.
Tala merasa frustrasi karena Eve mendiamkannya namun mau bagaimana lagi salahnya karena tidak berbicara jujur kepada Eve dari awal.
Ingin sekali mendatangi penjara dan bertemu dengan paman Tibra, bibi Bora serta Harsha namun Tala tidak bisa meninggalkan Eve sendirian walaupun ada pengawal Bee.
Yang dilakukan Eve hanya berdiam diri sembari membaca buku tentang parenting dan ilmu kejiwaaan.
"Sampai kapan bunda akan mendiamkan ayah seperti ini?" Tanya Tala dengan kepalanya yang ia letakkan di atas kedua paha Eve yang menjulur ke depan.
Eve saat ini sedang membaca buku sangat fokus sekali Tala merasa gemas rasanya namun sepertinya istrinya masih tidak mau bicara dengannya walaupun menerima apa yang dilakukannya seperti sekarang ini.
Diam Eve lebih menyeramkan daripada ia marah. Apakah semua wanita kalau sudah marah akan diam seperti ini.
Namun bukankah istrinya ini memang pendiam. Tapi, bukankah akan berbeda jika mereka sudah menikah dan merasa nyaman dengan pasangannya serta sudah mempunyai anak?
Jika begitu berarti Eve sama sekali tidak nyaman dengannya dan dia masih jauh dari pasangan yang baik dan sempurna untuk Eve.
Tala membenamkan kedua matanya di perut Eve saat membenarkan apa yang ada di dalam pikirannya untuk menyembunyikan air mata yang ingin keluar.
"Bundaaaaaaaaaaaaa ayah harus bagaimanaaaaa!" Rengek Tala dengan bergerak gelisah di depan perut Eve sehingga membuat Eve merasa geli dibuatnya.
Tangan Eve berusaha menyingkir kepala Tala dari depan perutnya. Tala menatap ke arah buku yang menjadi penghalang untuk melihat wajah cantik istrinya itu.
Tala merampas buku yang berada di kedua tangan istrinya itu dan memasang wajah memelas-nya.
"Jangan mendiamkan ayah seperti ini tolongggggg." Ujar Tala seperti anak kecil saja bahkan kakinya dihentak-hentakkan di atas tempat tidur karena merasa gemas dan frustrasi itu adalah saran dari Axel.
Kata Axel bersikaplah sangat semenggemaskan mungkin agar wanita merasa luluh.
"Kakak ipar Eve sangat menyukai anak kecil dan menikmati perannya sebagai ibu. Jadi, kak Tala harus bersikap seperti anak kecil."
Tala yang mendengar saran dari Axel memijat pangkal hidungnya karena pusing. Memang saran dari Axel selalu saja di luar nalar pikirannya namun sejauh Tala menurutinya itu sangat menjamin daripada saran dari asisten Kaivan, sekretaris Diego, dan Geya yang malah meledek dan membuatnya pusing.
__ADS_1
Apalagi Tala mengingat dengan jelas setiap kali Eve berada dekat dengan anak mereka Orion, Eve selalu mengatakan bahwa bau Orion selalu membuat Eve ingin menciumnya dan itu tentu saja sudah Tala lakukan agar Eve menempel dengannya, Eve juga selalu tersenyum dan mengajak Orion bersemangat untuk berbicara jika Orion bertingkah sangat menggemaskan.
Jadi, oleh karena itu Tala dengan menurutnya mengikuti saran yang tidak masuk akal dari Axel. Menurut Tala, Axel adalah pakar wanita walaupun tidak mengakuinya secara langsung.
"Apa jika Geya marah dan kesal dengan mu kamu akan bersikap seperti itu?" Tanya Tala bergidik ngeri saat membayangkan pria seperti Axel yang bertubuh besar, tinggi, dan berbadan atletis bersikap seperti itu kepada sepupunya.
Axel bukannya menjawab tapi malah ia tertawa, "tentu saja aku akan bersikap seperti itu malah akan aku lebih-lebihkan jika Geya merasa marah dan kesal. Namun selama ini Geya tidak pernah seperti itu karena aku adalah laki-laki yang peka, yang selalu mengerti dan memahami Geya."
Tala langsung mematikan sambungan teleponnya ketika mendengar Axel memuji dirinya sendiri.
'Cih, dia sangat narsis sekali'
Tala kembali membenamkan kepalanya di perut Eve dan mendusel-dusel seperti yang Orion lakukan kepada Eve akan dia buat Eve berbicara hari ini dan tidak mendiamkannya lagi.
Sudah cukup dua hari dia sudah tidak tahan lagi.
Eve Kemabli menyingkirkan kepala Tala dari perutnya karena merasa geli dan risih. "Geli." Ujar Eve datar.
Tala menjauhkan kepalanya dari perut Eve lalu menatap ke arah istrinya itu yang sudah memasang wajah datarnya.
"Ayah tidak akan berhenti sampai bunda mau berbicara dengan ayah dan memaafkan ayah."
Tala langsung mengukung tubuh Eve sehingga saat ini Tala berada di atas tubuh Eve dengan menggelitik pinggang Eve.
Sedangkan Eve berusaha untuk memberontak dan akhirnya karena sudah tidak kuat Eve tertawa karena merasa geli.
Bahkan tempat tidur yang di tempati mereka berdua sudah sangat berantakan sprei sudah terlepas dari kasur bantal sudah bertebaran di lantai.
"Hentikan.....hahahaha....mau...hhhh....hhhh pipissssssssssss." Teriak Eve dengan kencang mampu membuat Tala menghentikan aktivitas menggelitik tubuh Eve.
Eve dengan cepat menyingkirkan Tala yang berada di atas tubuhnya untuk berlari ke kamar mandi.
Tala dengan nafas terengah-engahnya melihat Eve yang tergopoh-gopoh ke kamar mandi tertawa sendiri.
"Apa aku berhasil?!" Tanya Tala dengan penuh harap.
Tala melihat ke sekitarnya dan meringis saat melihat barang-barang berserakan.
Eve keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah kesalnya bukan lagi menunjukkan wajah datarnya.
"Bagaimana apakah bunda masih mau!?" Tanya Tala dengan menggoda ke arah Eve.
Eve melipatkan kedua tangannya dan menghentakkan kakinya kesal lalu duduk di sofa dan menghidupkan TV.
__ADS_1
"Ouw jadi bunda masih mau." Ujar Tala berjalan mendekat ke arah Eve.
"Jangan mendekat." Ucap Eve dengan tangan kanannya dimajukan ke depan seolah Tala harus segera berhenti untuk menegaskan apa yang dikatakannya tadi.
"Kamu benar-benar menyebalkan." Ujar Eve dengan sangat kesal.
"Makanya jangan mendiamkan ayah. Ayah rindu bunda." Ucap Tala lalu dengan cepat duduk di samping Eve dan memeluknya walaupun istrinya sempat menolak.
"Sekarang katakan kepada ayah, bunda marah karena apa? Apa karena bunda tidak menuruti ayah untuk membebaskan mereka? Atau karena ayah tidak berkata jujur kepada bunda terhadap mereka dari awal? Atau ayah ada salah yang lain seperti melarang bunda untuk sementara waktu bertemu dengan Orion? Katakanlah bunda jangan diam aja, apa bunda tau ayah merasa tersiksa jika bunda mendiamkan ayah seperti ini."
"Aku jauh lebih tersiksa saat kamu bersikap tidak peduli padaku dulu. Bukankah tidak enak?" Karena merasa kesal dengan Tala yang menggelitiknya tadi sampai-sampai Eve tidak menyaring perkataannya.
Tala menjadi terdiam dan mengingat kembali sikapnya kepada Eve dulu sangat jauh dari kata baik bahkan Eve merasakannya selama kurang lebih dua tahun dan Eve baru mendiamkannya selama dua hari dia sudah banyak mengeluh seperti ini.
"Maafkan ayah." Ucap Tala dengan lirih. Eve jadi merasa bersalah namun tidak mau menunjukkannya sesuai dengan perkataan Yasmin tempo hari saat dirinya berkirim kabar bahwa dia harus memberikan Tala pelajaran karena sudah bersikap yang kurang baik kepadanya dulu.
"Eve dengarkan aku kamu harus membuat suami anak ayam mu itu merasakan apa yang kamu rasakan dulu sesekali."
"Aku tidak bermaksud untuk mengajarkan mu hal-hal yang kurang baik tapi terkadang laki-laki itu perlu dikasih pelajaran agar mereka bisa lebih mengerti dan memahami supaya mereka lebih berhati-hati lagi dalam bersikap maupun bertutur kata dan kita sebagai wanita tidak boleh luluh begitu saja. Nanti jika kita cepat luluh mereka akan melakukan kesalahan yang sama. Apa kamu mengerti?"
Eve saat itu menganggukkan kepalanya saja mendengar nasihat dari Yasmin. Jika Tala tau mungkin Tala tidak akan membiarkan Eve berbicara seorang diri dengan Yasmin karena Yasmin sudah mengajarkan hal yang tidak-tidak kepada istri polos dan baik hatinya ini.
"Ayah tau ayah salah tolong maafkan ayah. Apa yang harus ayah lakukan agar bunda mau memaafkan ayah." Ujar Tala dengan memelas.
Eve teringat lagi dengan perkataan Yasmin, "jika si Tala anak ayam menanyakan apa yang harus dia lakukan agar kamu memaafkannya maka ambillah kesempatan itu untuk mengerjainya."
"Caranya?" Oh tidak sepertinya memang Eve sudah termakan omongan Yasmin untuk mengerjai sang suami.
"Emmm seperti kamu bisa menyuruhnya untuk berdandan seperti perempuan. Seperti ini....tunggu sebentar." Ujar Yasmin lalu tidak lama kemudian memperlihatkan galeri foto yang berisi asisten Kaivan yang sedang memakai rambut palsu dan baju Yasmin bermotif bunga-bunga serta tidak lupa video di mana Yasmin meminta asisten Kaivan untuk memvidoenya yang sedang mengecat kuku asisten Kaivan.
Eve mengerjapkan kedua matanya saat Tala kembali merengek kepadanya. "Seperti Orion saja." Dengus Eve.
"Tidak masalah jika bunda mengatakan bahwa ayah seperti Orion kan Orion memang anak ayah kita membuatnya bersama-sama asal bunda lupa jadi wajar ayah mirip Orion karena ada gen kuat milik ayah di dalam tubuh Orion."
Ada saja jawabannya yang membuat Eve kesal, "apa bunda lupa maka dari itu supaya bunda nggak lupa bagaimana kalau kita membuat adik untuk Orion menyicil dari sekarang lebih baik."
Eve mencubit pinggang Tala dengan kuat hingga membuat pria itu sedikit meringis.
"Diam di sini dan jangan ngikutin. Kalau tidak aku tidak akan mau bicara." Ucap Eve seolah sedang memperingati anak kecil.
Tala bingung antara mengikuti atau tidak sesuai dengan perkataan Eve namun karena tidak mau membuat Eve tidak mau berbicara dengannya lebih lama jadi Tala duduk diam saja sembari matanya mengikuti ke mana Eve pergi. Ternyata Eve pergi ke ruang ganti.
"Apa yang sedang dilakukannya?" Tanya Tala penasaran sungguh gatal rasanya ingin mengetahui namun Eve tadi sudah melarangnya.
__ADS_1
Kenapa dia tiba-tiba menjadi penurut seperti ini kepada Eve bukankah biasanya dia akan melakukan apa yang dilarang oleh Eve.
*Bersambung*