Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 25. Pergi Ke Kantor Tala


__ADS_3

Eve masuk ke dalam mansion dengan berjalan lesu di depannya sudah ada Adya yang sedang menunggu sambil menatapnya tersenyum. Eve memasang wajah memelasnya kepada Adya.


Adya yang melihatnya tertawa lalu merentangkan kedua tangannya kepada Eve dan dengan cepat Eve memeluk Adya yang sedang berdiri dari kursi rodanya tersebut. “Lihatkan rencana pertama dan kedua kita berhasil. Jadi, kamu jangan khawatir dan tetap tenang fokus saja okey.”


Iya berhasil tapi di sini Eve sungguh malu melakukannya semakin berhasil rencana yang mereka susun semakin sulit Eve melakukannya apalagi jika barang yang sudah di pesan melalui aplikasi online sudah tiba rasanya Eve ingin menenggelamkan dirinya dan bersembunyi atau berubah menjadi semut saja.


“Sekarang segeralah kamu mandi untuk membersihkan dirimu nanti kita akan memasak.” Ujar Adya dan dengan segera diangguki oleh Eve.


Kakek Werawan yang melihat Eve berjalan lesu dari ruang keluarga terkekeh dan menatap ulah cucu menantu pertamanya itu. Memang berlian sekali otak cucu menantu pertamanya jika masalah ini.


Eve membersihkan tubuhnya dan berendam masih teringat jelas ingatan bagaimana tadi dirinya yang mencium Tala di ujung bibir Tala. Menutup kedua matanya dengan kedua tangannya karena masih malu padahal hanya dirinya sendiri di dalam kamar mandi.


“Ini belum seberapa Eve masih banyak hal memalukan yang akan kamu lakukan nanti.” Ujar Eve kepada dirinya untuk menyemangatinya. Jika Eve sudah memutuskan sesuatu maka pantang bagi Eve untuk menyerah sebelum mencoba untuk berusaha.


“Semakin aku memikirkannya semakin membuat aku gila rasanya.” Ucap Eve frustrasi, “aku tidak pernah secemas ini.”


Eve keluar dari dalam kamar mandi setelah berendam selama tiga puluh menit lamanya di bak mandi. Mengurai rambutnya untuk dikeringkan menggunakan pengering rambut agar rambutnya tidak lepek dan juga basah.


Setelah dirasa cukup Eve memulai rutinitas paginya yaitu melakukan perawatan wajah. “Aku lupa belum periksa kondisi kakek dan kak Adya.” Ujar Eve saat mengingat apa yang dilupakannya.


Eve dengan segera menyelesaikan aktivitasnya setelah dikiranya selesai lalu berjalan keluar kamar untuk menuju kamar Adya. “Kak apakah sudah meminum obatnya dan vitaminnya?” Tanya Eve setelah mengetuk pintu kamar Adya lalu membukanya.


Namun Eve tidak melihat keberadaan Adya di sana bahkan tidak ada suara apa pun di dalam kamar jika Adya berada di dalam kamar mandi. “Di mana kak Adya.” Ucap Eve.


Setelah pergi ke kamar Adya kini Eve berjalan ke arah kamar di mana kakek Werawan berada yaitu di lantai tiga. Lantai yang sama dengan kamar kedua mertuanya.


Di dalam kamar kakek Werawan Eve juga tidak melihat keberadaan kakek Werawan. Eve akhirnya turun ke lantai bawah.


Saat Eve menuruni anak tangga Eve mendengar suara orang yang sedang bercakap dan bercanda bisa Eve tebak itu adalah suara kakek Werawan dengan Adya.


Kakek Werawan dan Adya menoleh ketika melihat Eve berjalan ke arah mereka keduanya saling menatap satu sama lain. “Kita lupa minum obat kek.” Ucap Adya lirih.


“Kakek, kakak apakah kalian sudah meminum obat dan vitaminnya?” Tanya Eve dengan lembut sedangkan kedua orang yang ditanyakan itu memberikan senyuman cengirannya.


Melihat hal itu membuat Eve menghela nafasnya. “Beruntung Eve mengingatnya dan jam untuk meminumnya belum lewat. Kakek dan kakak jangan melupakan obat dan vitaminnya ya kalau tidak Eve akan sangat marah dan akan menyuruh kakak dan kakek di kamar saja tidak boleh ke mana-mana.” Ujar Eve dengan tegas membuat keduanya mengangguk mendengar perkataan ibu dokter yang menurut mereka sangat cerewet itu.


“Baiklah sekarang kakek dan kakak kembali ke kamar masing-masing. Paman bisa tolong beritahu Eve jika kakek sudah meminum obat dan vitaminnya sudah apa belum ya. Bibi Eve juga mau minta tolong hal yang sama tolong perhatikan kak Adya ya.” Ucap Eve kepada asisten kakek Werawan dan kepala pelayan.

__ADS_1


Eve berjalan ke dapur sesuai yang menjadi tujuannya tadi yaitu memasak makan siang untuk Tala. Melihat bahan-bahan yang ada di dalam kulkas lalu memikirkan makanan apa yang hendaknya ia hidangkan untuk suaminya itu.


“Aku tau aku masak ini saja mengingat bahwa dia sangat menjaga bentuk tubuhnya.” Ujar Eve lalu segera melakukan aktivitasnya dengan lincah.


Adya yang merasa bosan di dalam kamar meminta tolong kepada pelayan untuk mendorong kursi rodanya ke dapur karena dirinya ingin melihat Eve yang sedang memasak.


Ketika turun dari dalam lift dan hendak mendekati dapur Adya bisa mendengar suara bunyi peralatan yang berbentur dan juga aroma masakan.


Melihat hal itu membuat Adya sangat senang. Eve memang pandai dalam memasak menurut Adya Eve adalah istri idaman semua pria memang sangat berlebihan emang tapi Adya tidak peduli karena itu adalah pendapatnya.


Memotret Eve yang sedang memasak dan Eve yang mendengar kilatan cahaya menoleh ke arah Adya dan Adya yang melihatnya tidak tinggal diam untuk memotret hal itu.


“Sangat pas sekali.” Ujar Adya melihat hasil jepretan kameranya Eve menggelengkan kepalanya melihat apa yang dilakukan Adya.


“Apakah sekarang kakak menjadi paparazzi.” Ujar Eve melihat aksi Adya tersebut.


Yang dibicarakan hanya tertawa, “kamu tau aku hanya ingin memotret semuanya biar bisa jadi kenangan.”


“Kakak harusnya istirahat di kamar.” Ujar Eve yang masih tetap lincah dengan acara masak-memasaknya.


“Aku bosan di kamar terus lagipula sekarang aku kan sedang duduk di kursi roda jadi tidak apa-apakan bu dokter?” Tanya Adya sambil mengerlingkan matanya sebelah.


“Hanya ingin saja dan menunjukkan bahwa kita berhasil dengan rencana kita kerlingan mata itu sangat random jadi tidak bisa dijelaskan.” Ujar Adya sambil tertawa.


Kini Eve sudah tiba di kantornya Tala. Sudah berapa kali Eve menghela nafasnya panjang apalagi sebelum dirinya pergi tadi Eve harus menyuapi Tala. “Kenapa aku menjadi gugup seperti ini. Aku sungguh tidak menyukainya.” Ujar Eve di dalam hatinya.


Eve berjalan dengan selalu ditemani pengawal-nya. Pengawal-nya datang ke meja resepsionis untuk menanyakan di mana keberadaan Tala.


Sementara itu para karyawan yang melihat Eve dengan salah satu asisten kepercayaan bos mereka berbisik-bisik ada yang berbisik bahwa Eve sedang menggoda Tala dan hendak menyingkirkan Adya dari bos mereka.


Eve hanya diam saja karena dirinya memang sudah terbiasa yang Eve fokuskan sekarang adalah memberikan bekal makan siang dan menjalan misinya. Jika dirinya tidak berhasil menyuapi Tala, Eve akan diam dan menemani Tala makan saja.


Eve segera menuju ke lantai atas di mana ruangan Eve berada dengan menggunakan lift yang khusus digunakan untuk para petinggi perusahaan.


Pengawal segera mengetuk pintu ruangan Tala dan dengan segera dipersilahkan masuk oleh Tala dari dalam ruang kerjanya. “Silahkan Nona.” Ucap pengawal tersebut sambil tersenyum.


“Kamu tidak masuk?” Tanya Eve yang melihat pengawalnya berjalan mundur dan pengawal yang mendengarnya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

__ADS_1


“Kenapa sangat mencengkam sekali suasananya padahal aku belum masuk.” Ucap Eve di dalam hatinya.


Eve masuk ke dalam ruang kerja Tala dan melihat bahwa Tala yang sedang fokus dengas berkas yang ada di hadapannya. “Ekhm aku membawakan makan siang untukmu segeralah makan pekerjaanmu bisa dilanjutkan nanti saja.” Ujar Eve namun Tala tidak menggubrisnya.


“Apa aku harus melakukannya. Tidak sadarlah Eve sadar.” Ucap Eve di dalam hatinya.


Eve berjalan mendekat setelah mengumpulkan niatnya memegang pundak Tala sehingga membuat Tala menatap Eve dengan tajam. “Kamu harus makan siang sekarang atau jika kamu tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu maka aku akan menyuapimu.” Ujar Eve dengan gugup namun merasa lega karena berhasil mengatakannya.


Tala menatap Eve hal itu semakin membuat Eve menjadi gugup. “Terserah.” Ucap Tala hanya satu kata yang diucapkannya.


Eve mengerjapkan matanya dan memproses kata satu kata tersebut jadi apakah dirinya benar akan menyuapi Tala itukah maksud kata terserah.


“Kenapa kamu masih diam di sini.” Ucap Tala dengan datar melihat Eve yang masih berdiri di sampingnya dan tangan yang memegang pundaknya.


Eve segera berjalan ke meja lalu mengambil makanan yang dibawanya tadi. Eve bingung apakah dirinya harus berdiri menyuapi Tala atau tidak lalu mata Eve melihat ada kursi di depan meja Tala. Dengan segera Eve memindahkannya di samping Tala.


Eve membuka bekal makanan tersebut sementara Tala fokus membaca berkas yang ada di tangannya. “Buka mulutmu kak.” Ucap Eve lalu menelan saliva-nya.


Tala yang mendengar perkataan Eve dengan lirih menatap ke arah Eve, Eve dengan segera menyodorkan sendok yang sudah berisi nasi dan lauknya ke depan mulut Tala.


Sesuap demi sesuap akhirnya makanan Tala habis juga lalu Eve memberikan minuman kepada Tala. Eve bagaikan sedang mengasuh bayi dan bayi yang diasuhnya adalah bayi gede. “Apakah kak Tala mau lagi di sana masih ada?” Tanya Eve dengan pelan.


Tala mendengus mendengarnya. “Apakah kamu ingin membuat perut aku menjadi buncit karena kekenyangan. Kamu adalah seorang dokter.” Ujar Tala dengan datar dan bagi Eve sangat pedas.


Eve hanya mengangguk saja mendengarnya lalu Eve berjalan ke arah sofa dan duduk di sofa untuk memakan bekal makanan miliknya karena dirinya memang belum makan. Ketika dirinya menyuapi Tala Eve juga ingin rasanya memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya namun itu tidak mungkin dan malah membuat Tala semakin tidak suka padanya karena menggunakan barang satu sendok dengannya.


Eve memakan makanannya dengan lahap tanpa memperhatikan sekelilingnya lagi bahkan Tala yang menatap ke arah Eve yang sibuk dengan makanannya karena merasa heran dengan Eve tidak disadari oleh Eve.


Setelah selesai Eve segera membereskan bekal makanannya dan juga Tala tadi lalu meminum minumannya. Eve berjalan ke arah kulkas untuk meletakkan smoothie dengan lima rasa ada rasa buah naga, strawberry, jeruk, anggur, dan apel yang dibuatnya tadi.


“Jika kamu haus aku sudah membuatkan minuman sehat untukmu. Aku juga membeli air kepala buatmu dan sudah aku letakkan di dalam dua botol ini.” Ujar Eve kepada Tala yang hanya diam menatap ke arahnya.


“Kalau begitu aku pamit pulang dan memastikan kakek sama kakak tidak melewatkan minum obat dan vitaminnya.” Ujar Eve lagi lalu berjalan ke arah Tala dan mencium tangan Tala sesuai dengan rutinitasnya kemudian Eve mengecup pipi Tala yang lagi-lagi membuat Tala terdiam dibuat olehnya.


Namun Eve tidak melihat dan memperhatikannya karena fokus Eve adalah keluar dari ruang kerja Tala setelah pamit dengan mencium tangan Tala dan mengecup pipi Tala.


Eve tidak mau Tala melihat wajahnya memerah karena malu jika Tala melihatnya maka Eve akan semakin malu. “Huft leganya.” Ucap Eve sambil memegang dadanya dan menghembuskan nafasnya.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2