Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 81. Rasa Bersalah Menggerogoti


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Adya tentang masa lalu yang sedikit demi sedikit terbuka membuat pikiran Eve menjadi kalang kabut.


Eve merasakan bahwa dirinya adalah biang masalah terhadap kehidupan orang lain.


Tidak ada tangis air mata yang keluar dari kedua mata indah Eve, semuanya menjadi begitu rumit sekarang.


Eve sudah tidak mau lagi memikirkan perhatian, kasih sayang bahkan namanya cinta bagi diri Eve dirinya tidak akan pernah bisa mendapatkan hal itu.


Merasa tidak pantas karena ada dirinya membuat kehidupan orang lain menjadi rusak jika dirinya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang di sekitarnya.


Keputusan Eve untuk bercerai dengan Tala semakin kuat karena yang mendominasi adalah rasa rendah diri dalam diri Eve.


Eve tidak percaya diri, tidak baik-baik saja namun Eve harus berusaha kuat demi orang di sekitarnya setidaknya dengan menjadi dokter dirinya bisa membantu banyak orang.


“Sekarang aku baru tau kenapa semua orang membenci ku itu karena diriku.” Ucap Eve di dalam pikirannya sambil memandang pemandangan di depannya melalui rooftoft rumah sakit.


Eve kini duduk sembari menikmati angin yang berhembus dan menerpa tubuhnya saat ini Eve ingin menenangkan dirinya.


“Mungkin itulah alasan kenapa aku berada dan ditinggalkan di panti karena aku hanyalah pembuat masalah.” Benak Eve berkata.


“Aku sangat menyusahkan semua orang, aku sangat egois, aku berhak untuk tidak bahagia.” Pikiran negatif terus berkecamuk di dalam benak Eve.


Eve sekarang hanya ingin hidup sendiri jauh dari keramaian dan orang-orang di sekitar yang mengenalinya.


Melepaskan nama belakangnya yang diberikan oleh kedua orangtua angkatnya yang sudah meninggal, melepaskan gelar yang didapatkannya dengan susah payah, melepaskan pekerjaan yang sangat disukainya dengan menyelamatkan orang, melepaskan cinta pertama dan terakhirnya.


Memulai dari hidup yang lebih sederhana tanpa memberatkan atau menyusahkan orang lain lagi. “Maafkan aku kak Adya, ibu, ayah aku tidak bisa bertahan bukan karena orang lain tapi karena diriku pantas mendapatkannya.”


Sementara di dalam ruang rawat Adya, kini Adya termenung di dalam posisi tidurnya. Adya sedang tidak ingin berbicara apa pun.


Sama seperti Eve Adya merasa bersalah karena dirinya yang menceritakan sedikit masa lalu itu. Adya tidak tau apakah keputusannya untuk menceritakan ini apakah berdampak baik atau tidak untuk pernikahan Eve dengan Tala.


Walaupun Adya tidak memaksakan Eve agar jangan bercerai dengan Tala sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh Tala di awal pernikahan.


Namun, nyatanya di dalam lubuk hatinya Adya ingin bahwa Eve dan Tala tetap bersama selamanya. Adya ingin setelah dia tiada di dunia ini kedua orang yang sudah dirinya anggap sebagai anaknya itu akan hidup berkeluarga mempunyai anak dan bahagia dengan pernikahan mereka.


Setidaknya inilah yang bisa dilakukan Adya untuk membalas budi atas apa yang telah Tuhan berikan kepadanya karena diberikan kesempatan untuk memulai kembali.


Dengan pernah merasakan depresi berat hingga dirinya sampai bunuh diri karena aborsi yang dilakukan. Perasaan bersalah kepada 7 anak yang dikandunginya lalu dengan tidak berperikemanusiaannya dia malah membunuh ketujuh anaknya.


Hingga akhirnya dirinya harus mengidap penyakit yang mengerikan kanker rahim. Adya pasrah dengan apa yang sudah terjadi dan Adya merasa bersyukur setidaknya ada orang yang di sekitarnya yang masih peduli kepada dirinya yang mempunyai masa lalu yang buruk.


Semua orang pastinya mempunyai masa lalu dan ingin orang di masa sekarang dan di masa yang akan datang bisa menerima dirinya apa adanya tanpa mengungkit masa lalu.


Masa lalu pasti ada hal yang tidak ingin diingat tentu saja dan ada hal yang ingin dikenang selamanya semua tergantung dengan pemikiran orang tersendiri.

__ADS_1


Adya banyak belajar dari kesederhanaan dan kerendahan hati ibu Dhara, ayah Davka, dan juga Tala yang menerima dirinya tanpa memandang masa lalunya yang buruk.


Padahal mereka tau dengan jelas bagaimana Adya di masa lalu yang dengan teganya membunuh bayi di dalam kandungan yang tidak tau apa-apa karena kebodohannya yang terjebak dengan kata cinta itu.


Adya memejamkan matanya semua sudah berlalu untuk menyesali pun tidak akan ada gunanya walaupun mempunyai banyak uang tidak akan bisa mengubah yang namanya masa lalu.


Adya ingin memberikan yang terbaik dan melakukan hal yang baik demi kebahagiaan orang yang sangat disayanginya itu. Ibu Dhara, ayah Davka, dan Tala serta Eve.


“Apa yang sedang kamu pikirkan Eve?” Tanya dokter Raka yang datang menghampiri Eve di rooftoft rumah sakit.


Eve hanya menoleh melihat ke arah dokter Raka. Eve tidak mau berpikir lebih bagaimana bisa dokter Raka tau dirinya berada di sini karena semua orang bisa saja masuk ke sini. Ini adalah tempat umum bukan tempat khusus seperti milik sendiri.


Rooftoft dengan pemandangan yang indah baik di bawah dan sekitarnya ditambah lagi dengan angin yang berhembus dan bangku yang memang sengaja ditempatkan di sini bagi yang menyukai hal seperti ini bisa menikmatinya dengan bebas bukan.


Dokter Raka duduk di sebelah Eve yang sedang memandang ke depan. Dokter Raka penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Eve.


Namun, sepertinya Eve tidak ingin membaginya seperti yang dokter Raka ketahui bahwa Eve sangat tertutup.


“Kamu tau cerita tentang tong sampah.” Ujar dokter Raka yang memulai pembicaraan, Eve hanya menoleh ke arah dokter Raka dalam diamnya.


Dokter Raka tersenyum ke arah Eve, “tong sampah jika digunakan semakin hari akan semakin penuh lalu ditutup akan membludak jadi harus segera dibuang agar tidak berbau, dan banyak penyakit yang bisa kapan saja menyerang si pemilik tong sampah jika tidak dibuangkan.”


Eve mengalihkan pandangannya dari dokter Raka. Eve mengerti dan memahami apa maksud dari apa yang dikatakan dokter Raka kepadanya.


Dokter Raka ingin bahwa Eve harus menceritakan segala keluh kesahnya kepada orang, namun masalahnya adalah ada di dalam diri Eve. Pikiran Eve yang aneh karena masalah yang terjadi dan menganggap bahwa dirinya adalah biang masalah membuat Eve berpikir bahwa dirinya pantas untuk mendapatkan masalahnya dan dengan tidak menceritakannya ke orang adalah hal yang tepat untuk membuat dirinya tersiksa sendiri.


“Begitu juga dengan manusia jika pikirannya terlalu menumpuk dengan hal yang negatif atau buruk maka akan menjadi penyakit bagi manusia itu sendiri.” Ujar dokter Raka.


Eve tersenyum miris mendengarnya, “maka dengan itu aku pantas mendapatkannya.” Ucap Eve.


Dokter Raka terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Eve terkait apa yang dikatakannya tadi. Menghela nafasnya panjang hal itulah yang dilakukan oleh dokter Raka.


“Jika orang lain sudah tidak menyayangi dan mencintai kita maka hanya kita yang bisa menyayangi dan mencintai kita. Apa kamu percaya dengan itu Eve?” Dokter Raka mencoba dengan cara lain.


“Tapi, aku tidak mau.” Dokter Raka yang mendengarnya ikut merasakan rasa sakit yang ada di dalam diri Eve. Kenapa pemikiran Eve seperti itu sangat rumit.


“Aku tidak tau apa yang membuatmu sangat tertutup. Dari semua orang yang pernah aku temui hanya kamu yang tidak bisa aku baca dan pahami sedikit pun Eve. Ada tembok yang sangat besar dan tinggi walaupun kita berdua berteman.”


Eve hanya tersenyum miris mendengarnya. “Jangan terlalu merendahkan diri sendiri Eve, kamu harus bisa menyayangi dan mencintai dirimu sendiri jika kamu tidak bisa percaya dengan semua orang. Aku sangat sedih jika melihat mu seperti ini dan sebagai teman aku merasa tidak berguna.”


Eve menatap ke arah dokter Raka ketika mendengar kalimat terakhir dari dokter Raka. “Lihat bahkan dengan aku diam saja membuat orang di sekitar aku menderita.” Gumam Eve dengan lirih tanpa sadar.


Dokter Raka yang berada di samping Eve mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Eve. “Jangan berkata seperti itu Eve.” Ucap dokter Raka dengan lirih juga menatap Eve yang memandang kosong tersebut.


Eve tersenyum ke arah dokter Raka, namun dokter Raka merasa bahwa senyuman yang ditunjukkan oleh Eve sangat terpaksa.

__ADS_1


“Seberapa dalam luka di masa lalu itu sampai membuat mu seperti ini Eve.” Ucap dokter Raka di dalam benaknya.


Keadaan di antara Eve dan dokter Raka hening mereka berdua sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


Dokter Raka sudah berusaha untuk mengajak Eve berbicara dan berusaha membuat Eve hanya nyaman namun sepertinya usahanya hari ini sia-sia.


Keadaan fisik Eve memang terlihat baik-baik saja namun mentalnya sedang tidak baik-biak saja.


“Eve apa aku boleh bertanya?” Tanya dokter Raka dan Eve menganggukkan kepalanya untuk memperbolehkan dokter Raka bertanya kepadanya.


Walaupun saat ini pikiran Eve ke mana-mana namun Eve masih tetap merespon hanya saja saat ini Eve terlalu malas untuk bicara.


“Apa kamu menganggap aku sebagai seorang teman?” Eve yang mendengarnya tersenyum, kini Eve sudah benar mengerti dari masa lalu yang diceritakan oleh Adya tadi kepadanya.


Eve memandang ke arah dokter Raka dengan pandangan dalamnya, sementara dokter Raka yang melihat Eve tersenyum tulus kepadanya dengan matanya yang menatap dalam bukan pandangan kosong seperti tadi yang diberikan oleh Eve ke dokter Raka.


“Dalam dunia psikologi tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Sekarang aku juga mengerti bahwa di dunia nyata juga begitu tidak ada.” Ujar Eve sembari menggelengkan kepalanya.


Dokter Raka menjadi tegang mendengar perkataan Eve, “apa karena itu walaupun kita berteman tetap ada tembok besar?” Eve menganggukkan kepalanya dan menatap kembali ke depan.


Dokter Raka menjadi lesu jadi selama ini Eve sudah tau mengenai perasaannya. “Kak Raka, aku akan memanggil mu kak Raka selalu.”


Pandangan keduanya menoleh, “carilah wanita yang lebih baik, lebih mengerti dan membuat kak Raka merasa nyaman. Ada banyak di luar sana.” Ujar Eve dengan tersenyum tulus.


“Apa aku tidak boleh mempunyai rasa ini?” Tanya dokter Raka dengan sendu.


Eve menggelengkan kepalanya dan tersenyum, “tidak salah jika itu adalah wanita yang masih lajang begitu juga dengan wanita yang sudah menikah. Kita tidak bisa mengontrolnya bukan, namun aku tidak memperbolehkan kak Raka.”


Eve menghela nafasnya panjang, “kelebihan fisik yang diberikan oleh Tuhan kepada ku tentu saja aku merasa bersyukur namun dengan fisik yang orang anggap sempurna menjadi masalah untukku. Aku menjadi sombong dan haus perhatian serta kasih sayang.” Ujar Eve miris.


“Sekarang aku menuai dengan apa yang aku lakukan dulu, tapi aku mohon kepada kak Raka tolong buang jauh-jauh rasa itu aku sudah bersuami aku tidak akan pernah mungkin untuk membalas perasaan itu selamanya.” Ucap Eve.


“Walaupun nanti setelah kamu bercerai apa aku juga tidak mempunyai kesempatan.” Ucap dokter Raka dengan lirih menatap ke arah Eve sendu.


Ternyata begini rasanya patah hati karena perasaan ditolak oleh orang yang membuat kita jatuh cinta. Jika begitu berapa banyak hati yang sudah dirinya lukai ketika dulu dirinya begitu suka memainkan perasaan wanita.


Eve tentu saja terkejut dengan apa yang dikatakan oleh dokter Raka tentang perceraiannya dengan Tala. “Walaupun aku bercerai atau pun tidak kak Raka tidak boleh membiarkan rasa itu bertumbuh dan berkembang jika wanita itu adalah aku atau kepada wanita lain yang sudah bersuami.”


Eve bangkit dari duduknya Eve merasa bahwa dirinya sudah sangat lama menenangkan diri di rooftoft meninggalkan Adya di dalam ruang rawatnya nanti bagaimana jika Tala mencarinya karena dirinya tidak berada di sisi Adya.


“Aku pergi kasihan kak Adya kesepian nanti.” Pamit Eve.


Saat Eve membalikkan badannya mata Eve menatap ke arah seorang pria dengan kulit putih dan badannya yang tinggi menjulang sedang menatap ke arahnya.


Dokter Raka yang melihat Eve terdiam dengan menatap ke arah depan seperti melihat sesuatu membuat dokter Raka membalikkan badannya dan ternyata di sana ada suami dari wanita yang sangat membuatnya jatuh cinta pertama kali itu.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2