Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 09. Akankah Aku Bisa Segera Bersinar Terang


__ADS_3

"Eve apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Adya yang melihat tatapan Eve yang menatap nanar dan kosong ke arah ibu Dhara dan Tala.


Ibu Dhara menolehkan kepalanya ke arah Eve dan Tala hanya melirik sedikit hal itu membuat hati Eve tambah terluka. "Tidak apa-apa aku hanya senang saja melihat pemandangan yang tidak pernah aku lihat." Ucap Eve, "dan tidak pernah aku rasakan lagi."


 


Ibu Dhara yang mendengarnya mendekati menangj barunya ini, "sayang kamu tidak perlu sungkan dengan ibu. Anggap saja ibu adalah ibumu sendiri seperti bagaimana ibu menganggapmu anak kandung ibu sendiri seperti ibu menganggap Adya juga. Kalian adalah menantu ibu. Nanti, jika anak nakal itu menyakitimu bilang ya. Tapi, jangan pernah pergi meninggalkannya." Ucap ibu Dhara. Eve hanya mampu terdiam dan memberikan senyumnya kepada ibu Dhara karena Eve tidak tau harus berkata apa. Semenjak Eve pulang dari negara L Eve menjadi lebih pendiam dari biasanya. Jika Eve merasa tertekan itu sangat namun Eve harus bertahan setidaknya dua tahun ke depan.


Dering ponsel terdengar hingga memecahkan suasana haru bagi Eve, "halo sayang, ada apa?" Tanya ibu Dhara di seberang telepon dapat Eve tebak itu adalah ayah Davka.


"Ada apa, sayang kapan kamu pulang aku sudah sangat kangen." Protes pria paruh baya di seberang telepon hal itu membuat Tala mendengus mendengar ayahnya yang seperti itu.


"Ibu akan pulang sebentar lagi jika ayah tidak menelpon mungkin kami sudah di jalan." Saut Tala hal itu membuat ibu Dhara dan Adya melototkan kedua matanya ke arah Tala. Sementara Eve melihat notifikasi pesan di ponselnya dari pihak rumah sakit ini.


"Sayang segeralah pulang, aku sudah menyuruh kepala pelayan untuk menjaga Adya sementara dan beberapa pengawal di depan." Ucap ayah Davka yang diangguki oleh ibu Dhara.


Di dalam mobil yang dikendarai Tala dengan Eve dan ibu Dhara yang duduk di belakang membuat Tala hanya bisa pasrah mendengar perintah dari ibunya bahwa ibunya ingin berdekatan dengan Eve setelah Tala memberikan protes kepada ibu Dhara dan ayah Davka yang malah asyik bertelpon ria.


"Bagaimana bukan madu kalian, apakah menyenangkan?" Tanya ibu Dhara kepada Eve yang sedang duduk di sampingnya. Karena rasa penasarannya membuat ibu Dhara bergeser mendekat ke arah Eve dan memeluk lengan Eve hal itu membuat Eve semakin canggung. "Kenapa apakah kamu malu?" Tanya ibu Dhara yang melihat Eve hanya diam saja dengan wajahnya yang merona. Lalu mata ibu Dhara melihat Tala di depan melalui kaca dalam mobil. "Kalau kamu berani menyakiti menantu ibu maka kamu akan ibu sunat dua kali." Tala hanya diam saja jika Tala membalas perkataan ibu Dhara maka akan panjang ceritanya.


Eve melihat ke arah Tala melalui kaca dalam mobil hingga membuat Tala yang juga melihat ke belakang melihat mata Eve. "Ibu harap segera mempunyai cucu." Ucap ibu Dhara sambil mengelus perut Eve yang masih rata hal itu membuat Eve melihat tangan ibu Dhara yang mengusap perutnya. "Sudah ibu bilang sayang jangan canggung, jangan terbebani juga dengan permintaan ibu mengenai cucu. Semuanya perlu proses." Ucap ibu Dhara hal itu membuat Eve tenang dan sedikit merasa was-was.


"Kalau misalnya kamu juga tidak mampu memberikan ibu cucu tidak apa-apa dan jangan khawatir ibu juga tidak akan menyuruh anak nakal itu untuk menikah kembali. Tapi, ibu sangat yakin bahwa kamu adalah wanita yang subur dan sehat. Aduh ibu berasa punya anak perempuan yang cantik dan manis tidak lupa sangat pintar. Gemes." Ucap ibu Dhara dengan memeluk Eve dan mencium pipi Eve karena merasa gemas. Sementara Eve yang mendapat perlakukan tersebut merasa senang dan sedikit terkejut.


"Ibu kamu mengidam apa ya saat melahirkan anak yang cantik dan pintar seperti ini." Ucap ibu Dhara sambil memikirkan bagaimana ibu Eve mengidam dirinya. Jangankan ibu Dhara Eve juga sangat penasaran mendengar perkataan ibu Dhara mengenai bagaimana dirinya dulu waktu berada di dalam kandungan dan masa kecilnya. Apakah benar bahwa dirinya adalah anak yang tidak diinginkan karena sebuah kesalahan seperti yang orang-orang katakan.


"Kita sudah sampai." Ucap Tala hal itu membuat Eve bernafas dengan lega ibu Dhara yang merasakannya menolehkan kepalanya ke arah Eve.


"Apakah kamu merasa lelah?" Tanya ibu Dhara khawatir dan perhatiannya hingga membuat Eve yang melamun mengerjapkan kedua matanya dan menatap ibu Dhara. "Tala gendong istrimu." Ucap ibu Dhara lalu pergi meninggalkan Eve dan Tala.


"Turun." Ucap Tala dengan dingin. Eve mengangguk dan turun dari mobil lalu berikutnya Eve sangat terkejut hingga membuat Eve berteriak kencang dan memeluk leher Tala dengan kuat hingga membuat Tala merasa sesak nafas. "Apa kamu mau membunuhku." Ucap Tala sambil menatap wajah Eve yang begitu sangat dekat darinya. Tatapan keduanya bertemu hingga ada jeda di antara keduanya. Ibu Dhara yang mendengar teriakan Eve menoleh kepalanya ke belakang sambil menggelengkan kepalanya lalu dengan jahilnya memotret Tala dan Eve lalu dikirimkan ke Adya.


Adya yang berada di rumah sakit mendengar suara notifikasi spesialnya yang berbunyi dengan segera melihat berita apa yang dikirimkan kepadanya. Saat matanya melihat foto dua orang yang sudah sangat disayanginya membuat Adya tersenyum senang.

__ADS_1


"Lain kali jangan menghela nafas seperti tadi atau pura-pura terlihat lemah dan melamun. Kamu sungguh merepotkan." Ucap Tala dengan dingin dan tajamnya. Eve yang mendengarnya menggigit bibirnya menahan rasa sakit akibat ucapan Tala kepada dirinya.


"Larangan baru lagi buat dirimu Eve yang harus kamu ingat bahwa kamu tidak boleh menghela nafas dengan berat karena akan membuat orang di sekitarmu merasa repot. Ingat Eve kamu hidup bukan untuk merepotkan orang di sekitarmu kamu hidup untuk memudahkan orang melampiaskan rasa kesal, benci dan marah mereka padamu itulah gunanya kamu hidup."


Tala menghempaskan Eve di atas tempat tidur dengan cukup keras hal itu membuat Eve tersadar dari lamunannya. Eve melihat Tala langsung pergi ke kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi dengan begitu keras. "Satu lagi Eve jangan melamun jika kamu melamun maka orang-orang akan bertanya tentunya akan menyulitkan bagi orang di sekitarmu karena kamu melamun."


Eve menyiapkan pakaian tidur buat Tala selama Tala membersihkan dirinya di kamar mandi. Mengingat Tala jika mandi memerlukan waktu hampir satu jam lamanya membuat Eve pergi ke kamar Adya untuk membersihkan badannya juga.


Saat Tala keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang melilit di pinggangnya Tala berjalan ke atas tempat tidur di mana piyama tidur bermerek LV yang telah tersedia. Memandang piyama tersebut selama beberapa detik lalu memakainya seperti biasa hanya menggunakan celananya dan menaruh bajunya di atas laci samping tempat tidur.


Pintu kamar terbuka dan Tala tidak perlu melihat siapa yang masuk karena itu sudah pasti Eve.


Berjalan dengan hati-hati karena Eve membawa dua gelas susu di atas nampan yang telah dipegangnya untuk dirinya dan Tala dari ibu Dhara. Sebenarnya Eve merasa lucu jika harus minum susu di malam hari karena menurut Eve itu seperti anak kecil yang hendak tidur dengan ibu yang harus memberikan susu. Namun Eve tidak mengeluarkan protesnya karena Eve sendiri merasa senang menerimanya setidaknya dirinya merasakan sedikit kasih sayang yang diberikan ibu Dhara kepadanya.


Tala melirik sekilas saat Eve meletakkan susu yang dibawanya di atas meja. "Ibu tadi menyuruhku untuk memberikan susu ini kepadamu." Ucap Eve yang mengulum senyumnya karena teringat apa yang dikatakan ibu Dhara mengenai bagaimana seorang Nabastala Affandra Werawan harus minum susu terlebih dahulu sebelum tidur jika tidak pria ini tidak akan bisa tidur.


Tala menatap tajam ke arah Eve saat Tala sedikit melihat bahwa Eve sedang menahan senyumnya. "Kamu tidak memasukkan racunkan atau sesuatu ke dalam minuman itu." Tuduh Tala hingga membuat Eve terkesiap mendengar tuduhan dari suaminya ini.


Eve yang merasa cemas memundurkan wajahnya ke belakang dan menahan nafas saat wajah Tala mendekat. Tala menatap tajam ke arah Eve hingga membuat Eve meneguk ludahnya dalam.


Ternyata Tala hanya mengambil susu yang ada di atas meja dan duduk di atas sofa setelah memberikan tatapan tajamnya kepada Eve. Kemudian Tala berdiri dan memberikan gelasnya kepada Eve tidak lupa mengelap bekas susu yang menempel si sekitar mulutnya dengan tangannya hal itu membuat Eve mengulum bibirnya melihat bagaimana Tala yang terlihat berwibawa seperti anak kecil walaupun tatapan matanya yang menghunus tajam ke arahnya. "Ingat kontrak perjanjian kita." Ucap Tala dengan dingin lalu duduk di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


Sebenarnya Eve ingin bertanya kenapa Tala tidak kembali ke rumah sakit untuk menemani Adya di sana namun Eve tidak berani bertanya.


Setelah selesai mengantarkan bekas gelas susu yang telah diminumnya dan Tala tadi Eve kembali ke kamar dan melihat bahwa Tala masih memainkan ponselnya. Eve berjalan mendekat ke arah sisi tempat tidur di samping Tala dengan gugup lalu membungkus dirinya dengan selimut.


Tala yang melihat Eve tidur di sampingnya merasa sangat kesal akhirnya membuat Tala beranjak kasar ke ruang ganti pakaian untuk mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian santai serta membawa pakaian formal untuknya besok pergi ke kantor. "Apakah kamu jadi pergi menemani kak Adya di rumah sakit?" Tanya Eve yang melihat Tala merapikan pakaiannya sementara Tala tidak menggubrisnya. "Sini biarkan aku membantumu." Ucap Eve namun tangan Eve segera ditepis oleh Tala.


"Jangan mendekat dan jangan mencampuri urusan satu sama lain. Ingat bahwa kamu hanyalah istri sementara dan hanya memberikan cucu bagi ibu dan ayah selebih itu kamu tidak punya posisi di sini." Ucap Tala dengan dingin dan tajam. Eve menyesali rasanya mengajak pria ini berbicara walaupun itu hanya sekedar bertanya dan niat ikhlas membantu.


Mendekati Eve dan memandang Eve dengan tatapannya yang tajam. "Huh, kamu pikir aku lebih memilih bersamamu di sini jangan mimpi. Melihat dirimu sungguh memuakkan seharusnya kamu tidak ada dan tidak kembali." Setelah mengatakan itu Tala pergi membawa pakaiannya untuk tas kerjanya besok pagi dirinya akan menyuruh asistennya untuk mengambil.


Eve jatuh terduduk mendengar perkataan Tala yang sangat melukai hatinya namun lagi-lagi Eve tidak berdaya. Eve tidak punya kuasa untuk berbicara dan membela dirinya karena akan terasa percuma.

__ADS_1


Selagi orang itu masih membencimu mau kamu jelaskan bagaimana pun maka mereka akan tetap pada persepsinya masing-masing dengan tetap membencimu.


Karena lingkungan yang membuat Eve tidak bisa untuk lebih leluasa berbicara atau memberitahukan bahwa dirinya merasa sangat terluka di dalam maka lewat tulisan lah Eve bisa mencurahkan segala ekspresi dan perasaan emosionalnya.


POV ON EVE


Aku selalu bertanya kenapa semua orang di sekitarku begitu tidak menyukaiku yang aku temui jawabannya hanyalah aku Eve sang anak pungut. Aku Eve adalah boneka, Aku Eve adalah mesin...


Aku tidak bisa dengan leluasa untuk berbicara mengenai apa yang ingin aku lakukan dan ingin aku katakan karena semua orang menatapku dengan tatapan tajam dan perkataan mereka yang kejam.


Aku sangat ketakutan dan aku sangat kesepian.


Walaupun hari-hari yang aku lalui dulu selama jauh dari mereka lebih indah namun aku menderita saat melihat orang-orang yang sangat akrab dengan keluarga dan mempunyai tempat untuk pulang seperti merayakan keberhasilan mereka ketika mendapatkan gelar sarjana dan diploma.


Tuhan bukan karena aku tidak bersyukur hanya saja aku ingin meluapkan emosi yang negatif agar aku tetap waras menjalani kehidupan ini. Karena dengan menulis aku bisa mengungkapkan ekspresi dan perasaan emosionalnya ini selain kepada-Mu.


Aku terkadang takut bahwa aku terus melangkah jauh hingga aku melupakan jati diriku karena terus memasang topeng di depan banyak orang. Tetap baik-baik saja walaupun hati banyak terluka. Tetap tersenyum walaupun suasana hati yang tidak baik-baik saja.


Apa yang harus aku lakukan selain bertahan untuk dua tahun ke depan. Tuhan tolong beri aku kekuatan untuk melewati cobaan yang Engkau berikan.


Apakah setelah dua tahun nanti dan pergi dari orang-orang ini aku akan menjadi lebih baik. Apakah nanti tiga tahun ke depan, empat tahun ke depan, atau sepuluh tahun ke depan aku benar-benar menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu!


Terkadang aku takut untuk bahagia aku khawatir aku akan menderita...lagi...


Setelah banyak larangan sekarang larangan buat diriku harus bertambah dengan tidak boleh menahan nafas dan menghembuskan nafas berat serta aku tidak boleh melamun.


Aku baik-baik saja mungkin harus aku tegaskan dalam ekspresi wajah lagi mungkin dengan aku diam serta tidak banyak bicara masih belum cukup buat mereka.


Akankah aku bisa segera bersinar terang? Harus seberapa menyakitkan kah itu jika aku ingin bersinar terang? Seberapa tinggi aku harus berharap...?


POV EVE OFF


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2