
Di dalam kamar di mana Eve dan Adya berada ada seseorang yang sedang mengetuk pintu sehingga membuat kedua pengawal dari istri Nabastala Werawan Affandra tersebut menoleh ke belakang.
Lalu dengan segera keduanya bangkit dari kursi untuk melihat siapa yang sedang mengetuk pintu kamar tersebut.
Namun, belum sempat kedua pengawal tersebut membukakan pintu tampaklah seorang laki-laki muda yang gagah perkasa dengan kulitnya yang seputih susu vanilla dan hidungnya yang Bangir.
"Tuan muda." Hormat kedua pengawal tersebut dengan menundukkan kepalanya.
Eve yang semulanya sudah terlelap terbangun karena suara hormat dari kedua pengawal tersebut.
Tala melihat ke arah tempat tidur di mana kedua istrinya berada.
Kedua pengawal tersebut juga menolehkan kepalanya lalu membalikkan badan mereka ketika melihat bahwa salah satu Nona muda mereka terbangun.
"Maafkan kami Nona telah membangunkan Nona." Ujar pengawal Eve.
Eve menggelengkan kepalanya lalu menyandarkan kepalanya.
Tala berjalan ke arah di mana Adya sedang tertidur lelap. "Sudah berapa lama dia tertidur?" Tanya Tala entah kepada siapa.
"Sekitar satu jam lebih." Jawab Eve ketika melihat jam di dinding kamar itu.
"Maaf Nona Eve tapi Nona Adya sudah tidur selama dua jam." Ujar pengawal Adya.
Eve segera memeriksa keadaan Adya lalu menatap ke arah suaminya itu yang sedang menatap Adya.
"Tubuhnya cukup lemah jadi kak Adya memerlukan waktu istirahat yang banyak sebelum waktu pemakaman kakek."
"Apa kak Tala ingin membangunkan kak Adya?" Tanya Eve memastikan.
"Jangan ikut ke pemakaman." Ucap Tala yang bagaikan perintah.
Eve tentu saja tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu. "Jangan membantah hari sedang mendung dan mulai gerimis. Jika Adya ikut kesehatannya akan kembali menurun." Ucap Tala tanpa melihat wajah Eve.
Eve yang mendengarnya dan melihat ke arah Tala yang sedang berbicara dengannya tapi tidak melihat ke arahnya menjadi sedih.
Kedua pengawal itu yang melihat bahwa ini adalah privasi segera pergi dari kamar tersebut untuk menunggu Tuan muda mereka keluar.
"Aku ingin datang ke pemakaman kakek." Pinta Eve dengan lirih sambil menundukkan kepalanya menyembunyikan air mata yang sudah menganak di matanya.
"Jangan bersikap egois apa kamu tidak melihat keadaan istriku yang sedang tidak baik-baik saja. Jangan memikirkan diri sendiri." Kalimat pedas Tala lontarkan kembali kepada Eve.
Eve merasa hatinya sudah hancur sekeping-kepingnya. Inilah yang Eve tidak mau dengar ketika dirinya meminta seseuatu yang diinginkannya kata-kata pedas yang dilontarkan orang di sekitarnya membuat Eve memendam segala keinginannya.
Eve menggigit bibir dalamnya lalu beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. "Aku izin pamit ke kamar mandi dulu kak." Ucap Eve yang tidak lupa meminta izin.
Di dalam kamar mandi Eve menghidupkan keran air di westafel dan menumpahkan tangisnya sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak ada yang mendengar suara tangisnya.
Memukul dadanya sekali-kali untuk menahan agar dirinya segera berhenti menangis.
Bibi dalam Eve gigit sampai berdarah namun Eve tidak merasakan apapun pada bibirnya karena sibuk menahan tangisnya.
Selama lima belas menit lamanya Eve di kamar mandi Eve segera bangkit dari duduknya di depan westafel dan segera mencuci wajahnya agar segar kembali.
Eve keluar dari dalam kamar mandi dan melihat ke arah sisi ranjang di mana Tala berada tadi namun Eve tidak menemukan Tala lagi di kamar itu.
Eve bernafas dengan lega lalu kembali ke atas tempat tidur dan meringkuk di sana.
Air mata Eve keluarkan lagi, pandangannya kosong sampai Eve tidak menyadari ada seseorang yang berjalan mendekat dan menyuntikkan sesuatu ke lengan Eve sehingga membuat Eve tertidur kembali.
Waktu pemakaman kakek Werawan tiba keluarga besar ikut mengantar peristirahatan kakek Werawan di mana kakek Werawan akan tinggal di sana selamanya.
Ibu Dhara tidak henti-hentinya menangis saat tiba di pemakaman.
Ayah Davka yang memeluk istrinya dari sambil sambil mengusap bahu istri yang sudah menemaninya 30 tahun ini untuk menenangkannya.
Tala memakai kaca mata hitam dengan menatap ke depan tanpa bersuara sama sekali.
Suara isak tangis menangisi kepergian kakek Werawan. "Di mana menantu mu kak. Kenapa mereka tidak ikut?" Tanya bibi Tala yang mulai berulah lagi.
Tala segera menolehkan kepalanya ke belakang di mana bibinya berada.
"Jangan memulai keributan bibi." Ingat Tala dengan dingin kepada bibinya itu.
__ADS_1
"Ibu jangan." Ucap Geya sambil mengelus bahu ibunya itu namun segera di tepiskan oleh ibunya.
"Jangan memerintah ku kamu hanyalah anak kecil ingusan." Ucap bibi Tala pedas kepada Geya.
Geya menundukkan kepalanya dan menghela nafasnya hal ini sudah biasa baginya tapi ini adalah di depan umum lebih tepatnya di depan para keluarga besar dan ada Harsha juga di sini jadi Geya lebih memilih diam.
Harsha mengernyitkan dahinya dan melirik Geya yang berada di sampingnya dengan sinis di balik kaca mata hitamnya karena merasa suka ketika melihat Geya dihardik oleh ibunya sendiri.
"Kenapa menantu kedua mu tidak ikut datang apakah dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menyelamatkan nyawa ayah mertuaku apa dia takut orang-orang mengetahui bahwa dia sebenarnya adalah pembunuh." Ucapan pedas dan menyakiti hati bibi Tala lontarkan.
Paman Tala hanya diam menatap nisan ayahnya tersebut tanpa memedulikan istrinya itu karena terkadang terasa percuma.
"Tala menyuruhnya agar tidak pergi karena kedua istriku sedang sakit." Jawab Tala dengan dingin. "Bukankah istri yang baik harus patuh dengan ucapan suaminya bibi." Ujar Tala hal itu membuat bibi Tala semakin memanas.
"Cih, apa kamu takut bahwa istrimu disalahkan karena telah membunuh ayah mertuaku?" Ucap bibi Tala memprovokasi.
Tala menatap ke arah bibinya itu, ibu Dhara yang melihatnya segera menghentikan perdebatan yang terjadi di pemakaman kakek Werawan.
"Berhentilah apa kamu tidak melihat bahwa sekarang kita berada di pemakaman ayah. Pergunakanlah otak berpendidikan itu tolong." Ucap ibu Dhara membuat bibi Tala itu bungkam.
Tala yang memainkan ponselnya kembali menoleh ke arah bibinya itu.
Lalu Tala membalikkan badannya ke arah makam kakek Werawan untuk berdoa sekali lagi sebelum dirinya pergi.
Di belakang bibi Tala menatap kesal ke arah keluarga kakak dari suaminya itu apalagi ketika melihat pesan yang ada di ponselnya.
Walaupun itu bukanlah Tala yang mengirimkannya tapi itu bisa dipastikan bahwa antek-antek terpercaya milik Tala yang melakukannya.
Di dalam sebuah kamar Eve mengerjapkan kedua matanya tampak gelap sekali lalu tangan Eve mencoba meraba sisi di sebelahnya namun Eve tidak merasakan apa-apa.
Lalu Eve segera bangkit dari tidurnya. "Di mana kak Adya. Kenapa kamar ini sangat gelap." Ujar Eve lalu Eve kembali meraba di sisi sebelahnya dan Eve menemukan lampu tidur dengan segera Eve menyalakannya.
Eve menetralkan matanya yang terkena cahaya dari lampu tidur tersebut.
Mata Eve menatap ke sekeliling kamar dan memperhatikan satu persatu interior di kamar tersebut.
Seingat Eve ini bukanlah kamar yang ditempatinya tadi bersama dengan Adya dan ini juga bukanlah kamarnya dengan Tala di mansion namun kamar ini terasa tidak asing bagi Eve.
Kini penglihatan Eve sungguh sangat jelas dan Eve mengeryitkan dahinya ketika melihat seluruh interior tersebut berwarna biru muda.
Eve mengerjapkan kedua matanya dengan warna interior di kamar ini.
Melihat kamar ini Eve ingin memastikan lagi ternyata interior di luar kamar juga berubah dan sama warnanya.
Eve masih memikirkan sesuatu sehingga tampak bengong di belakang sofa tanpa menyadari ada seseorang di sana yang sedang menatap ke arah Eve.
"Ini apartemen." Ucap Eve dengan lirih lalu matanya kembali melihat ke arah sekitarnya hingga Eve berjingkrak kaget karena melihat seseorang yang sedang menatap ke arahnya dengan bingung.
"Bagaimana bisa." Ucap Eve sambil memegang dadanya.
"Maafkan saya Nona muda telah membuat Nona muda kaget." Ujar pengawal tersebut.
"Tidak apa-apa saya hanya terkejut saja." Ujar Eve sambil memberikan senyum canggungnya.
"Apa kamu tau bagaimana saya bisa ada di sini? Ini apartemen yang sama kan dengan waktu yang lalu?" Tanya Eve kepada pengawal di apartemen ini.
"Saya tidak tau Nona muda. Tuan muda menelpon saya untuk datang ke apartemen ini dan Nona muda sudah ada di sini." Jawab pengawal tersebut.
"Jadi, kamu tidak tau siapa yang membawaku ke sini?" Tanya Eve kembali dan pengawal itu menggelengkan kepalanya.
"Sejak kapan interior ini berubah?" Tanya Eve pengawal tersebut menatap ke arah Eve lalu kembali menundukkan kepalanya.
"Ouw jadi kamu tidak tau juga." Ucap Eve menyimpulkan melihat reaksi pengawal tersebut.
Pengawal tersebut memang tidak banyak bicara dan memilih banyak diam itu yang Eve ketahui sangat berhati-hati sekali.
Eve duduk di sofa termenung banyak pertanyaan di dalam benaknya kenapa dia ada di apartemen ini.
Pengawal tersebut melihat ke arah Eve yang duduk termenung dengan tatapan kosongnya.
"Apakah Nona muda ingin makan sesuatu atau minum sesuatu biarkan saya pesan." Ucap pengawal tersebut.
Eve menatap pengawal tersebut lalu menggelengkan kepalanya. "Terimakasih." Ujar Eve.
__ADS_1
Pengawal tersebut merasa sangat cemas menurut informasi yang didapatkannya bahwa Eve tidak makan sedari pagi tadi.
"Apa Nona ingin memasak?"
Eve hanya diam dan tidak merespon karena pikiran Eve berkecamuk.
"Jika Nona ingin memasak semua bahan sudah saya belikan tadi dan terisi penuh di kulkas. Atau Nona ingin saya masakkan?" Tanya pengawal tersebut.
Eve menatap pengawal yang berdiri agak jauh darinya. "Kemari lah dan duduklah di sini." Tepuk Eve di sisi sofa sebelahnya.
Pengawal itu hendak menolak namun Eve menatap pengawal tersebut dan memerintahkan pengawal dengan mata dan ekspresi wajahnya.
Benar-benar tidak bisa terbantahkan itulah yang pengawal tersebut tangkap.
"Apa kamu bisa memasak?" Tanya Eve setelah pengawal tersebut duduk dengan canggung.
"Apa aku juga tidak boleh tau namamu?" Tanya Eve kembali.
"Apa aku boleh memanggilmu dengan nama yang aku buat?" Eve kembali bertanya.
Pertanyaan-pertanyaan Eve semakin membuat pengawal tersebut merasa canggung.
"Umurmu berapa biar aku bisa kondisikan?" Tanya Eve kembali.
"Kenapa kamu hanya diam saja apa kamu tidak nyaman jika berada di dekatku?" Tanya Eve sedih hal itu membuat pengawal tersebut segera menggelengkan kepala dengan panik
"Sudahlah tidak apa-apa lagian aku sudah terbiasa." Ucap Eve dengan lirih dan memberikan senyumnya. Entah kenapa pengawal tersebut bisa merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Eve walaupun Eve tersenyum.
Eve segera bangkit dari tempat duduknya membuat pengawal tersebut juga kaget dan reflek bangkit. "Kenapa wajahmu seperti itu." Ucap Eve terkekeh. "Aku tidak marah tenang saja."
Eve melangkahkan kakinya. Memang Eve tersenyum namun itu tidak sampai ke matanya.
"Nona saya bisa memasak." Ujar pengawal tersebut dan membuat Eve menghentikan langkahnya.
"No-noa boleh memanggil saya dengan nama apa aja yang diberikan Nona kepada saya." Lanjut pengawal tersebut membuat Eve menolehkan kepalanya ke samping.
Melihat Eve menunjukkan reaksi membuat pengawal tersebut melanjutkan menjawab pertanyaan dari Eve satu persatu. "Saya lebih muda dari Nona satu tahun."
Tidak ada reaksi yang ditunjukkan Eve. "Saya bukan merasa tidak nyaman berada di dekat Nona saya hanya canggung saja. Nona jangan memikirkan hal yang tidak-tidak karena Nona sudah sangat baik. Semua orang pasti ingin dekat dengan Nona termasuk saya tapi saya hanyalah pengawal Nona." Jelas pengawal tersebut.
Eve membalikkan badannya ketika mendengar kalimat panjang yang dilontarkan oleh pengawal tersebut untuk menjawab pertanyaannya.
"Saya tidak bermaksud lancang Nona karena saya sangat menghormati Nona." Ujar pengawal tersebut setelah menggigit bibir dalamnya.
"Bagi kami Nona muda sangat baik hati Budi pekertinya apalagi Nona muda sangat cantik. Jad jadi kami segan jika berada di dekat Nona dan malu." Ucap pengawal tersebut menundukkan kepalanya.
Ternyata selama ini Eve salah mengira bahwa pengawal yang mengawalinya menjaga jarak karena perintah dari Tala walaupun bisa Eve tebak mungkin ada benarnya.
Namun, di satu sisi para pengawal yang mengawalinya ini merasa segan karena dirinya adalah Nona muda.
"Jika aku bukan Nona muda apa kamu akan mau berteman denganku?" Tanya Eve membuat pengawal tersebut mengangkat kepalanya.
"Tentu saja Nona muda siapa yang bisa menolak untuk menjadi teman Nona muda mungkin jika orang-orang melihatnya akan merasa iri jika saya berteman dengan Nona muda."
"Nona muda sangat keren bagi kami." Ucap pengawal tersebut dengan lirih namun Eve masih bisa mendengarnya.
Eve merasa terhibur dengan keluguan pengawal yang ada di depannya. "Baiklah Bee apa yang mau kamu masak untukku?" Tanya Eve.
Pengawal tersebut tertegun ketika mendengar Eve memanggil namanya Bee.
"Apa kamu tidak suka?" Tanya Eve lagi dan pengawal tersebut dengan cepat menganggukkan kepalanya.
Eve tersenyum dan mengikuti pengawal Bee itu menuju ke dapur. Eve merasa terhibur dengan perhatian dan ketulusan dari pengawal yang ia beri nama Bee.
"Nona, mau makan apa?" Tanya pengawal Bee.
"Emm terserah sepertinya capcay enak dan ayam goreng enak, nasi goreng enak, magelangan enak." Ujar Eve dengan penuh semangat membuat pengawal tersebut mengerjapkan matanya.
"Apa aku meminta kebanyakan?" Tanya Eve dengan menggarukkan kepalanya.
Pengawal Bee menggelengkan kepalanya dan dengan segera memasak makanan yang disebutkan oleh Eve.
*Bersambung*
__ADS_1