Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 75. Malu dan Bertanya-tanya


__ADS_3

Eve sudah selesai membersihkan dirinya, Eve tidak ingin berlama-lama untuk mandi karena perutnya sudah terasa sangat lapar.


Eve membukakan pintu kamar mandi sedikit dan pelan-pelan untuk melihat ke sekitar ruangan apakah di dalam kamar ada Tala atau tidak.


Saat mata Eve mengitari seluruh kamar Eve bernafas dengan lega lalu segera membuka pintu kamar mandi dengan lebar dan berjalan cepat ke arah ruang ganti pakaian di mana pakaian sudah ada di sana.


Eve menatap ke seluruh pakaian yang ada dan kebingungan pakaian yang bagaimana harus dikenakannya ketika dirinya melihat pantulan cermin yang menampilkan dirinya.


Di sana Eve bisa melihat begitu banyak tanda yang dibuat oleh Tala kepadanya akibat aktivitas yang dilakukan keduanya pagi tadi.


Jika Eve tidak memakai pakaian berkerah tinggi maka orang-orang akan melihatnya tidak masalah jika dirinya hanya di dalam kamar saja namun melihat bahwa di luar kamar pasti ada pengawal Bee.


Bagaimana bisa dirinya menunjukkan itu secara dirinya tau begitu banyak bercak-bercak merah di tubuhnya kepada Tala saja dia malu.


Eve mengusap wajahnya kasar ketika mengingat selintas bayangan aktivitas yang dilakukan mereka pagi tadi. “Huh.” Helaan nafas Eve terdengar berat.


Sudah hampir lima belas menit Eve di ruang pakaian dan Eve masih belum mengenakan baju bahkan belum memilih bajunya.


Melihat cuaca saat dirinya keluar dari dalam kamar mandi begitu cerah akan terasa sangat panas serta aneh jika dirinya memakai baju berkerah tinggi di leher tapi jika tidak maka dirinya akan lebih malu.


Ingin sekali rasanya Eve menenggelamkan diri melihat dirinya yang sudah seperti macan tutul.


Pintu kamar terbuka membuat Eve terdiam dan dengan segera mengambil baju secara asal yaitu baju gaun berwarna pink.


Eve memutuskan hari ini dirinya tidak akan ke mana-mana dan hanya diam saja di dalam apartemen. Tapi, nanti bagaimana kalau Tala mengajaknya keluar atau ibu Dhara dan ayah Davka memintanya ke rumah sakit.


Sudahlah rasanya memikirkan hal itu membuat Eve pusing, ini semua karena ulah Tala yang seperti serigala.


Tala melihat ke seluruh kamar tidak ada Eve dan Tala juga memasang telinganya baik-baik namun Tala tidak mendengar suara gemericik air di sana. Lalu mata Tala beralih ke ruang pakaian dan Tala bisa menebak bahwa Eve sudah selesai mandi dan dirinya sedang memakaikan bajunya.


Tala memikirkan bagaimana jika dirinya masuk ke ruang pakaian apakah terlihat sepertinya sudah mulai suka dengan Eve atau tidak di mata Eve tapi jika Eve tidak keluar saja makanan yang sudah disediakannya akan dingin kembali.


Akhirnya Tala memilih untuk diam selama kurang lebih lima menit untuk menunggu Eve keluar dari ruang ganti dengan memainkan ponselnya.


“Kenapa kamu membiarkan ibu memegang ponsel mu tadi?” Pesan terkirim ke nomor sang asisten.


Sementara sang asisten yang mendapat pesan dari Tala terperanjat kaget membuat sang sekretaris yang sedang duduk di hadapannya menatapnya dengan heran karena dua orang kepercayaan Tala itu sedang menikmati makan siang mereka setelah selesai dengan rapat.


“Kamu kenapa?” Tanya sang sekretaris Tala.


Sang asisten menelan salivanya dengan gugup. “Bos mengirim pesan.” Ucap sang asisten dengan pelan.


Sementara sang sekretaris hanya mengedikkan bahu dan tidak merasa aneh dengan Tala yang mengirim pesan bukankah seharusnya itu adalah hal yang biasa.


Sang asisten mengetok kepala sekretaris Tala tersebut sehingga membuat sekretaris mengaduh dan menatap kesal. “Kenapa kamu tidak bereaksi?” Tanya asisten dengan kesal.


“Bukankah sudah biasa bos mengirim pesan, seberat apa pun perintah bos biasanya kamu bisa mengatasinya. Jangan terlalu lebay deh.” Sungut sekretaris.

__ADS_1


Asisten Tala tersebut menatap kesal ke arah sekretaris Tala, sebenarnya bukan salah sekretaris Tala juga karena dirinya belum tau dengan insiden yang terjadi di rumah sakit. “Nyonya besar Tuan muda langsung mengambil ponsel saya tadi.” Balas asisten tersebut dengan ketar ketir.


“Karena ketidaksigapan mu maka bulan ini kamu tidak bisa berlibur dan gaji mu dipotong sepuluh persen.” Pesan terkirim dan diterima sang asisten.


Sementara asisten yang membacanya menjadi lemas lalu ada sebuah pesan lagi dari ibu Dhara yang membuat asisten Tala tersebut bersemangat ternyata mobil yang diinginkannya sudah ada di parkir apartemen miliknya.


“Tidak apa-apa gaji dipotong sepuluh persen dan tidak mendapat libur bulan ini yang terpenting dapat mobil baru dari Nyonya bos yuhu.” Teriak asisten Tala dengan girang membuat sekretaris Tala yang sedang minum tersebut menyemburkan jusnya sehingga baju sang asisten terciprat karenanya.


“Diego kamu.” Ucap asisten kepada sekretaris Tala bernama Diego tersebut menatap tidak percaya dengan kemeja yang dikenakannya kini sudah sangat kotor. “Jorok banget sih, pantes saja semua cewek nggak mau sama kamu.” Gerutu asisten Tala tersebut.


“Sembarangan kalau berbicara mereka itu semua pada banyak yang ngantri cuman aku aja yang tidak mau kayak dianya aja sudah ada yang punya. Sama-sama jomblo jangan saling menghina.” Sungut Diego. “Lagian bos nggak membiarkan kita untuk berkencan.” Lirih Diego diakhir.


“Sudahlah.” Ucap asisten tersebut dengan kesal ke sekretaris Diego.


Di apartemen Tala yang baru selesai membalas pesan dari asistennya menolehkan kepalanya ketika dirinya mendengar suara langkah kaki.


Ternyata di sana Eve dengan jalan menunduknya ke arah meja rias. Tala juga berjalan menghampiri Eve sehingga membuat Eve yang berjalan menunduk tersebut menatap ke arah Tala karena Eve menabraknya.


“Maafkan aku.” Ucap Eve padahal yang salah adalah Tala tapi Eve yang meminta maaf.


“Kalau berjalan lihat ke depan.” Ujar Tala dengan datar Eve hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan karena tidak mau berbicara panjang kali lebar dengan Tala seperti yang dilakukannya dulu.


Eve akan memilih diam dan menjawab sekedarnya saja ini adalah langkah awal yang dilakukan oleh Eve. “Cepatlah turun sebelum makanan menjadi dingin.” Ujar Tala dan Eve hanya menganggukkan kepalanya karena saat ini Eve sibuk dengan rutinitasnya memakai skin care.


Tala tidak menggubris Eve yang tidak menjawabnya dengan suara karena setelah mengatakan itu Tala keluar dari dalam kamar dan menunggu Eve turun agar keduanya bisa makan bersama.


Eve keluar dari dalam kamar dan melihat ke penjuru ruangan namun Eve sama sekali tidak melihat adanya pengawal Bee di sana.


Lalu langkah kaki jenjang Eve membawa Eve turun dan matanya mengitari lagi untuk mencari seseorang. “Di mana Bee?” Gumam Eve dengan dirinya sendiri.


Eve berjalan ke dapur di sana sudah ada Tala yang sudah duduk di meja makan dengan makanan yang sudah disiapkan di depannya dan juga di seberangnya.


Eve berjalan menunduk dan duduk di kuris, makanan di depannya tampak menggiurkan sehingga membuat perut Eve tambah meronta untuk minta diisi. “Selamat makan.” Ucap Eve lalu dengan cepat berdoa.


Eve menyendokkan makanan tersebut ke dalam mulutnya tanpa suara suapan demi suapan akhirnya membuat piring yang berisi makanan tersebut habis tak tersisa sebutir nasi pun.


Entah karena Eve merasa lapar atau makanannya yang enak sehingga Eve tidak peduli dengan orang yang ada di depannya sedang menatapnya tidak percaya.


Eve pun melihat ke depan lagi masih ada makanan dan Eve ingin mengambil nasi beserta lauknya untuk diisi kembali ke atas piringnya. “Apakah perutmu tidak sakit?” Tanya Tala menghentikan aksi Eve yang hendak menambah makanan di piringnya.


Eve menatap ke arah Tala sekilas lalu menggelengkan kepalanya dan sibuk menyendokkan nasi ke atas piringnya.


Dua piring Eve habiskan membuat Tala menggelengkan kepalanya menatap Eve tidak percaya dan merasakan perutnya ikut kenyang hanya melihat Eve makan.


Padahal Tala hanya mengambil sedikit untuk dimakannya namun Eve sudah selesai duluan dengan dua piringnya. “Apakah makanan aku seenak itu?” Tanya Tala dengan dirinya sendiri. “Apa dia selapar itu. Dia terlihat tidak makan selama berhari-hari tapi bagus lah daripada melihatnya hanya makan sedikit dengan alasan menjaga bentuk tubuh.” Ucap Tala di dalam hatinya.


“Aku akan mencuci piring.” Ucap Eve karena saat ini Eve merasa perutnya begah dan jika dirinya duduk diam saja maka akan membuatnya mengantuk dan itu tidak baik.

__ADS_1


Daripada dia duduk mending Eve melakukan aktivitas sembari menunggu makanan tersebut bisa dengan cepat turun.


Tala hanya diam membiarkan karena bakalan percuma jika dirinya melarang Eve sangat keras kepala jika sudah berkemauan.


Tala hanya diam dan duduk memperhatikan Eve yang sibuk dengan piring yang dicucinya. Bahkan posisi Tala saat ini sedang duduk menyamping untuk melihat Eve lebih leluasa.


Eve menguraikan rambutnya namun Tala sama sekali tidak melihat bahwa Eve merasa terganggu dengan hal itu. Itu artinya Eve sudah biasa.


Tangannya juga begitu lincah membilas semua piring atau tempat bekas makanan tersebut.


Sementara Eve yang sedang mencuci piring tersebut hanya diam dan fokus dengan apa yang dilakukannya.


Salah satu cara untuk menghindari kecanggungan dan juga Tala adalah dengan dirinya melakukan aktivitas agar interaksi keduanya minim dilakukan.


Eve memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah mencuci piring melihat estimasi waktu mencuci piring dengan mengelapnya membutuhkan waktu tidak lebih dari dua puluh menit.


Sepuluh menit itu Eve harus melakukan apa haruskan dirinya membuat smootish namun Eve merasa ragu dengan bahan yang ada di kulkas karena dirinya tidak melihat isi kulkas sama sekali.


Atau dirinya bermain ponsel saja tapi nanti bagaimana jika Adya, ibu Dhara serta ayah Davka mengirim pesan kepadanya dan menanyakan perihal yang terjadi siang tadi saat dirinya mengangkat telepon.


Pasti mereka mendengar semuanya beserta gerutuannya untuk Tala mengenai apa yang dilakukan Tala kepadanya pagi tadi sehingga membuat badannya terasa remuk.


Memikirkan hal yang terjadi pagi tadi membuat Eve merasa sangat malu, padahal hal yang dilakukan antara dirinya dan Tala adalah hal yang wajar bagi sepasang suami istri dan mereka adalah pasangan halal bukan seperti pasangan yang belum menikah.


Helaan nafas Eve didengar oleh Tala yang sedang duduk sangat dekat Dengan Eve yang saat ini sudah mengelap piring dan tempat bekas makanan yang sudah dicucinya itu.


“Apa yang sedang dipikirkannya kenapa banyak sekali helaan nafas?” Ujar Tala bertanya-tanya dengan dirinya dan memperhatikan Eve.


Hari ini entah kenapa Tala selalu memperhatikan Eve bukan hanya hari ini saja sebelum-sebelumnya juga ia bagaimana Eve bisa begitu sangat dekat dengan dokter Raka.


Semenjak Eve memutuskan akan tetap bercerai dengannya Tala selalu memperhatikan Eve baik dari jarak jauh maupun dekat.


Tala hanya ingin tau sesuatu yang membuat Tala penasaran apa yang mengubah Eve dan membuat Eve bersikeras dengan perceraian yang akan terjadi dua bulan lagi.


Sementara permintaan Adya kepada dirinya agar jangan bercerai dengan Eve belum dijawab oleh Tala waktu itu.


Eve sangat misterius bagi Tala dari segala aspek kehidupannya, masalah Eve yang anak pungut Tala sudah tau bahkan Eve yang sering dihina karena statusnya yang bukan keluarga kandung dari keluarga besar Adwitya, Tala sudah mengetahuinya dan Tala tidak mempermasalahkan itu.


Tala selalu bertanya-tanya dengan dirinya sendiri apa yang membuat Eve sangat tertutup kepada semua orang dan tidak terbuka kepadanya terlebih waktu dulu apakah karena Eve takut bahwa Tala akan menjauhinya dan sudah tidak ingin berpacaran dengannya.


Yang Tala rasakan jika Eve berpikir bahwa dirinya akan menjauhi Eve kala itu hanya karena Eve anak adopsi maka Tala akan merasa harga dirinya sebagai seorang laki-laki dan kekasih Eve kala itu akan sangat terluka karena Eve tidak mempercayainya.


Tidak mempercayai dirinya dan tidak terbuka seperti menutup komunikasi membuat kandasnya sebuah hubungan seperti hubungan dirinya dengan Eve dulu.


 


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2