Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 184. Ya, Ini Aku!


__ADS_3

Dada Ayanna kembang kempis menahan gejolak amarah. Gara-gara pria yang dengan santainya duduk di atas sofa yang sungguh tidak tau malu.


Jika saja saat itu pria itu tidak melepaskan sabuk pengamannya maka berita yang beredar tidak akan terjadi hari ini.


Jika saja kemarin dia menolak dengan keras mengikuti pria itu karena permintaan Eve dan Tala maka tidak akan ada berita itu.


"Ya, ini aku. Kekasihmu." Tekan Gulzar di setiap kalimatnya.


"Kekasih!" Pekik Ayanna yang bertambah kesal mendengarnya. "Bagaimana bisa kamu masuk ke dalam apartemen milikku. Kamu sungguh mengganggu privasi orang. Apa kamu tau tindak pidana apa atas apa yang kamu lakukan sekarang." Ucap Ayanna dengan berapi-api.


"Memangnya kenapa? Aku kan kekasihmu." Tekan Gulzar kembali.


Ayanna mengusap wajahnya dengan kasar mendengar perkataan Gulzar. "Apa kamu sudah gila dengan perkataanmu itu?" Pekik Ayanna berapi-api.


"Iya aku gila karena mu." Ucap Gulzar dengan santai.


Ayanna memijat pelipisnya dengan tangan yang ada di pinggangnya sebelah sembari memutar tubuhnya yang tidak habis pikir. Pipi Ayanna memerah entah karena marah atau karena tersipu dengan kalimat yang dikeluarkan oleh Gulzar yang sangat receh dan jadul itu.


"Aku tidak akan pernah mau untuk menjadi kekasihmu. Memikirkannya saja aku sudah malas apalagi harus menjalankannya. Apalagi melihat wajah mu yang datar dan dingin itu minim ekspresi. Aku tidak sudi."


"Aku sudah dengar makian mu dari Kevin adik iparku. Tadi, adik mu datang ke kantor ku untuk memperjelas kan semuanya. Aku mengatakan semuanya bahwa kita memang berkencan."


Ayanna berjalan mendekat ke arah Gulzar dan mengukung Gulzar yang sedang duduk di sofa.


Menatap tajam dan nyalang ke arah Gulzar apalagi melihat senyuman Gulzar yang Ayanna rasa membuat darahnya baik beberapa otkaf.


"Kau keluar dari apartemen ku sekarang. Jangan mengganggu kehidupanku. Ingat Kita berdua hanya orang asing dan jawab tidak atas berita itu aku juga akan menjawabnya tidak. Apa kau mengerti." Ucap Ayanna menahan amarah.


Gulzar membalikkan keadaan dengan cepat membuat Ayanna yang berada di bawah kungkungannya. "Aahhhh." Pekik Ayanna kaget dengan tindakan dari Gulzar tanpa sadar Ayanna memegang erat leher Gulzar.


"Ternyata kamu agresif juga kekasihku." Dengan posisi seperti ini masih sempat-sempatnya Gulzar menggoda Ayanna. Entah kenapa melihat reaksi Ayanna membuat Gulzar ingin menggodanya reaksi Ayanna sangat menggemaskan.


Ayanna hendak bangkit namun ditahan oleh Gulzar. Gulzar menatap Ayanna dengan lembut lalu merapikan helaian rambut Ayanna yang berantakan. Ayanna yang mendapatkan tindakan itu menjadi ketar-ketir sendiri.


"Kekasihku tidak boleh berantakan seperti ini. Siapa pun tidak boleh membuatnya seperti ini kecuali aku." Ujar Gulzar dengan menatap Ayanna lembut.


Keduanya lama terdiam dengan pemikirannya masing-masing. Ayanna sibuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang takut Gulzar mendengarnya.


Gulzar mendekatkan wajahnya ke arah Ayanna membuat Ayanna tambah gugup. Ini tidak benar, Ayanna langsung memalingkan wajahnya hingga Gulzar mencium telinga bawah Ayanna.


Ayanna merinding merasakan sentuhan yang tidak biasa seperti itu. Apalagi nafas Gulzar yang menerpa kulitnya.


Jakun Gulzar naik turun dan menghirup aroma yang menenangkan di tubuh Ayanna. Ini pertama kalinya baginya berdekatan dengan wanita sedekat ini apalagi tingkahnya di luar dugaan.


'Ayanna aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan membuatmu berada di sisiku. Kamu yang mengusik ketenangan aku duluan sehingga aku bersikap seperti ini.'


Ayanna mendorong tubuh Gulzar dengan keras beruntung laptop yang ada di pangkuan tadi Gulzar pindahkan di atas meja saat berbicara dengan Ayanna yang berapi-api.

__ADS_1


"Kau jangan bersikap kurang ajar!" Tunjuk Ayanna dengan berdiri menatap nyalang ke arah Gulzar.


Gulzar tersenyum dengan sumringah hal itu mampu membuat Ayanna terdiam. "Pipimu memerah. Apa itu karena marah atau kamu malu?" Goda Gulzar.


Ayanna sungguh sangat kesal dengan Gulzar hingga membuat Ayanna mendekat dan memukul Gulzar dengan tangannya yang kecil.


Gulzar hanya bisa tertawa sekaligus menghindar di sofa melihat Ayanna yang berapi-api.


Gulzar menangkap tangan Ayanna lalu menariknya untuk masuk ke dalam pelukannya dengan erat.


Mata Ayanna membulat merasakan pelukan itu. Saat ini dia tidak menggunakan bra hanya mengenakan kaos dalam yang ditutupi baju piyama.


Ayanna ingin memberontak tapi takut Gulzar merasakannya. Gulzar sudah tentu merasakannya dan tersenyum senang. Dia jadi tau satu hal dan menebak bahwa ini kebiasaan Ayanna jika hendak tidur.


Oh tidak pemikirannya sungguh melayang ke mana-mana. Ini hanya bersama dengan Ayanna saja. "Kamu yang membuat aku gila." Ujar Gulzar dengan lembut sembari mengelus punggung Ayanna dan memejamkan matanya menikmati momen ini.


"Lepaskan aku." Ucap Ayanna dengan suara tertahan. Saat ini dia sungguh mati kutu dengan keadaan.


Gulzar kembali mengubah posisi hingga Ayanna yang berada di pelukannya menjadi duduk di atas pangkuannya.


Ayanna yang melihat tangan kekar dan besar melingkar di pinggangnya dan duduk di atas pangkuan Gulzar tidak merasa nyaman.


Gulzar tidak melepaskan pelukannya di pinggang Ayanna. Gulzar sudah merasa nyaman dengan Ayanna.


"Ayanna Talia." Panggil Gulzar dengan suara lembut nan serak namun tidak meninggalkan ketegasan dan keseriusan di sana.


Hanya bulu mata Ayanna yang bergerak karena berkedip. Gulzar mendekatkan wajahnya ke arah Ayanna hendak mencium Ayanna namun terhenti. Ayanna sudah memejamkan kedua matanya sembari mengigit bibir dalamnya entah kenapa tubuhnya tidak bisa sinkron.


Gulzar menatap bibir yang digigit tersebut lalu melihat wajah Ayanna yang tampak tidak nyaman karena cemas. "Aku tidak menerima penolakan Ayanna. Aku sudah mengatakan kepada adikmu bahwa aku akan menikahi mu. Jangan mengigit bibirmu seperti ini nanti terluka."


Ayanna membuka kedua matanya dan melepaskan gigitan di dalam bibirnya.


"Apa aku boleh menciummu?" Tanya Gulzar dengan suara serak. Ayanna tidak tau harus berkata apa dan hanya bisa diam saat Gulzar mengecup bibirnya beberapa kali baru mencium bibirnya dengan lama.


Hasratnya sebagai wanita dewasa dan hasrat Gulzar yang juga menggebu apalagi usianya sudah 33 tahun membuat gairahnya memuncak.


Tanpa sadar Ayanna melingkarkan kedua tangannya di leher Gulzar dan sedikit meremas rambut Gulzar sembari menikmati ciuman yang diberikan oleh Gulzar.


Ayanna memukul dada Gulzar karena merasakan kehabisan nafas.


Ini benar-benar gila apa yang mereka berdua lakukan benar-benar gila.


Gulzar mengusap bibir basah milik Ayanna karena ulahnya lalu menatap mata Ayanna dengan lembut. "Bibir ini hanya milikku, mata ini hanya boleh memandangku seorang, tubuh ini hanya milikku." Ucap Gulzar dengan posesif sembari menyentuh pinggang Ayanna dengan gerakan sensual.


Pria ini memenjarakannya dan memerangkapnya dalam pesonanya yang tak terbantahkan.


Gulzar kembali menyerang bibir Ayanna yang menjadi candu baginya. Jika seperti ini rasanya kenapa tidak dari dulu.

__ADS_1


Pakaian Gulzar sudah berantakan dengan kemeja yang dimasukkan ke dalam kini sudah keluar dan di leher Gulzar sudah tidak terpasang dasi lagi, dua kancing atas baju Gulzar sudah terbuka begitu juga dengan piyama milik Ayanna yang kedua kancing atasnya sudah terlepas karena Gulzar kini mencium leher dan dadanya lalu menyesapnya hingga membuat Ayanna mendesah.


Tangan Gulzar mengusap punggung Ayanna semakin memberikan sensasi apalagi saat tangan Ayanna meremas rambutnya dan menekan Gulzar di atas dadanya dibawah leher.


Gulzar tersadar dengan logikanya yang mulai kembali berhenti. Lalu menatap ke arah atas dada Ayanna yang sudah ada tanda kepemilikan darinya.


"Nanti jangan memakai pakaian terbuka di area dada. "Ujar Gulzar dengan terengah-engah begitu juga dengan Ayanna.


Ayanna merasa lemas dibuatnya hingga Ayanna bersandar di bahu bidang Gulzar.


Ayanna memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya yang mendadak liar.


Ayanna mengangkat wajahnya, Gulzar menatap wajah Ayanna yang memerah dan penampilannya semakin berantakan namun itu terlihat sangat menggairahkan.


Ingin sekali menerjang Ayanna dan melakukan hal yang lebih namun mereka bukanlah suami istri. Gulzar tidak mau melakukannya sebelum mereka menikah.


Gulzar merapikan rambut Ayanna dan menyelipkannya di belakang telinga wanita itu.


"Artinya kamu tidak menolakku." Ujar Gulzar menyatukan kening dirinya dengan Ayanna.


Ayanna masih duduk di atas pangkuan Gulzar. "Aku akan menahannya Ayanna sampai kita menikah. Aku serius dengan hubungan ini."


Tangan Gulzar bergerak ke arah dada Ayanna lalu mengancing piyama Ayanna kembali karena ulahnya. Pipi Ayanna sudah memerah.


"Kita akan menikah secepatnya ini sangat berbahaya Ayanna." Ucap Gulzar dengan suara seraknya.


Ayanna tidak mengeluarkan sepatah katapun lagi dari mulutnya karena ulah pria yang sedang memasakkan sarapan sekaligus makan siang untuknya saat ini. Semenjak tadi Ayanna hanya diam dan terbengong memikirkan apa yang terjadi dan apa yang diperbuatnya bersama pria tadi.


Ayanna tidak tau bagaimana perasaannya terhadap pria itu tapi yang jelas jantungnya selalu berdegup kencang dan merasakan perasaan yang belum pernah dirasakan olehnya sama sekali seumur hidupnya.


Dia memang mempunyai banyak adegan ciuman dengan lawan jenisnya namun tidak pernah berdebar seperti ini. Ayanna mengingat kembali perkataan dari Gulzar bahwa dia tidak boleh menerima tawaran drama atau pun film jika melibatkan adegan ciuman. Pelukan dan tatapan mesra masih Gulzar berikan toleransi namun untuk ciuman itu tidak.


Pria itu menunjukkan sikap posesifnya dan berterus terang bahwa dia akan sangat cemburu dan marah jika Ayanna melakukan itu. Karena dia tidak mau Ayanna disentuh oleh siapapun. Ayanna hanya miliknya seorang.


Ayanna bisa gila lama-lama memikirkan tindakan pria itu.


Ayanna menatap penampilannya yang berantakan dengan pakaian tidur dan sudah pasti dia belum mandi lalu membandingkan dengan Gulzar yang rapi dengan kemejanya yang sudah dimasukkan ke dalam celananya. Tubuh profesional Gulzar membuat baju apa pun yang dikenakannya sangat pas.


Pria itu sungguh membuat orang gila melihatnya dia termasuk orang gila itu sekarang.


Ayanna meringis saat mendengar perkataannya tadi pagi dan nasihat adiknya terkait bahwa jangan sampai dia yang jatuh cinta kepada Gulzar.


"Apa ada yang sakit? Kenapa kamu meringis seperti itu?" Tanya Gulzar menatap ke arah Ayanna yang meringis. Ayanna kembali menggigit bibir dalamnya.


Gulzar mendekat ke arah Ayanna, "jangan mengigit bibirmu seperti itu. Aku tidak mau milikku terluka biarkan aku saja yang mengigitnya." Wajah Ayanna kembali memerah dibuatnya hal itu membuat Gulzar tertawa kecil dan mengusap rambut Ayanna dengan lembut lalu mengecup pipi Ayanna sebelah yang bersemu merah.


"Menggemaskan."

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2