Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 52. Hujan


__ADS_3

Eve segera membayar sebuket bunga tulip yang dipilihnya tidak lupa juga Eve membeli bunga tabur untuk ditaburkan di pemakaman kakek Werawan.


Eve masih belum tau bahwa makam kakek Werawan diletakkan berseberangan dengan makam nenek Werawan dan kakek Werawan juga belum pernah bercerita kepadanya bahwa ingin dimakamkan di samping nenek Werawan.


Namun, di dalam benak Eve terbersit pikiran bahwa makam kakek Werawan pasti bersebelahan dengan makam nenek Werawan jadi Eve meminta lagi sekeranjang bunga tabur untuk ditaburkan di makam nenek Werawan jika terbukti di dalam benaknya memang benar.


Kalaupun tidak, tidak menjadi masalah dan Eve akan menaburkan bunga itu ke makam kakek Werawan.


Langkah Eve terhenti lagi saat mengingat bahwa dia sepertinya harus membeli sebuket bunga tulip lagi.


Uang yang diberi oleh Tala sudah habis digunakannya Eve terlihat agak kesusahan membawa dua buket bunga dan juga dua keranjang yang berisi bunga tabur.


Dari dalam mobil Tala yang melihat Eve kelimpungan dengan bunga yang berada di kedua tangannya mengernyit heran. “Kenapa dia membeli dua buket bunga dan juga dua keranjang bunga tabur?” Tanya Tala di dalam benaknya.


Tala yang melihat kesusahan segera membuka pintu mobil dari dalam, “terimakasih.” Ujar Eve dengan semangat dan memberikan senyuman manisnya kepada Tala namun tidak digubris oleh Tala.


Menurut Eve tidak masalah dan itu merupakan hal yang sudah biasa terjadi di antara mereka. Lain halnya jika tiba-tiba Tala membalas senyuman dan sapaannya maka itu patut dipertanyakan.


Eve menghela nafasnya dengan panjang dan merasa gugup karena sebentar lagi mereka akan datang ke tempat peristirahatan terakhir kakek Werawan.


Mobil yang dikendarai Tala berhenti di sebuah pemakaman elit tepatnya di belakang mansion kakek Werawan sendiri.


Sebenarnya makam ini memang sengaja dibuat oleh kakek Werawan agar memudahkan anggota keluarganya nanti termasuk dirinya namun kakek Werawan memperbolehkan masyarakat di sekitarnya yaitu kalangan menengah ke bawah boleh meletakkan makam keluarganya yang sudah meninggal di sana karena kakek Werawan sudah membeli tanah itu dan pastinya tidak berbayar serta terawat tidak kalah seperti makam elit.


Eve menghembuskan nafasnya dengan pelan sembari memegang dua buket yang dibawanya sedangkan dua keranjang bunga tabur dipegang oleh Tala.


Keduanya berjalan dengan Tala yang berjalan di depan tidak lama kemudian mereka sudah sampai di pemakaman di mana makam kakek Werawan berada.


Mata Eve menatap nisan yang tertera nama Arjuna Laksana Werawan mata Eve mulai berembun namun Eve tidak ingin menunjukkan kesedihannya di depan makam sang kakek.


Ujung mata Eve melihat Tala yang sudah menabur bunga di samping makam di sebelah kakek Werawan dan Eve pun membaca nama yang terukir di nisan tersebut Elizabeth Jandelyn.


Eve ingat bahwa nama istri dari kakek Werawan adalah Elizabeth Jandelyn. Istri dari kakek Werawan berasal dari Belanda.


“Apakah itu makan nenek Lizzy?” Tanya Eve, Tala yang mendengarnya kaget namun tidak ditunjukkan kepada Eve.


Tala hanya menganggukkan kepalanya, Eve yang melihatnya berbalik ke arah makam nenek Lizzy dan Eve berdoa di dalam hatinya. “Nenek ini Eve cucu menantu istri kedua dari kak Tala menantu dari ibu Dhara dan ayah Davka. Maaf jika Eve baru bisa berkunjung dan bertemu dengan nenenk.”


Tala yang melihat Eve memejamkan matanya sambil menggabungkan kedua tangannya hanya diam. “Eve akan selalu mendoakan nenek di sana. Nenek sekarang sudah bertemu dengan kakek. Kakek sangat mencintai nenek berbahagialah di sana jika sudah waktunya Eve akan datang menyusul.”


Eve segera menaburkan bunga yang ada di keranjang di makam nenek Lizzy. Bunga yang berada di keranjang Tala sudah habis untuk nenek Lizzy.


Lalu Eve dan Tala beralih ke makam kakek Werawan keduanya berdoa bersama-sama. “Kakek Eve datang maafkan Eve yang tidak hadir ke pemakaman kakek waktu pertama kali. Eve akan selalu mendoakan kakek, kakek berbahagialah di sana Eve akan baik-baik saja dan akan berusaha kuat semampu Eve jangan lupa doakan dan jaga Eve dari atas sana. Eve sangat mencintai dan menyayangi kakek. Kakek sekarang sudah bahagia di atas sana bersama dengan nenek.”


Hampir tiga puluh menit lamanya mereka berada di pemakaman tersebut mereka baru pulang ketika langit sudah mendung dan mulai menumpahkan air matanya dari atas sana.


Eve dan Tala pun segera beranjak tanpa bersuara keduanya sibuk degan pemikiran dan masa sedih masing-masing.


Di dalam mobil pun tidak ada yang berbicara hingga mereka sampai di mansion. Pengawal yang melihat mobil pribadi Tuan mudanya segera datang menghampiri dengan membawa dua payung besar untuk keduanya.


“Mari Nona ini Tuan muda payungnya.” Ujar pengawal tersebut dan membantu Eve untuk membantu membuka payung tersebut.

__ADS_1


“Terimakasih.” Ucap Eve tidak lupa seperti biasa sambil memberikan senyumannya.


Pengawal hanya diam dan menundukkan kepalanya, Eve langsung berjalan namun sayang karena lantai menuju ke teras mansion licin akibat hujan membuat Eve tergelincir sehingga membuat Eve mengaduh kesakitan.


Tala yang melihatnya segera membantu Eve dan pengawal dengan sigap memegang payung agar Tuan muda dan Nona muda tidak basah.


Tala segera menggendong Eve dan Eve menyembunyikan wajahnya di dada bidang Tala karena merasa kesakitan akibat tetesan air hujan yang membasahi wajahnya.


Mereka berdua sudah tidak menggunakan payung lagi karena Tala yang menggendong Eve dan merasakan adanya payung membuat Tala sangat kesusahan alhasil mereka sampai di teras rumah dengan baju yang sudah basah semua.


Pelayan yang mendapat panggilan dari depan oleh pengawal yang menjaga depan mansion dengan sigap memberikan handuk dan juga bathrobe untuk Tuan muda dan Nona muda mereka.


Tala meletakkan Eve di kursi dan Tala sibuk mengelap air hujan yang membasahinya begitu juga dengan Eve.


Dapat Eve lihat bahwa kakinya sedikit bengkak dan berdenyut sesekali terdengar ringisan yang keluar dari mulut Eve.


Tala membantu Eve berdiri dan memasangkan bathrobe ke tubuh Eve lalu segera menggendong Eve.


Keduanya berjalan dari arah dapur dan menggunakan lift yang terletak di dapur tersebut untuk menuju ke kamar mereka.


Eve hanya diam saja dan menundukkan kepalanya karena merasa malu apalagi melihat pengawal dan pelayan yang tanpa sengaja melihat keduanya tersebut.


Padahal menurut Eve ini bukanlah apa-apa dan juga ini tidak disengaja semuanya di luar kendali.


Sesampainya di dalam kamar dengan kepala pelayan yang sudah membukakan pintu kamar untuk memudahkan Tuan mudanya masuk ke dalam kamar karena sedang menggendong Nona mudanya itu.


Eve yang melihat kepala pelayan sedikit bisa melihat senyuman di bibir kepala pelayan hal itu semakin membuat Eve merasa malu.


“Tuan muda air hangatnya sudah saya siapkan.” Ujar kepala pelayan sambil membuka pintu kamar mandi.


Perintah Tala membuat kepala pelayan semakin bingung namun tetap dilanjutkan karena tidak mau membantah. Kepala pelayan mengira bahwa Tuan mudanya itu akan mandi bersama dengan Nona mudanya ternyata salah.


Kepala pelayan datang mengetuk pintu kamar Adya yang berada di depannya sedangkan Adya yang sudah tau insiden yang terjadi di depan mansion mengenai Eve yang terpleset sehingga membuat Tala menggendongnya tidak membukakan pintu dan berpura-pura tidur.


Kepala pelayan kembali lagi ke kamar Tala dan Eve tapi sebelum itu kepala pelayan mengetuk pintu terlebih dahulu. Di dalam kamar kepala pelayan sudah melihat bahwa Tala sudah menanggalkan pakaiannya yang basah dan menggantikannya dengan bathrobe baru yang dikenakannya.


“Tuan muda sepertinya Nona Adya sedang tidur dan pintu kamarnya terkunci.” Ujar kepala pelayan tersebut.


Tala yang mendengarnya menghela nafas panjangnya dan menganggukkan kepalanya. “Pergilah bibi terimakasih.” Ujar Tala kepada kepala pelayan.


Setelah kepergian kepala pelayan Tala menunggu beberapa saat lalu segera keluar dari dalam kamar dan menekan tombol lift menuju lantai dua di mana kamar kakek Werawan berada selama berada di sini.


Tala berpikir akan mandi di kamar almarhum kakeknya itu karena dirinya sudah sangat kedinginan dan dirinya tidak ingin sakit.


Adya yang berada di kamarnya merasa sangat bersyukur dengan insiden yang terjadi dengan Eve sehingga membuat Tala menggendong Eve apalagi itu di tengah hujan.


Walaupun sebenarnya Adya juga merasa kasihan dan tidak tega melihat Eve yang pertama kali kembali dari mansion dan dirinya harus terpleset.


“Untung pengawal dengan cepat memberitahu ku kalau tidak pasti Tala akan mandi di dalam kamar mandi milikku.” Ujar Adya sambil melihat gambar di layar ponselnya yang menampilkan Tala yang menggendong Eve beserta videonya.


“Mereka terlihat sangat serasi. Coba saja jika mereka akur pasti mereka akan kembali mendapatkan anak dengan mudah.” Ujar Adya merasa gemas dengan hubungan keduanya.

__ADS_1


Ayda sudah tidak marah dan kesal lagi dengan Tala karena Tala sudah mengembalikan Eve ke mansion hal itu membuat Adya merasa sangat senang.


Sedangkan di dalam kamar mandi di kamar Eve dan Tala. Eve merasa kesusahan bangkit dari bathup namun Eve merasa malu jika harus meminta tolong kepada Tala lagi.


Apalagi sekarang dirinya hanya menggunakan selembar handuk yang melilit di tubuhnya itu dan handuk itu hanya menutup setengah pahanya saja.


Jelas tidak akan mungkin jika dirinya meminta tolong dan Eve juga merasa cemas apakah Tala ada di dalam kamar atau tidak karena tadi Eve tidak bisa langsung menyiapkan pakaiannya.


Dirinya yang berada di dalam gendongan Tala tadi langsung di letakkan Tala di dalam bak mandi. Eve juga lupa meminta tolong kepada kepala pelayan untuk mengambil bajunya di ruang pakaian.


“Bagaimana ini.” Ujar Eve dengan gelisah dengan sesekali meringis sambil berpegangan pada dinding kamar mandi ketika setiap langkahnya merasakan nyeri di mata kakinya itu.


“Sepertinya ini harus segera dikompres.” Ujar Eve dengan dirinya. “Jika tidak maka ini akan membengkak dan aku akan kesusahan berjalan.”


Dengan susah payah akhirnya Eve bisa sampai juga di ruangan pakaian dan dengan segera Eve mengambil pakaiannya dan mengenakannya.


Tiba-tiba pintu ruang pakaian dibuka hal itu membuat Eve sangat kaget dan terhuyung kembali.


Tala yang melihatnya dengan sigap membantu Eve. “Hampir saja.” Gumam Tala dengan pelan dan lirih.


Eve yang mendengar Tala berbicara mengangkat kepalanya ke atas sambil mengangkat kedua alisnya. “Kak Tala berbicara apa?” Tanya Eve dengan posisi Tala yang masih memakai bathrobe dan Eve yang sudah selesai dengan pakaiannya.


Tala mengangkat Eve kembali dan segera membawa Eve berada di atas tempat tidur tanpa menjawab pertanyaan dari Eve.


Eve yang terkejut memekik sambil memegang kerah bathrobe yang dikenakan oleh Tala. “Kenapa dia selalu mengagetkan.” Ucap Eve dalam benaknya.


Eve yang masih memegang kerah baju mandi Tala membuat posisi wajah Tala berada dekat dengan wajah Eve. “Lepaskan.” Ujar Tala dengan dingin, Eve yang awalnya tidak mengerti segera melepaskan pegangan tangannya di kerah baju mandi Tala.


“Maafkan aku.” Ucap Eve sambil menunduk dan Tala setelah itu langsung pergi dan segera mengganti baju mandi yang dikenakannya dengan pakaian yang cukup hangat.


Sementara Eve merasa badannya mulai tidak enak, “sepertinya aku mau mulai masuk angin.” Ujar Eve sambil menggesek hidungnya dengan jari telunjuknya ke kiri ke kanan karena gatal lalu Eve bersin.


Tala yang mendengar suara bersin segera memakai pakaiannya dengan cepat. “Obatnya berada di tas kerja aku sangat jauh. Kaki ku sakit jika dipaksakan harus berjalan.” Ujar Eve entah kenapa dengan kondisinya seperti ini ingin membuat Eve menangis.


Tak lama kemudian Tala keluar dari ruang pakaian dan melihat Eve yang memandang rintik hujan di balik jendela kamar keduanya.


Tala berjalan ke arah tas kerja Eve dan membawa tas kerja Eve ke arah Eve. Eve yang melihatnya paham dengan segera menerimanya dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.


Lalu Eve mencari obat yang biasa digunakannya untuk mencari salep, sebenarnya Eve ingin meminta tolong kepada Tala untuk turun mengambil es batu namun Eve merasa malu dan akhirnya Eve hanya diam dan sibuk mencari obat salepnya.


Sementara Tala yang selesai memberikan tas kerja Eve kepada Eve pergi ke ruang kerjanya dan tak lama kemudian di tangannya terdapat es batu, baskom, dan juga perca lalu tanpa banyak bicara dengan segera Tala mengompres kaki Eve yang sudah Eve balurkan dengan salep.


Eve yang memejamkan matanya dan merasakan pergerakan di bawah kakinya apalagi ada sebuah tangan kekar yang memegang pergelangan kakinya membuat Eve sangat kaget.


Mata keduanya bertemu ketika Eve terkejut dengan apa yang dilakukan Tala kepadanya namun Eve hanya diam dan melipat bibirnya melihat apa yang dilakukan Tala kepadanya.


Eve merasa terharu dengan apa yang dilakukan oleh Tala kepadanya bukan hanya ini saja tapi hari ini walaupun tidak banyak bicara tapi Tala menunjukkan perhatiannya melalui tindakannya.


Menurut Eve Tala yang sekarang seperti bunglon tidak bisa ditebak baik tindakan dan sifatnya terkadang dingin dan datar apalagi ditambah tatapannnya yang tajam dan mulutnya yang pedas ketika berbicara terkadang juga diam-diam juga perhatian kepadanya seperti kali ini dan terjadi hari ini.


Tapi, apa yang dilakukan oleh Tala Eve tidak ingin berharap lebih karena dirinya tau posisinya sebagai apa lagipula pernikahan mereka akan berakhir kurang lebih lima bulan lagi.

__ADS_1


 


*Bersambung*


__ADS_2