
Kepala pelayan yang akan mengantarkan makanan dan minuman di dengan ditemani beberapa pelayan mendengar suara uara ricuh meramaikan mansion Werawan. Apalagi dengan gelak tawa Yasmin dan Daisy yang sangat menggelegar serta suara mereka kalau berbicara seperti menggunakan toa dan jika berteriak mengeluarkan suara lumba-lumba yang melengking menyakiti telinga.
"Melihat Lizzy yang hamil besar aku ingin sekali mempunyai anak lagi." Celetuk Daisy. "Apalagi usia Lily sudah lebih dari dua tahun."
"Apa kamu sudah tanyakan Jackson?" Tanya Yasmin.
Daisy menghela nafasnya, "masalahnya kamu tau sendiri bagaimana Jackson. Dia sama anaknya saja merasa cemburu, sama Tala iri dan cemburu, sama Kaivan iri cemburu juga, sama Diego iri dan cemburu karena memiliki anak laki-laki dan yang paling dia iri dan cemburui adalah kak Joha karena kak Joha mempunyai anak sepasang. Dia ingin menambah anak tapi masih ingin menikmati waktu bersama dengan ku lebih lama dan tidak diganggu Lily."
"Huh." Yasmin mendengus, "Jackson Harrison si playboy yang bertekuk lutut di bawah mu aku tidak bisa berkata-kata dengan hal itu. Masalahnya suami kita satu spesies. Kaivan iri melihat Jackson dan kamu karena mempunyai anak perempuan nan menggemaskan apalagi jika melihat Jean. Dia merasa bahwa kehidupan kak Joha dan kak Airen terlihat sangat sempurna sudah kaya anaknya cantik dan menggemaskan. Apalagi Jean sudah pandai berbicara."
"Dan kalian semua tau dia malah mau membuatkan adik untuk Kafin sekarang. Bisa gila aku menurutinya. Sama Kafin aja aku kesusahan ditambah dengan muka, sifat dan tingkahnya yang sangat mesum itu." Lanjut Yasmin memutar bola matanya malas.
"Tapi, kak ngomong-ngomong masalah anak aku kok nggak lihat kak Lizzy dan ibu sedari tadi." Celetuk Geya.
"Nyonya besar, Nyonya muda dan Tuan sedang pergi ke rumah sakit karena Nyonya muda mengalami kontraksi." Jelas kepala pelayan. "Nyonya besar minta maaf karena tidak memberitahu. Nyonya besar khawatir bahwa akan terjadi kepanikan terlebih ada anak-anak di sini."
"Apa!!!!"
Dan benar saja suara pekikan Yasmin, Daisy, dan Wendy menambah telinga orang yang berada dekat dengan mereka berdengung.
"Ouh astaga." Ujar mama Axel sementara Geya sudah menutup kedua telinganya dengan cepat karena sudah tau bagaimana ketiga orang yang sedang duduk melingkar di samping dirinya.
"Mama tidak apa-apa." Tanya Geya dengan khawatir kepada ibu mertuanya itu.
Mama Axel mengerjapkan kedua matanya. Sementara anak-anak beruntung tidak kaget karena mungkin sudah biasa dengan suara pekikan lumba-lumba dari wanita yang telah melahirkan mereka dan ada baby sitter juga yang menemani sehingga perhatian anak-anak teralihkan.
"Wahai para ibu muda saya ini sudah tua renta segala perkembangan di dalam diri saya menurun termasuk kedua telinga saya apalagi mendengar pekikan suara lumba-lumba milik kalian membuat telinga saya sakit." Yasmin, Wendy, Daisy dan Geya serta pelayan mengerjapkan kedua matanya mendengar mama Axel berbicara dengan dibuat-buat berdrama-drama.
"Hahahahahahha hahahahah." Kini menjadi suara tawa yang nyaring dari para ibu muda itu.
"Aduh perut ku Tante, ternyata Tante bisa juga ya." Ujar Yasmin yang memegang perutnya dan di sela-sela tawanya.
"Tante terlalu banyak bergaul dengan Tante Dhara." Ucap Wendy dengan mengusap kedua sudut matanya yang mengeluarkan air mata karena banyak tertawa.
Sedangkan Daisy sudah tersengal-sengal namun naik lagi saat mengingat kembali hingga ia tidak bisa berkata-kata.
Geya menahan tertawanya geli walaupun semua itu hanya sia-sia karena kasihan dengan mertuanya. Jika dia terus tertawa bisa-bisa dia dipecat menjadi menantu. Yang ada nanti ada judul di sinetron ikan terbang...
'Aku Dipecat Menjadi Menantu Karena Menertawakan Ibu Mertuaku'
Atau
'Aku Diceraikan oleh Suamiku Karena Ibu Mertuaku Tidak Terima Ditertawakan Olehku Saat Berkumpul Bersama'
"Aduh mama...mama...sepertinya...mama...jangan terlalu sering bersama dengan...bibi...Dhara." Ucap Geya dengan tersengal-sengal sembari memegang tangan mama Axel dan sebelah tangannya lagi memegang dadanya untuk mengatur nafasnya.
Mama Axel bukannya marah malah dia juga ikut tertawa apalagi melihat para ibu muda dan menantunya yang tertawa bahagia karenanya.
'Ternyata begini rasanya mempunyai anak perempuan'
"Pipiku sakit..." Ucap Daisy sembari memegang kedua pipinya dan menggerakkan pipinya itu agar tidak sakit lagi karena pegal tertawa.
"Sekarang aku tau di mana kerecehan Axel keluar hahaha...hahahah." Ujar Yasmin.
"Tentu saja Axel kan anak mama. Kalian harus memanggil aku mama juga seperti Lizzy dan Geya." Terang mama Axel dengan berbinar.
__ADS_1
"Tentu saja itu yang ingin kami dengarkan dari mama" Ucap Yasmin dengan mengedipkan matanya sebelah.
Mama Axel, "..."
'Dia nakal'
"Tapi, mama tidak boleh menarik perkataan mama lagi dan mama tidak boleh menyesal memiliki anak yang cerewet dan bawel seperti kami." Lanjut Yasmin lagi.
"Justru mama lebih senang." Karena mama Axel mereka jadi melupakan bagaimana dengan keadaan Eve sekarang.
"Hai para ibu muda suara kalian sampai terdengar di depan mansion sana." Ucap Axel yang baru datang bersama dengan Airen dan kedua anaknya. Axel sedang menggendong Jean.
Jarak taman dan depan mansion sangat jauh sekitar 200 meter namun suara para ibu muda itu masih terdengar.
Beberapa saat sebelum Axel dan Airen mendekat ke taman. "Kak Airen yakin untuk ke taman, dari sini saja suara tawa pekikan mereka cukup nyaring." Airen menganggukkan kepalanya tidak masalah.
"Baby Kala tidak apa-apa kan? Jangan sampai dia menangis karena terkejut kasihan sama baby Kala nanti."
"Tidak apa-apa Axel. Lagipula Kala sudah terbiasa karena dari masih dalam kandungan sampai lahir dia sudah mendengar suara pekikan dari mereka." Axel menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kamu jangan seperti para ibu muda itu ya princess Jean." Ujar Axel kepada Jean yang ada di dalam gendongannya.
Joha sebelum pamit ke rumah sakit meminta tolong kepada Axel untuk mengantarkan istrinya dan anaknya ke mansion Werawan. Joha dan Axel tadi sedang ada rapat bersama untuk kerjasama mereka.
Axel menghampiri istrinya Geya setelah sebelumnya mencium tangan mamanya dan juga mencium pipi mamanya itu.
"Sayang." Panggil Axel sembari memeluk Geya dengan erat mengungkapkan rasa rindunya kepada Geya tidak lupa juga mencium pipi kiri dan kanan serta kening Geya. Padahal mereka serumah dan seranjang tapi kenapa dia selalu merindukan istrinya itu. Ingin sekali mencium bibir merah delima Geya yang tampak menggoda namun melihat situasi dan kondisi dan ada anak-anak juga jadi Axel mengurungkan niatnya.
"Aduh Axel mata kami ternodai." Cibir Daisy.
"Kalian pasti irikan irikan irikan kalau iri panggillah suami kalian." Ujar Axel dengan tengil sehingga mendapatkan lemparan tisu dari Yasmin yang sedang kesal menatap ke arah Axel.
"Tadi, aku sedang ada rapat bersama dengan kak Joha laku kak Joha mendapatkan telepon dari paman Davka bahwa kak Lizzy mau melahirkan. Jadi, kak Joha menyuruh aku untuk menjemput kak Airen sepaket sama anaknya untuk dibawa ke mansion ini."
Inilah yang Geya sukai dari Axel, suaminya akan menjelaskan kepadanya walaupun ia tidak meminta. Suaminya ini memang suka bercerita. Suaminya mengatakan bahwa harus ada komunikasi di antara mereka karena menikah itu tidaklah mudah.
"Kamu kira kak Airen, Jean dan Kala ayam kakek uban." Celetuk Wendy jenaka.
"Karena kita semua ada di sini bagaimana kalau kita menyiapkan acara penyambutan untuk Lizzy nanti setelah dia dinyatakan pulang oleh dokter." Usul Yasmin, memang Yasmin penuh dengan ide.
"Setuju." Ucap Geya, Daisy, Wendy dan kak Airen dengan semangat bahkan mama Axel juga ikutan. Axel menggelengkan kepalanya melihat ibu muda itu dengan semangat serta mamanya yang ikut-ikutan.
"Tapi...Lizzy sudah melahirkan atau belum ya?" Tanya Daisy.
"Sepertinya belum karena Joha tadi baru mengabari aku bahwa pembukaan Lizzy masih belum sempurna dan masih menunggu dokter juga."
"Bagaimana kalau kita menebak anaknya Lizzy dan Tala laki-laki atau perempuan. Yang kalah akan membayar kita-kita makan dan belanja selama semingguuuuuuuu."
"Otakmu memang makan dan belanja." Ujar Wendy mendapatkan gelak tawa dari semua orang.
Kurang lebih tiga jam kemudian para ibu muda yang sudah selesai menidurkan anak-anak mereka di mansion Werawan kembali lagi untuk duduk santai sembari menunggu kabar apakah anak Lizzy dan Tala laki-laki atau perempuan mereka membahas rencana mereka untuk memberikan kejutan kepada Lizzy nanti setelah dia pulang.
Yasmin, Wendy dan Geya menjawab bahwa anak Lizzy nanti adalah perempuan. Sedangkan Daisy, Airen, mama Axel menjawab bahwa anak Lizzy nanti adalah laki-laki. Axel tentu saja dia tidak ikutan karena Yasmin melarangnya.
"Jika kamu ingin ikut kami para ibu muda kamu harus berubah jadi seperti kami dulu." Ujar Yasmin.
__ADS_1
Axel, "..."
'Emangnya aku power rangers atau peri gitu'
Semuanya sudah duduk dengan tegang dan nyaman sembari menunggu kabar bahagia dari Lizzy.
Drrt drrt
Suara telepon berdering dari ponsel Yasmin, membuat semua orang mengernyit tidak suka. Yang mereka tunggu adalah telepon dari ayah Davka, ibu Dhara, Tala dan Joha tapi kenapa asisten Kaivan yang menelepon.
"Apa?" Bukan sapaan yang keluar dari bibir Yasmin melainkan pertanyaan kekesalan yang didengar oleh asisten Kaivan.
Asisten Kaivan menjauhkan sedikit ponselnya dari telinganya, sepertinya dia menelpon istrinya di waktu yang salah. Apakah Yasmin sedang come moon tapi semalam mereka melakukan hubungan suami istri begitu juga dengan pagi tadi.
"Bee apa kamu sudah dengar bahwa Lizzy akan melahirkan." Ujar asisten Kaivan dengan lembut.
"Sudah aku saat ini berada di mansion ibu Dhara dan ayah Davka. Kami sedang menunggu telepon dari mereka kenapa kamu malah yang menelpon dan satu lagi kami telah mengetahuinya karena aku sudah mendengar duluan. Sudah ya Bee aku tutup."
Tut Tut
Asisten Kaivan, "..."
'Kenapa dia sensitif sekaliiiii'
Yasmin merasa heran dengan suaminya itu tadi dia sudah minta izin untuk pergi ke rumah ayah Davka dan ibu Dhara apa suaminya itu lupa.
Axel meringis dan membayangkan bagaimana asisten Kaivan pasti tertekan batinnya mendapatkan istri seperti Yasmin.
Drrt drrt
Suara telepon berdering lagi kali ini milik Daisy sama seperti Yasmin semua orang menatap kesal.
"Halo sayang kalian di mana?" Tanya Jackson sepertinya Jackson ingin mendapatkan kekesalan dari Daisy.
"Bukankah tadi aku sudah minta izin kepadamu bahwa aku ingin pergi ke mansion ayah Davka dan ibu Dhara. Apa yang kamu lakukan sehingga kamu melupakan itu." Daisy dengan nafasnya yang terengah-engah menahan kesal karena suaminya suka sekali lupa itu.
Jackson menepuk jidatnya dan menatap ke arah sekretarisnya itu, "iya sayang maafkan daddy ya daddy lupa. Heheh ya udah selamat menikmati bye love you."
Tut Tut
Daisy, "..."
'Suka tidak jelas memang'
Drrt drrt
Suara telepon kembali berdering dan para wanita sudah tidak semangat lagi apalagi saat Wendy mengambil ponselnya dan mengangkatnya.
"Sayang apa kamu tau bahwa Lizzy akan melahirkan?" Tanya Diego dengan menggebu-gebu memberitahukan kepada istrinya Wendy. Apalagi saat ini Diego berbicara sembari matanya membesarkan matanya.
"Tentu saja aku sudah tau aku kan berada di mansion ayah Davka dan ibu Dhara. Sudah ya suamiku telepon mu saat ini tidak dibutuhkan kami sedang membutuhkan telepon dari ayah Davka, ibu Dhara, Tala, dan kak Joha."
Tut Tut
Sekretaris Diego, "..."
__ADS_1
'Apa aku membuat kesalahan?'
*Bersambung*