
Eve berjalan mendekat ke arah di mana Tala berada membuat dokter Raka merasa sakit melihatnya dan Tala menatap ke arah dokter Raka dengan tatapan meremehkannya.
Namun, ternyata Eve hanya melewati Tala tanpa mengatakan sepatah kata pun membuat kedua pria itu tidak percaya.
Jika tadi Tala menatap remeh ke arah dokter Raka maka kini sebaliknya dokter Raka yang menatap ke arah Tala dengan remeh dan tersenyum sinis.
Dokter Raka membalikkan badannya dan memilih untuk memandang pemandangan di depannya setelah memberikan senyuman sinis ke arah Tala.
Sementara Tala yang melihat tatapan remeh dan senyuman sinis yang diberikan dokter Raka kepadanya mengepalkan kedua tangannya dan menghela nafasnya panjang lalu ikut membalikkan badannya untuk turun ke bawah menyusul Eve yang sudah berjalan di depan.
Tadinya Tala ingin mencari angin karena dirinya belum menemukan Eve setelah mencarinya di ruang kerjanya namun ternyata Eve sedang berada di rooftoft bersama dengan dokter Raka.
Tala ingin berjalan mendekat ke arah kedua manusia yang berbeda jenis kelamin tersebut namun ketika dirinya mendengar perkataan Eve tentang tidak ada pertemanan di antara laki-laki dan perempuan serta kelanjutannya Tala memilih untuk diam mendengarkan.
Kali ini yang dilakukan Eve membuat Tala merasa lega karena Eve menolak dengan tegas perasaan dokter Raka kepada Eve.
Tapi, yang menjadi pertanyaannya Tala adalah bagaimana bisa dokter Raka mengetahui bahwa dirinya dan Eve akan bercerai dan dengan berani menunjukkan perasaannya sekarang secara terang-terangan kepada Eve.
Jika melihat bagaimana kepribadian dan karakter Eve tidak mungkin bagi Eve untuk menceritakan masalah mengenai perceraian mereka berdua.
Eve duduk termenung di depan ruang rawat Adya, Eve tidak ingin masuk karena di dalam ruang rawat Adya saat ini ada ibu Dhara dan ayah Davka.
Eve tidak ingin mengganggu kebersamaan Adya bersama dengan ibu Dhara dan ayah Davka.
Dari jauh Tala yang melihat Eve duduk di depan ruang rawat Adya berjalan mendekat. Sementara Eve yang mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya dengan segera Eve melihat ponselnya.
Eve langsung menempelkan ponsel untuk mendekat ke arah telinga kanannya seolah sedang menerima telepon.
Lalu saat langkah kaki Tala berjalan tinggal beberapa langkah dengannya Eve dengan aktingnya bangkit sambil memegang ponsel di tangannya.
Lalu mata Eve menatap ke arah Tala yang berjalan dan menatap ke arahnya dengan tajam. Eve menjauhkan ponsel di telinganya lalu menutup tombol suara seolah-olah bahwa dirinya benar memang sedang menelpon seseorang.
“Kak aku permisi ke ruang kerja terlebih dahulu karena ada hal yang harus aku urus nanti jika urusan aku sudah selesai aku akan ke sini lagi.” Ujar Eve lalu berjalan pergi meninggalkan Tala.
“Ia nanti saya akan selesaikan dengan segera, maafkan saya baiklah terimakasih sudah mengingatkan.” Ujar Eve kepada seseorang di seberang telepon sana yang bisa di dengar oleh Tala.
Namun semua yang dilakukan Eve hanya akting saja nyatanya tidak ada yang menelpon dirinya. Setelah berada di belokan Eve menyandarkan tubuhnya ke dinding sembari memegang ponsel di depan dadanya dengan nafas lega.
Eve tidak tau kenapa dirinya harus melakukan ini demi untuk menghindari Tala, bisa saja Eve berlari ke arah ruang rawat Adya namun Eve tidak mau hingga tanpa disadarinya Eve melakukan akting seolah-olah dirinya sedang menelpon.
Eve tidak ingin berbicara dengan siapa pun sekarang suasana hati dan pikirannya berkecamuk.
Saat ini tempat yang bisa Eve melakukan istirahat baik fisik dan pikirannya hanyalah ruang kerjanya.
Eve sampai di ruang kerjanya dan dengan cepat mengunci pintu ruang kerjanya. Semenjak Ashi meninggal sudah tidak ada pesan yang dikirim oleh nomor asing lagi kepadanya.
Sepertinya nomor asing yang mengirimkan pesan kurang baik kepadanya itu merasa puas dengan apa yang menimpanya karena terbukti jika dirinya kurang menderita maka nomor asing itu akan mengirikan pesan yang tidak pantas kepadanya.
Eve duduk termenung di sofa sembari kedua kakinya ditekuk dengan tangan yang melingkar di kakinya yang ditekuk tersebut.
Sementara Tala yang sudah tidak melihat punggung Eve masuk ke dalam ruang rawat Adya di sana Tala bisa melihat bahwa ada ibu Dhara dan ayah Davka di dalam ruangan.
__ADS_1
“Sayang di mana Eve apakah Eve belum ketemu juga. Ibu sangat merindukannya.” Ujar ibu Dhara kepada Tala yang kini sedang duduk di sampingnya sembari menyandarkan kepalanya di bahu ibu Dhara.
Ayah Davka yang melihat hal itu merasa kesal karena dirinya saat ini harus berbagi dengan anaknya sendiri. Ayah Davka merasa pusing melihat Tala yang begitu manja kepada istrinya itu sementara Tala memiliki dua istri.
“Ada yang harus dikerjakannya ibu, Eve berada di ruang kerjanya.” Ujar Tala, “Kenapa ibu tidak menanyakan aku dan tidak merindukan aku?” Protes Tala keluarkan ke ibu Dhara.
“Karena terkadang kamu begitu menyebalkan.” Bukan ibu Dhara yang berkata seperti itu melainkan Adya yang sedang tidur di atas tempat tidurnya sembari menatap ke arah Tala dengan malas.
“Lihat aku sekarang tidak punya siapa-siapa. Kenapa kalian selalu menanyakan di mana Eve dan khawatir dengan Eve tapi dengan anak kalian sendiri huh menyebalkan memang.” Ucap Tala seperti anak kecil yang merasa cemburu dengan perhatian yang diberikan kedua orang tuanya dan juga Adya kepada Eve.
“Anak ayah memulai drama lagi.” Ucap Adya melihat Tala yang akting seperti itu seolah paling tersakiti.
Dua bulan kemudian kesehatan Adya semakin memburuk hal itu membuat Tala, Eve, ibu Dhara dan ayah Davka merasa sedih.
Bahkan kini Adya sedang dibantu dengan peralatan kesehatan rumah sakit yang menempel di tubuhnya.
Adya makan saja harus menggunakan selang infus untuk mengisi nutrisi di dalam tubuhnya.
Eve semakin bingung dengan kesehatan Adya yang memburuk bagaimana bisa dirinya harus memberitahukan bahwa hari ini tepat dua tahun pernikahan antara dirinya dengan Tala.
Sesuai dengan perjanjian bahwa di dua tahun pernikahan dirinya dan Tala maka dirinya akan bercerai dengan Tala.
Eve harus mengurus perceraian itu waktunya sudah tidak banyak lagi Eve takut bahwa jika dirinya tetap berada di sini maka orang yang disayanginya bisa saja dalam bahaya.
Namun, jika dirinya harus memberitahukan bahwa dirinya dan Tala akan bercerai akan semakin memperburuk kesehatan Adya.
“Huh, apa yang harus aku lakukan.” Ucap Eve dengan dirinya sendiri sembari berjalan mondar mandir.
Wajah Eve juga terlihat sangat pucat karena dirinya baru selesai dengan operasi yang dilakukannya selama lima jam lamanya.
Eve berjalan ke ruang rawat Adya di sana tidak ada siapa pun yang menjaga di luar ruang rawat Adya.
Eve berpikir mungkin di dalam ada Tala atau ada ibu Dhara dan ayah Davka makanya tidak ada yang menjaga di depan ruang rawat Adya.
Saat langkah kaki Eve berjalan mendekat tiba-tiba terlintas di dalam pikiran Eve bahwa dirinya harus pergi ke toilet terlebih dahulu untuk merapikan penampilannya.
Eve tidak mau Adya yang terbaring lemah melihat dirinya yang pucat merasa khawatir dengan keadaan dirinya.
Akhirnya langkah kaki Eve membawa ke toilet kamar umum di bawah lantai ruang rawat Adya dengan menggunakan lift.
Karena di lantai ruang rawat Adya tidak ada toilet umum karena lantai itu adalah privat dan VVIP yang memang dikhususkan untuk keluarga besar Werawan maupun rekan bisnis.
Eve sampai di ruang toilet dan melihat dirinya yang sangat pucat Eve segera mencuci wajahnya untuk menyegarkan.
Eve masuk ke dalam bilik salah satu toilet ketika dirinya merasakan ingin buang air kecil namun setelah keluar Eve merasa bahwa dirinya semakin lemas dengan kepalanya yang terasa sangat pusing hingga akhirnya Eve pingsan dan terjatuh ke lantai.
Seorang cleaning service rumah sakit di lantai itu datang untuk meletakkan barang-barang pembersihnya dan melihat bahwa ada seseorang yang pingsan di dalam toilet.
Barang-barang pembersih tersebut jatuh ketika cleaning service melihat bahwa yang pingsan adalah Eve.
Cleaning service mengetahui bahwa Eve adalah salah satu dokter bedah yang sangat dikagumi oleh orang di rumah sakit karena kerendahan hati dan tangannya yang cekatan walaupun Eve pernah gagal sekali menyelamatkan pendiri rumah sakit sampai meninggal.
__ADS_1
“Tolong, tolong, tolong.” Teriak cleaning service tersebut membuat seorang pria yang baru keluar dari toilet setelah membersihkan dirinya itu segera masuk ke dalam toilet wanita.
Ternyata pria itu adalah dokter Raka dan langsung mendekat ke arah Eve dan berjalan mendekat ke arah Eve lalu segera menggendongnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya dokter Raka kepada cleaning service tersebut sembari membawa Eve untuk diperiksa.
“Saya tidak tau dokter Raka, ketika saya masuk dokter Elakshi sudah tergeletak di lantai.” Ucap cleaning service tersebut kepada dokter Raka.
Saat dokter Raka membawa Eve di dalam gendongannya berpas-pasan dengan Tala yang juga terlihat terburu-buru.
Tala melihat bahwa di dalam gendongan dokter Raka adalah Eve namun Tala berlari pergi menuju lift.
Dokter Raka yang melihat Tala terlihat tidak peduli dengan Eve hanya tersenyum miris namun di dalam benak dokter Raka bertanya kenapa Tala terlihat sangat khawatir wajahnya.
Tala yang sedang perjalanan ke rumah sakit mendapat telepon bahwa Adya sedang mengalami kejang-kejang hal itu membuat Tala merasa sangat takut.
Tala tidak menghiraukan Eve karena saat ini Tala yakin bahwa Eve akan baik-baik saja apalagi ada dokter Raka atau dokter lain yang akan dengan sigap menangani Eve.
Di lantai ruang rawat Adya, Tala melihat bahwa di sana sudah ada ibu Dhara yang sudah menangis di dalam pelukan ayah Davka.
“Ibu apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Tala dengan wajah paniknya.
“Di mana Eve Tala?” Tanya ibu Dhara melepaskan pelukannya dari ayah Davka.
Tala merasa kesal dalam kondisi seperti ini kenapa ibu Dhara malah menanyakan di mana keberadaan Eve.
“Kenapa ibu bertanya tentang Eve, ibu. Apa yang sebenarnya terjadi kenapa bisa sampai seperti ini?" Tanya Tala dengan wajah paniknya.
“Tadi, ibu meninggalkan Adya sebentar untuk ke ruang sebelah untuk mengambil sesuatu setelah mendapatkan pesan dari Eve bahwa Eve sudah tiba di lantai ini. Namun saat ibu kembali, ibu tidak melihat keberadaan Eve di ruang rawat Adya dan malah melihat Adya mengalami kejang-kejang.”
Tala yang mendengarnya mengacak rambutnya frustrasi dan merasa bingung dengan apa yang terjadi. “Apa ibu melihat ada orang yang masuk ke dalam ruang ini dan di mana pengawal yang menjaga di depan?” Tanya Tala.
“Nak tenangkan dirimu.” Ujar ayah Davka mengingatkan anaknya yang terlihat sangat panik dan khawatir tersebut.
“Tadi, ada seorang perawat di dalam ruang rawat Adya dan perawat itu terlihat sangat panik karena melihat Adya yang kejang-kejang. Perawat itu segera memencet tombol di samping tempat tidur Adya lalu izin kepada ibu untuk turun ke bawah memanggil untuk mempersiapkan operasi.”
Tala segera menghubungi operator rumah sakit untuk memeriksa CCTV rumah sakit secara menyeluruh terutama di lantai di mana Adya dirawat.
Saat ini Tala harus bergerak cepat dan Tala merasa ada yang aneh dan janggal dengan perawat tersebut. Lalu Tala segera menyuruh para pengawal yang ada di rumah sakit untuk bergerak cepat dan mencari perawat itu.
Buat apa perawat tersebut berlari ke bawah untuk mempersiapkan operasi sedangkan perawat itu seharusnya terlebih dahulu menunggu dokter yang datang dan mempersiapkan Adya agar siap di ruang operasi.
Lagipula jika dalam keadaan darurat ini para dokter dan perawat akan segera secepat mungkin menanganinya sesuai dengan profesinya masing-masing.
“Apa perawat itu sudah pernah ibu lihat?” Tanya Tala kepada ibu Dhara dan ibu Dhara mengingat wajah perawat tersebut lalu menggelengkan kepalanya.
Melihat hal itu semakin membuat kepala Tala terasa pecah rasanya, dirinya belum tau apa yang sebenarnya terjadi kepada Eve sehingga sampai pingsan dan di gendong oleh dokter Raka.
Tala merasa bahwa ini semua tidak ada yang kebetulan kenapa semuanya terjadi begitu cepat dan seperti sudah diatur dan ditunggu-tunggu.
Tala kembali menelpon agar pengawal yang biasa menjaga Eve dari jarak dekat untuk datang memeriksa keadaan Eve.
__ADS_1
Pengawal Ai yang mendapat telepon dari Tala segera meluncur dengan kecepatan penuh karena saat ini dirinya sedang berada di markas untuk berlatih.
*Bersambung*