
Tiga hari setelahnya Eve sudah kembali pulih bahkan Eve sekarang bisa bekerja kembali untuk merawat pasiennya namun Eve meminta untuk pasiennya dibatasi saja sebenarnya Eve merasa tidak enak karena merasa kurang profesional menurutnya.
Namun karena Eve merasa bingung dengan pilihannya itu dan ibu Dhara yang melihat kegelisahan dari Eve bertanya dan memberikan solusi akan kegelisahan Eve.
Sehingga sekarang pasien yang dirawat Eve tidak lebih dari lima orang untuk diperiksanya secara rutin dan operasi yang harus dilakukannya tidak boleh lebih dari satu kali perhari dan tidak berlangsung lama sampai melebihi waktu lima jam lamanya.
Eve hanya menurut saja dan ibu Dhara menjelaskan kepada menantunya itu dan mengatakan bahwa Adya juga pasiennya lebih tepatnya pasien pribadi dan kondisi Adya saat ini sangat kritis. Dengan masukan yang diberikan oleh ibu Dhara Eve bisa bernafas lega dan menganggap bahwa itu adalah hal yang logis dan dirinya tetap bersikap profesional.
Eve juga meminta selama dirinya merawat Adya di rumah sakit dan Adya belum sadar dirinya tidak akan mengambul cuti setiap minggunya karena menurut Eve profesionalisme itu sangat penting dan dirinya harus bertanggung jawab akan amanah yang diembannya.
Ibu Dhara sebenarnya hendak menolak keinginan Eve dan melarang Eve untuk tidak mengambil cuti namun karena tau bagaimana menantunya ini jika sudah berkeinginan maka tidak akan bisa mengubahnya kecuali dirinya sendiri.
Ibu Dhara merasa khawatir dengan kondisi Eve yang bisa saja drop karena kelelahan akibat jadwalnya yang cukup padat. Namun, Eve menjelaskan bahwa sudah risikonya sebagai tenaga medis mempunyai jadwal yang padat.
Salah satu lagi kekhawatiran terbesar di dalam ibu Dhara bahwa mengenai kepribadian Eve yang jika sudah berkeinginan kuat maka tidak akan ada yang bisa mengubahnya itu membuat ibu Dhara takut bahwa jika suatu hari nanti Eve sudah tidak tahan bersama dengan Tala dan meminta cerai sehingga meninggalkan dirinya dan juga suami.
Ibu Dhara takut bahwa dirinya akan kehilangan sosok menantu yang sangat baik cantik luar dalam yang sudah dianggapnya sebagai putri sendiri akan pergi jauh meninggalkannya atau menghindar jika setiap kali bertemu dengannya. Membayangkan itu membuat ibu Dhara merasa gelisah dan susah hati.
“Ibu, ibu apa yang sedang ibu pikirkan?” Tanya Eve yang melihat ibu Dhara melamun. Ibu Dhara yang mendengar dirinya dipanggil mengerjapkan kedua matanya.
“Kenapa sayang?” Tanya ibu Dhara linglung.
Eve yang melihatnya menghela nafasnya dengan pelan dan tersenyum. Eve tau bahwa ibu Dhara merasa khawatir dengan jadwalnya yang padat karena dirinya tidak mengambil cuti libur selama dirinya merawat Adya.
“Ibu tidak usah khawatir Eve bisa menjaga diri Eve. Lagipula kan ada kak Tala yang akan menjaga Eve.” Ujar Eve berusaha menenangkan ibu mertuanya itu. Tala yang mendengar percakapan kedua wanita itu hanya diam saja.
Sudah hampir lima belas menit Tala dan Eve berdiri di depan mansion setelah tadi sempat mengambil pakaian keduanya untuk dibawa ke rumah sakit dan mengantar pakaian kotor untuk dicuci.
Sebenarnya bisa saja Tala menyuruh orang namun berhubungan dirinya ada sesuatu yang ingin diambil jadi Tala mengajak Eve untuk pulang sebentar.
Sedangkan yang menjaga Adya ada ayah Davka beserta pengawal yang telah disiapkan oleh Tala untuk berjaga-jaga.
Ibu Dhara pulang karena ada acara yang sudah dipersiapkannya jauh-jauh hari di butik nanti juga ayah Davka akan kembali ke mansion setelah Tala dan Eve ke rumah sakit untuk bergantian menjaga.
“Ya sudah kalian pergi kasihan ayah kalian sendirian di sana tidak ada ibu yang menemani.” Ujar ibu Dhara membuat Tala menggelengkan kepalanya.
“Bilang saja bahwa ibu sudah sangat merindukan ayah.” Celetuk Tala dan mendapat cubitan gemas dari ibu Dhara hal itu membuat Eve tersenyum melihatnya karena sudah tiga hari ini Eve tidak melihatnya karena sakit.
Akhirnya Tala dan Eve pun pergi setelah mendapatkan izin dari ibu Dhara. Kali ini Tala tidak menggunakan sopir dan hal itu semakin membuat Eve merasa tegang karena hanya berdua dengan Tala.
Sekilas bayangan Eve yang ditinggalkan Tala karena mendengar kabar bahwa Adya masuk rumah sakit membuat Eve merasa was-was apalagi nantinya dirinya ingin meminta berhenti di sebuah toko yang menjual banyak boneka.
Eve merasa ragu untuk meminta Tala berhenti namun dirinya sudah berjanji kepada gadis kecil bernama Ashi bahwa dirinya akan membelikan boneka di hari ulang tahunnya itu.
“Emmm, kak bisa kita berhenti di mall sebentar tolong atau di sebuah toko yang menjual banyak boneka.” Pinta Eve kepada Tala dengan benaknya yang ragu untuk mengatakannya.
Seperti biasa tidak ada jawaban dari permintaannya itu namun Eve tau bahwa suaminya ini akan mengiyakan walaupun tidak ada suara atau banyak bicara kepadanya.
Dan benar saja mobil berjalan ke salah satu mall yang ada di kawasan sekitaran rumah sakit tersebut.
Tala memberhentikan mobil lalu turun diikuti dengan Eve. Tala memberikan kunci mobilnya kepada pengawalnya yang mengikuti mereka agar memakirkan mobilnya.
__ADS_1
Tala tidak bisa sembarangan memberikan kesempatan ataupun celah dengan begitu mudahnya walaupun itu hanya memakirkan mobil dan pastinya sudah ada orang yang memang disediakan di sana.
Tala berjalan setelah memberikan kunci mobilnya kepada pengawalnya itu sedangkan Eve mengikuti di belakang.
Tala memakai kacamata hitamnya dan melihat ke sekitar orang-orang sedang memandang ke arah dirinya dan Eve.
Tala berhenti melangkah menunggu Eve agar berjalan di sampingnya namun Eve juga berhenti di belakang Tala menunggu Tala untuk berjalan.
Para pengawal yang sudah menyamar menjadi pengunjung itu sudah siap dengan kameranya untuk memotret setiap momen yang ada karena itu perintah dari istri pertama Tuan mudanya itu.
Tala yang melihat Eve tidak berada di sampingnya menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap ke arah Eve.
Eve mendongakkan kepalanya tatkala melihat Tala mengulurkan tangannya. Tala menghela nafasnya dengan pelan lalu mengambil tangan Eve untuk di genggam.
Eve terkejut melihatnya namun bukan karena tangannya yang berada di genggaman Tala melainkan Tala tadi mencium pipinya membuat orang-orang yang sedang memperhatikan keduanya menahan nafas sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
Wajah Eve sudah memerah karena merasa malu dan tanpa sengaja memukul lengan Tala dengan pelan.
Orang-orang yang memperhatikan mereka sejak tadi menganggap bahwa itu adalah keromantisan yang hakiki apalagi ditambah pukulan Eve yang reflek memukul pelan lengan Tala terlihat sangat manja dan menggemaskan untuk dilihat.
“Mereka terlihat sangat cocok dan romantis.” Ujar salah satu remaja akhir yang melihat Eve dan Tala.
Tala dan Eve berjalan beriringan Eve masih menundukkan kepalanya membuat Tala menoleh ke arah Eve.
Tala yang saat itu sedang memakai pakaian kasual dengan celana jeans berwarna biru dan kaos hitam yang melekat indah di tubuh atletisnya, kaca mata dan topi hitam serta sepatu berwarna putih.
Tala melepaskan topi yang dikenakannya lalu memasangkan topi tersebut di kepala Eve dengan dalam.
Eve mengerjapkan kedua matanya menerima perlakukan Tala di depan umum entah pencitraan atau tidak namun hal itu mampu membuat hati Eve berdegup dengan kencang.
Orang-orang masih memperhatikan keduanya dengan intens layaknya sepasang pasangan selebriti bahkan mereka memotret keduanya.
Saat itu baju yang dikenakan oleh Eve adalah baju kerja karena dirinya memang mau bekerja dengan atasan berwarna biru serta rok kotak-kotak sampai ke bawah lutut dan sepatu tinggi berukuran 3cm. Rambut Eve diikat kuncir kuda.
Orang-orang berpikir Tala habis menjemput Eve dari kerja lalu mereka berdua berhenti di mall untuk menghabiskan waktu berdua. Mereka berpikir dengan apa yang dilihat Tala dan Eve sangat romantis.
Keduanya berjalan dengan cukup lama akhirnya sampai juga di penjualan boneka di mall itu. Eve segera melihat boneka apa yang hendaknya harus dipilih.
Mata Eve tertuju pada boneka panda yang beranak di sana begitu banyak. Eve ingin sekali membeli boneka itu namun Eve tidak ingin karena merasa kasus boneka itu tragis yang harus dipisahkan seperti boneka panda miliknya.
Terkadang pemikiran Eve sangat konyol namun Eve merasa tidak enak hati jika dibuat sudah sepaket maka mereka harus selalu bersama-sama itulah yang ada di benak Eve.
Eve kemudian melihat lagi dan memilih boneka kelinci yang besar dengan memakai baju berwarna biru dengan motif polkadot pink putih. Menurut Eve itu sangat lucu dan mengatakan pada dirinya sendiri dengan yakin bahwa Ashi pasti menyukainya.
“Dia pasti suka.” Gumam Eve yang didengar oleh Tala yang berdiri di belakangnya mengamati Eve yang datang ke tempat boneka ini.
Eve membalikkan badannya dan sedikit terbentuk karena tubuh menjulang Tala yang ternyata tadi ada di belakangnya. “Maafkan aku kak.” Ucap Eve, seharusnya yang meminta maaf adalah Tala karena tidak bersuara sama sekali dan mengikuti ke mana Eve pergi melangkah.
Setelah meminta maaf Eve berjalan ke kasir dan Tala sudah menyiapkan ATM miliknya untuk digesek saat Eve mau membayarnya. “Kak bisakah boneka ini aku saja yang bayar karena aku ingin memberikan sesuatu untuk Ashi.” Pinta Eve dengan pelan. Tala menganggukkan kepalanya dan Eve mengambil kartu ATM yang sudah disodorkan oleh Tala tadi lalu di genggamnya.
“Mbak tolong bungkus ya yang cantik dan bungkus dengan kertas kado bergambar kelinci.” Pinta Eve dengan semangat.
__ADS_1
Karyawan toko tersebut segera mengiyakan permintaan Eve dan dengan senang hati apalagi melihat wajah tampan Tala dan wajah cantiknya Eve sangat membuat para karyawan toko tersebut terpesona oleh keduanya.
Tala dan Eve pergi setelah selesai dengan urusannya. “Aku rasa waktu pembagian mereka mendapatkan yang pertama kenapa mereka sangat cantik dan tampan.” Ucap karyawan tersebut merasa kagum karyawan lainnya membenarkan dengan menganggukkan kepalanya.
Eve dan Tala melanjutkan perjalanan mereka tadi karena mall tersebut tidak jauh dari rumah sakit sehingga tidak memerlukan waktu yang cukup lama di perjalanan.
Sesampainya di rumah sakit Eve segera turun dan dengan semangat berjalan di belakang mobil untuk mengambil kado yang telah disiapkannya untuk Ashi.
Tala bisa melihat senyum bahagia di wajah Eve sejak tadi namun seperti biasa Tala hanya diam.
Tala mengambil kado berukuran besar tersebut saat Eve hendak membawanya Tala segera mengambilnya dan membawanya. “Tunjukkan jalannya.” Ujar Tala dan Eve hanya mengangguk saja lalu memegang tangan Tala melihat pandangan Tala tertutupi oleh bingkisan kado tersebut.
Dokter Raka yang sudah menunggu di ruang rawat Ashi menatap ke arah Eve dan Tala pandangan dokter Raka terjatuh ke arah tangan Eve yang memegang tangan Tala apalagi wajah Eve terlihat sangat senang dan ceria.
Dokter Raka memberikan senyumannya seolah pembicaraan mereka kemarin tidak ada apa-apanya. “Kenapa lama sekali?” Tanya dokter Raka kepada Eve.
“Maafkan aku tadi aku harus membeli hadiah dulu buat ulang tahun Ashi. Apakah dia lagi istirahat?” Tanya Eve dan dokter Raka menggelengkan kepalanya.
“Tuan muda biarkan saya saja yang membawanya pasti berat buat Tuan muda untuk membawa bingkisan itu.” Ujar dokter Raka dan Eve menganggukkan kepalanya.
“Iya kak letakkan saja bingkisan itu di sini aku juga bisa bawa sendiri.” Ujar Eve melihat ke arah Tala.
Topi Tala masih ada di atas kepala Eve. “Tidak usah biar aku saja.” Ucap Tala dengan datar dan Eve tidak bisa membantah lagi ucapan suaminya itu.
Eve pun membuka pintunya dan melihat Ashi yang terbaring di atas ranjang pasiennya di sana sudah ada ibu Ashi yang menunggu dengan senyuman melihat Eve dan dokter Raka namun ibu Ashi merasa bingung dengan Tala karena belum mengenalnya.
“Selamat ulang tahun adik manisnya kakak.” Ucap Eve dengan ceria menghampiri Ashi yang sedang bersandar di ranjang pasiennya.
“Terimakasih kak Eve.” Ujar Ashi dengan senyuman.
“Kak bawa hadiah buat Ashi taraaaaaaa.” Ujar Eve dengan semangat sambil menunjukkan bingkisan kado yang dipegang oleh Tala.
Tala mengulurkan kepalanya ke samping untuk melihat wajah gadis kecil bernama Ashi yang dipanggil oleh istrinya itu.
Ashi terdiam mendapatkan hadiah dari Eve mata bulatnya mengerjap-ngerjap. “Apa kakak membawa pangeran?” Tanya Ashi sambil matanya menatap ke arah Tala apalagi Tala tersenyum manis menatap ke arah Ashi.
Eve menolehkan kepalanya dan melihat senyum lembut yang ditunjukkan Tala kepada Ashi. Eve merasa mengingat masa lalu dan sekilas bayangan di mana dulu senyum itu sering dilihatnya. “Dia menyukai anak-anak?” Tanya Eve dalam benaknya.
Ibu Ashi tertawa mendengar pertanyaan polos anaknya itu membuat Eve menoleh menatap ke arah ibu Ashi. “Oh kakak.” Panggil Eve kepada ibunya Ashi.
“Kakak, Ashi perkenalkan ini adalah suami dari kak Eve namanya Nabastala.” Ucap Eve memperkenalkan diri.
Ashi membulatkan matanya mendengar perkataan Eve lalu menganggukkan kepalanya seolah mengerti layaknya orang dewasa. “Seperti mama dan papa.” Ucap Ashi dan Eve menganggukkan kepalanya dengan semangat.
“Benar seperti mama dan papa.” Ujar Eve.
Dokter Raka sejak tadi hanya diam seolah-olah kehadirannya hilang karena kehadiran Nabastala berada di ruangan ini. Dokter Raka menjadi gelisah dan melihat sepertinya ada perkembangan di antara hubungan Eve dan Tala melihat Eve yang datang dengan senyuman padahal sebenarnya Eve bersemangat karena akan bertemu dengan Ashi namun dokter Raka lupa sepertinya bahwa setiap kali Eve bertemu dengan Ashi maka Eve akan bersemangat dan ceria.
*Bersambung*
__ADS_1