Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 137. Ketularan Axel


__ADS_3

Tala memeluk Eve dari belakang saat melihat bahwa Eve sedang memandang pemandangan di depannya. “Kenapa tidak beristirahat apa bunda tidak lelah?” Tanya Tala dan Eve hanya diam saja.


Kini mereka sudah berada di dalam mansion, mansion yang menjadi saksi bisu selama awal pernikahan mereka tidak banyak yang berubah termasuk taman labirin bunga mawar depan kamar dirinya dan Tala.


“Ayah dulu memang sengaja membuat taman labirin bunga itu.” Ujar Tala melihat arah pandangan Eve ke taman bunga labirin. “Taman labirin bunga mawar ayah buatkan untuk bunda.”


Tala memeluk Eve dengan erat dan meletakkan dagunya di bahu Eve, “apa bunda tidak dingin? Ayah ingin melihat bunda memakai pakaian tidur waktu bunda mau godain ayah dulu.” Ujar Tala dengan berbisik sesekali dia mengecup leher jenjang milik Eve setelah sebelumnya menyampirkan rambut Eve di sebelah kiri.


“Kenapa?” Satu kata yang menjadi pertanyaan keluar dari mulut Eve.


“Apanya yang kenapa?” Tanya Tala yang masih sibuk mengendus dan mencium leher Eve. Eve mencubit tangan Tala yang melingkar di pinggangnya itu sehingga membuat Tala tertawa. “Bunda sekarang hobi sekali tangannya menjadi kepiting apalagi kalau bunda malu pipi ini sudah seperti kepiting rebus.” Ungkap Tala sembari mengelus pipi Eve.


“Bukankah taman labirin bunga mawar menjadi impian bunda jika bunda menikah dulu, ayah masih ingat saat bunda merasa bahagia melihat bunga mawar dan labirin apalagi waktu itu bunda tiba-tiba menceritakan keinginan bunda tentu saja apa pun tentang bunda akan terekam jelas diingatan ayah.”


“Taman labirin bunga mawar itu dibuat dalam waktu kurang lebih dua minggu saat kita pergi berbulan madu.” Pantas saja dulu Eve tidak menyadarinya apalagi memang dia yang jarang memperhatikan sekitarnya.


“Ayah sengaja menargetkan pembuatannya cepat karena tidak mau bunda melihat para pekerja yang ratusan itu. Ayah cemburu.” Awalnya Tala ragu untuk langsung mengungkapkan apa yang di pikirannya maupun perasaannya kepada Eve namun sekarang rasanya jika Tala tidak mengungkapkannya berasa ada yang kurang.


Tidak salah jika dia meminta pendapat dari Axel yang tengil itu ternyata laki-laki tengil itu bisa diandalkan daripada sekretaris Diego dan asisten Kaivan walaupun awalnya Tala menolak dengan keras namun Axel berhasil membuatnya yakin untuk melakukannya kepada Eve.


“Kakak ipar jika cinta maka harus diungkapkan. Wanita itu tidak hanya perlu tindakan saja atau kata-kata saja melainkan kedua-duanya harus seirama.” Itulah kata Axel yang diingat Tala waktu dirinya meminta bantuan Axel.


“Sebaiknya kita masuk bunda angin malam tidak baik buat kesehatan bagaimana nanti jika bunda masuk angin tapi kalau ayah yang masukin bunda tidak masalah.” Lihat Tala sudah kembali mesum.


“Aku ingin tidur di kamar kak Adya.” Ucap Eve dan Tala langsung mencium bibir Eve karena Eve mengucapkan kata aku.


“Bunda melanggar peraturan.” Ujar Tala mengusap bibir Eve dan memandangnya dengan penuh hasrat. “Sebaiknya untuk malam ini tidur di kamar kita berdua dulu besok ayah akan menyuruh kepala pelayan untuk membersihkan kamar kak Adya.”


Tala langsung menggendong Eve dan mengunci balkon kamar lalu meletakkan Eve di atas ranjang. Sebenarnya kamar Adya sering dibersihkan oleh para pelayan hanya saja Tala ingin saat ini mereka tidur di kamar yang selalu ditempati mereka dulu.


“Cah, sekarang kita tidur.” Ajak Tala kepada Eve sembari memeluk Eve. Rasanya jika tidak memeluk Eve berasa ada yang kurang dan tidur terasa tidak nyenyak.


Eve hanya diam saja memberikan protes pun percuma karena Tala akan melakukan lebih seperti yang sudah-sudah. Orion tidur bersama dengan granny dan grandpanya.

__ADS_1


“Kira-kira dia sudah jadi belum ya bunda?” Tanya Tala sembari tangannya mengusap perut Eve dari balik piyama tidur Eve.


Eve tentu saja merasa geli dan mengeluarkan tangan Tala jika tidak akan sangat berbahaya karena akan menjalar ke mana-mana.


Tala terkekeh saat melihat reaksi dan ekspresi Eve yang terlihat kesal dengannya. “Ayah sangat ingin sekali memakan bunda malam ini namun ayah akan mencoba bersabar karena bunda pasti sangat kelelahan akibat perjalanan.”


“Sekarang bunda ayo kita tidur jika tidak ayah akan memakan bunda.” Dengan segera Eve menutup matanya membuat Tala mengulum bibirnya.


‘Kenapa sangat menggemaskan sekali’


Pagi harinya sekitar jam lima pagi Eve merasakan ada sesuatu yang sedang menggerayangi badannya sehingga Eve terpaksa membuka matanya. “Bunda sudah bangun?” Tanya Tala dengan wajah tanpa dosanya yang sudah mengganggu tidur Eve.


Eve melepaskan tangan Tala dari tubuhnya, “masih sangat pagi bunda baru jam lima.” Ujar Tala saat melihat Eve hendak beranjak namun segera ditahan oleh Tala.


“Sebaiknya kita membuat adik untuk Orion. Pagi hari biasanya lancar rezeki.” Ujar Tala dengan modusnya lalu dengan segera melakukannya kepada Eve tanpa membiarkan Eve untuk berucap.


...***...


“Kenapa pagi-pagi kamu sudah berada di sini?” Tanya Tala memicingkan matanya ke arah Axel yang sudah duduk manis di meja makan.


“Buat apa kamu bertanya tentang istriku?” Tanya Tala tidak suka kepada Axel.


“Ibu heran dengan kalian berdua kenapa setiap bertemu selalu saja ribut lama-lama ibu adukan kepala kalian hingga pecah.” Seru ibu Dhara. “Dan kamu di mana putri ibu?” Tanya ibu Dhara kepada Tala.


“Dia masih tidur karena masih kelelahan akibat perjalanan ibu.” Jawab Tala sembari duduk di kursi di mana anaknya berada yang sedang sibuk dengan sarapan paginya.


Axel tidak percaya bahwa Eve kelelahan akibat perjalanan, “sepertinya kakak ipar bohong pasti kakak ipar perempuan kelelahan karena hal yang lain.” Membuat Tala menatap tajam ke arah Axel. Axel hanya menyengir saja.


“Jika kalian masih ingin berbicara yang tidak-tidak kepada keponakan ku maka silahkan kalian meninggalkan ruang makan.” Ujar Geya dengan kesal.


Ayah Davka hanya bisa bersabar melihat percakapan di meja dapur, “sayang apa kamu sedang datang bulan?’ Tanya Axel yang melihat tunangannya itu sangat sensitif.


“Axel kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?” Tanya ayah Davka untuk menghentikan pembicaraan panjang yang berujung ribut di pagi hari.

__ADS_1


“Axel sih mau secepatnya paman sekarang juga boleh.” Jawab Axel sembari memandang ke arah Geya yang pura-pura sibuk dengan Orion. “Tapi, itu tergantung dengan Geya.” Geya pura-pura tidak mendengar namanya disebutkan.


“Seharusnya kamu sebagai laki-laki harus lebih tegas.” Cibir Tala kepada Axel saat dirinya sering mendengar perkataan itu dari Axel.


“Geya bagaimana dengan mu sayang?” Tanya ayah Davka kepada keponakan perempuannya itu.


“Geya masih ingin menikmati karir Geya paman. Geya tidak ingin tergesa-gesa.” Selalu jawaban itu yang didengar oleh Axel, ayah Davka, ibu Dhara dan Tala.


“Sudah berapa kali kamu mengatakannya sayang.” Celetuk ibu Dhara kepada Geya yang merasa khawatir takut lama-lama Axel merasa bosan dengan Geya.


“Jika menjadi untuk pelarian dan pelampiasan sebaiknya dari awal memutuskan hubungan Geya jangan sampai melukai hati orang.” Ujar Tala dengan pedas.


Axel menggaruk kepala belakangnya gatal saat mendengar perkataan Tala yang pedas membuat suasana menjadi canggung dan tegang.


Akan lebih baik Tala diam saja menurut Axel karena setiap kali mereka membahas hubungan dirinya dengan Geya maka Tala akan menimpali dengan pedas.


“Benar apa yang dikatakan Geya bibi, paman dan kak Tala. Axel tidak ingin memaksakan kehendak lagipula kami masih ingin menikmati waktu berdua dan sama-sama meniti karir. Biarkan Geya puas terlebih dahulu karena Geya ingin menjadi ibu rumah tangga.”


Axel selalu membela Geya, Axel selalu mengerti Geya, Axel selalu berusaha memahami Geya, Axel selalu mengalah untuk Geya, Axel selalu melindungi Geya.


Geya yang melihat perkataan Axel menatap ke arah tunangannya tersebut dengan sendu dan Axel memberikan senyuman menenangkannya.


“Kakak ipar apakah Orion masih belum dimasukkin ke sekolah?” Axel mengalihkan pembicaraan. Ibu Dhara dan ayah Davka tersenyum ke arah Axel pembicaraan mengenai hubungan Geya dan Axel selalu bisa dialihkan oleh Axel demi kenyamanan keponakan mereka.


“Belum, lagipula masih belum tau akan menetap di mana.” Jawab Tala dengan melihat anaknya yang begitu lahap memakan sarapannya.


“Ibu apa Orion di umur segini sudah mulai kurang tertarik untuk menyusui langsung dengan bundanya?” Tanya Tala yang merasa penasaran karena anaknya ini sangat anteng sekali dan tidak rewel jika tidak menyusu kepada Eve.


“Kan ada ASI yang sudah diisi di botol.” Jawab ibu Dhara, “lagipula Orion perlu belajar untuk lepas menyusui dari Eve karena sebentar lagi Orion genap dua tahun.”


“Kalian cepatlah membuat adik untuk Orion agar Orion ada teman yang menemaninya bermain.” Ujar ibu Dhara.


“Tala dan Eve sedang berusaha.” Jawab Tala seadanya tanpa merasa malu sedangkan Geya memicing matanya kepada sepupunya itu yang sudah ikut Axel tidak tau malunya.

__ADS_1


 


*Bersambung*


__ADS_2