Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 142. Kejutan


__ADS_3

"Kenapa kamu telat pulang semalam? Waktu makan siang kamu ke mana?" Tanya Tala kepada sepupunya Geya.


Setelah mengirim pesan ke asisten Kaivan dan sekretaris Diego Tala meminta izin kepada Eve untuk pergi ke kamar Geya karena ada sesuatu yang harus mereka bicarakan dan sekarang pria yang pencemburu dan posesif sampai DNA itu menginterogasi Geya.


"Apa Axel sudah kembali dari luar kota dan mengajak kamu pergi jalan? Atau Axel sedang kedapatan selingkuh dan kamu melihatnya!?", Semakin Tala banyak berucap semakin mengada-ngada.


Entah setiap kali ada hal yang tidak biasa kepada Geya maka Tala mengatakan Axel selingkuh kah, berantem dengan Axel kah, Axel menyakitinya kah, Axel genit sama wanita lain kah dan masih banyak hal lainnya lagi.


"Kakak kenapa kakak semakin cerewet saja melebihi ibu-ibu yang menawarkan dagangannya di pasar."


Saat ini Geya sedang memakai masker jadi agak kesulitan untuk berbicara. Merasa khawatir maskernya akan retak.


Tala memutar bola matanya malas melihat sikap sepupunya itu. "Jangan mengalihkan pembicaraan Geya!"


Tidak tau situasi sekali bagaimana nanti jika dirinya berbicara terus dan maskernya retak apalagi belum kering dan masih tersisa beberapa menit lagi.


"Kakak biarkan Geya selesai maskeran dulu ya. Nanti kalau masker Geya rusak maka Geya akan..."


"Akan apa!" Tala tidak kalah sengitnya.


'Sabar Geya, sabar dia memang suka sekali mencari gara-gara'


"Kakak yakin!"


Tala menghempaskan tubuhnya di samping Geya yang sedang rebahan dengan tangan yang berlipat di depan dada.


"Cepetan! masih berapa lama sih? Kenapa wanita itu selalu memperumit dan merepotkan dengan perawatan wajahnya."


Geya mengangkat alisnya sebelah, "karena kamu ingin cantik dan mempunyai kulit yang bagus lah. Laki-laki kan suka jelalatan matanya."


"Jadi, Axel suka melihat wanita lain!" Padahal Geya tidak bilang Axel.


"Jangan mengajakku aku berbicara dulu nanti lama-lama aku emosi. Seharusnya aku mengunci pintu tadi."


Hampir lima belas menit lamanya Tala menunggu semua rutinitas perawatan malam Geya akhirnya perempuan itu selesai juga.


"Jelaskan!"


"Jelaskan apa sih kak."


"Jangan pura-pura lupa Geya!"


Geya berjalan mendekat ke arah Tala lalu memegang wajah sepupunya itu dan kemudian tangan Geya menoyor kepala Tala. "Jangan mengkerut nanti wajah kakak cepat tua. Kakak tidak mau dibilang ayah dari kak Eve kan jika melihat kalian pergi bersama atau nanti saat Orion membawa temannya mengira bahwa kakak adalah kakeknya bukan ayahnya."


Ingatan Tala kembali di mana dirinya mendengar bahwa dia terlihat tua dari seorang pria yang ingin mendekati istrinya itu waktu mereka makan es krim.


"Menyebalkan." Gerutu Tala kesal saat mengingat kejadian itu.


"Tadi siang aku sakit perut kakak tau sendiri kan kebiasaan aku kalau sudah sakit perut bakalan lama."


"Kalau pulang malam hehehe aku hanya pergi jalan keliling dengan mengunakan bis. Mumpung tidak ada Axel yang akan mengantar jemput dan mumpung ada kak Eve yang membuat kakak bucin sehingga melupakan adik sepupunya."


"Baru deh setelah puas aku menelpon sopir di mansion untuk menjemput ku di depan toko setelah puas berkeliling dan perut ku terisi."


"Jangan memasang wajah seperti itu nanti akan bertambah tua."

__ADS_1


"Kamu sedang tidak menyembunyikan sesuatu kan!" Tala masih belum percaya tentu saja yang Tala ingin adalah kejujuran Geya.


"Buat apa aku menyembunyikan sesuatu kepada kakak lagian kakak pasti akan mencari tau sendiri seperti kemana pun aku pergi maka aku bisa merasakan ada mata-mata kakak."


Cerita Geya memang tidak sepenuhnya salah. Sepupunya itu memang suka sekali baik bis sehabis pekerjaannya untuk menikmati suasana di dalam bis sembari melihat pemandangan sekitarnya. Mungkin sudah cukup lama sepupunya itu tidak melakukannya semenjak dia bertunangan.


"Baiklah aku percaya tapi kamu harus cerita dengan Axel jangan sampai kalian ribut kepala ku pusing mendengar rengekan Axel saat kamu mendiamkannya."


"Thankyou my Cousin love you muaaah." Tala mengusap pipinya yang dicium oleh Geya.


"Jangan mencium ku." Sergah Tala kesal hal itu semakin membuat Geya ingin mencium pipi Tala.


Keduanya bergelut yang satunya menghindar yang satunya tidak henti menyerang.


Tala mampu melepaskan diri dari Geya sementara Geya tertawa karena luas bermain dengan sepupunya. "Apa kakak tau bahwa aku sangat merindukan momen seperti tadi."


Dulu mereka sering seperti itu tapi bedanya dulu Tala yang suka sekali mencium pipi Geya karena merasa senang dan sangat sayang kepada Geya. Menjahili dan mengusili Geya sampai Geya kesal, marah, dan menangis lalu akan berujung telinganya dijewer atau dihukum.berdiri menghadap tembok oleh ibunya.


Dibandingkan dengan Adhikari kakak kandungnya Geya lebih dekat dengan kakak sepupunya Tala. Apalagi jika Geya merasa sedih saat dirinya selalu di nomor duakan oleh paman dan bibi Tala karena terlahir sebagai perempuan maka disitulah Tala berada menemani Geya.


Tala kembali berjalan mendekat lalu duduk di samping Geya yang sedang rebahan dengan kaki menjuntai.


"Ternyata waktu sudah banyak berlalu aku tidak menyangka bahwa aku bisa sampai ke titik ini." Ucap Geya sembari menerawang.


Tala mencubit hidung Geya hingga membuat Geya mengaduh. "Kakak sudah Geya bilang berkali-kali jangan sentuh wajah Geya tangan kakak itu kotor dan ada kumannya."


"Habisnya jangan terlalu melo Mimi peri seperti mu sama sekali tidak cocok dengan itu."


Geya mengusap hidungnya yang dipegang oleh Tala. Pasti sekarang hidungnya merah. "Pasti merah nih!"


"Iya wajah kakak terlihat tua seperti orang yang sudah berumur 40 tahun." Geya menjawab seperti itu karena merasa kesal sebenarnya wajah Tala tidak tua hanya saja karena Tala banyak diam dan kaku jadi bawaannya seperti orang yang sudah tua apalagi kalau jarang tersenyum.


"Makanya harus murah senyum bisa awet muda."


"Sudahlah berbicara dengan mu sama sekali tidak ada gunanya sama dengan asisten Kaivan dan sekretaris Diego tidak memberikan solusi."


Geya mengangkat kedua alisnya. "Jadi kakak sedang merasa tidak percaya diri? Kakak yang sangat narsis dengan ketampanannya dan fisiknya merasa tidak percaya diri sekarang!" Seru Geya lalu kemudian Geya tertawa.


"Puas!" Ucapan Tala menghentikan Geya yang tertawa keras karena melihat Tala yang tidak percaya diri.


"Makanya sudah Geya bilang pergi bersama Geya dan bibi untuk melakukan perawatan biar tidak ada penuaan."


"Apakah itu solusi?"


Geya mendadak menjadi serius dan menatap sepupunya itu dengan intens. "Jadi, kakak benar-benar tidak percaya diri sekarang?"


"Sudahlah aku pergi." Ucap Tala kesal kenapa sih dengan sepupunya itu padahal tadi selain menginterogasi mau meminta solusi. Seharusnya dia meminta solusi kepada Axel walaupun Axel tengil dan terkadang tidak waras kelakuannya akan tetapi saat diminta solusi Axel juaranya daripada asisten Kaivan, sekretaris Diego dan Geya.


.........***.........


"Selamat pagi bidadari Axel." Sambutan semangat menyapa di pendengaran Geya saat masuk ke dalam mobil Axel yang akan mengantarnya pergi ke kantor.


Geya tersenyum saat Axel mengelus kepalanya dengan lembut. "Seharusnya kamu istirahat saja apa kamu tidak lelah?" Tanya Geya menatap khawatir kepada tunangannya itu.


Axel merasa senang saat Geya khawatir dengannya itu artinya Geya memikirkannya.

__ADS_1


"Aku tidak akan lelah apalagi setelah melihat mu semuanya hilang dan tergantikan dengan energi yang full." Memang berlebihan tapi itulah Axel.


"Aku semalam pergi naik bis keliling-keliling kota." Cerita Geya.


"Apakah itu sangat menyenangkan dan membuat kamu tenang?" Tanya Axel yang terus tersenyum.


"Emmm tentu saja aku sangat menikmatinya." Jawab Geya sembari menganggukkan kepalanya.


"Bagus jika kamu menikmatinya hidup itu memang perlu dinikmati apa yang ada bukan? Sepertinya akan sangat menyenangkan jika aku ada di sana dan menikmati juga."


"Apa kamu tidak keberatan?" Axel selalu mengutarakan pendapatnya dengan lugas namun Axel selalu tidak lupa untuk menanyakan tentang pikiran dan perasaannya seperti ini.


"Akan lebih nyaman jika aku pergi sendiri saja kamu bisa menjemputmu jika sudah puas berkeliling jika tidak menganggu waktu istirahat." Geya menekankan kata terakhirnya.


Axel jika sudah sangkut paut dengannya maka pria itu akan mengabaikan dirinya termasuk waktu istirahat.


"Baiklah bidadari ku. Apa nanti kamu tidak sibuk? Jika tidak sibuk aku ingin mengajak mu makan siang aku jamin restoran ini pasti kamu sangat suka karena aku membuatkannya untukmu."


"Apakah ada kejutan lagi dan ada proyek yang tidak aku ketahui?"


"Maafkan aku yang tidak memberitahu mu karena aku ingin membuat kejutan untukmu. Jika aku kasih tau maka bukan kejutan namanya."


......***......


"Bagaimana?" Tanya Axel kepada Geya yang masih memandang takjub restoran yang dibuat oleh Axel.


"Ini sangat bagus dan sesuai dengan gaya ku." Ucap Geya dengan berbinar memandang setiap interior.


"Aku memang sengaja membuatnya ini adalah untuk mu dan makanan dan minuman di sini semua adalah makanan dan minuman kesukaan mu."


Axel merasa sangat bahagia melihat wajah Geya yang ceria dan menyambut dengan gembira kejutan darinya.


"Terimakasih." Ucap Geya.


"Emmm ini enak sekali." Ungkap Geya saat makan makanan yang disajikan di hadapannya membuat Axel tersenyum senang.


"Lihat kamu makan seperti anak kecil." Ujar Axel sembari mengusap bibir Geya lalu memasukkan ke dalam mulutnya kemudian menyengir kepada Geya


Orang-orang memandang ke arah mereka dan menganggap bahwa Axel dan Geya adalah pasangan yang serasi dan romantis.


"Kamu tidak makan?" Tanya Geya saat melihat Axel hanya menatapnya saja dan Geya sudah tiga kali suapan.


"Melihatmu saja sudah kenyang."


"Berhentilah membual mana ada begitu." Geya menyodorkan makanan ke mulut Axel dan dengan senang hati Axel menerimanya.


"Bagaimana? Enakkan? Jadi makanlah makanan mu." Ujar Geya.


"Iya sangat enak apalagi kalau kamu menyuapinya." Ucap Axel menatap Geya dengan genit dan berharap.


"Aku sangat lapar jadi makanlah sendiri Orion saja sudah bisa makan sendiri." Mendengarnya membuat Axel mendesah dan memakan makanannya.


Geya tersenyum melihat tunangannya yang kecewa karena dia tidak menyuapkannya.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2