Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Secerca harapan


__ADS_3

Dijam 8 pagi, Zafran dan Rima sudah bersiap-siap untuk menyambangi pesantren dikota B itu. Dimana tempat Rima mengabdi ilmu agamanya sebelum ia menikah dengan Zafran dan tinggal bersama sang suami dijakarta.


Dengan perbekalan beberapa baju dan oleh-oleh yang ia bawa untuk keluarga dipesantren. Rima ingin menghabiskan rasa rindunya dengan menginap dirumah Bul² untuk beberapa hari. Tentu saja Zafran pun mengizinkannya, kalau tidak...ia bisa alamat tidur diluar hi hi hi.


Singkat cerita, mobil Zafran telah sampai didepan gerbang besar pondok pesantren. Ia pun segera memarkirkan mobilnya, lalu turun dan membukakan pintu untuk istri tercintanya itu. Sengaja Rima tak memberitahu Bul² tentang kunjungannya kepesantren, ia ingin memberi kejutan untuk kedua sahabatnya itu.


Tok...tok....tok..


" Assalammualaikum....." Salam Rima dan Zafran seraya mengetuk pintu.


Ceklek....


" Waalaikumsalam....masya Allah kalian. Masuk yuk !" Titah Bul².


" Farhan mana Dek ?" Tanya Zafran seraya mendudukan dirinya disofa.


" Masih ngajar bang, bentar lagi juga pulang .." Jawab Bul².


" Twins mana Bul....?" Tanya Rima yang tak mendapati si kembar disana.


" Oh ada kok dikamar bermain."


" Ihh aku kangen banget tau sama sigembul dua itu...."


" Yuk kekamar main mereka !" Aja Bul² dan Rima pun mengangguk semangat.


" Asalammualikum....keponakan-keponakan ku yang comel...." Ucap Rima menciumi pipi gembul Akil dan Akila.


" Oh ya Bul, aku juga kangen banget tau sama kamu juga Safa. Bisa telfonin Safa gak suruh kesini, tapi jangan bilang ada aku ya....!"


" Oke siap..., titip mereka sebentar ya !" Ucap Bul² dan Rima pun langsung memgangguk.

__ADS_1


Bul² pun keluar dan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Ia menelfon Safa dan memintanya untuk segera kerumah sekarang, dan ya...tentu saja Safa mau.


Tak beberapa lama kemudian, datanglah Safa. Ketiga sahabat itu kini tengah bernostalgia kebersamaannya dulu saat ia masih sama-sama belum menikah. Ada banyak hal cerita dari ketiganya yang sangat menguras air mata juga tawa, sahabat yang selalu setia bukan ?


***


Dipesantren milik Kyai Dahlan, seseorang tengah bersemangat dalam mempelajari ilmu agamanya. Terlihat setiap harinya ia selalu disibukkan dengan tumpukan kitab yang ia baca dan pelajari.


Aisyah Nurhafizah, dialah orang itu. Hingga saat ini, ia pun belum mau untuk menikah. Padahal banyak sekali lamaran yang selalu diajukan beberapa pendakwah kondang, sahabat Kyai Dahlan untuk anak mereka. Namun lagi dan lagi, Aisyah selalu menolak dengan alasan ia hanya ingin memperdalam ilmu agamanya hingga bener-bener ia siap untuk menikah nanti, katanya.


" Isyah...sudah banyak sekali lamaran pria yang kamu tolak nak. Abi bukannya mau menuntutmu untuk segera menikah, tapi Abi khawatir dengan masa depanmu Syah." Tutur Kyai Dahlan pada anak bungsunya itu.


" Isyah belum kepikiran untuk menikah sekarang-sekarang Bi. Isyah hanya ingin memperdalam ilmu agama isyah dulu, kalau isyah sudah siap, pasti isyah akan menikah. Abi gak perlu khawatir gitu dong, jodoh sudah ada Allah yang mengaturnya Bi..."


" Iya nak, Abi percaya. Tapi apa yang membuatmu selalu disibukan dengan mengajar dan mempelajari kitab, hal itu bisa kamu lakukan Syah meskipun telah menikah nanti. Apa ada seseorang yang kamu tunggu nak ?" Tanya Kyai Dahlan penasaran.


Deg.....


Ambigu rasanya Aisyah untuk menjawab pertanyaan dari Abinya itu. Tubuh dan bibirnya seakan terkunci rapat untuk membuka isi hati yang sebenarnya. Salah, memang salah sebenernya ia masih menyimpan secerca rasa dan harapan untuk seseorang yang sudah lama bersemayam dalam hatinya. Namun karna akal sehat dan imannya yang kuat, ia menepis perasaannya itu dengan cara menyibukan diri dalam hal yang bermanfaat baginya dan orang lain.


" Syah...." Panggil Kyai Dahlan. Ada sebuah tanda tanya yang melintas dalam pikiran seorang Ayah. Bagaimana tidak, lamaran yang tak terhitung jumlahnya selalu Aisyah tolak. Sebenernya apa yang terjadi dalam diri Aisyah ini, apa ada seseorang yang ia tunggu hingga menolak puluhan lamaran ? pikir Kyai Dahlan.


" Kenapa Abi bertanya seperti itu ?"


" Abi hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak Abi Syah. Lihatlah kakakmu sekarang, dia sudah bahagia bersama Adam hingga mereka memiliki seorang anak. Lalu diumurmu yang 28 tahun ini, tidak kah Isyah ingin seperti kakakmu Hawa ?"


" Tidak Bi..." Jawab Aisyah dengan cepat.


" Kenapa Nak ?"


' Maafkan Isyah yang tidak bisa menjelaskan apapun Bi. Bahkan Aisyah mengaku salah dengan perasaan ini. Sudah lama, bahkan sangat lama, namun tetap saja Isyah tidak bisa. Maafkan Isyah Bi.....' Gumam Aisyah dalam hati.

__ADS_1


" Hanya tidak ingin sekarang Bi, sudahlah Aisyah mohon jangan paksa Isyah untuk buru-buru menikah !" Ucap Aisyah dan berlalu pergi meninggalkan Abinya.


Kyai Dahlan hanya bisa menghela nafasnya pasrah, ia tidak mengerti apa yang anaknya rasakan itu. Tapi yang pasti, ada sesuatu hal yang Aisyah sembunyikan hingga ia menolak banyak lamaran selama 3 tahun belakangan ini.


" Aku merindukanmu, namun rasa rindu ini hanya bisa aku simpan dalam hati yang paling dalam. Maafkan aku yang masih memiliki rasa ini padamu, maafkan aku telah mengingkari janji. Aku tau aku salah, tapi aku juga tidak berdaya dalam hal perasaan. Aku belum bisa membuka hatiku untuk orang lain, bantu aku untuk melupakan sosok dirimu.." Ucap Aisyah lirih seraya menatap sebuah surat yang terlihat sudah usang namun tulisannya masih sangat jelas.


Kenangan putih itu, masih tersimpan rapi dalam sebuah kotak yang selalu Aisyah simpan. Hanya saat ia merindukannya saja, Aisyah selalu membuka kotak itu dan kembali membaca secarik kertas putih yang sudah sangat lama sepertinya.


Ia menutup kembali kertas itu dan menyimpannya lagi dalam kotak. Kadang kala ia selalu menangisi hal yang sangat tidak mungkin terjadi itu dalam diamnya.


Isi hati dan kegundahannya, tak seorang pun yang tau selain dirinya juga sang maha pencipta. 3 Tahun ia menentang lamaran yang selalu datang padanya, hanya demi untuk menunggu dan menunggu setitik harapan yang belum tau kapan akan terjadi, atau mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi, Allahuallam bisawwab.


" Aku hanya berharap, setitik cahaya harapan bisa datang padaku kapan itu masanya, aku siap menunggu. Maafkan aku telah melukai hatimu, namun aku lebih terluka karna menunggu seseorang yang sangat tidak pasti.


Semoga Allah mengampuni apa yang tengah aku rasakan ini. Akan kucoba melupakan harapan ini dalam beberapa tahun kedepan, semoga harapan yang selalu saja melintas dipikiranku, segera musnah dan pergi. Aku hanya ingin mendapatkan bahagia tanpa menyakiti hati yang lain...." Ucapnya lagi seraya menyimpan kembali kotak itu pada tempatnya.


**Penuh tanda tanya ternyata Aisyah selama 3 tahun ini.


Kenapa dia harus menolak banyak lamaran ?


Siapa sebenernya yang ada disecerca harapannya itu ?


Ada yang tau.....???


💞💞💞Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian ya !!!

__ADS_1


Happy Reading guys**...


Bersambung💞💞💞💞


__ADS_2