Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

Author mau buat kejutan untuk mendekati ending...


Kalian juga gak bakal nyangka pastinya, yang jelas Komentar kak Kayana ayla di episode sebelumnya, itu benar !


"Dari pada kamu menanyakan hal sepele ini pada kami, lebih baik tanyakan pada istrimu kapan akan memberikan kita seorang cucu ?!"


Deg...


Pertanyaan yang begitu menohok itu semakin membuat hati Aisya merasakan sakit.


Seketika Aisya menghentikan suapannya dan menatap lekat kedua mertuanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Umi, abi. Maafkan Aisya yang belum dapat kepercayaan untuk hamil. Aisya harap umi sama abi mau sabar menunggunya !" Ucap Aisya dengan nada bicara yang gemetar.


"Abi sama umi kenapa selalu mempertanyakan masalah ini ke Aisya umi. Bukankah kalian memahami agama yang segala sesuatu butuh kesabaran ? Apa lagi ini masalah anak umi. Siapapun orangnya tidak akan bisa menentang takdir yang sudah Allah gariskan !" Ucap Rasya sedikit kesal dengan orang tuanya yang selalu memojokkan istrinya.


Rasya mengajak Aisya untuk meninggalkan meja makan. Selera makannya hilang seketika dengan kesalnya Rasya pada abi juga uminya.


Tiba-tiba langkahnya ia hentikan dan berbalik menatap kedua orang tuanya."Kalau sekali lagi Rasya dengar kalian selalu memojokan Aisya mengenai masalah ini, lebih baik Rasya dan Aisya tinggal di Jakarta Mi. Afwan, bukannya Raysa ingin melawan orang tua, tapi juga Rasya punya tanggung jawab penuh untuk ketenangan istri Rasya mi, yang rela meninggalkan kedua orang tuanya demi patuh dan mengikuti Rasya sebagai suaminya. Rasya harap kalian mau mengerti !"


Kedua orang tua Rasya hanya terdiam seraya menatap punggung anak dan menantunya yang mulai menjauh.


Ada rasa bersalah pada mereka dengan apa yang ia ucapkan barusan.


"Mi, apa yang Rasya katakan memang benar. Kita dipandang orang sebagai ustadz dan ustazah yang begitu sangat mengerti dan memahami agama, tapi sikap kita di rumah tidak mencerminkan dengan gelar kita mi. Apa umi mau jauh dari anak satu-satunya ? Untuk masalah hamil atau belumnya, lebih baik kita doakan supaya menantu kita disegerakan hamil, bukan malah memojokkan membuat Aisya semakin tertekan dan setres mi," ucap ustadz Aqil yang langsung menyadarinya dan segera menasehati sang istri, bahwa apa yang mereka katakan tentu itu tidaklah benar.


Ustazah Bila tidak menjawab, namun sudah dipastikan dari tatapan matanya ia sangatlah menyesal dengan kata-kata yang sudah di lontarkan pada menantunya.


***


Rasya terus berusaha memberi pengertian pada istrinya untuk tidak terlalu memikirkan apa yang orang tuanya katakan.


"Mas mohon jangan terlalu dimasukan dalam hati perkataan umi, sayang !"


"Tidak mas, umi memang benar dan mereka tidak salah jika terus bertanya kapan Aisya akan hamil. Aisya hanya lelah mas, kenapa takdir mempermainkan hidup kita seperti ini," ucap Aisya dengan tatapan sendu menerawang kedepan.


"Sayang, takdir itu tidak pernah salah. Apapun yang sudah Allah gariskan itu adalah yang terbaik. Jikalau nanti memang kita tidak diberi kepercayaan itu, mas akan tetap menerima kamu apa adanya, asalkan kamu wanita yang selalu menemani hidup mas hingga akhir hayat," Jelas Rasya kembali meyakinkan istrinya.


"Boleh Aisya keasrama mas ?"


"Kenapa ? Apa bersama mas tidak membuatmu tenang ?"


"Bukan, bukan seperti itu. Aisya ada tugas dari ustazah Ainun yang belum selesai," ucap Aisya berbohong, namun Rasya mempercayainya dan mengangguk.


"Asalammualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam wr wb.."


Aisya meninggalkan suaminya yang masih duduk di atas ranjang.


Bukan ia tak mau berkata jujur, tapi Aisya tidak mau membuat Rasya semakin khawatir dengan dirinya.


Hati mana yang kuat mendengar pertanyaan yang ia sendiri tidak tau jawabannya.


Maafkan aku mas, tapi aku butuh waktu untuk mengembalikan keadaan hati yang teramat sesak ini. Aku seorang wanita mas, punya rasa takut dan khawatir dengan pertanyaan yang selalu abi dan umi tanyakan, bahkan aku sendiri pun tidak tau harus menjawab apa setiap kali mereka bertanya.


"Asalammualaikum..."


"Waalaikumsalam wr wb.."


"Aisya lo kenapa ?" Tanya Icha kaget yang melihat Aisya tiba-tiba menangis seraya memeluknya.


Icha membawa Aisya untuk duduk di tepi ranjang tanpa melepaskan pelukannya.


"Ceritain sama kita Is, ada apa ?" Tanya Mona kali ini yang juga ikut mendudukan dirinya di samping Aisya.


Aisya melepaskan pelukannya dan menyeka air mata yang sudah membasahi wajahnya itu.


"Umi sama abi selalu mempertanyakan kapan aku hamil Cha, Mon. Aku sendiri tidak tau harus menjawab apa atas pertanyaan mereka. Aku harus bagaimana menghadapi pertanyaan itu setiap harinya ?" Jelas Aisya terlihat meneteskan kembali cairan being dari pelupuk matanya.


"Bener kata Mona, mertua lo itu harusnya mendoakan, ngasih semangat. Bukan malah memojokan dengan pertanyaan yang kita sendiri tidak tau jawabannya," tambah Icha yang sama sekali tidak menyangka dengan mertua sahabatnya itu.


"Bentar, gue ambilin lo minum dulu," ucap Mona keluar kamar berniat mengambilkan minum untuk sahabatnya supaya lebih sedikit tenang.


Namun siapa sangka, dibalik kesedihan Aisya saat ini, ada seseorang yang tertawa bahagia melihatnya.


Ia tersenyum menyeringai karena rencananya telah berhasil.


Segaknya dengan begini, ustazah Bila akan benci dengan Aisya dan meminta anaknya untuk menikah yang kedua kalinya.


Apa itu adalah tujuannya ? Tapi yang pasti, ada rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan demi kepentingannya sendiri.


"Lo minum dulu Is !" Ucap Mona setelah kembali dengan segelas air minum di tangannya.


Aisya membuka sedikit cadarnya dan meminum air itu berharap sedikit tenang setelahnya.


"Terima kasih Mon, Cha. Kalian adalah sahabat terbaik yang gak ada duanya," ucap Aisya merasa bersyukur ternyata masih banyak orang yang perduli padanya.


Kedua sahabatnya hanya mengangguk seraya tersenyum.


Ketukan pintu mengakhiri drama mereka.

__ADS_1


"Asalammualaikum."


"Waalaikumsalam, ada apa ?"


"Afwan teh, kalau ada teh Aisya diminta menemui gus Rasya di kantor !"


Icha mengangguk."Syukron," ucapnya.


"Sama-sama teh. Saya permisi, asalammualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Lo diminta kak Rasya ke kantor Is !"


"Na'am, aku ke kantor dulu. Asalammualaikum."


"Waalaikumsalam wr wb."


***


Aisya melangkahkan kakinya menuju kantor tempat suaminya berada saat ini.


Namun di tengah perjalanannya, ia bertemu dengan Zahra yang terlihat membawa sesuatu di tangannya.


"Asalammualaikum.." sapa Aisya.


"Waalaikumsalam," jawab Zahra dengan sedikit ketus merasa tidak suka dengan Aisya.


"Afwan, kamu mau kemana Za ?"


"Oh, iya hampir lupa. Aku diminta ustazah Bila nganterin sarapan ini ke kak Rasya di kantor. Katanya sih, tadi beliau gak sempet sarapan ya ? Kamu sebagai istrinya gimana sih Is ? Suami belum sarapan bukannya diurusin tapi malah ngerumpi gak jelas. Kalau gak mau, aku bisa kok gantiin posisi kamu sekarang ! Asalammualaikum," ucap Zahra dengan penuh percaya diri pergi meninggalkan Aisya begitu saja tanpa merasa bersalah sedikit pun.


**Zahra minta di ulegggggg tuh !!!!


Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian yakk


Happy Reading guys..


Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2