Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

Setelah kata Sah terucap, Kyai Farhan meminta untuk segera menjemput mempelai wanita yang saat ini sudah sah menjadi istri dari cucunya.


Bunda Elsa dengan ditemani besannya yaitu ustazah Bila, saat ini sudah menuju rumah ustazah Qila dimana di sanalah Aisya berada.


"Aisya..." Panggil bunda Elsa membuat Aisya menoleh dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Bunda Elsa yang melihat anaknya akan terisak itu ia segera menghampiri dan memeluknya.


"Hiks hiks bunda, maafkan Ais yang selama ini belum bisa membuat bunda dan ayah bangga. Maafkan Ais yang selama ini selalu buat bunda dan ayah kecewa," ucap Aisya seraya terisak di pelukan ibunya.


Kesedihan juga bahagia bercampur jadi satu. Bahagia karna anaknya saat ini sudah menikah, sedih....saat harus berpisah dengan anak satu-satunya yang selalu membuat rumah mereka ramai, menjadi pelengkap hidup serta penyemangatnya saat keterpurukan melanda serta sedih dan luka itu datang.


"Tugas bunda dan ayah sudah berpindah tangan pada suamimu sayang. Bunda harap, Aisya bisa berbakti pada suami sama seperti Aisya menghormati ayah dan bunda. Tetaplah jadi anak serta istri shalehah kami nak ! Bunda doakan semoga kalian hidup bahagia dunia wal akhirat," ucap bunda menasehati putrinya.


Semua yang melihat dramatis antara ibu dan anak itu merasa terharu hingga mereka ikut menitikan air matanya.


"Ayo nak, suamimu sudah menunggu !" Ucap ustazah Bila membuat Aisya melepaskan pelukannya.


"Na'am ustazah."


"Eits, sekarang aku bukan cuma ustazahmu, tapi juga ibumu. Jadi panggil saja Umi seperti Rasya !" Pinta ustazah Bila yang seketika langsung mendapat anggukan dari menantunya itu.


Dengan iringan keluarga juga sahabatnya, Aisya di tuntun menuju tempat pelaksanaan akad nikahnya.


Saat mulai menapaki lantai masjid, Rasya sudah bisa melihat penampakan Aisya yang kini telah disulap menjadi bidadari berniqab dengan mahkota di atas kepalanya menambah penampilannya semakin anggun.


Tanpa berkedip, Rasya terus memandangi wanita yang kini sudah menjadi halal untuknya. Senyum bahagia terlihat jelas di wajahnya seraya menatap manik mata Aisya yang saat ini sudah berdiri tepat di hadapannya.


Dug...dug...dug...


Detak jantung keduanya begitu kencang hingga keduanya saling merasakan detaknya satu sama lain.


Aisya meraih tangan suaminya, dan diciumnya tangan itu sebagai tanda bakti dan hormat seorang istri pada suaminya.


Begitu pun dengan Rasya yang membacakan doa di ubun-ubun sang istri sebelum ia mengecup kening Aisya dengan penuh cinta.


Memakaikan cincin di jari manis Aisya sebagai mahar pertamanya, dan dilanjutkan dengan membaca surah Ar-Rahman sebagai mahar kedua.


Rasya mengatur nafasnya sebelum ayat suci al-quran ia lantunkan.


Setelah membacakan mahar kedua, kini saatnya kedua mempelai meminta doa dan restu kepada orang tua serta jajaran seluruh keluarga besar pondok pesantren Nurul Huda.


***


**Author cepetin ! Pasti kalian nunggu ini kan ? 😂🤣


Warning !!! Adegan bisa membuat kehaluanmu melayang

__ADS_1


Yang di bawah umur, mending langsung mingslep aja ya !


Takutnya pengen, Author gak mau tanggung jawab !!!


Sekali lagi..........


Warning dan warning adegan penuh dua satu plus


Rembulan yang mulai bertahta menggantikan raja siang yang telah lelah berjaga seharian, memancarkan sinarnya seketika menembus pekatnya malam ini.


Aisya berdiri di dekat jendela kamar Rasya seraya menikmati suasana malam hari yang anginnya begitu terasa menyapu wajahnya.


Setiap wanita akan merasakan canggungnya berada di kamar lelaki yang baru saja sah menjadi suaminya.


Aisya terkejut dengan tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya. Rasa hangat yang baru pertama kali ia rasakan itu kian menjalar di seluruh tubuhnya menciptakan gelenyar aneh di sana. Suara nafas Rasya kian terasa di leher bagian belakang Aisya, memejamkan mata menahan sesuatu yang cukup membuatnya merasa sedikit tidak nyaman dikala bersentuhan dengan seorang pria.


"Kenapa belum dilepas sayang ?" Tanya Rasya dengan suara yang cukup memabukan Aisya hingga menjalar kedalam dadanya.


Aisya menggeleng seraya berkata,"Masih pengen menikmati suasa malam ini."


"Angin malam gak baik buat kesehatan, dek !" Ucap Rasya mengingatkan namun posisinya kini membuat Aisya semakin bergidik ngeri.


Oh Tuhan...akankah aku menyerahkan kehormatan yang selama ini aku jaga malam ini juga ?


Memutar tubuh Aisya, namun tangan Rasya dengan segera menutup jendela yang sejak tadi terbuka. Dengan posisi Aisya yang berdiri tepat di depannya itu seketika terpentok dada Rasya yang memepetkan dirinya.


Ah, apa itu suara detak jantungnya ? Kenapa cepat sekali ?


Aisya hanya memberikan anggukan seraya menundukan pandangannya membuat Rasya berkata,"Apa pemandangan lantai lebih indah dari pada suamimu ini, hem ?"


Kenapa kau mengatakan itu kak, tentu saja wajahmu tidak ada bandingnya jika dengan lantai.


Ah, kenapa dengan jantungku yang makin kencang detakannya ? Bathin Aisya bergumam.


Aisya mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat wajah tampan suaminya yang selama ini telah membuatnya tergila-gila itu.


"Bahkan pemandangan alam pun akan kalah oleh pesona wajahmu, suamiku !"


Rasya tersenyum setelah mendengar jawaban dari istrinya.


"Sudah pandai merayu ya, hem ?"


"Bukan merayu Mas, tapi itulah kenyataannya," jawab Aisya yang membuat Rasya mengeluarkan tawa renyahnya.


"Jika memang benar begitu, bolehkah aku menikmati semua hal yang tersimpan pada tubuhmu malam ini, sayang ?"


Suara Rasya yang semakin parau membuat Aisya menunduk tersenyum malu seraya mengangguk."Apapun yang ada dalam diriku, kini adalah milikmu Mas Rasya. Lakukanlah Mas, aku ikhlas memberikan hakmu malam ini !"

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari istrinya, tangan Rasya mulai melepas hijab yang menutupi kepala Aisya. Wajah cantik dan uraian rambut yang panjang itu mulai terlihat, membuat sorot mata Rasya semakin tidak terkendali di saat melihat bibir tipis berwarna pink alami milik istrinya.


Rasya mulai menyapu bibir itu dengan bibirnya, membopong tubuh Aisya menuju ranjang tanpa melepaskan pagutannya itu. Tangan yang tadinya berada di pinggang saat ini telah berpindah posisi merangkak naik membelai dua buah pepaya yang sudah siap santap itu, Rasya meremasnya membuat tubuh Aisya menggelinjang hebat merasakan sentuhan panas dari suaminya.


Entah sejak kapan baju keduanya sudah berserakan di lantai, Aisya tidak memperdulikan itu.


Rasya yang semakin liar dengan permainan tangan juga bibirnya membuat Aisya mengeluarkan suara lenguhan, desahan dan erangan dari mulutnya.


"Ahhhhh.....mas...."


"Ya sayang," suara Rasya yang terdengar berat itu semakin membuat Aisya melayang dalam permainannya.


Aisya semakin tidak tahan seolah tubuhnya meminta lebih dari itu. Ia meraba dada bidang suaminya dengan bibir yang masih berpagutan satu sama lain.


Tangannya yang begitu nakal mulai turun kebawah meraba tongkat yang tumpul namun sangat membahayakan.


"Shhhhh...sayang....." Lenguh Rasya semakin bersemangat melahap dua pepaya kenyal yang mirip squisi milik istrinya.


Merasa tidak tahan lagi dengan permainan tangan Aisya yang semakin membuatnya tegang, Rasya segera menanggalkan pakian yang tersisa membuat manik mata Aisya melirik sesuatu yang sedari tadi memberontak meminta segera di masukkan dalam sarangnya.


Tatapan penuh damba itu tersenyum, meminta Aisya untuk merabanya secara langsung tanpa ada yang menutupinya.


"Sayang, apa kamu siap ?" Ucap Rasya seraya menarik tangan istrinya untuk bermain-main lebih dulu di benda yang sangat mirip dengan jamur miliknya itu.


"Emmmmpph, Ahhhh...sayang..."


Lenguhan Rasya mulai terdengar saat merasakan permainan tangan istrinya yang mulai ganas itu.


Huah....panas...panas...


Ya Allah ampunilah hamba yang khilaf ini...


Air mana Air....


Suami........ya ya suami mana suami....


Huah....panas.......!!!


Kalian tega deh nyuruh Author nulis beginian, mana belum selesai lagi 😭😭😭😭😂😂😂😂


**Tinggalkan


Vote


Like Komen kalian ya...


Awas aja vote nya gak banyak !!!!!!

__ADS_1


Happy Reasing guys**


Bersambung...


__ADS_2