Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Masih Flashback


__ADS_3

Rasya masih tidak percaya dengan kenyataan jika istrinya saat ini telah meninggal.


Wajah Aisya yang rusak, akan sulit dikenali jika saja ia adalah korban yang tanpa diketahui indentitasnya.


Namun satu hal yang Rasya ragukan saat ini, cincin. Ya, kemana cincin yang selalu melingkar di jari manis istrinya ? Karna cincin itu adalah mahar saat mereka menikah dulu, Aisya telah berjanji untuk tidak melepaskannya sampai kapanpun.


"Kemana cincin itu ?" Gumam Rasya saat menyadari sesuatu setelah pemakaman Aisya selesai.


"Sya, umi harap kamu bisa tabah dan ikhlas ! Kita akan sama-sama membesarkan Aishi tanpa kekurangan kasih sayang sedikit pun," ucap umi Bila seraya mengelus pundak anaknya. Melihat Rasya yang sejak tadi tanpa suara, ia berfikir bahwa Rasya masih tidak bisa percaya akan semua kenyataan ini.


Namun nyatanya saat ini, Rasya tidak sedang memikirkan hal itu. Ia meragukan jika zenajah itu bukanlah istrinya.


Rasya yakin semua ini adalah kekeliruan, bahkan yang sebelumnya ia melihat cincin itu masih melingkar di jari Aisya, hari di mana Aisya dinyatakan telah meninggal ia tidak melihat cincin itu lagi. Namun sayangnya, Rasya terlambat menyadari semua itu.


***


Di tempat lain, lebih tepatnya di rumah sakit Aisya di rawat, Evan sudah menyiapkan tiket dan akan membawa Aisya terbang ke jerman untuk pengobatan di sana.


Maafkan aku Isya, semoga dengan membawamu ke jerman, kau akan segera sembuh.


2 minggu sudah mereka di jerman, dan pengobatan Aisya membuahkan hasil saat ini.


Evan membuat keputusan sendiri meminta dokter untuk mengoplas wajah Aisya yang benar-benar menyedihkan di lihat. Bahkan saat ini,


Aisya mulai menggerakkan jari-jemarinya, dan membuka matanya perlahan.


Ia menatap sekeliling ruangan yang bernuansa serba putih dan tercium bau obat-obatan di ruangan itu.


Evan yang baru saja menyelesaikan sarapannya begitu terkejut saat ia memasuki ruangan dan mendapati Aisya yang terduduk di ranjang.


Menepuk pelan pipinya, bahwa apa yang dilihatnya bukanlah sebuah mimpi.


"Isya, kamu sudah sadar ?" Evan menghampiri Aisya yang masih terdiam kebingungan.

__ADS_1


"Ka-kamu siapa ? Dan kenapa kau menyebutku Isya ? Apa itu namaku ?"


Evan baru teringat, jika Aisya tersadar nanti kemungkinan besar ia akan mengalami amnesia. Dan benar, hal itu terjadi, bisa dibuktikan dari Aisya yang tidak tau nama dirinya sendiri.


Evan tersenyum, ia mengangguk seraya menatap wanita yang dulu menjadi teman masa kecilnya.


Aisya melihat tubuhnya dari bawah hingga atas, ia meraba penutup wajahnya dan kembali melirik Evan.


Evan memahami arti tatapan itu, ia mengangguk seraya berkata,"Iya, itulah kamu. Namamu adalah Isya putri, wanita shalihah yang pernah aku kenal. Dan namaku adalah Evan, teman masa kecilmu," ucap Evan memperkenalkan diri dan menjelaskan latar belakang Aisya.


Walaupun caranya adalah salah, tapi Evan tetap menghargai dan menghormati Aisya sebagai wanita yang ingin menjaga harkat martabatnya. Terlebih lagi andai Aisya tau, jika statusnya saat ini adalah seorang istri dari sosok lelaki yang taat pada agamanya.


"Mau kemana ?" Tanya Evan yang melihat Aisya hendak beranjak dari ranjangnya.


"A-aku haus !"


"Biar ku ambilkan, tunggulah !"


Evan mengambilkam segelas air minum dan memberikannya pada Aisya.


"Biar aku saja, tanganmu pasti akan sakit jika bergerak," ucap Evan menyingkapkan cadar Aisya sedikit, kemudian mengarahkan gelas itu pada bibirnya.


"Terimakasih," ucap Aisya setelah rasa hausnya terobati.


Evan mengangguk, kemudian kembali meletakan gelas itu di meja.


"Kak Evan, bolehkah aku tau siapa keluargaku ?"


Deg...


'Apa yang harus aku katakan padanya, perlukah aku jujur ? Tapi kalau jujur, bagaimana dengan tujuanku itu ?'


Evan terdiam berfikir keras harus mengatakan apa pada Aisya. Dan akhirnya, setelah berfikir cukup lama, ia menghela nafasnya mencoba menceritakan kehidupan Aisya dengan detail.

__ADS_1


"Sebelum koma, sejujurnya wajahmu bukan yang seperti sekarang ini, Isya. Wajahmu hancur dan sangat sulit di perbaiki, hingga aku memutuskan sendiri meminta dokter untuk mengoplas wajahmu. Maafkan aku jika harus mengambil keputusan ini sendiri tanpa meminta persetujuan darimu. Aku adalah dokter yang menangani mu saat di rumah sakit bandung, hingga akhirnya aku memutuskan membawamu untuk pengobatan di jerman," jelas Evan.


"Lalu keluargaku ? Kenapa harus kak Evan yang membawaku ke sini, kemana orang tuaku ?"


"Seseorang membawamu kerumah sakit karna kecelakaan. Kau tidak membawa dompet atau handphone sekalipun saat itu, tidak ada yang mengenalimu selain aku Isya, bahkan aku sempat datang kerumahmu yang dulu menjadi tempat bermain kita, tapi sayangnya, orang tuamu sudah pindah dari sana. Siapa yang bisa kuhubungi untuk bertanggung jawab atas keadaan mu ? Sejak saat itu, aku putuskan sendiri membawamu kemari supaya kau segera sembuh," jelas Evan lagi.


Maafkan aku Isya, maafkan aku tante Elsa, aku perlu melindungi profesi ku dari ancaman mama. Dan dengan adanya kau bersamaku, aku yakin mama tidak akan lagi mengancamku !


Aisya percaya begitu saja setelah mendengar penjelasan Evan. Ia tertunduk sedih, Aisya befikir orang tuanya tidak menganggapnya ada hingga ia tidak mencari keberadaan anaknya saat ini.


***


Waktu pun terus bergulir maju, 1 bulan Aisya melakukan pengobatan di jerman, saat ini ia bisa dianggap sembuh dengan kondisi yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


Tepat di hari ini, Evan dan Aisya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.


"Kak, terima kasih atas semuanya yang sudah kak Evan lakukan untukku. Harus dengan cara apa aku bisa membalas semua kebaikan kak Evan ? Bahkan nyawaku pun mungkin tidak akan cukup membalasnya," ucap Aisya seraya menenteng tasnya saat sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta.


"Sudahlah, kita berteman sedari kecil, sudah sewajibnya aku membantu temanku. Benar begitu ?" Aisya mengangguk, Evan melanjutkan lagi kalimatnya."Tapi apa boleh aku meminta satu hal darimu Isya ? Anggap saja ini adalah ganti rugi karna kau sudah menghabiskan banyak tabunganku selama di jerman," ucap Evan lagi seraya terkekeh.


Aisya tersenyum seraya mengangguk."Jika aku bisa melakukannya, kenapa tidak kak ? Kau adalah malaikat berwujud manusia yang Allah kirimkan untuk menolong ku. Katakan, apa yang bisa aku lakukan untukmu ?"


"Aku hanya mau, kau menjadi calon istriku !"


"Ca-calon istri ?" Aisya mengulang kembali kalimat Evan.


"Ya, kau harus membantuku menyelamatkan profesiku saat ini dari ancaman mama. Dan cara satu-satunya adalah dengan kau menjadi calon istriku, Isya putri !"


**Tinggalkan


Vote


Like Komen kalian yakk

__ADS_1


Happy Reading guys**


Bersambung


__ADS_2