
Aqil terpaku mendengar sang ibu mengatakan bidadari surga. Wajahnya memerah seketika saking malunya. Tak dapat disembunyikan lagi, awal keceplosannya kini menjadi bahan ledekan kedua orangtuanya itu.
Keesokan harinya Aqil dan juga Ilham sudah mempacking barang yang akan ia bawa selama tinggal dijakarta.
Diam-diam, Aqil membuat sesuatu untuk sesorang. Tanpa sepengetahuan siapa pun, ia menemui seseorang itu ditaman ponpes.
" Ini.....!" Aqil memberikan secarik kertas putih yang terlihat seperti burung.
" Untuk Bila ?" Tanyanya. Dan Aqil pun langsung mengangguk.
Oh ternyata, seseorang yang diam-diam Aqil temui adalah Bila. Kenapa ya ? apa Aqil juga memiliki rasa, atau hanya sebatas kasihan setelah mendengar cerita dari adiknya ? Hanya dia dan tuhanlah yang tau...
" Kak Aqil mau pergi...?" Tanya Bila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Iya...." Jawab Aqil singkat.
" Kenapa harus pergi kak, tidak cukupkah kak Aqil belajar dipesantren saja ?"
" Aku harus kuliah Bila, dipesantren tidak ada perkuliahan..." Ucapnya lembut penuh iba menatap akhwat yang dihadapannya.
" Kak Aqil cinta gak sama Bila ?"
Aqil terdiam sejenak, bagaimana ada wanita yang terang-terangan bertanya tentang perasaannya. Bahkan ia sendiri pun bingung harus menjawab apa. Aqil hanya menatap Bila dengan kebingungan yang melanda, namun Aqil harus tetap bisa bersikap dewasa saat berhadapan dengan lawan jenisnya.
" Jika allah sudah menggariskan jodohku adalah kamu Bila, suatu hari nanti aku pasti milikmu ...!" Ucap Aqil dengan sikap dewasanya.
" Bila percaya kok kak, kalau kak Aqil adalah jodoh Bila. Jika nanti ada akhwat yang menyukai kak Aqil apa kakak akan menyukainya juga ?" Tanya Bila lagi.
" Afwan, aku tidak bisa menjawab sekarang...!"
" Kalau gitu, aku awalan Bila, masih ada yang harus dibereskan untukku bawa. Jangan baca surat itu sebelum aku pergi !" Ucap Aqil dan Bila pun hanya mengangguk patuh.
" Asalammualikum...."
" Waalaikumsalam..."
Bila sangat bahagia setelah mendapat surat dari calon imamnya, terlebih lagi surat itu ia sendiri yang memberikan padanya. Namun tak dapat ditutupi juga kalau Bila pun harus pasrah dengan perginya Aqil untuk menuntut ilmu dalam waktu yang cukup lama.
' Kak Aqil, dengan sikapmu yang seperti ini saja Bila sangat-sangat bahagia. Semoga Allah selalu melindungimu dimana pun berada, dan tolong jangan lupakan Bila kak, karna bila adalah calon makmummu jadi kak Aqil tidak boleh lupa dengan Bila...' Gumam Bila dalam hati seraya menatap punggung Aqil yang kian menjauh.
Setelah pertemuannya dengan Bila, Aqil pun berdiam diri menatap keluar dari jendela kamarnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan, namun yang pasti saat ini, ia sedang tidak baik-baik saja.
Aqil menghembuskan nafasnya berulang kali dengan kasar. Namun ketukan pintu, membuatnya harus kembali normal seperti biasa.
__ADS_1
" Kak, itu Ilham udah siap loh.." Ucap Bul² setelah Aqil membuka pintu kamarnya.
" Na'am Bu, sebentar lagi beres. Nanti Aqil menyusul kedepan !" Ucapnya dan Bul² pun mengangguk kemudian pergi dari sana.
10menit kemudian, Aqil keluar kamarnya dengan membawa tas besar.
Terlihat semua keluarganya pun kumpul dirumahnya untuk memberinya salam perpisahan.
" Jaga diri baik-baik Aqil, Ilham...kota jakarta berbeda dengan pesantren. Namun tetaplah harus berjiwa santri meskipun sudah tidak lagi dipesantren..." Ucap Farhan menasehati anak dan keponakannya.
" Na'am yah...."
" Na'am paman..." Jawab Ilham.
Terlihat dari jauh seseorang menatap Aqil dengan tatapan sendunya. Matanya sudah berkaca-kaca melihat Aqil yang keluar dengan membawa tas besar. Ia berfikir, Aqil akan mengurungkan niatnya untuk kuliah dijakrta, namun ternyata ia salah. Justru jika ia sudah bertekad, maka ia harus berusaha memenuhinya.
Dengan linangan air mata, Bila mengintip dari balik pohon besar, melihat kepergian Aqil untuk beberapa tahun kedepan. Tak sanggup, dan tak berani jika Bila harus memberinya salam perpisahan secara langsung.
' Entah berapa tahun lagi aku akan mengintipmu dari balik pohon ini kak. Namun yang pasti hal itu akan kulakukan saat kau kembali nanti. Aku pasti merindukanmu...' Gumam Bila disela-sela isak tangisnya.
Mobil pun sudah siap untuk mengantar dua orang itu kejakarta. Awalnya Zafran sendirilah yang akan menjemput anak dan keponakannya, namun karna sibuknya ia bekerja, ia meminta mang Darno untuk mengantar mereka hingga selamat sampai tujuan.
" Kami pamit bu, yah , Nenek Umi, kakek Abi...
Asalammualaikum..."
Aqil dan Ilham segera memasuki mobil yang sudah menyala itu. Dengan awalan basmallah, Aqil ucapkan untuk memulai kehidupannya jauh dari orangtua dan harus menghadapi kerasnya hidup diluar pesantren.
Redupnya awan tiba-tiba saja mengundang hujan dan mengguyur kota B. Isak dan tangis yang Bila lakukan sungguh tidak ada gunanya lagi.
Ia hanya bisa menerima dengan ikhlas dan lebih memperbaiki diri untuk menjadi yang terbaik diantara yang baik.
Malam hari yang masih dilanda gerimis itu, Bila menutup dirinya dengan selimut seraya menutupi wajahnya yang terlihat sembab.
Dengan berbaring, Bila mengambil surat yang ia simpan dibawah bantal tidurnya.
Perlahan tapi pasti, Bila membuka lipatan demi lilatan kertas itu dengan hati-hati.
Jantungnya berdegub kencang saat ia membaca kalimat pertama, air matanya kembali menetes. Ia pun harus mengikhlaskan tak tidak boleh terlalu berharap akan suatu hal.
Bila menangis sesenggukan setelah membaca surat dari Aqil, entah apa yang membuatnya begitu histeris hingga bertahan dengan isak tangis yang berjam-jam lamanya.
' *Assalammualaikum....
__ADS_1
Bila , ikhlaskan aku pergi untuk menuntut Ilmu yang lebih tinggi lagi.
Jangan bebankan pikiranmu hanya karna memikirkan diriku yang jelas bukan mahkhrommu.
Aku tidak ingin mengecewakanmu Bila, jadi kumohon.....jangan berharap sesuatu dari diriku
Percayalah dan yakin, jodoh allah sudah menggariskannya !
Belajarlah dengan rajin Bila, mohon lebih dekatkanlah dirimu untuk memperbaiki diri hanya karna Allah semata bukan hal lain apa lagi hambanya.
Jika kau begitu yakin bahwa aku adalah jodohmu kelak, maka tikung aku dalam sepertiga malammu Bila.
Cari aku ditengah malammu itu....
Jangan cintai aku melebihi rabb dan nabimu Bila. Hanya karna dialah yang patut kau agungkan dan kau cinta dengan begitu besarnya.
Dan ya...aku akan menjawab pertanyaanmu itu. Jikalau ada Akhwat lain yang juga menyukaiku ? jawabanku tidak akan memaksa dan jangan memaksa.
Rasa itu fitrah, murni hadirnya dari hati masing-masing. Namun jangan paksa aku harus membalasnya.....
Yang pasti, aku akan memilihnya dalam sepertiga malam ku.....
La tubki ya ukhty.....karna itu terlalu bahagia...
Kau boleh merindukanku kapanpun kau mau...
Namun jangan paksa aku untuk selalu merindukanmu juga.....
Rindu itu berat, biar aku saja yang membawa rindu itu.....
Wasalam.....
Aqil Maulana* '
" Sebegitu tidak diharapkannya perasaanku kak, lalu apa salahku yang terlanjur mengagumimu. Dan apa maksudnya rindu itu berat huaaaaaaaa😭😭😭😭😭😭😭 Kak Aqil mah tegaaaa sama Bila, awas aja pokoknya Bila akan buat kak Aqil dilema nantinya " Gerutunya dengan air mata yang masih menetes.
💞💞💞**Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya....!!!
__ADS_1
Happy Reading Guys**...
Bersambung💞💞💞💞