
"Apaaaaaaaa.....?"
Uastad Aqil, Rasya, dan juga Aisya terkejut dengan bersamaan kalimat dari ustazah Bila.
Aisya menatap nanar Rasya yang tengah salah tingkah itu, karna sudah dipastikan banyak yang akan mengira jika Rasyalah yang sangat tidak sabar untuk segera dinikahkan.
"Afwan ustazah, sebaiknya besok saja ! Lagi pula orang tua saya juga belum datang," Ucap Aisya yang langsung diangguki ustadz Aqil juga anaknya.
"Huh, baiklah. Biar Umi obati dulu luka kakimu nak !"
"Memangnya kaki Aisya kenapa Mi ?" Tanya ustad Aqil.
"Biasalah Bi, anak muda sebelum nikah ya maennya kejar-kejaran dulu. Udah sah mah beda lagi," jawabnya seraya menobati kaki Aisya.
"Udah nikah mah kuda-kudaan ya Mi," celetuk ustadz Aqil yang seketika langsung mendapat pelototan tajam dari istrinya.
"Anak sama Abinya sama saja," gerutu ustazah Bila.
Aisya hanya menahan tawanya melihat Ustadz Aqil yang langsung kicep tanpa pergerakan apapun setelah mendapat pelototan dari istrinya.
Keluarga yang harmonis. Hanya kata itu yang Aisya lontarkan saat melihat keluarga Rasya yang penuh dengan canda dan tawa setiap harinya.
Menurutnya Rasya sangatlah beruntung hidup di dalam pesantren yang orang-orang penuh cinta dan kasih. Bahkan tidak perduli seseorang itu berasal dari keluarga mana, semuanya sama saja akan dianggap seperti keluarga sendiri.
Aisya tersenyum simpul membayangkan bagaimana kehidupan yang amat yang harapkan bersama Rasya nanti.
"Ekhem..." Rasya berdehem yang mengetahui Aisya tengah tersenyum di balik niqabnya.
Aisya yang menyadarinya segera memalingkan wajahnya kearah lain.
"Dek, aku menyuruhmu kemari ingin menanyakan sesuatu, apa boleh ?" Tanya Rasya berbasa-basi. Aisya mengangguk sebagai jawaban.
"Aku ingin bertanya tentang mahar. Mahar apa yang kamu inginkan dek ? Tolong jangan sungkan mengatakannya hanya karna pernikahan kita mendadak, insya Allah apapun itu, akan aku siapkan malam ini juga !" Ucap Rasya mantap dengan apapun mahar yang Aisya minta nantinya.
Kau menguji perasaanku dengan menyembunyikan semua kebeneran ini Kak, bolehkah sekarang aku sedikit mengerjaimu ?! Bathin Aisya bergelitik tidak sabar melihat bagaimana sikap Rasya setelah ia mengatakannya.
"Aku menginginkan cincin berlian dengan huruf inisial A sebagai maharku, dan kak Rasya harus membelinya di toko Diamond gold deket kafe Rs. sya di Jakarta ! Dan satu lagi, aku ingin kak Rasya membacakan surah Ar-rahman setelah ijab kabul nanti ! Bagaimana, apa kak Rasya sanggup ?"
Rasya melirik jam yang melekat di pergelangan tangannya.
Masih jam 7
"Oke deal. Aku akan berangkat sekarang ke Jakarta ! Doa kan Rasya Mi, Bi semoga berjalan dengan lancar tidak ada halangan apapun. Rasya pamit, aslammualaikum.."
"Waalaikumsalam. Hati-hati Sya, jangan pergi sendirian !" Ucap ustazah Bila yang sedikit khawatir dengan anaknya.
"Na'am Umi," jawab Rasya saat sudah berada di ambang pintu. Namun langkahnya terhenti dan kembali masuk kedalam rumah.
"Kenapa nak, apa ada yang tertinggal ?" Tanya ustadz Aqil.
"Ada Bi," jawabnya dan kini tatapan Rasya beralih pada Aisya seraya berkata,"Dek, doakan aku semoga di lancarkan segala sesuatunya. Demi kamu, demi menghalalkanmu, apapun itu aku siap melakukannya selagi aku bisa. Asalammualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam wr wb.."
"Kak......" Panggil Aisya membuat Rasya kembali menghentikan langkah dengan memutarkan sedikit badannya.
"Hati-hati di jalan, aku menunggumu !"
Rasya mengangguk seraya tersenyum. Langkahnya semakin bersemangat setelah mendapat perhatian kecil dari calon istrinya. Rasya menuju Asrama putera untuk meminta kedua sahabatnya menemaninya ke Jakarta.
"Ustazah, Aisya minta maaf kalau harus merepotkan kak Rasya," ucap Aisya merasa bersalah melihat kekhawatiran Ustazah Bila.
"Tidak apa-apa nak, wanita berhak meminta apapun itu pada calon suaminya sebagai mahar. Kalau Rasya mengatakan sanggup, Umi yakin dia tidak akan mengecewakan kita. Doakan saja semoga Rasya selamat sampai tujuan untuk pergi dan juga pulangnya nanti !"
Aisya mengangguk.
Apa kak Rasya tidak kepikiran kalau orang tuaku juga di jakarta ? Harusnya kan minta bantuannya saja, di sini dia tinggal transfer, Udah beres. Gunanya hp buat apa coba ? Huh, jadi ngerasa bersalah..
Setelah mengatakan semua mahar yang ia minta, Aisya kembali menuju Asramanya menemui ke tiga sahabatnya itu.
"Asalammualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
"Hei, apa ada masalah sampe wajahmu di tekuk seperti itu ?" Tanya Kia menghampiri Aisya dan duduk di sampingnya.
"Aku ngerasa bersalah deh sama Kak Rasya," jawab Aisya tak bersemangat.
"Emang Abang kenapa ?"
"Sebenarnya aku cuma berniat mengerjainya sedikit dengan meminta mahar cincin berlian yang harus ia beli di diamond gold deket kampus kita."
"Daebak, lo serius Is ? Bandung jakarta itu lumayan loh jaraknya," ucap Mona membuat Aisya semakin merasa bersalah.
"Aku gak pengen mahar yang begituan sebenernya Mon, menurutku surab Ar-rahman pun sudah cukup. Tapi karna aku masih sedikit kesal karna kak Rasya udah nyembungiin hal sebesar ini dari aku, jadi aku berniat sedikit mengerjainya," jawab Aisya.
Kia tersenyum seraya mengelus pundak sahabatnya."Kalau pun berniat meminta yang lebih, menurutku itu wajar. Istilah kasarnya, kita berhak menghargai kesucian kita yang selama ini di jaga hanya untuk suami kita kelak. Jangan khawatir, soal mahar mah Abang udah paham kok. Emangnya kamu lupa julukan Abang Rasya saat di kampus selain orang yang berprestasi ia juga di juluki sebagai ustadz muda kan ?" Ketiga sahabat Kia itu mengangguk kompak."Nah, untuk itu gak perlu khawatir. Cukup doa kan yang terbaik untuk usaha dan pengorbanannya !" Lanjut Kia lagi.
Ketukan pintu membuat ke empat manusia itu bungkam, Kia beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang ke kamarnya.
"Asalammualaikum Ning Kia," sapanya.
"Waalaikumsalam Mel, ada apa ?"
"Begini teh, Amel diminta Umi untuk memanggil teh Aisya, orang tuanya sambang kemari !" Jawab santriwati bernama Amel itu.
"Na'am nanti ana sampaikan."
"Kalau gitu Amel permisi teh, asalammualaikum.."
"Waalaikumsalam wr wb.."
"Orang tuamu udah dateng Is," ucap Kia setelah menutup kembali pintu kamar mereka.
__ADS_1
"Sekarang kalian semua harus ikut aku !"
"Tapi Is..."
"Eitsss, gak ada penolakan !" Ucap Aisya membuat ketiga sahabatnya pasrah dan menurutinya.
***
"Asalammualaikum.."
"Waalaikumsalam..." jawab mereka semua seraya menoleh kearah pintu.
"Bunda, Ayah..." Aisya menyalami kedua orang tuanya itu dan memeluknya bergantian.
"Papa, mama..." Mona sedikit terkejut melihat mereka yang ternyata ikut menyambanginya kepesantren. Mona menghampiri kedua orang tunya dan menyalami juga memeluknya.
"Papi, mami..." hal yang sama pun Icha lakukan seperti sahabat mereka.
Orang tua Aisya segera mengabari ke dua sahabatnya untuk ikut sambang ke pesantren, menemui anak-anak mereka sekaligus menghadiri acara akad nikah Aisya.
Kebetulan Ayu, mami Icha adalah pemilik butik terkenal di jakarta yang di minta menyiapkan kebaya serta jas untuk Aisya dan Rasya kenakan esok pagi.
Sementara Ambar, mama Mona adalah MUA yang terkenal dengan rancangan dekor yang mewah serta mec upnya yang cetar membahana namun tetap perfect.
Beberapa keluarga itu terlihat berbincang ngalor ngidul membicarakan acara yang bersejarah akan di langsungkan di masjid pondok pesantren Nurul Huda.
*Aku tidak menyangka jika esok pagi nanti statusku akan berubah menjadi seorang istri..
Terima kasib ya Allah, terima kasih telah mengijabah doa-doa ku selama ini..
Seperti diketahui, hidup memang tidak selamanya berjalan dengan baik dan lancar. Ada kalanya setiap orang mendapatkan kondisi sulit yang harus dihadapi.
Tidak jarang banyak orang mengeluhkan berbagai macam hal saat sedang berada pada fase ini. Mengeluh memang menjadi hal wajar bagi setiap manusia, namun hal ini perlu segera diatasi agar tidak larut dan bisa cepat bangkit*.
**Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian yakk
Biar Author makin semangat up nya...
Sabar ya, bentar lagi Sah sah sah...
Jangan lupa teriak yang keras kata sah nya wkwkwk🤣
Happy Reading guys**
Bersambung
__ADS_1